Kejelasan dan Kebenaran Tujuan

Menyempatkan diri hadir di majelis ilmu untuk menambah wawasan dan sudut pandang itu memang dibutuhkan. Kita senantiasa mengharap ilmu yang bermanfaat, yang menunjukkan jalan yang lurus, dan yang mampu menghindarkan kita dari kesesatan. Begitu banyak informasi yang masuk ke dalam otak kita setiap harinya dan kita sendiri seringkali sulit untuk menyaring dan menyortir informasi apa yang akan disimpan dan apa yang akan dibuang.

Sebuah tujuan yang jelas (menurut saya) seringkali juga bisa dijadikan sebagai acuan untuk menentukan jenis saringan yang tepat dan sesuai kebutuhan kita. Tujuan inilah yang akan memilah ilmu dan informasi. Ketika tujuan kita tak jelas, maka sangat dimungkinkan jika ilmu dan informasi yang disimpan oleh otak kita adalah sampah yang sebetulnya harus dibuang. Qadarullah, tujuan yang jelas dapat menuntun kita untuk menemukan peluang ilmu yang bisa kita pakai sebagai bekal perjalanan mencapai tujuan tersebut.

Selain kejelasan tujuan, juga tentunya dibutuhkan kebenaran tujuan. Tujuan yang jelas-jelas salah tentunya akan selalu memasukkan ‘sampah’ ke dalam otak kita. Kita harus terus-menerus cek dan ricek kebenaran niat dan tujuan kita. Ketika tujuan kita jelas-jelas benar, maka apa yang akan dan telah terjadi pada diri kita bisa diyakini sebagai jalan yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Rasa-rasanya diri kita pun lebih bisa legowo dan ikhlas.

Mungkin ada beberapa contoh yang menarik untuk kasus mengenai tujuan ini. Partai politik yang mengejar kekuasaan akan selalu mencari ilmu dan cara memenangkan pemilu, meski harus sikut sana-sini. Sedangkan partai politik yang mengejar kontribusi dan pengabdian akan selalu mencari ilmu dan cara mencerdaskan dan memberdayakan umat, terlepas dari kekuasaan yang akan didapat. Kekuasaan ini dianggap sebagai salah satu jalan saja, sehingga hasil besar-kecil atau dapat-tak dapat bisa diyakini sebagai jalan yang terbaik sesuai tuntunan Yang Maha Mengetahui.

Saya pribadi ketika mencoba mencari titik-titik temu yang bisa digunakan untuk mempersatukan umat Islam di Indonesia, seringkali dipertemukan dengan orang-orang dan majelis ilmu yang saya rasa tepat. Untaian titik-titik yang ‘unik’ memperdalam keyakinan saya untuk terus menapaki jalan ini. Beragam perspektif begitu memperkaya diri. Beragam polemik ternyata malah bisa mempersatukan. Betapa indahnya ketika perspektif dan polemik ini menemukan jalan untuk bersatu, dari orang ke orang, kelompok ke kelompok, saling menguatkan bagaikan rantai besi yang terikat kokoh. I’m sure it will happen someday with The Will of Allah. Wallahu ‘Alam.

Iklan

Pak Hamzah (2)

Dalam suatu kesempatan, saya kembali bertemu dengan Pak Hamzah setelah sekian lama. Beliau masih menjadi seseorang yg saya kenal dengan senyumnya dan nada dering HP miliknya yg berbunyi lagu Rhoma Irama “Trerereng rereng… Hai Manusia… Hormatilah Ibumu… Yang melahirkan dan membesarkanmu…”. Pengingat yg selalu terngiang saat saya masih bersama beliau dulu. Beliau pun masih selalu merendah dengan posisi pekerjaannya, padahal jika ia pensiun nanti, saya yakin perusahaan akan sulit mencari pengganti dari beliau. Ketajaman penglihatannya, pengalamannya mendeteksi problem, keramahannya dengan tim kerja dan supplier, hingga nasehatnya yg kerap ia sampaikan. Dalam tulisan kedua tentang Pak Hamzah ini, ijinkan saya melanjutkan kisah perjalanan beliau beserta pemikirannya.

Pak Hamzah dulunya adalah seseorang yg tegas dan disegani, bahkan oleh karyawan sekelas manager sekalipun. Beliau bekerja bertahun-tahun di Divisi Painting bagian Quality. Beliaulah yang memutuskan suatu warna oke atau tidak, sama atau beda, tebal atau tipis, dan sebagainya. Ternyata begitu banyak jenis kecacatan pada warna suatu mobil. Dengan ketajaman penglihatannya, beliau bisa tau jika warna putih itu terlalu kuning/biru, dengan melihat dari sudut pandang tertentu. Seriously, di mata saya (dan mayoritas karyawan) nampak tidak ada yg berbeda. Penglihatan Pak Hamzah setara dengan alat pengecek warna yg berharga ratusan juta sekalipun. Pernah ada suatu kasus dimana ada mobil ‘pesanan’ seorang Manager diperiksa di bagian Quality. Pak Hamzah menyatakan jika mobil tersebut NG atau tidak sesuai standar pabrik karena catnya terlalu tebal. Sang Manager memang secara personal memesan mobil itu untuk dirinya sendiri dengan ketebalan cat yang tidak biasa. Sementara karyawan lain membiarkan hal itu, Pak Hamzah bersikukuh tidak akan membiarkan mobil itu keluar bagian Painting sebelum catnya diperbaiki menjadi sesuai standar. Mulai dari karyawan kelas operator hingga Manager bergantian membujuk beliau agar mobil itu di-OK-kan saja. Pak Hamzah tak bergeming, standar kualitas harus ditegakkan pada setiap mobil, tak pandang bulu, meski itu pesanan atasan sekalipun. Karena beliau tau jika setiap pekerjaan yg ia lakukan harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Itulah prinsipnya. Meski begitu, mobil pesanan sang manager itu ternyata bisa diloloskan atas persetujuan orang lain selain Pak Hamzah. Dan akhirnya kita berlepas diri dari perbuatan orang lain…

