Sadar, Bertahan, dan Bangkit dalam Keber-Agama-an

Ketika kondisi masyarakat negeri ini jauh dari moralitas dan nilai-nilai luhur suatu agama, maka janganlah mengotori konteks kesucian agama itu sendiri. Ketika mereka tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup, maka sebetulnya saat itulah mereka mengotori kehidupannya sendiri. Ketika kebobrokan masyarakat tersebut begitu meluas, maka keraguan mereka pada aturan agama semakin membesar. Ketika logika dan kebutuhan hidup menguasai mereka, maka mereka tidak peduli apakah yang mereka lakukan benar atau salah menurut agama. Mereka seolah-olah tidak menghargai agama yang mereka anut. Akhirnya muncullah ketakutan dari diri mereka sendiri apabila hukum yang tertera dalam agama ditegakkan secara penuh. Mungkin karena mereka sendiri menyadari jika akan ada banyak hukuman berat yang akan mereka peroleh, atau setidaknya akan ada banyak batasan yang menghalangi mereka untuk menikmati hidup.

Ketika proses perniagaan dan pemenuhan kebutuhan hidup menggunakan aturan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama, maka muncullah ketidakadilan dan kesenjangan dalam taraf hidup masyarakat. Praktek riba, suap-menyuap, pencurian, penipuan, dan sikap mau untung sendiri merebak dimana-mana. Masyarakat semakin bersifat materialistis, semakin kaya semakin bisa menikmati hidup. Lapangan kerja semakin sulit, persaingan usaha semakin sengit, produk halal dan thayyib semakin raib, dan tagihan utang semakin buat menjerit. Hukum muamalat syariah yang seharusnya bisa ditegakkan, nyatanya hanya masih masuk dalam kajian terbatas. Rekayasa pun dilakukan beberapa lembaga keuangan agar praktek dagang mereka hanya bisa terlihat syariah untuk menarik segmen pasar tertentu.

Ketika era globalisasi dan liberalisasi digalakkan, maka semuanya dibuat terbuka, terlepas apakah aturan agama menutupnya atau tidak. Tidaklah semua yang terbuka itu baik. Jika perdagangan dibuat terbuka tanpa persiapan dan perhitungan yang matang, maka bisa berarti menutup puluhan hingga ratusan ribu UKM dalam negeri. Produk impor dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah membanjiri pasar tradisional dan modern. Dalam waktu dekat ini, ASEAN Economic Community harus disikapi dengan hati-hati. Regulasi pemerintah nampaknya menjadi peran sentral untuk menyelamatkan kestabilan usaha dan produk dalam negeri, apakah nantinya mereka menjadi pemain atau penonton. Demikian juga ketika akses pornoaksi dan pornografi dibuat terbuka atas nama kebebasan berekspresi, maka bisa berarti menutup mata sebagian besar masyarakat untuk sesuatu yang halal. Yang lebih luar biasa lagi ketika praktek maksiat terbuka didukung atas nama ladang penghidupan, mau dibawa kemana lagi keterbukaan tanpa agama di negeri ini. Jangankan agama, tanggung jawab pun nampaknya tidak dihiraukan.

Ketika media dan televisi menunjukkan selera buruk masyarakat yang menontonnya, maka keburukan itu sendiri akan menyerebak dengan sistematis. Begitu sulit menemukan acara yang enak dan bergizi untuk ditonton sehari-hari. Kriminalitas, sensualitas, aib, dan berbagai budaya buruk dicerna dalam pikiran dari acara yang ada. Aspek ekonomi dan kepentingan pribadi begitu kental dalam media dan televisi negeri ini. Lagi-lagi acara berbau agama dan nilai-nilai luhur yang dikandungnya nampaknya menjadi pilihan paling buncit bagi si penyedia jasa. Jika ada beberapa orang yang sadar, maka rumah tanpa televisi adalah lebih baik untuk memfilter asupan otak keluarga mereka.

Ketika kondisi politik negeri ini didera pertarungan sengit pun kesucian agama layak untuk diperjuangkan. Sebuah hembusan angin segar ketika partai-partai berbasis agama masih bisa menjadi pilihan masyarakat. Namun, ada sesuatu yang dianggap genting, sehingga partai-partai ini mengadakan pertemuan dan bersepakat untuk bersatu dan membentuk koalisi. Sebegitu kuat alasannya, sehingga kiai-kiai kondang negeri ini menyeru masyarakat untuk bersikap dalam pemilu tahun ini. Padahal jarang sekali mereka ikut campur dalam perpolitikan secara terbuka.

Ketika salah satu pemimpin partai berbasis agama yang berlambang Ka’bah, yang juga menjabat sebagai menteri agama, dituduh melakukan korupsi dalam pelaksanaan ibadah haji, terjadilah pembunuhan karakter dengan tembakan “Head Shot”. Saya tidak berbicara apakah beliau terbukti salah atau tidak, tetapi mengapa kasus ini digulirkan kebetulan ketika koalisi partai agama telah terbentuk? Padahal kasusnya sendiri terjadi pada periode 2012-2013. Yang di sisi lain, secara asumsi dan rahasia umum masyarakat, sebegitu sulitnya menemukan pejabat yang benar-benar bersih di seluruh jajaran pemerintah, termasuk kementrian. Yang di tatanan masyarakat bawah saja, praktek-praktek kotor begitu menggurita, sampai ada perumpamaan “Jika semua pelaku kejahatan (terutama KKN) diadili, maka penjara di negeri ini tak akan cukup menampungnya”. Sebegitu rumit dan peliknya sistem politik negeri ini sehingga peluru panasnya bisa ditembakkan kapan dan dimana saja ketika merasa dibutuhkan. Nampaknya penegakan hukum “tebang pilih” sulit dihilangkan dari asumsi.

Lalu, apakah masih ada yang tidak menyadari jika kondisi negeri ini sedang genting? Apakah masih ada yang mengesampingkan aspek agama dalam perbaikan negeri ini? Jawabannya adalah masih banyak, selama masyarakat negeri ini mementingkan dirinya sendiri dan apatis terhadap yang lain, terutama agamanya sendiri. Masa bodoh jika saya dianggap SARA dan fanatik terhadap agama saya sendiri. Saya hanya berusaha untuk membela apa yang saya yakini kebenarannya. Ijinkanlah saya pribadi untuk menyerukan :

Wahai umat yang sedikit,
Wahai umat yang terasing,
Wahai umat yang “memegang bara api di tangannya”,
Wahai umat yang meyakini agama ini sebagai pedoman hidup,
Wahai umat yang meyakini takdir dan ketetapan Allah,
Mari kita perkuat barisan,
Mari kita perbaiki akhlak kita dalam keterasingan,
Mari kita saling meringankan beban dan keperihan saudara kita,
Mari kita amalkan keyakinan kita dalam setiap aspek kehidupan,
Mari kita terus memohon kepada Allah agar terus diberikan ketetapan terbaik,

Mari kita jadikan momen saat ini untuk bersatu padu membangun peradaban yang adil sesuai tuntunan agama kita.

Karena 4 Perkara Ini Telah Ditentukan Oleh-Nya

Berbicara mengenai takdir dalam Islam memang menarik jika dikaitkan dengan pola pikir dan perilaku kita sehari-hari. Ada sebuah hadits yang menyebutkan jika pada saat janin berusia 4 bulan, maka Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat 4 perkara bagi si jabang bayi, yaitu rezekinya, ajalnya, amalannya, dan kehidupan setelah matinya : surga atau neraka. Ketika orang awam seperti saya pertama kali mendengar hadits ini, reaksinya adalah kebingungan. Bagaimana bisa 4 perkara gaib yang terbilang sangat penting bagi kehidupan seorang hamba ditentukan sebelum ia lahir, mengerti, dan beraktivitas di dunia? Bagaimana bisa usaha dan amalan yang telah dan akan kita lakukan sebetulnya sudah di-judge oleh Allah mengenai besaran dan akhirannya?

