Seni Merangkai Waktu

Waktu adalah dimensi terpenting dalam kehidupan
Waktu adalah sumber daya yang paling tidak terbarukan
Waktu adalah mata uang tertinggi
Waktu adalah perasaan lambat atau cepat
Waktu adalah penentu kemenangan
Waktu adalah perjalanan

Berjalan, berlari, menunggu, sabar, tergesa-gesa, santai, melamun, bosan, dan terdiam. Setiap orang di dunia ini pastinya pernah melakukan hal tersebut terhadap waktu. Adakalanya kita berharap waktu berjalan lebih lambat dari biasanya, adakalanya kita tak sabar menunggu untuk sampai pada suatu waktu yg kita anggap penting, dan adakalanya kita tak memperdulikan waktu. Perasaan kita sering dicampuradukkan oleh waktu, terhimpit deadline, menunggu panggilan tes, janjian ketemu seseorang, telat, dll.

Setiap orang berdoa agar diberikan umur yang panjang. Meski terkadang kita tak tau akan mempergunakannya untuk apa, bingung akan melakukan apa, bosan dengan rutinitas yg ada. Mungkin yang diinginkan adalah waktu akan terasa lambat ketika kita melakukan hal2 yg menyenangkan. Mungkin juga yang diinginkan adalah keberkahan, karena semakin lama hidup maka semakin banyak pula amal kebaikan yang dilakukan. Namun, pada kenyataannya sering pula yang terjadi adalah sebaliknya, waktu malah terasa lambat ketika mata kuliah membosankan dan dosa kita pun bertambah akibat mengumpat si dosen.

Katanya belajar itu tidak mengenal waktu. Kapanpun kita bisa belajar dari apapun yg ada dan terjadi di sekeliling kita. Hanya saja kita perlu kemauan dan kepekaan sebagai tombol aktivasi otak. Kebalikan dari belajar, bekerja itu nampaknya mengenal waktu. Pengalaman pribadi mengatakan jika bekerja itu dikejar dan mengejar waktu, tergantung pada perusahaan mana kita bekerja. Ada pula yg beranggapan jika bekerja itu adalah untuk sekedar menunggu weekend, mengecap weekday sebagai ujian kesabaran. Lain halnya dengan berbisnis, waktu dikenal dan diukur sebagai produktivitas. Gimana caranya setiap detik itu bisa menghasilkan sesuatu. Waktu berasa sangat berharga. Tidak ada produktivitas artinya tidak ada pemasukan. Tidak ada perkembangan artinya kejenuhan.

Kompleksitas dari waktu ini sangat menarik. Saya pribadi mengibaratkan seni merangkai waktu adalah sebuah masterpiece kehidupan. Kita melukiskan masa lalu dengan tekstur dan kontur yg jelas dan tegas. Kita menciptakan masa depan sebagai lukisan abstrak yg kita sendiri tau maknanya (atau tidak). Kita membolak-balikkan perasaan dan ekspresi kita di antara kedua masa itu, hikmah dan harapan, pengalaman dan perbaikan, mimpi buruk dan mimpi indah. Rangkaian waktu itu luar biasa menakjubkan jika kita mau dan mampu menyadarinya. Setiap orang mempunyai cerita dan lukisannya sendiri yang akhirnya membentuk cerminan diri. Dan setiap orang pun nampaknya tau akan ilmu seni merangkai waktu ini : bersabar di waktu sulit, bersyukur di waktu senang, bersegera di waktu genting, bersemangat di waktu kerja, produktif di waktu luang, bermanfaat di setiap waktu, dan berdoa untuk masa depan. Nikmati setiap corak dan motif yg diberi oleh waktu yang ada. Selalu ciptakan moment terbaik di masa kini dan desainlah moment yang lebih baik di masa depan. Rangkailah setiap moment itu bagaikan sebuah puzzle dan yakinlah setiap kepingan puzzle yang lain akan datang tepat pada waktunya, menciptakan sebuah masterpiece dari lukisan kehidupan kita. Insya Allah.

Iklan