Mungkin karena ketegasan sikapnya itulah, posisi dan level pekerjaan beliau sulit untuk naik. Beliau pun memang cukup kritis dengan kebijakan-kebijakan perusahaan yang terkadang ‘berat sebelah’. Sudah menjadi rahasia umum jika orang yang vokal bersuara tentang kesejahteraan dan upah buruh, akan dipandang sebelah mata oleh perusahaan, apalagi yg empunya adalah orang asing. Pada akhirnya, beliau menolak menjadi ‘singa perusahaan’ yang siap sedia bertindak tegas (cenderung galak/judes) ketika berhadapan dengan rekan setim ataupun supplier. Meski seorang Quality Control seperti ini disukai perusahaan, tetapi orang semacam ini tidak akan disukai oleh rekan sejawat. Pak Hamzah berprinsip ketika jabatan itu dilepas dari seseorang, maka ia tidak lebih dari seorang manusia biasa di mata masyarakat. Ini artinya meski jika ia mempunyai jabatan tinggi saat di kantor atau saat pensiun, maka tetaplah ia dikenal sebagai manusia dengan karakter dan sifat yg menempel pada dirinya saat berada di luar kantor ataupun saat kembali ke masyarakat. Simpelnya, jika di kantor mungkin ia tak bisa ditonjok karena jabatannya sebagai direktur, maka di luar kantor bisa saja ia malah ditendang karena sikap otoriternya yang menyebalkan.

Pak Hamzah juga sering membandingkan jaman sekarang dengan jaman presiden Pak Soeharto. Jika sekarang banyak beredar stiker “Piye kabare? Enak jamanku tho?”, maka Pak Hamzah adalah seseorang yg pro akan hal ini. Mungkin beliau setuju karena kondisi jaman Pak Harto memang terasa lebih damai dan lebih sejahtera, jika dibandingkan dengan jaman sekarang yang ramai konflik antarpartai dan kelompok masyarakat. Orang-orang berani saling sikut untuk memperoleh sesuap nasi. Para pejabat berani mengadu domba demi kepentingan politik diri dan partainya. Indonesia terasa semakin semrawut dari waktu ke waktu. Mungkin tidak ada yang perlu disalahkan dari perubahan jaman ini, kecuali diri kita sendiri. Apa yang telah kita lakukan? Apa kontribusi yang bisa kita berikan? Jika manusia-manusia di Indonesia ini merindukan jaman Pak Harto dulu, lantas apa yang menyebabkan mereka berpikiran seperti itu? Ini adalah refleksi yang mendalam bagi diri saya pribadi.

Satu hal lain yang menjadi perhatian dari Pak Hamzah adalah soal pertanian. Begitu banyak lahan pertanian yang beralih fungsi. Impor pangan semakin deras. Harganya pun semakin meninggi. Petani semakin melarat. Kesenjangan semakin mencuat. Hal ini juga yang sedang terjadi di Karawang. Pak Hamzah mempunyai 2 ide/mimpi tentang pertanian ini. Yang pertama adalah bagaimana caranya agar padi dapat tumbuh dimana saja laksana rumput yang bisa tumbuh dimana saja padahal kita tidak menanam bibit rumput disana. Yang kedua adalah membuat lahan pertanian bertingkat, yakni semacam gedung tinggi bertingkat yang berisi lahan pertanian di setiap tingkatnya. Pak Hamzah mencermati krisis lahan yang akan terjadi mengakibatkan krisis pangan yang semakin parah. Teknologi pertanian harus segera ditemukan agar manusia bisa tetap hidup memakan pangan dengan harga terjangkau. Sebesar apapun bisnis manufacturing ataupun IT merajalela, manusia tidak akan bisa hidup dengan memakan part-part mobil atau data-data informasi.

Yang Pak Hamzah takutkan di akhir adalah mengenai Post-Power Syndrome. Begitu banyak rekan kerjanya yang kemudian jatuh sakit bahkan sampai meninggal di sekitar masa usia pensiun. Pekerjaan dan beban tanggung jawab yang dirasakan saat bekerja tetiba hilang, dan akhirnya mempengaruhi kondisi mental dan kesehatan. Rasa kesepian, kebosanan, dan tidak mampu berbuat apa-apa datang menghinggapi orang-orang yang pensiun ini. Akan tetapi, saya berharap hal ini tidak akan terjadi pada Pak Hamzah. Pak Hamzah masih bisa berbuat banyak setelah pensiun nanti dengan menyebarkan pemikirannya dan beramal sebanyak-banyaknya kepada masyarakat sekitar. Saya yakin masih banyak orang di luar sana yang sepakat dengan Pak Hamzah, dan siap mengeksekusi hal-hal tersebut…

Pak Hamzah (1)

Pertemuan saya dengan Pak Hamzah bermula saat saya “dipindahtugaskan” dari Divisi Production Engineering ke Divisi Quality Control. Sungguh kaku ketika sebelumnya saya bekerja bersama teman-teman sebaya untuk kemudian mempunyai partner kerja seorang Bapak berusia 50 tahunan. Apalagi ketika saya mengetahui jika Pak Hamzah ini berada di bawah “kelas karyawan” saya, alias beliau bisa dianggap sebagai “bawahan”. Bagaimana seseorang seperti saya yang baru masuk kerja beberapa bulan bisa menempati posisi di atas beliau dengan upah yg tentunya lebih tinggi? Bagaimana pengalaman seorang Pak Hamzah yang telah bekerja selama puluhan tahun tidak cukup dihargai agar bisa menjadi seorang “atasan”?