Alhamdulillah saya mendapat sebuah kajian mengenai hadits ini, meski melalui siaran radio. Sebagaimana yang diketahui, Allah memiliki sebuah buku bernama Lauhul Mahfudz yang berisi semua perkara sebelum segala sesuatu diciptakan. Lauhul Mahfudz ini bisa disebut bank data. Semua isi dari Lauhul Mahfudz ini hanya Allah saja yang mengetahui. Tidak ada satu pun makhluk-Nya, termasuk malaikat, yang mengetahui isi dari Lauhul Mahfudz tersebut. Jadi, ketika Allah memerintahkan malaikat untuk mencatat 4 perkara di atas, malaikat pun tidak tahu apakah itu yang tertera di Lauhul Mahfudz atau bukan.

Ketika ada hadits yang mengatakan jika silaturahim dapat memperluas rezeki dan memperpanjang umur, maka sesungguhnya ini tidak bertentangan dengan hadits mengenai 4 perkara di atas. Allah bisa saja memerintahkan malaikat untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur seseorang karena dia sering menjalin silaturahim, di luar ketentuan 4 perkara tersebut, karena memang itulah yang tercatat di Lauhul Mahfudz. Ada pula ulama yang mengatakan jika umur yang diperpanjang itu maksudnya adalah keberkahan umurnya yang diperpanjang, bukan besaran umur itu sendiri.

Bukan keilmuan saya, untuk membahas aqidah dan fiqih mengenai hadits 4 perkara ini, tetapi ijinkan saya untuk berbagi mengenai apa makna yang tersirat dari hadits ini. Sekali lagi dikaitkan dengan pola pikir dan perilaku kita di dunia. Pertama, ketika rezeki setiap makhluk sudah ditentukan oleh Allah, maka yang perlu kita usahakan adalah mencari dan meluaskan rezeki tersebut. Maksudnya adalah kita tidak berhak dengki, menghakimi kondisi ekonomi diri sendiri dan orang lain, dan kemudian membanding-bandingkannya. Kita tidak pernah tahu bagaimana rezeki kita di masa depan. Bisa saja seseorang yg miskin hari ini adalah seorang milyarder di masa depan, dan sebaliknya, seorang hartawan hari ini bisa saja adalah seorang pengemis di masa depan.

Setiap makhluk menerima rezeki yang Allah berikan, bukan yang ia dapatkan. Maka sangat mudah bagi Allah untuk mengambil atau menambah kembali rezeki yang telah ia berikan. Contoh yang menarik ketika seseorang yg membangun kekayaan dengan utang dan riba jatuh ke dalam keterpurukan, karena caranya yang salah dan tidak berkah dalam memaknai perluasan rezeki. Ada yang terpikat gaya hidup mewah karena terdorong kecemburuan dan kesenjangan sosial, meski sebetulnya rezekinya tak mampu mengakomodasi itu semua. Akan tetapi, ada juga orang yang berbahagia dengan hidup sederhana, yang dengan rezekinya yang sedikit, dia masih dapat bersedekah dengan apa yang ia bisa dan punyai. Miris rasanya ketika sebagian besar orang mencap si kaya dan si miskin dari apa yang terlihat olehnya, dan merasa sombong atau tak beruntung karena hal itu. Yang kemudian kebahagiaan hidupnya sangat bergantung pada seberapa besar materi yang ia punya. Mungkin sebagian besar orang tersebut tidak mampu meyakini rezekinya sendiri dan memaknai yang telah Allah berikan kepadanya.

Kedua, ketika ajal setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah, maka yang perlu kita usahakan adalah memperbanyak keberkahan yang bisa kita dapatkan dan berikan di rentang umur kita sendiri. Kita tidak berhak menghakimi yang tua akan segera mati, dan yang muda mempunyai waktu yang masih lama sebelum mati. Kita tidak bisa hanya melakukan kebaikan ketika nanti sudah tua, dan kita tidak bisa berleha-leha menikmati hidup ketika masih muda. Ajal itu ditentukan agar kita bisa mempersiapkan diri dan menjemputnya sebaik mungkin, tidak bergantung umur kita hari ini. Meski umur kita ditakdirkan pendek, kita bisa melakukan kebaikan sebanyak mungkin sehingga keberkahan yang kita dapatkan bisa jauh melebihi umur kita setelah mati. Dan jika umur kita ditakdirkan panjang, kita bisa menghindari keburukan yang dapat mengurangi keberkahan hidup. Karena kita tidak tahu apakah pertambahan umur kita hari ini akan menambah dosa atau pahala kita.

Ketiga, ketika amalan setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah, maka yang bisa kita usahakan adalah melakukan amalan terbaik bagi diri kita sendiri. Kita tidak berhak menghakimi amalan kita lebih baik dari orang lain, dan juga sebaliknya. Kita tidak bisa menilai amalan kita lebih kecil dibandingkan amalan orang lain yang terlihat besar. Amalan kita tidak bisa dibandingkan dengan orang lain yang mempunyai kekayaan, kekuasaan, ataupun ilmu berlebih. Tidak ada yang tahu besaran keikhlasan dan penerimaan Allah terhadap setiap amalan yang telah dilakukan. Kita tidak perlu berkecil hati ketika melihat diri kita adalah seorang manusia biasa yang hanya bisa beramal sedikit. Dan kita pun tidak boleh berbesar hati ketika kita mampu beramal besar ketika kita adalah seorang dermawan ataupun dianggap seorang ulama. Sekali lagi, ketentuan besar kecilnya amalan kita hanya Allah yang tahu, maka fokuslah pada diri sendiri, bersikap tawadhu, dan berusaha seikhlas mungkin.

Keempat, ketika Allah telah menentukan setiap makhluk-Nya akan memasuki surga atau neraka sebelum ia dilahirkan, maka yang bisa kita usahakan adalah keistiqomahan kita dalam beramal dan bertaubat. Sebaik-baiknya keistiqomahan adalah khusnul khotimah, yaitu kematian yang baik. Dan sebaik-baiknya taubat adalah taubatan nasuha, yaitu kita tidak akan mengulangi keburukan yang telah kita lakukan. Kita tidak berhak menghakimi dan berpikiran seorang ahli maksiat hari ini akan masuk neraka nantinya, dan kita tidak berhak beranggapan seorang ulama hari ini akan masuk surga nantinya. Kita tidak pernah tahu jika Allah menakdirkan si ahli maksiat mendapatkan hidayah dan menjadi seseorang yang dikehendaki-Nya untuk masuk surga di penghujung umurnya. Dan kita tidak pernah tahu jika Allah menakdirkan seorang ulama melakukan sebuah dosa besar di penghujung umurnya yang akhirnya memasukkannya ke dalam neraka. Sekali lagi, kita hanya bisa menilai diri kita sendiri dan berusaha istiqomah melakukan amalan terbaik setiap detiknya hingga ajal menjemput.

Dengan begitu, keempat perkara yang telah ditentukan oleh Allah sebelum kita lahir tersebut, yaitu rezeki, ajal, amalan, dan surga/neraka, dapat dimaksudkan agar kita selalu mengontrol setiap pikiran dan perilaku kita. Begitu luar biasa akhlak seorang muslim ketika dia mampu meyakini hal ini dengan sesungguhnya. Dia akan pandai mengevaluasi diri, namun tidak lihai menghakimi orang lain. Dia akan elok dalam bersikap dan berpikiran terhadap diri sendiri dan orang lain. Memang sungguh indah ilmu dan pengetahuan Allah yang tercantum dalam agama Islam ini. Keempat perkara ini bukanlah wujud dari ketidakadilan dan keberpihakan Allah terhadap sebagian makhluk-Nya, melainkan justru salah satu bentuk peringatan dan pedoman hidup bagi setiap makhluk-Nya. Dan sungguh tulisan ini, saya tujukan bagi diri saya pribadi dan semoga bisa menjadi amal jariyah berupa ilmu bagi diri saya pribadi dan kita semua yang membaca dan menyadarinya. Mohon koreksi saya jika ada yang salah dengan tulisan saya ini. Wallahu ‘Alam.

Kejelasan dan Kebenaran Tujuan

Menyempatkan diri hadir di majelis ilmu untuk menambah wawasan dan sudut pandang itu memang dibutuhkan. Kita senantiasa mengharap ilmu yang bermanfaat, yang menunjukkan jalan yang lurus, dan yang mampu menghindarkan kita dari kesesatan. Begitu banyak informasi yang masuk ke dalam otak kita setiap harinya dan kita sendiri seringkali sulit untuk menyaring dan menyortir informasi apa yang akan disimpan dan apa yang akan dibuang.

Sebuah tujuan yang jelas (menurut saya) seringkali juga bisa dijadikan sebagai acuan untuk menentukan jenis saringan yang tepat dan sesuai kebutuhan kita. Tujuan inilah yang akan memilah ilmu dan informasi. Ketika tujuan kita tak jelas, maka sangat dimungkinkan jika ilmu dan informasi yang disimpan oleh otak kita adalah sampah yang sebetulnya harus dibuang. Qadarullah, tujuan yang jelas dapat menuntun kita untuk menemukan peluang ilmu yang bisa kita pakai sebagai bekal perjalanan mencapai tujuan tersebut.

Selain kejelasan tujuan, juga tentunya dibutuhkan kebenaran tujuan. Tujuan yang jelas-jelas salah tentunya akan selalu memasukkan ‘sampah’ ke dalam otak kita. Kita harus terus-menerus cek dan ricek kebenaran niat dan tujuan kita. Ketika tujuan kita jelas-jelas benar, maka apa yang akan dan telah terjadi pada diri kita bisa diyakini sebagai jalan yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Rasa-rasanya diri kita pun lebih bisa legowo dan ikhlas.

Mungkin ada beberapa contoh yang menarik untuk kasus mengenai tujuan ini. Partai politik yang mengejar kekuasaan akan selalu mencari ilmu dan cara memenangkan pemilu, meski harus sikut sana-sini. Sedangkan partai politik yang mengejar kontribusi dan pengabdian akan selalu mencari ilmu dan cara mencerdaskan dan memberdayakan umat, terlepas dari kekuasaan yang akan didapat. Kekuasaan ini dianggap sebagai salah satu jalan saja, sehingga hasil besar-kecil atau dapat-tak dapat bisa diyakini sebagai jalan yang terbaik sesuai tuntunan Yang Maha Mengetahui.

Saya pribadi ketika mencoba mencari titik-titik temu yang bisa digunakan untuk mempersatukan umat Islam di Indonesia, seringkali dipertemukan dengan orang-orang dan majelis ilmu yang saya rasa tepat. Untaian titik-titik yang ‘unik’ memperdalam keyakinan saya untuk terus menapaki jalan ini. Beragam perspektif begitu memperkaya diri. Beragam polemik ternyata malah bisa mempersatukan. Betapa indahnya ketika perspektif dan polemik ini menemukan jalan untuk bersatu, dari orang ke orang, kelompok ke kelompok, saling menguatkan bagaikan rantai besi yang terikat kokoh. I’m sure it will happen someday with The Will of Allah. Wallahu ‘Alam.

Berkah Menjauhi Riba

Perjalanan menuntut ilmu itu memang berkesan. Mendengarkan cerita seorang pengusaha muslim senior yg terus mempertahankan dan menjaga diri dan bisnisnya secara syar’i yang menjauhi riba.

Pertama kali beliau mendirikan usaha adalah dengan mengajukan penawaran barang ke suatu pabrik. Namun, dikarenakan ada bagian dalam perusahaan yg meminta fee agar barang tersebut bisa masuk, beliau pun mengurungkan niatnya karena fee ini termasuk perkara riswah atau suap.

Kemudian beliau mencoba kembali mengajukan penawaran ke pihak lain, yaitu instansi pemerintah. Tak tanggung2 ratusan penawaran ia kirim. Namun, ternyata lagi2 tidak ada yg tembus karena banyak diantaranya yg tergolong perkara riba.

Usaha lain pun ditempuh. Beliau akhirnya memberanikan diri untuk membuka toko untuk menarik konsumen yg membeli secara kontan. Namun, lagi2 hal ini pun gagal. Pendapatan dari toko tidak cukup untuk sekedar menutup biaya listrik, karyawan, dan sewa tempat. Beliau pun merugi hingga ratusan juta.

Di saat itulah, beliau mempasrahkan segala urusannya kepada Allah, Yang Memiliki Alam Semesta ini. Beliau yakin hanya Allah-lah satu-satunya yg bisa menjadi penolong. Semua cara kebaikan untuk berbisnis secara syar’i telah ditempuh. Dan Masya Allah, pertolongan-Nya memang begitu dekat dengan hamba yg dikasihi-Nya.

Ada 1 konsumen yg membeli barang ke tokonya dan kemudian mengundang beliau untuk menemui manager perusahaan dimana konsumen itu bekerja. Qadarullah, beliau ditawari untuk memenuhi kebutuhan perusahaan tersebut secara tetap. Tanpa penawaran, orderan barang pun diterima atas seijin Allah. Nilainya pun ternyata 2 kali lebih besar dari penawaran ke pabrik yg dulu beliau tolak!

Usaha beliau pun kembali bisa bernapas. Saat ada penawaran dari pabrik lain, tetapi kembali meminta ‘fee’, beliau pun langsung menolaknya. Karena beliau yakin jika Allah akan menggantinya 2 kali lipat di saat yg lain. Namun, tak dinyana, penawaran 2 kali lipat itu tak kunjung datang kembali. Seorang ustadz mengingatkan jika niat beliau telah melenceng! Jika saat pertama niatnya adalah menjauhi riba, maka yg kedua ini niat beliau adalah lebih kepada mengharap dunia, yaitu sekedar balasan 2 kali lipat! Beliau pun akhirnya sadar dan beristighfar jika ia telah takabbur dan terayu oleh dunia.

Allah memang Maha Menerima Taubat, usaha yg dirintis beliau akhirnya terus maju setelah tahun ketiga. Setiap niat dan transaksi diperhatikan betul agar benar2 sesuai syariat. Allah kemudian menganugerahi beliau sebuah gudang untuk barang2 dan sebuah garasi yg ternyata bisa diisi oleh 2 mobil yg dibeli secara syar’i tanpa perantaraan bank. Usaha beliau pun kini mampu mencapai omzet 180 juta per bulan. Masya Allah.

Ketika perjalanan kami sampai di tujuan untuk mendengarkan sebuah kajian muamalah dari seorang ustadz, beliau pun masih terus memperbaiki akad dan jenis syirkahnya agar benar2 bersih dari riba. Dan benar saja, ternyata masih ada akad syirkah yg mengandung riba di dalamnya. Subhanallah, begitu rinci Allah mengatur masalah muamalah ini.

Perkara riba ini memang sungguh klasik. Namun, aplikasinya sungguh mendalam dan kompleks di jaman sekarang seperti ini. Sungguh banyak perkara yg tidak kita sadari jika itu mengandung riba. Seperti perkara riswah / fee tadi yg seringkali dianggap hadiah sebagai pembenaran. Sebuah bisnis memang butuh mentor bisnis dan mentor secara spiritual dan agama. Karena bisnis yg berkah adalah bisnis yg bisa mendekatkan pemiliknya pada Allah. Sungguh kami memohon perlindungan dari-Mu dari segala sesuatu yg haram. Aamiin.