Hari-hari awal bekerja tentunya saya sangat bergantung pada Pak Hamzah. Bagaimana caranya mengidentifikasi kecacatan pada part mobil, membedakan warna yg nyaris terlihat sama, mendeteksi goresan yg sangat tipis pada body, membandingkan celah antar part mobil yang hanya berlebar sekian milimeter saja, sampai memutuskan sesuatu bersama supplier jika sebuah part yang dikirimkannya itu OK atau NG (Not Good). Semua jenis pekerjaan ini tentunya baru bagi saya, yang tentunya juga tidak diajarkan di kuliah ataupun di training/pelatihan saat masuk kerja. Semuanya harus saya pelajari di lapangan dari orang-orang yang memang punya pengalaman akan hal itu. Jika saat itu tidak ada Pak Hamzah di samping saya, maka saya hanyalah seorang sarjana yang tidak mampu berbuat sesuatu ataupun memutuskan sesuatu. Mungkin saya menjadi seseorang yg makan gaji buta dan jadi bahan cercaan karyawan lain. Dan lagi-lagi saya menanyakan hal yang sama, bagaimana seseorang yg berpengalaman yg bisa mengajarkan saya banyak hal tidak mendapatkan apresiasi yang sesuai dari perusahaan tempatnya bekerja?

Dengan bekal pertanyaan itu, saya mencoba menggali siapa sebenarnya Pak Hamzah ini, dan apakah banyak Pak Hamzah-Pak Hamzah lain yang bernasib sama. Pak Hamzah yang saya kenal adalah seorang Bapak lulusan sekolah menengah yang berasal dari kawasan Jakarta Utara. Beliau banyak bercerita mengenai kondisi daerah bernama Tanjung Priok dimana kehidupan disana sangatlah keras. Lulusan sekolah yang berasal darisana akan sulit mendapat pekerjaan dikarenakan kondisi lingkungan yang dikenal buruk. Alias mereka sudah di-blacklist. Pak Hamzah pun bercerita jika mayoritas warga pendatanglah yang mempunyai perangai buruk yang akhirnya mempengaruhi kondisi sosial budaya disana. Warga asli sana yang sebetulnya “innocent” jadi ikut kena getahnya. Beliau mencontohkan begitu tak berpendidikannya mayoritas warga pendatang yang berasal dari kawasan pedesaan. Mereka berlaku seenaknya, tak beretika, dan membawa budaya asal kampungnya. Arus urbanisasi yang padat mengakibatkan mereka harus berjibaku mencari sesuap nasi dengan warga pribumi. Siapa yg kuat akan bertahan dan siapa yg lemah akan tersingkir. Disini Pak Hamzah jadi mempunyai pemikiran jika sesungguhnya warga pedesaanlah yang harus dididik dan diberdayakan sehingga ia tak butuh pindah ke perkotaan untuk mencari kerja. Mereka seharusnya bisa mempunyai penghidupan yang layak di desa mereka sendiri. Sebagus apapun wilayah perkotaan berkembang, maka kesenjangan dan konflik sosial tidak akan bisa dihilangkan selama arus urbanisasi warga pedesaan tak terdidik ini terus membanjiri perkotaan.

Di sisi lain, Pak Hamzah pun bercerita tentang seseorang yg luar biasa yg mempunyai banyak usaha di kawasan Tanjung Priok. Orang ini lulus SD pun tidak, kakinya lumpuh, dan tak bisa baca tulis. Akan tetapi, usahanya meliputi rumah makan, transportasi angkutan umum, hingga minimarket. Hidupnya sangat berkecukupan dan dia menggunakan nama “Doa Ibu” sebagai nama usahanya. Modal utamanya adalah kerja keras, kejujuran, dan sikap tawakal. Ia tak takut dicurangi oleh karyawannya sendiri ketika menerima laporan keuangan karena memang dia tak bisa baca tulis. Ia menyerahkan kepercayaan sepenuhnya, yang penting dia menerima keuntungan yang bisa ia syukuri. “Rezeki sudah ada Yang Mengatur”, itulah prinsipnya. Kisah nyata ini berulang kali Pak Hamzah ceritakan, seolah-olah ingin menampar saya yang berstatus sarjana ini. “Sadar woy sadar… Lu tuh sarjana… Dia aja yang ga lulus SD bisa nyediain kerjaan buat banyak orang… Lah Elu bisanya cuma morotin upah perusahaan tempat Lu kerja…” Mungkin itu pesan implisit yang terkandung dari kisah itu. Pak Hamzah beranggapan jika seorang sarjana seharusnya tidak bekerja, justru ia yang harus menciptakan lapangan kerja. Yg gak sarjana aja banyak yang nganggur, lah ini yg sarjana ikutan berebut kursi kerjaan. “Biarkanlah lulusan madrasah yang bekerja di pabrik, kerjaan kayak begini mah mereka juga bisa”, hal itu juga yang sering Pak Hamzah katakan. Tamparan di wajah itu dilanjutkan dengan tusukan tajam di hati. Jleb.

Oleh karena kami berdua adalah partner kerja di bagian eksterior, hampir di setiap pekerjaan saya selalu bersama beliau. Bukan saja karena saya membutuhkan bantuannya, tetapi juga karena asiknya saya mengobrol dengan beliau mengenai banyak hal di luar urusan pekerjaan. Sungguh banyak pelajaran dan makna kehidupan yang beliau ajarkan. Dan ini saya anggap lebih penting dari pelajaran mengenai bagaimana suatu pekerjaan Quality Control bisa selesai dengan baik. Di saat senggang ataupun saat mengidentifikasi masalah, kami sering berlama-lama untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul. Tujuan saya untuk mengetahui pribadi Pak Hamzah jadi lebih mengasikkan. Ada beberapa hal di luar jalan kehidupannya yang membuat saya tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut. It’s a life philosophy, wisdom, and it’s magic…

Titik-Titik Puzzle (6)

Karawang dikenal dengan sumber daya pertaniannya yg besar, ditandai oleh luasnya hamparan sawah yg ada. Namun, invasi industri asing dan menjamurnya perumahan membuat lahan hijau tersebut semakin terhimpit. Pertama kali datang kesini, saya menyangka Karawang adalah kota yg kecil karena jalan utama yg saya lalui terkesan itu-itu saja. Padahal ternyata begitu banyak pedesaan yg lokasinya tidak dilalui jalan utama dengan sarana angkutan umum yg minim. Ini yg menginspirasi saya dan Jaya untuk merintis usaha agribisnis disini, sekaligus berusaha mempertahankan lahan sawah yg ada dan mengembangkan potensi lokal.