Pak Hamzah (2)

Dalam suatu kesempatan, saya kembali bertemu dengan Pak Hamzah setelah sekian lama. Beliau masih menjadi seseorang yg saya kenal dengan senyumnya dan nada dering HP miliknya yg berbunyi lagu Rhoma Irama “Trerereng rereng… Hai Manusia… Hormatilah Ibumu… Yang melahirkan dan membesarkanmu…”. Pengingat yg selalu terngiang saat saya masih bersama beliau dulu. Beliau pun masih selalu merendah dengan posisi pekerjaannya, padahal jika ia pensiun nanti, saya yakin perusahaan akan sulit mencari pengganti dari beliau. Ketajaman penglihatannya, pengalamannya mendeteksi problem, keramahannya dengan tim kerja dan supplier, hingga nasehatnya yg kerap ia sampaikan. Dalam tulisan kedua tentang Pak Hamzah ini, ijinkan saya melanjutkan kisah perjalanan beliau beserta pemikirannya.

Pak Hamzah dulunya adalah seseorang yg tegas dan disegani, bahkan oleh karyawan sekelas manager sekalipun. Beliau bekerja bertahun-tahun di Divisi Painting bagian Quality. Beliaulah yang memutuskan suatu warna oke atau tidak, sama atau beda, tebal atau tipis, dan sebagainya. Ternyata begitu banyak jenis kecacatan pada warna suatu mobil. Dengan ketajaman penglihatannya, beliau bisa tau jika warna putih itu terlalu kuning/biru, dengan melihat dari sudut pandang tertentu. Seriously, di mata saya (dan mayoritas karyawan) nampak tidak ada yg berbeda. Penglihatan Pak Hamzah setara dengan alat pengecek warna yg berharga ratusan juta sekalipun. Pernah ada suatu kasus dimana ada mobil ‘pesanan’ seorang Manager diperiksa di bagian Quality. Pak Hamzah menyatakan jika mobil tersebut NG atau tidak sesuai standar pabrik karena catnya terlalu tebal. Sang Manager memang secara personal memesan mobil itu untuk dirinya sendiri dengan ketebalan cat yang tidak biasa. Sementara karyawan lain membiarkan hal itu, Pak Hamzah bersikukuh tidak akan membiarkan mobil itu keluar bagian Painting sebelum catnya diperbaiki menjadi sesuai standar. Mulai dari karyawan kelas operator hingga Manager bergantian membujuk beliau agar mobil itu di-OK-kan saja. Pak Hamzah tak bergeming, standar kualitas harus ditegakkan pada setiap mobil, tak pandang bulu, meski itu pesanan atasan sekalipun. Karena beliau tau jika setiap pekerjaan yg ia lakukan harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Itulah prinsipnya. Meski begitu, mobil pesanan sang manager itu ternyata bisa diloloskan atas persetujuan orang lain selain Pak Hamzah. Dan akhirnya kita berlepas diri dari perbuatan orang lain…

Mungkin karena ketegasan sikapnya itulah, posisi dan level pekerjaan beliau sulit untuk naik. Beliau pun memang cukup kritis dengan kebijakan-kebijakan perusahaan yang terkadang ‘berat sebelah’. Sudah menjadi rahasia umum jika orang yang vokal bersuara tentang kesejahteraan dan upah buruh, akan dipandang sebelah mata oleh perusahaan, apalagi yg empunya adalah orang asing. Pada akhirnya, beliau menolak menjadi ‘singa perusahaan’ yang siap sedia bertindak tegas (cenderung galak/judes) ketika berhadapan dengan rekan setim ataupun supplier. Meski seorang Quality Control seperti ini disukai perusahaan, tetapi orang semacam ini tidak akan disukai oleh rekan sejawat. Pak Hamzah berprinsip ketika jabatan itu dilepas dari seseorang, maka ia tidak lebih dari seorang manusia biasa di mata masyarakat. Ini artinya meski jika ia mempunyai jabatan tinggi saat di kantor atau saat pensiun, maka tetaplah ia dikenal sebagai manusia dengan karakter dan sifat yg menempel pada dirinya saat berada di luar kantor ataupun saat kembali ke masyarakat. Simpelnya, jika di kantor mungkin ia tak bisa ditonjok karena jabatannya sebagai direktur, maka di luar kantor bisa saja ia malah ditendang karena sikap otoriternya yang menyebalkan.

Pak Hamzah juga sering membandingkan jaman sekarang dengan jaman presiden Pak Soeharto. Jika sekarang banyak beredar stiker “Piye kabare? Enak jamanku tho?”, maka Pak Hamzah adalah seseorang yg pro akan hal ini. Mungkin beliau setuju karena kondisi jaman Pak Harto memang terasa lebih damai dan lebih sejahtera, jika dibandingkan dengan jaman sekarang yang ramai konflik antarpartai dan kelompok masyarakat. Orang-orang berani saling sikut untuk memperoleh sesuap nasi. Para pejabat berani mengadu domba demi kepentingan politik diri dan partainya. Indonesia terasa semakin semrawut dari waktu ke waktu. Mungkin tidak ada yang perlu disalahkan dari perubahan jaman ini, kecuali diri kita sendiri. Apa yang telah kita lakukan? Apa kontribusi yang bisa kita berikan? Jika manusia-manusia di Indonesia ini merindukan jaman Pak Harto dulu, lantas apa yang menyebabkan mereka berpikiran seperti itu? Ini adalah refleksi yang mendalam bagi diri saya pribadi.

Satu hal lain yang menjadi perhatian dari Pak Hamzah adalah soal pertanian. Begitu banyak lahan pertanian yang beralih fungsi. Impor pangan semakin deras. Harganya pun semakin meninggi. Petani semakin melarat. Kesenjangan semakin mencuat. Hal ini juga yang sedang terjadi di Karawang. Pak Hamzah mempunyai 2 ide/mimpi tentang pertanian ini. Yang pertama adalah bagaimana caranya agar padi dapat tumbuh dimana saja laksana rumput yang bisa tumbuh dimana saja padahal kita tidak menanam bibit rumput disana. Yang kedua adalah membuat lahan pertanian bertingkat, yakni semacam gedung tinggi bertingkat yang berisi lahan pertanian di setiap tingkatnya. Pak Hamzah mencermati krisis lahan yang akan terjadi mengakibatkan krisis pangan yang semakin parah. Teknologi pertanian harus segera ditemukan agar manusia bisa tetap hidup memakan pangan dengan harga terjangkau. Sebesar apapun bisnis manufacturing ataupun IT merajalela, manusia tidak akan bisa hidup dengan memakan part-part mobil atau data-data informasi.

Yang Pak Hamzah takutkan di akhir adalah mengenai Post-Power Syndrome. Begitu banyak rekan kerjanya yang kemudian jatuh sakit bahkan sampai meninggal di sekitar masa usia pensiun. Pekerjaan dan beban tanggung jawab yang dirasakan saat bekerja tetiba hilang, dan akhirnya mempengaruhi kondisi mental dan kesehatan. Rasa kesepian, kebosanan, dan tidak mampu berbuat apa-apa datang menghinggapi orang-orang yang pensiun ini. Akan tetapi, saya berharap hal ini tidak akan terjadi pada Pak Hamzah. Pak Hamzah masih bisa berbuat banyak setelah pensiun nanti dengan menyebarkan pemikirannya dan beramal sebanyak-banyaknya kepada masyarakat sekitar. Saya yakin masih banyak orang di luar sana yang sepakat dengan Pak Hamzah, dan siap mengeksekusi hal-hal tersebut…

Pak Hamzah (1)

Pertemuan saya dengan Pak Hamzah bermula saat saya “dipindahtugaskan” dari Divisi Production Engineering ke Divisi Quality Control. Sungguh kaku ketika sebelumnya saya bekerja bersama teman-teman sebaya untuk kemudian mempunyai partner kerja seorang Bapak berusia 50 tahunan. Apalagi ketika saya mengetahui jika Pak Hamzah ini berada di bawah “kelas karyawan” saya, alias beliau bisa dianggap sebagai “bawahan”. Bagaimana seseorang seperti saya yang baru masuk kerja beberapa bulan bisa menempati posisi di atas beliau dengan upah yg tentunya lebih tinggi? Bagaimana pengalaman seorang Pak Hamzah yang telah bekerja selama puluhan tahun tidak cukup dihargai agar bisa menjadi seorang “atasan”?