Jaya yg memang asli Karawang mengajak saya untuk berkunjung ke sebuah kumbung jamur merang milik Mas Santo. Kemudian beliau mereferensikan kami kepada seseorang bernama Pak Misa Suwarsa jika ingin belajar mengenai usaha budidaya jamur merang ini. Kami pun berangkat menemuinya dan ternyata beliau memang membuka pelatihan budidaya jamur merang selama 5 hari dengan biaya 3 juta rupiah. Sosok dan cerita yg beliau sampaikan begitu menarik perhatian kami sehingga saya pun memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Jamur merang yg memanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami dan limbah kapuk sebagai bahan baku utama, ternyata memiliki nilai jual yg tinggi dengan pasar yg masih luas. Proses produksi yg terlihat sederhana dengan menggunakan lahan yg kecil membuat kami berpikir jika usaha ini bisa diaplikasikan bersama masyarakat/petani sekitar untuk meningkatkan penghasilan dan produktivitas mereka.

Semangat kewirausahaan sosial yg dulu sempat membara akhirnya mengkristal menjadi sebuah keputusan resign dari tempat saya bekerja di Toyota. Proses resign ini terbilang cepat dan mendadak karena saya baru bekerja selama 6 bulan tanpa pemberitahuan one-month-notice. Caranya pun terkesan arogan dan berlebihan. Saya dengan terang-terangan mengirim email pengunduran diri ke berbagai divisi terkait pekerjaan saya dan mengumumkan diri di rapat ‘Asakai’ yg dihadiri beberapa pimpinan perusahaan. Selain itu, saya pun berkeliling pabrik untuk sekedar memoto orang2 yg pernah saya kenal disana, sekalian berpamitan dengan mereka. Emosi yg meletup-letup dan semangat nasionalisme menguasai diri saya saat itu. Berbagai respon pun saya dapatkan, yg tentunya berisi pro dan kontra. Seakan-akan saya menegaskan jika alumni almamater saya itu “tak bisa dipegang” dan “kutu loncat”. Rasa penyesalan yg kemudian menyeruak coba saya konversi menjadi jangkar untuk memacu perjalanan berikutnya.

Saya pun mendapatkan email dari seorang teman untuk mengikuti perlombaan business plan di Prasetiya Mulya Business School. Selain bisa mengikuti proses karantina selama seminggu disana, hadiah utamanya adalah berupa beasiswa S2 Manajemen Bisnis full. Selain itu, ada juga seleksi pelatihan Majelis Mujahid Bisnis dari Kang Rendy Saputra selama 12 kali pertemuan. Gayung pun bersambut. Rencana awal untuk belajar ilmu bisnis pun bisa terlaksana. Ilmu manajemen ala Toyota dan ilmu budidaya jamur merang akan berasa lengkap. Keputusan saya pun akhirnya semakin membulat.

Keputusan resign dari pekerjaan yg mapan tentunya ditentang oleh orang tua saya. Apalagi pilihan setelahnya adalah menjadi seorang petani jamur. Ini bukan berputar arah, tetapi memang terjun bebas. Begitu sulit memang meyakinkan orang tua dengan keputusan ini. Yg bisa saya tawarkan di awal adalah sebuah perjanjian : “Jika dalam waktu 6 bulan ke depan setelah resign kehidupan saya tidak membaik, maka saya akan mencari pekerjaan di perusahaan kembali”. Selain itu, saya pun mengiming-imingi dengan perlombaan bisnis yg akan saya ikuti. Mungkin saja kan saya bisa menang beasiswa S2, hehe…

Pelatihan budidaya jamur merang yg saya ikuti pun dimulai. Disana saya berkenalan dengan Pak Ade dan Pak Koko dari BPPT, Mas Tono dari Sragen, dan seorang kakek-kakek yg berasal dari Medan. Wuih, keren juga kan peserta pelatihannya dari mana-mana. Proses budidaya yg dimulai dari pengomposan hingga panen pun saya pelajari. Bau komposan yg menyengat hidung, panasnya kumbung yg menyesakkan dada, dan beratnya proses produksi ala petani yg menggunakan bahan baku hingga 1 ton lebih. Wow, sungguh menantang bagi saya pribadi yg memang jarang melakukan pekerjaan seberat itu.

Untuk memulai usaha budidaya jamur merang ini, saya pun berdiskusi dengan Jaya yg saat itu masih berseragam Toyota. Kami mengambil keputusan untuk menggunakan sisa gaji yg ada untuk membangun 1 kumbung lengkap dengan sarana tambahannya dan biaya 1 kali produksi awal. Untuk lokasinya, kami mengontrak sebuah lahan di dekat rumah Pak Misa agar kami bisa sering berkonsultasi dengan beliau. Semangat optimisme pun membara. Setelah semua perlengkapan dibeli, kumbung tegak berdiri, kami berdua pun melakukan proses produksiya sendiri. Ternyata luar biasa berat. Jerami kering yg cukup tajam, air komposan yg tak sedap, panasnya terik matahari, dan beratnya beban yg diangkat membuat kami tersiksa. Perjuangan awal menjadi seorang petani memang tak mudah sama sekali.

Dalam suatu kesempatan, kami berdua berdiskusi di sebuah angkringan malam mengenai mimpi dan apa yg ingin dilakukan ke depan. Perbincangannya begitu bebas, mulai dari bisnis yg akan dibangun, perekonomian, pendidikan, kegiatan sosial, sampai gerakan perubahan. Pada dini harinya, saya mengkristalkan itu semua menjadi sebuah tulisan berjudul “8 Mimpi Besar” pada sebuah buku. Itulah momen dimana saya merasakan semangat yg begitu besar, menggelora di dalam dada, dan menggoyangkan bulu kuduk. Mungkin inilah yg disebut proposal hidup. Dan inilah yg akan menjadi bahan bakar utama saya dalam mengarungi kehidupan. Unbelievable, sungguh sensasi yg luar biasa.

Dengan proposal hidup ini juga, saya kembali mencoba meyakinkan kedua orang tua saya. Beruntung ada salah satu anggota keluarga besar yg dituakan, yg percaya kepada saya, dan membantu saya meyakinkan. Meski orang tua saya tidak sepenuhnya mendukung, tetapi setidaknya hati mereka mulai luruh. Karena bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridho Allah juga. Maka jadilah saya kembali berkuliah di “Universitas Kehidupan”, sebuah proses pembelajaran tiada henti yg seringkali menghadirkan kebetulan-kebetulan yg nyata, yg blueprint dan kurikulumnya telah diatur oleh-Nya. Setiap proses dan kepingannya begitu membekas dalam pikiran. Subhanallah…

Titik-Titik Puzzle (5)

Pilihan hidup pasca kelulusan dari kampus adalah pilihan yg sulit sekaligus membingungkan. Jika pada pilihan-pilihan kelulusan sebelumnya bisa lebih mudah diputuskan karena ada patokan tujuan (SMP/SMA/Universitas favorit), maka pilihan setelah diwisuda sangatlah beragam dan tidak ada patokan yg jelas. Mau melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3, mencari dan melamar pekerjaan, atau berwirausaha? Kuliah di jurusan apa dan dimana? Jenis pekerjaan apa dan perusahaan seperti apa? Usaha di bidang apa dan bagaimana memulainya? Tak pelak, banyak wisudawan baru yg tidak bisa menentukan pilihannya secara mutlak, cenderung coba-coba, mengalir seperti air, atau mengikuti kemana arah angin berhembus. Tak sedikit juga yg kemudian menyesali pilihannya, bergonta-ganti pekerjaan, dan tidak bisa menikmati apa yg dia kerjakan.

Saya pribadi saat itu memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Kebutuhan akan kuliah S2 menurut saya akan disesuaikan setelahnya, apakah di bidang engineering lagi atau di bidang manajemen bisnis. Dikarenakan saya ternyata kurang menyukai dunia engineering/programming, maka saya mencari pekerjaan di bidang bisnis/manajemen. Jadilah saya mengikuti proses seleksi dan wawancara di beberapa perusahaan konsultan bisnis. Yg saya manfaatkan dari proses kuliah teknik adalah sekedar pola pikir logis-matematis, analisis problem solving, dan sedikit ilmu soft skill yg didapat dari kesibukan berorganisasi. Di salah satu proses seleksi tersebut, ternyata ada pelatihan seputar bagaimana menjadi konsultan bisnis. Ada beberapa studi kasus mengenai market sizing, business operation, dan business strategy. Di perusahaan tersebut saya berkenalan dengan Bang Leonardo Kamilius, Bang Danu Wicaksana, dan Mbak Falah Fakhriyah. Saya melihat mereka sebagai orang2 yg cerdas dan bidang konsultan yg mereka jalani sebagai dunia yg menantang dan menyenangkan. Meski saya gagal dalam proses seleksinya, saya jadi mendapatkan insight jika saya ingin dan harus mendalami dunia bisnis dan manajemen.

Sambil menunggu proses seleksi di beberapa perusahaan, saya mengambil kerja magang di PT. LEN Industri. Rasa-rasanya tidak enak menganggur setelah diwisuda dan saya pun harus mulai mendapatkan penghasilan. Beruntung hasil kerja praktek dan tugas akhir saya disana diapresiasi, sehingga saya bisa diterima magang disana dengan gaji yg lumayan besar. Jenis pekerjaan yg didapat adalah (lagi-lagi) mengenai programming. Bekerja secara professional di divisi Research and Development sebuah BUMN ternyata tidaklah mudah dan menyenangkan bagi saya. Duduk berlama-lama di depan laptop dari pagi hingga sore membuat waktu seakan melambat. Apalagi di divisi RnD itu tidak ada guidance yg jelas, karena kita sendirilah yg mencari dan membuatnya. Artinya saya bekerja atas progress yg saya buat sendiri. Jika saya sendiri tidak menyukai bidang yg dikerjakan, bagaimana saya bisa membuat progress yg baik dan menyelesaikan pekerjaan itu? Perasaan magabut pun mulai menggelayuti. Namun, dengan bantuan Mas Yanuar Yudianto, Mas Ridlo Tubagus, dan Bu Wibi akhirnya saya bisa membuat progress yg berarti selama 2 bulan saya bekerja disana.

Setelah berkali-kali mengikuti seleksi di berbagai perusahaan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai Management Trainee di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dengan nama New Employee Development Program. Sebetulnya saya tidak mengira akan diterima disini karena minim persiapan dan proses seleksinya yg terbilang lama. Harapan saya adalah saya bisa belajar tentang ilmu manajemen di perusahaan yg terkenal dengan konsep Toyota Production System dan budaya Toyota Way nya ini. Apalagi perusahaan ini bersanding bersama Astra Group, sehingga mampu meraih market share terbesar bidang permobilan di Indonesia. Saya pun kemudian ditempatkan bekerja di Karawang, di sebuah pabrik manufacturing terbesar yg terbilang baru. Inilah pengalaman pertama saya merantau dari kota kelahiran saya.