Hari-hari awal bekerja tentunya saya sangat bergantung pada Pak Hamzah. Bagaimana caranya mengidentifikasi kecacatan pada part mobil, membedakan warna yg nyaris terlihat sama, mendeteksi goresan yg sangat tipis pada body, membandingkan celah antar part mobil yang hanya berlebar sekian milimeter saja, sampai memutuskan sesuatu bersama supplier jika sebuah part yang dikirimkannya itu OK atau NG (Not Good). Semua jenis pekerjaan ini tentunya baru bagi saya, yang tentunya juga tidak diajarkan di kuliah ataupun di training/pelatihan saat masuk kerja. Semuanya harus saya pelajari di lapangan dari orang-orang yang memang punya pengalaman akan hal itu. Jika saat itu tidak ada Pak Hamzah di samping saya, maka saya hanyalah seorang sarjana yang tidak mampu berbuat sesuatu ataupun memutuskan sesuatu. Mungkin saya menjadi seseorang yg makan gaji buta dan jadi bahan cercaan karyawan lain. Dan lagi-lagi saya menanyakan hal yang sama, bagaimana seseorang yg berpengalaman yg bisa mengajarkan saya banyak hal tidak mendapatkan apresiasi yang sesuai dari perusahaan tempatnya bekerja?

Dengan bekal pertanyaan itu, saya mencoba menggali siapa sebenarnya Pak Hamzah ini, dan apakah banyak Pak Hamzah-Pak Hamzah lain yang bernasib sama. Pak Hamzah yang saya kenal adalah seorang Bapak lulusan sekolah menengah yang berasal dari kawasan Jakarta Utara. Beliau banyak bercerita mengenai kondisi daerah bernama Tanjung Priok dimana kehidupan disana sangatlah keras. Lulusan sekolah yang berasal darisana akan sulit mendapat pekerjaan dikarenakan kondisi lingkungan yang dikenal buruk. Alias mereka sudah di-blacklist. Pak Hamzah pun bercerita jika mayoritas warga pendatanglah yang mempunyai perangai buruk yang akhirnya mempengaruhi kondisi sosial budaya disana. Warga asli sana yang sebetulnya “innocent” jadi ikut kena getahnya. Beliau mencontohkan begitu tak berpendidikannya mayoritas warga pendatang yang berasal dari kawasan pedesaan. Mereka berlaku seenaknya, tak beretika, dan membawa budaya asal kampungnya. Arus urbanisasi yang padat mengakibatkan mereka harus berjibaku mencari sesuap nasi dengan warga pribumi. Siapa yg kuat akan bertahan dan siapa yg lemah akan tersingkir. Disini Pak Hamzah jadi mempunyai pemikiran jika sesungguhnya warga pedesaanlah yang harus dididik dan diberdayakan sehingga ia tak butuh pindah ke perkotaan untuk mencari kerja. Mereka seharusnya bisa mempunyai penghidupan yang layak di desa mereka sendiri. Sebagus apapun wilayah perkotaan berkembang, maka kesenjangan dan konflik sosial tidak akan bisa dihilangkan selama arus urbanisasi warga pedesaan tak terdidik ini terus membanjiri perkotaan.

Di sisi lain, Pak Hamzah pun bercerita tentang seseorang yg luar biasa yg mempunyai banyak usaha di kawasan Tanjung Priok. Orang ini lulus SD pun tidak, kakinya lumpuh, dan tak bisa baca tulis. Akan tetapi, usahanya meliputi rumah makan, transportasi angkutan umum, hingga minimarket. Hidupnya sangat berkecukupan dan dia menggunakan nama “Doa Ibu” sebagai nama usahanya. Modal utamanya adalah kerja keras, kejujuran, dan sikap tawakal. Ia tak takut dicurangi oleh karyawannya sendiri ketika menerima laporan keuangan karena memang dia tak bisa baca tulis. Ia menyerahkan kepercayaan sepenuhnya, yang penting dia menerima keuntungan yang bisa ia syukuri. “Rezeki sudah ada Yang Mengatur”, itulah prinsipnya. Kisah nyata ini berulang kali Pak Hamzah ceritakan, seolah-olah ingin menampar saya yang berstatus sarjana ini. “Sadar woy sadar… Lu tuh sarjana… Dia aja yang ga lulus SD bisa nyediain kerjaan buat banyak orang… Lah Elu bisanya cuma morotin upah perusahaan tempat Lu kerja…” Mungkin itu pesan implisit yang terkandung dari kisah itu. Pak Hamzah beranggapan jika seorang sarjana seharusnya tidak bekerja, justru ia yang harus menciptakan lapangan kerja. Yg gak sarjana aja banyak yang nganggur, lah ini yg sarjana ikutan berebut kursi kerjaan. “Biarkanlah lulusan madrasah yang bekerja di pabrik, kerjaan kayak begini mah mereka juga bisa”, hal itu juga yang sering Pak Hamzah katakan. Tamparan di wajah itu dilanjutkan dengan tusukan tajam di hati. Jleb.

Oleh karena kami berdua adalah partner kerja di bagian eksterior, hampir di setiap pekerjaan saya selalu bersama beliau. Bukan saja karena saya membutuhkan bantuannya, tetapi juga karena asiknya saya mengobrol dengan beliau mengenai banyak hal di luar urusan pekerjaan. Sungguh banyak pelajaran dan makna kehidupan yang beliau ajarkan. Dan ini saya anggap lebih penting dari pelajaran mengenai bagaimana suatu pekerjaan Quality Control bisa selesai dengan baik. Di saat senggang ataupun saat mengidentifikasi masalah, kami sering berlama-lama untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul. Tujuan saya untuk mengetahui pribadi Pak Hamzah jadi lebih mengasikkan. Ada beberapa hal di luar jalan kehidupannya yang membuat saya tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut. It’s a life philosophy, wisdom, and it’s magic…

Keindahan Doa Khatmil Qur’an

Berikut ini saya tuliskan indahnya doa yang tertuang di lembaran akhir ketika kita mengkhatamkan Al-Qur’an. Semoga kita bisa senantiasa mengucapkan dan memanjatkannya kepada Illahi Rabbi.

Ya Allah, dengan Al-Qur’an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada hamba. Jadikan Al-Qur’an sebagai, imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba.

Ya Allah, ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan pada hamba kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur’an bagi hamba sebagai hujjah, ya Rabbal ‘Alamin.

Ya Allah, karuniakan kebaikan bagi hamba dalam beragama, yang merupakan kunci kehormatan bagi hamba. Karuniakan kebaikan kepada hamba di dunia, yang merupakan tempat hamba menjalani hidup. Karuniakan kebaikan akhirat bagi hamba, yang merupakan tempat hamba kembali. Jadikan kehidupan hamba senantiasa lebih baik. Jadikan kematian sebagai kebebasan hamba dari segala keburukan.

Ya Allah, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu.

Ya Allah, hamba memohon kepadamu kehidupan yang jembar, kematian yang normal, dan tempat kembali yang tidak menyedihkan dan terhindar dari prahara.

Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu permintaan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik. Kuatkanlah hamba, beratkanlah timbangan kebajikan hamba, realisasikan keimanan hamba, tinggikan derajat hamba, terima shalat hamba, ampuni dosa-dosa hamba, dan hamba memohon surga tertinggi.

Ya Allah, hamba memohon karunia yang wajib Engkau berikan, ampunan yang harus Engkau karuniakan, keselamatan dari segala dosa, ghanimah dari segala kebajikan, dan kemenangan mendapat surga, serta keselamatan dari api neraka.

Ya Allah, karuniakan kebaikan bagi hamba dalam segala urusan, berikan pahala kepada kami dari segenap luka dunia dan siksa akhirat.

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang membatasi rasa kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan anugerahkanlah ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu, anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran, penglihatan, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah, jangan pernah Engkau tinggalkan dosa, melainkan Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan, kecuali Engkau berikan jalan keluar, tidak ada hutang kecuali Engkau penuhi, dan tidak ada satu kebutuhan dunia dan akhirat kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan semesta alam.

Ya Rabb kami, berikan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, serta jagalah kami dari api neraka.

Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah curah kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabat terpilih.

Titik-Titik Puzzle (6)

Karawang dikenal dengan sumber daya pertaniannya yg besar, ditandai oleh luasnya hamparan sawah yg ada. Namun, invasi industri asing dan menjamurnya perumahan membuat lahan hijau tersebut semakin terhimpit. Pertama kali datang kesini, saya menyangka Karawang adalah kota yg kecil karena jalan utama yg saya lalui terkesan itu-itu saja. Padahal ternyata begitu banyak pedesaan yg lokasinya tidak dilalui jalan utama dengan sarana angkutan umum yg minim. Ini yg menginspirasi saya dan Jaya untuk merintis usaha agribisnis disini, sekaligus berusaha mempertahankan lahan sawah yg ada dan mengembangkan potensi lokal.

Jaya yg memang asli Karawang mengajak saya untuk berkunjung ke sebuah kumbung jamur merang milik Mas Santo. Kemudian beliau mereferensikan kami kepada seseorang bernama Pak Misa Suwarsa jika ingin belajar mengenai usaha budidaya jamur merang ini. Kami pun berangkat menemuinya dan ternyata beliau memang membuka pelatihan budidaya jamur merang selama 5 hari dengan biaya 3 juta rupiah. Sosok dan cerita yg beliau sampaikan begitu menarik perhatian kami sehingga saya pun memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Jamur merang yg memanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami dan limbah kapuk sebagai bahan baku utama, ternyata memiliki nilai jual yg tinggi dengan pasar yg masih luas. Proses produksi yg terlihat sederhana dengan menggunakan lahan yg kecil membuat kami berpikir jika usaha ini bisa diaplikasikan bersama masyarakat/petani sekitar untuk meningkatkan penghasilan dan produktivitas mereka.

Semangat kewirausahaan sosial yg dulu sempat membara akhirnya mengkristal menjadi sebuah keputusan resign dari tempat saya bekerja di Toyota. Proses resign ini terbilang cepat dan mendadak karena saya baru bekerja selama 6 bulan tanpa pemberitahuan one-month-notice. Caranya pun terkesan arogan dan berlebihan. Saya dengan terang-terangan mengirim email pengunduran diri ke berbagai divisi terkait pekerjaan saya dan mengumumkan diri di rapat ‘Asakai’ yg dihadiri beberapa pimpinan perusahaan. Selain itu, saya pun berkeliling pabrik untuk sekedar memoto orang2 yg pernah saya kenal disana, sekalian berpamitan dengan mereka. Emosi yg meletup-letup dan semangat nasionalisme menguasai diri saya saat itu. Berbagai respon pun saya dapatkan, yg tentunya berisi pro dan kontra. Seakan-akan saya menegaskan jika alumni almamater saya itu “tak bisa dipegang” dan “kutu loncat”. Rasa penyesalan yg kemudian menyeruak coba saya konversi menjadi jangkar untuk memacu perjalanan berikutnya.

Saya pun mendapatkan email dari seorang teman untuk mengikuti perlombaan business plan di Prasetiya Mulya Business School. Selain bisa mengikuti proses karantina selama seminggu disana, hadiah utamanya adalah berupa beasiswa S2 Manajemen Bisnis full. Selain itu, ada juga seleksi pelatihan Majelis Mujahid Bisnis dari Kang Rendy Saputra selama 12 kali pertemuan. Gayung pun bersambut. Rencana awal untuk belajar ilmu bisnis pun bisa terlaksana. Ilmu manajemen ala Toyota dan ilmu budidaya jamur merang akan berasa lengkap. Keputusan saya pun akhirnya semakin membulat.

Keputusan resign dari pekerjaan yg mapan tentunya ditentang oleh orang tua saya. Apalagi pilihan setelahnya adalah menjadi seorang petani jamur. Ini bukan berputar arah, tetapi memang terjun bebas. Begitu sulit memang meyakinkan orang tua dengan keputusan ini. Yg bisa saya tawarkan di awal adalah sebuah perjanjian : “Jika dalam waktu 6 bulan ke depan setelah resign kehidupan saya tidak membaik, maka saya akan mencari pekerjaan di perusahaan kembali”. Selain itu, saya pun mengiming-imingi dengan perlombaan bisnis yg akan saya ikuti. Mungkin saja kan saya bisa menang beasiswa S2, hehe…

Pelatihan budidaya jamur merang yg saya ikuti pun dimulai. Disana saya berkenalan dengan Pak Ade dan Pak Koko dari BPPT, Mas Tono dari Sragen, dan seorang kakek-kakek yg berasal dari Medan. Wuih, keren juga kan peserta pelatihannya dari mana-mana. Proses budidaya yg dimulai dari pengomposan hingga panen pun saya pelajari. Bau komposan yg menyengat hidung, panasnya kumbung yg menyesakkan dada, dan beratnya proses produksi ala petani yg menggunakan bahan baku hingga 1 ton lebih. Wow, sungguh menantang bagi saya pribadi yg memang jarang melakukan pekerjaan seberat itu.

Untuk memulai usaha budidaya jamur merang ini, saya pun berdiskusi dengan Jaya yg saat itu masih berseragam Toyota. Kami mengambil keputusan untuk menggunakan sisa gaji yg ada untuk membangun 1 kumbung lengkap dengan sarana tambahannya dan biaya 1 kali produksi awal. Untuk lokasinya, kami mengontrak sebuah lahan di dekat rumah Pak Misa agar kami bisa sering berkonsultasi dengan beliau. Semangat optimisme pun membara. Setelah semua perlengkapan dibeli, kumbung tegak berdiri, kami berdua pun melakukan proses produksiya sendiri. Ternyata luar biasa berat. Jerami kering yg cukup tajam, air komposan yg tak sedap, panasnya terik matahari, dan beratnya beban yg diangkat membuat kami tersiksa. Perjuangan awal menjadi seorang petani memang tak mudah sama sekali.

Dalam suatu kesempatan, kami berdua berdiskusi di sebuah angkringan malam mengenai mimpi dan apa yg ingin dilakukan ke depan. Perbincangannya begitu bebas, mulai dari bisnis yg akan dibangun, perekonomian, pendidikan, kegiatan sosial, sampai gerakan perubahan. Pada dini harinya, saya mengkristalkan itu semua menjadi sebuah tulisan berjudul “8 Mimpi Besar” pada sebuah buku. Itulah momen dimana saya merasakan semangat yg begitu besar, menggelora di dalam dada, dan menggoyangkan bulu kuduk. Mungkin inilah yg disebut proposal hidup. Dan inilah yg akan menjadi bahan bakar utama saya dalam mengarungi kehidupan. Unbelievable, sungguh sensasi yg luar biasa.