Program NEDP ini memang menawarkan pembelajaran yg banyak, mulai dari Toyota Way, TPS, Toyota Business Practice (TBP), Plan-Do-Check-Action (PDCA), A3 Report, Floor Management, dll. Disinilah saya berteman dengan Deni Arifakhroji, Subban Malik, Irvandi Permana Arga Diputra, Fajar Hadi Pratama, Devy Freshia, Hanindita Diadjeng Sunu, Glenda Enzy Viona, Dhinda Prinita Sari, Andhini Novrita, dan beberapa yg lain. Dari pelatihan ke pelatihan, sampai ke Operator Experience Program, yg akhirnya saya pun ditempatkan di Quality Control Division. Saya kemudian mengontrak sebuah rumah bersama Deni, Subban, dan Arga. Kehidupan dunia kerja yg awalnya berasa manis kemudian berubah bentuk sedikit demi sedikit. Welcome to the real world! 🙂

Jenis pekerjaan di QCD ini memang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang, berkeliling pabrik, hingga mengunjungi pabrik supplier. Saya harus mengidentifikasi masalah kecacatan pada part-part mobil, memastikan kualitas part yg dikirimkan oleh supplier, dan membuat laporan tentang hal itu. Jenis pekerjaan yg menarik karena saya bisa aktif bergerak kesana kemari dan mempelajari banyak hal. Ini pun sesuai dengan apa yg saya bayangkan ketika kuliah di Teknik Kendali. Namun, bidang yg ditekuni ternyata tidaklah sesuai dengan yg dikerjakan. Saya merasa tidak nyaman ketika harus membongkar part-part mobil, mengukur clearance dan level, berkonflik dengan supplier dan tim dari divisi lain. Jam kerja pun ternyata dari pagi hingga malam, dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Lama kelamaan saya merasa kebebasan saya terenggut, saya tidak bisa mengaktualisasikan diri secara optimal.

Di QCD ini saya berkenalan dengan Pak Hamzah Wirya Utama, Desyanti Wulandari, Faradinnita Akhsani, Mas Wahyu Priyandono, Mas Adhy Permana, Pak Isa, Pak Heru Purnomo, Pak Agus Wahyudi, Pak Maulana, Pak Herman, Dade Mukti Wijaya, dan rekan kerja yg lain. Aktivitas saya yg sering berkeliling pabrik membuat saya sering bersilaturahim dengan karyawan yg lain. Saya pun banyak belajar dari sosok Pak Hamzah, partner kerja sekaligus ‘ayah kedua’ saya. Idealisme yg mulai terkubur akhirnya muncul kembali setelah sering mengobrol ngalor ngidul dengan beliau. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, pertanian, budaya, sampai nasionalisme. Ditambah dengan kedatangan Jaya di QCD, keinginan berwirausaha saya pun mengkristal. Petualangan mencari ide usaha yg pas di Karawang pun dimulai…

Titik-Titik Puzzle (4)

Kehidupan kampus tingkat 3 bisa dibilang sebagai puncak aktualisasi diri dari seorang mahasiswa karena dianggap sudah cukup dewasa dan berpengalaman untuk bisa memimpin sebuah organisasi kampus. Dan juga belum terlalu sibuk dengan kegiatan perkuliahan seperti mengerjakan Tugas Akhir atau skripsi. Pemilihan ketua di setiap himpunan dan unit mayoritas dilakukan dengan sistem pemungutan suara dan musyawarah. Setiap calon ketua memaparkan visi misinya dan membentuk tim sukses kampanye. Proses yg hampir mirip dengan pesta demokrasi pemilu di pemerintahan negeri ini.

Saya pribadi dipilih sebagai Ketua Muslim Elektroteknik saat itu, sebagai hasil keputusan dari musyawarah GAMAIS Wilayah Fakultas. Sejujurnya masih banyak orang lain yg menurut saya lebih pantas mengemban amanah ini. Saya dipilih karena dianggap aktif di GAMAIS Pusat dan stabil secara akademik, dan di sisi lain, beberapa calon lain telah menerima amanah yg cukup besar. Jadilah saya memulai roda organisasi ini bersama Muchammad Musyafa, Rachavidya Achmad, Arkan Muhammad Irsyad, Alfadho Khasroh, Muhammad Iqbal Faruqi, Kang Muhammad Hasan Sirojuddin, Kang Wahyu Fahmy Wisudawan, Kang Helmi Muslim, dan Kang Fahmi. Banyak pelajaran dan nasehat yg saya dapatkan dari mereka, mulai dari ketekunan mereka mendalami suatu hal sampai idealisme seorang muslim yg baik.

Di kuliah tingkat 3 ini saya memilih program studi Teknik Kendali, dengan harapan agar bisa merancang suatu robot yg dilengkapi dengan sensor dan alat pengendali. Bayangan saya saat itu, minimal saya nantinya bisa bekerja di suatu pabrik dengan alat dan mesin yg digerakkan secara otomatis. Namun, ternyata kemampuan praktis tidak bisa didapat dengan mudah melalui kuliah saja. Mayoritas materi yg diberikan adalah mengenai teori dasar dan perhitungan ngejelimet bagaimana suatu sistem kendali bekerja dengan segala komponen yg terdapat di dalamnya. Alhasil, saya tidak bisa berbuat banyak tentang robotika karena kesibukan organisasi nampaknya memakan waktu lebih banyak. Saya salut pada beberapa teman, seperti Ashlih Dameitry, Samratul Fuady, Azhari Surya Adiputro, dan Kang Syawaludin yg mampu membuat beberapa karya robotik yg mampu menjuarai perlombaan nasional dan internasional. Iri juga rasanya, tapi pilihan aktivitas telah diambil dan saya tidak boleh menyesal atas pilihan itu.