Dengan proposal hidup ini juga, saya kembali mencoba meyakinkan kedua orang tua saya. Beruntung ada salah satu anggota keluarga besar yg dituakan, yg percaya kepada saya, dan membantu saya meyakinkan. Meski orang tua saya tidak sepenuhnya mendukung, tetapi setidaknya hati mereka mulai luruh. Karena bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridho Allah juga. Maka jadilah saya kembali berkuliah di “Universitas Kehidupan”, sebuah proses pembelajaran tiada henti yg seringkali menghadirkan kebetulan-kebetulan yg nyata, yg blueprint dan kurikulumnya telah diatur oleh-Nya. Setiap proses dan kepingannya begitu membekas dalam pikiran. Subhanallah…

Titik-Titik Puzzle (5)

Pilihan hidup pasca kelulusan dari kampus adalah pilihan yg sulit sekaligus membingungkan. Jika pada pilihan-pilihan kelulusan sebelumnya bisa lebih mudah diputuskan karena ada patokan tujuan (SMP/SMA/Universitas favorit), maka pilihan setelah diwisuda sangatlah beragam dan tidak ada patokan yg jelas. Mau melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3, mencari dan melamar pekerjaan, atau berwirausaha? Kuliah di jurusan apa dan dimana? Jenis pekerjaan apa dan perusahaan seperti apa? Usaha di bidang apa dan bagaimana memulainya? Tak pelak, banyak wisudawan baru yg tidak bisa menentukan pilihannya secara mutlak, cenderung coba-coba, mengalir seperti air, atau mengikuti kemana arah angin berhembus. Tak sedikit juga yg kemudian menyesali pilihannya, bergonta-ganti pekerjaan, dan tidak bisa menikmati apa yg dia kerjakan.

Saya pribadi saat itu memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Kebutuhan akan kuliah S2 menurut saya akan disesuaikan setelahnya, apakah di bidang engineering lagi atau di bidang manajemen bisnis. Dikarenakan saya ternyata kurang menyukai dunia engineering/programming, maka saya mencari pekerjaan di bidang bisnis/manajemen. Jadilah saya mengikuti proses seleksi dan wawancara di beberapa perusahaan konsultan bisnis. Yg saya manfaatkan dari proses kuliah teknik adalah sekedar pola pikir logis-matematis, analisis problem solving, dan sedikit ilmu soft skill yg didapat dari kesibukan berorganisasi. Di salah satu proses seleksi tersebut, ternyata ada pelatihan seputar bagaimana menjadi konsultan bisnis. Ada beberapa studi kasus mengenai market sizing, business operation, dan business strategy. Di perusahaan tersebut saya berkenalan dengan Bang Leonardo Kamilius, Bang Danu Wicaksana, dan Mbak Falah Fakhriyah. Saya melihat mereka sebagai orang2 yg cerdas dan bidang konsultan yg mereka jalani sebagai dunia yg menantang dan menyenangkan. Meski saya gagal dalam proses seleksinya, saya jadi mendapatkan insight jika saya ingin dan harus mendalami dunia bisnis dan manajemen.

Sambil menunggu proses seleksi di beberapa perusahaan, saya mengambil kerja magang di PT. LEN Industri. Rasa-rasanya tidak enak menganggur setelah diwisuda dan saya pun harus mulai mendapatkan penghasilan. Beruntung hasil kerja praktek dan tugas akhir saya disana diapresiasi, sehingga saya bisa diterima magang disana dengan gaji yg lumayan besar. Jenis pekerjaan yg didapat adalah (lagi-lagi) mengenai programming. Bekerja secara professional di divisi Research and Development sebuah BUMN ternyata tidaklah mudah dan menyenangkan bagi saya. Duduk berlama-lama di depan laptop dari pagi hingga sore membuat waktu seakan melambat. Apalagi di divisi RnD itu tidak ada guidance yg jelas, karena kita sendirilah yg mencari dan membuatnya. Artinya saya bekerja atas progress yg saya buat sendiri. Jika saya sendiri tidak menyukai bidang yg dikerjakan, bagaimana saya bisa membuat progress yg baik dan menyelesaikan pekerjaan itu? Perasaan magabut pun mulai menggelayuti. Namun, dengan bantuan Mas Yanuar Yudianto, Mas Ridlo Tubagus, dan Bu Wibi akhirnya saya bisa membuat progress yg berarti selama 2 bulan saya bekerja disana.

Setelah berkali-kali mengikuti seleksi di berbagai perusahaan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai Management Trainee di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dengan nama New Employee Development Program. Sebetulnya saya tidak mengira akan diterima disini karena minim persiapan dan proses seleksinya yg terbilang lama. Harapan saya adalah saya bisa belajar tentang ilmu manajemen di perusahaan yg terkenal dengan konsep Toyota Production System dan budaya Toyota Way nya ini. Apalagi perusahaan ini bersanding bersama Astra Group, sehingga mampu meraih market share terbesar bidang permobilan di Indonesia. Saya pun kemudian ditempatkan bekerja di Karawang, di sebuah pabrik manufacturing terbesar yg terbilang baru. Inilah pengalaman pertama saya merantau dari kota kelahiran saya.

Program NEDP ini memang menawarkan pembelajaran yg banyak, mulai dari Toyota Way, TPS, Toyota Business Practice (TBP), Plan-Do-Check-Action (PDCA), A3 Report, Floor Management, dll. Disinilah saya berteman dengan Deni Arifakhroji, Subban Malik, Irvandi Permana Arga Diputra, Fajar Hadi Pratama, Devy Freshia, Hanindita Diadjeng Sunu, Glenda Enzy Viona, Dhinda Prinita Sari, Andhini Novrita, dan beberapa yg lain. Dari pelatihan ke pelatihan, sampai ke Operator Experience Program, yg akhirnya saya pun ditempatkan di Quality Control Division. Saya kemudian mengontrak sebuah rumah bersama Deni, Subban, dan Arga. Kehidupan dunia kerja yg awalnya berasa manis kemudian berubah bentuk sedikit demi sedikit. Welcome to the real world! 🙂

Jenis pekerjaan di QCD ini memang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang, berkeliling pabrik, hingga mengunjungi pabrik supplier. Saya harus mengidentifikasi masalah kecacatan pada part-part mobil, memastikan kualitas part yg dikirimkan oleh supplier, dan membuat laporan tentang hal itu. Jenis pekerjaan yg menarik karena saya bisa aktif bergerak kesana kemari dan mempelajari banyak hal. Ini pun sesuai dengan apa yg saya bayangkan ketika kuliah di Teknik Kendali. Namun, bidang yg ditekuni ternyata tidaklah sesuai dengan yg dikerjakan. Saya merasa tidak nyaman ketika harus membongkar part-part mobil, mengukur clearance dan level, berkonflik dengan supplier dan tim dari divisi lain. Jam kerja pun ternyata dari pagi hingga malam, dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Lama kelamaan saya merasa kebebasan saya terenggut, saya tidak bisa mengaktualisasikan diri secara optimal.

Di QCD ini saya berkenalan dengan Pak Hamzah Wirya Utama, Desyanti Wulandari, Faradinnita Akhsani, Mas Wahyu Priyandono, Mas Adhy Permana, Pak Isa, Pak Heru Purnomo, Pak Agus Wahyudi, Pak Maulana, Pak Herman, Dade Mukti Wijaya, dan rekan kerja yg lain. Aktivitas saya yg sering berkeliling pabrik membuat saya sering bersilaturahim dengan karyawan yg lain. Saya pun banyak belajar dari sosok Pak Hamzah, partner kerja sekaligus ‘ayah kedua’ saya. Idealisme yg mulai terkubur akhirnya muncul kembali setelah sering mengobrol ngalor ngidul dengan beliau. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, pertanian, budaya, sampai nasionalisme. Ditambah dengan kedatangan Jaya di QCD, keinginan berwirausaha saya pun mengkristal. Petualangan mencari ide usaha yg pas di Karawang pun dimulai…

Titik-Titik Puzzle (4)

Kehidupan kampus tingkat 3 bisa dibilang sebagai puncak aktualisasi diri dari seorang mahasiswa karena dianggap sudah cukup dewasa dan berpengalaman untuk bisa memimpin sebuah organisasi kampus. Dan juga belum terlalu sibuk dengan kegiatan perkuliahan seperti mengerjakan Tugas Akhir atau skripsi. Pemilihan ketua di setiap himpunan dan unit mayoritas dilakukan dengan sistem pemungutan suara dan musyawarah. Setiap calon ketua memaparkan visi misinya dan membentuk tim sukses kampanye. Proses yg hampir mirip dengan pesta demokrasi pemilu di pemerintahan negeri ini.

Saya pribadi dipilih sebagai Ketua Muslim Elektroteknik saat itu, sebagai hasil keputusan dari musyawarah GAMAIS Wilayah Fakultas. Sejujurnya masih banyak orang lain yg menurut saya lebih pantas mengemban amanah ini. Saya dipilih karena dianggap aktif di GAMAIS Pusat dan stabil secara akademik, dan di sisi lain, beberapa calon lain telah menerima amanah yg cukup besar. Jadilah saya memulai roda organisasi ini bersama Muchammad Musyafa, Rachavidya Achmad, Arkan Muhammad Irsyad, Alfadho Khasroh, Muhammad Iqbal Faruqi, Kang Muhammad Hasan Sirojuddin, Kang Wahyu Fahmy Wisudawan, Kang Helmi Muslim, dan Kang Fahmi. Banyak pelajaran dan nasehat yg saya dapatkan dari mereka, mulai dari ketekunan mereka mendalami suatu hal sampai idealisme seorang muslim yg baik.

Di kuliah tingkat 3 ini saya memilih program studi Teknik Kendali, dengan harapan agar bisa merancang suatu robot yg dilengkapi dengan sensor dan alat pengendali. Bayangan saya saat itu, minimal saya nantinya bisa bekerja di suatu pabrik dengan alat dan mesin yg digerakkan secara otomatis. Namun, ternyata kemampuan praktis tidak bisa didapat dengan mudah melalui kuliah saja. Mayoritas materi yg diberikan adalah mengenai teori dasar dan perhitungan ngejelimet bagaimana suatu sistem kendali bekerja dengan segala komponen yg terdapat di dalamnya. Alhasil, saya tidak bisa berbuat banyak tentang robotika karena kesibukan organisasi nampaknya memakan waktu lebih banyak. Saya salut pada beberapa teman, seperti Ashlih Dameitry, Samratul Fuady, Azhari Surya Adiputro, dan Kang Syawaludin yg mampu membuat beberapa karya robotik yg mampu menjuarai perlombaan nasional dan internasional. Iri juga rasanya, tapi pilihan aktivitas telah diambil dan saya tidak boleh menyesal atas pilihan itu.

Dalam sebuah kesempatan, beberapa teman seprogram studi mengusulkan suatu event ekskursi, yaitu kegiatan mengunjungi beberapa industri di Jawa Barat. Saya pun ditunjuk jadi ketua panitianya, karena memang tidak ada orang lain yg mau. Sigh… Jadilah saya merencanakan event ini dengan dibantu oleh Arkan, Adrianto Tedjokusumo, Rico Hartono, Leonardo Tansil, Leo Arifwibawa, Fiandrie Marcell, dan beberapa teman yg lain. Sempat mengalami pengunduran jadwal, kekurangan panitia, hingga defisit pendanaan, akhirnya event ini bisa berlangsung selama 3 hari pulang-pergi. Industri yg dikunjungi saat itu adalah PT. LEN Industri, PT. Astra Honda Motor, PT. Pupuk Kujang, dan PT. Indoserako Sejahtera, yg mencakup bidang elektronika, manufacturing, kimia, dan kontraktor sistem kendali pabrik. Hari ketiga diisi oleh acara jalan-jalan ke Taman Mini, sekedar bersenang-senang dan berkunjung ke beberapa museum (sebetulnya karena kehabisan dana, sehingga kami hanya mampu ‘berlibur’ kesana, hehe…).

Di selang waktu antara kuliah tingkat 3 dan tingkat 4, saya menjalani kerja praktek di PT. LEN Industri selama 2 bulan bersama Arkan. Yg kami kerjakan saat itu adalah memprogram sebuah chip embedded system agar mampu melakukan komunikasi serial dan ethernet dengan jaringan komputer. Memang terlihat keren, tapi entah kenapa saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan. Perasaan senang hanya bisa didapat ketika terjadi suatu keberhasilan dalam proses pemrograman. Selebihnya adalah rasa ngantuk dan rasa tanggung jawab atas perintah yg harus dikerjakan untuk menyelesaikan kerja praktek tersebut. Mungkin karena saya terbiasa bergerak dan berinteraksi dengan orang lain sehingga saya tidak tahan ketika harus diam duduk di suatu posisi dalam waktu yg lama.

Setelah kerja praktek, dimulailah kuliah tingkat 4 yg lebih fokus pada pengerjaan Tugas Akhir. Saya berkeputusan untuk memilih TA yg bisa cepat selesai, berhubungan dengan dunia perusahaan, dan bisa dikerjakan berkelompok. Jadilah, saya mengerjakan topik TA berjudul Communication-Based Train Control (CBTC) bersama Doni Yusdinar, Rico Pradityo, Muhammad Haekal, dan Rio Ricardo, bekerja sama dengan PT. LEN Industri. Topik TA ini berkaitan erat dengan rencana pembuatan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika hasil dari TA kami ini nantinya bisa diaplikasikan langsung untuk memperbaiki sistem transportasi di ibukota. Untuk menyelesaikan TA ini, kami perlu bolak-balik mempresentasikan progress yg kami lakukan ke jajaran manajemen teknik R&D di LEN. Sekali lagi, ternyata dalam prosesnya, saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan, karena saya harus duduk termenung di depan laptop selama kurang lebih 2 bulan untuk membuat sebuah program yg akhirnya selesei di baris ke-7000-an. Dengan bantuan teman setim dan bimbingan dari Pak Agung, Pak Andriyanto, dan Pak Hilwadi, TA saya pun layak maju ke sidang akhir.

Momen sidang akhir memang jadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa yg akan lulus jadi sarjana. Gambaran dosen penguji dengan tatapan mengintimidasi yg akan mengajukan pertanyaan tajam pun muncul di pikiran. Betapa beruntungnya saya, 3 dosen penguji saya adalah dosen yg dikenal ‘killer’. Yg pertama adalah dosen legenda kendali, yg kedua cukup sering mengeluarkan mahasiswa dari kelas, dan dengan yg ketiga pernah beberapa kali tidak meluluskan mahasiswa yg diujinya. Huhu… Tapi akhirnya, saya bisa ‘lolos’ sidang dengan nilai BC, yg merupakan nilai ambang batas. Tak terbayang jika akhirnya saya gagal lolos sidang karena saat itu orang tua datang langsung untuk menyaksikan anaknya disidang. Mereka hanya menanyakan kenapa saat di dalam ruangan, suara dosen penguji terdengar cukup keras, hehe… Perasaan lega pun dilengkapi dengan rentetan revisi yg harus saya buat untuk menyelesaikan laporan akhir. Dengan bantuan dari dosen pembimbing, saya pun akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan 🙂

Tibalah momen wisuda. Momen selebrasi yg menjadi memori kebanggaan mahasiswa dan orang tuanya. Patung ganesha yg saya dapatkan ternyata mampu membuat orang tua saya terharu. Pemakaian baju toga, prosesi upacara kelulusan, dan acara arak-arakan keliling kampus menjadi pertanda lahirnya para sarjana baru. Sedih juga saat itu ketika harus berpisah dengan kampus, sahabat, dan segala kenangan di dalamnya. Dalam pikiran saya, menjadi sarjana adalah beban amanah yg harus dipertanggungjawabkan dan menjadi langkah awal menuju dunia kontribusi yg sesungguhnya…