Dalam sebuah kesempatan, beberapa teman seprogram studi mengusulkan suatu event ekskursi, yaitu kegiatan mengunjungi beberapa industri di Jawa Barat. Saya pun ditunjuk jadi ketua panitianya, karena memang tidak ada orang lain yg mau. Sigh… Jadilah saya merencanakan event ini dengan dibantu oleh Arkan, Adrianto Tedjokusumo, Rico Hartono, Leonardo Tansil, Leo Arifwibawa, Fiandrie Marcell, dan beberapa teman yg lain. Sempat mengalami pengunduran jadwal, kekurangan panitia, hingga defisit pendanaan, akhirnya event ini bisa berlangsung selama 3 hari pulang-pergi. Industri yg dikunjungi saat itu adalah PT. LEN Industri, PT. Astra Honda Motor, PT. Pupuk Kujang, dan PT. Indoserako Sejahtera, yg mencakup bidang elektronika, manufacturing, kimia, dan kontraktor sistem kendali pabrik. Hari ketiga diisi oleh acara jalan-jalan ke Taman Mini, sekedar bersenang-senang dan berkunjung ke beberapa museum (sebetulnya karena kehabisan dana, sehingga kami hanya mampu ‘berlibur’ kesana, hehe…).

Di selang waktu antara kuliah tingkat 3 dan tingkat 4, saya menjalani kerja praktek di PT. LEN Industri selama 2 bulan bersama Arkan. Yg kami kerjakan saat itu adalah memprogram sebuah chip embedded system agar mampu melakukan komunikasi serial dan ethernet dengan jaringan komputer. Memang terlihat keren, tapi entah kenapa saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan. Perasaan senang hanya bisa didapat ketika terjadi suatu keberhasilan dalam proses pemrograman. Selebihnya adalah rasa ngantuk dan rasa tanggung jawab atas perintah yg harus dikerjakan untuk menyelesaikan kerja praktek tersebut. Mungkin karena saya terbiasa bergerak dan berinteraksi dengan orang lain sehingga saya tidak tahan ketika harus diam duduk di suatu posisi dalam waktu yg lama.

Setelah kerja praktek, dimulailah kuliah tingkat 4 yg lebih fokus pada pengerjaan Tugas Akhir. Saya berkeputusan untuk memilih TA yg bisa cepat selesai, berhubungan dengan dunia perusahaan, dan bisa dikerjakan berkelompok. Jadilah, saya mengerjakan topik TA berjudul Communication-Based Train Control (CBTC) bersama Doni Yusdinar, Rico Pradityo, Muhammad Haekal, dan Rio Ricardo, bekerja sama dengan PT. LEN Industri. Topik TA ini berkaitan erat dengan rencana pembuatan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika hasil dari TA kami ini nantinya bisa diaplikasikan langsung untuk memperbaiki sistem transportasi di ibukota. Untuk menyelesaikan TA ini, kami perlu bolak-balik mempresentasikan progress yg kami lakukan ke jajaran manajemen teknik R&D di LEN. Sekali lagi, ternyata dalam prosesnya, saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan, karena saya harus duduk termenung di depan laptop selama kurang lebih 2 bulan untuk membuat sebuah program yg akhirnya selesei di baris ke-7000-an. Dengan bantuan teman setim dan bimbingan dari Pak Agung, Pak Andriyanto, dan Pak Hilwadi, TA saya pun layak maju ke sidang akhir.

Momen sidang akhir memang jadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa yg akan lulus jadi sarjana. Gambaran dosen penguji dengan tatapan mengintimidasi yg akan mengajukan pertanyaan tajam pun muncul di pikiran. Betapa beruntungnya saya, 3 dosen penguji saya adalah dosen yg dikenal ‘killer’. Yg pertama adalah dosen legenda kendali, yg kedua cukup sering mengeluarkan mahasiswa dari kelas, dan dengan yg ketiga pernah beberapa kali tidak meluluskan mahasiswa yg diujinya. Huhu… Tapi akhirnya, saya bisa ‘lolos’ sidang dengan nilai BC, yg merupakan nilai ambang batas. Tak terbayang jika akhirnya saya gagal lolos sidang karena saat itu orang tua datang langsung untuk menyaksikan anaknya disidang. Mereka hanya menanyakan kenapa saat di dalam ruangan, suara dosen penguji terdengar cukup keras, hehe… Perasaan lega pun dilengkapi dengan rentetan revisi yg harus saya buat untuk menyelesaikan laporan akhir. Dengan bantuan dari dosen pembimbing, saya pun akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan 🙂

Tibalah momen wisuda. Momen selebrasi yg menjadi memori kebanggaan mahasiswa dan orang tuanya. Patung ganesha yg saya dapatkan ternyata mampu membuat orang tua saya terharu. Pemakaian baju toga, prosesi upacara kelulusan, dan acara arak-arakan keliling kampus menjadi pertanda lahirnya para sarjana baru. Sedih juga saat itu ketika harus berpisah dengan kampus, sahabat, dan segala kenangan di dalamnya. Dalam pikiran saya, menjadi sarjana adalah beban amanah yg harus dipertanggungjawabkan dan menjadi langkah awal menuju dunia kontribusi yg sesungguhnya…

Titik-Titik Puzzle (3)

Kehidupan perkuliahan dan suasana kampus memang menawarkan sajian idealisme yg kental. Terlebih dari suatu kampus dengan sejarah panjang tentang kemahasiswaan, kebebasan berpendapat, budaya diskusi, dan perjuangan mengkritisi bahkan ‘melawan’ pemerintahan. Yap, kampus bernama ITB pernah dikenal sebagai “The Last Stronghold” ataupun “Institut Terbaik Bangsa”, dimana banyak pemimpin-pemimpin hebat ‘dilahirkan’ disini. Meski seiring berjalannya waktu, slogan dan nama panggilan itu nampaknya semakin luntur (?).

Masa-masa pengenalan mahasiswa baru di ITB lebih banyak diisi oleh seminar, talkshow, pengenalan kampus, tugas-tugas, penampilan himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa, dan ramah tamah antarmahasiswa. Sedari awal, seminar dan talkshow pun sudah berisi paparan idealisme, profil alumni dan role model-nya, realita bangsa, perkembangan teknologi, dan apa yg bisa dilakukan kini dan di masa depan. Sebuah talkshow yg menarik perhatian saya saat itu adalah paparan pengalaman seorang alumni senior yg berhasil membangun sebuah bisnis pengolahan kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat. Setiap bagian dari kelapa mampu diolah menjadi suatu produk yg bernilai jual lebih dengan memanfaatkan alat dan mesin sederhana ciptaan si alumni tersebut. Proses produksi dan pengolahan yg melibatkan masyarakat sekitar turut meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Dalam hati kecil, saya berkata “Nah, ini dia!”, someday I want to become like him. Memang alas an idealis saya untuk berkuliah di ITB ini adalah agar saya bisa belajar bagaimana caranya membuat suatu alat tepat guna sambil meng-upgrade kualitas soft skill pribadi. Tekad untuk berubah dari seseorang yg kuper, kutu buku, maniak game, menjadi seorang aktivis idealis dengan segudang kesibukan pun mulai dicanangkan.

Pilihan aktivitas yg dipilih saat itu adalah di Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) dan di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA). Alasannya sederhana, saya ingin belajar berorganisasi dan menambah ilmu agama dan bisnis dari kedua unit kegiatan itu. Amanah yg didapat saat itu adalah menjadi panitia Divisi Acara & Marketing di Kajian Islam Terpusat (KIT) dan panitia Divisi Ticketing di Event Try Out UN-SPMB untuk anak2 SMA. Di kedua event ini saya berkenalan dengan orang2 yg luar biasa, di antaranya Yusuf Muhammad, Indra Pratama, Agung Wijaya Mitra Alam, Angga Kusnan Qodafi, Adjie Wicaksana, Taufiq Suryo, Chrisna Aditya, Fitrian Pambudi, Kang Ridwansyah Yusuf Ahmad, Kang Rendy Saputra, Kang Totoh Abdul Matin, Kang Albaz Rosada, dan masih banyak lagi. Begitu banyak pengalaman dan ilmu menarik seputar keorganisasian, team work, kepemimpinan, marketing, islam dan dakwah, yg didapat dari mereka. Kedua event itu berlangsung dengan cukup berhasil dan keseruan proses di dalamnya membuat saya “ketagihan”.

Kehidupan perkuliahan sebaliknya berlangsung biasa saja, berisi ceramah, catatan, tugas, praktikum, berpindah ruang kelas, laporan, dan begadang. Saya cukup berteman dekat dengan Esqi Aktiadi, Kharisma Surya Gautama, Hanugrha, Dadan Dawud, Harimurti Prasetio, Azhari Surya Adiputro, Taufik Khuswendi, dan Wafi “Harowa”. Kehidupan ber-YugiOh ria di Campus Center membuat saya berkenalan dengan Zaky Hassani, Dimas, Ashlih Dameitry, dan Muhammad Iqbal Faruqi. Orang tua yg menyuruh saya untuk fokus kuliah saja dan melarang aktif di organisasi, membuat saya harus bisa mengatur waktu, menyelesaikan ujian semester dengan nilai memuaskan, dan membuktikan diri pada orang tua jika kuliah dan organisasi bukanlah hal yg saling bertentangan. Aktif berorganisasi, pulang larut malam, lulus cumlaude dan tepat waktu, bukanlah hal yg mustahil untuk dicapai secara bersamaan. Saya mengambil Kang Muhammad Fajrin Rasyid sebagai role-model nya, MaPres ITB yg diumumkan saat PMB. Saya kemudian beranggapan jika kesibukanlah yg membuat segala sesuatu yg dilakukan jadi lebih efektif dan efisien. Saya dipaksa untuk lebih rajin, lebih menghargai waktu, dan dituntut oleh banyak deadline. Kehidupan lain berupa Dugem (Duduk Gembira Melingkar) membuat saya berteman dekat dengan Rino Ferdian, Ramdani Akbar, Ibrahim Imaduddin Islam, dan Kang Husna Nugrahapraja. Dugem ini mampu me-recharge semangat, ilmu, dan kekuatan hati dalam beraktivitas.

Di tingkat 2, saya memilih Teknik Elektro sebagai jurusan dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME). Proses kaderisasi di GAMAIS dan di HME ini menuntut kerjasama kelompok, militansi, kesiapan mental, dan fisik. Saya kemudian memilih fokus di GAMAIS karena mendapatkan amanah sebagai Ketua Departemen Humas Internal Kampus. Di departemen inilah saya berkenalan dekat dengan Yana Supriyatna, Aditya Putra Tama, Kang Ryan Alfian Noor, dan Kang Yudha Indrawan. Aktivitas ala humas pun saya lakoni, mulai dari keliling2 kampus, menyebar undangan ke himpunan2 dan unit2, mengurus birokrasi kampus, menghadiri forum dan diskusi terbuka, sampai mewakili senator di kongres. Secara tim Badan Pengurus Harian GAMAIS saat itu, saya bekerja sama dengan Kang Panji Prabowo, Kang Gesa Falugon, Kang Widi Noviansah, Kang Ardhesa Suhilman, dll. Saya beruntung 1 tim dengan kakak2 angkatan yg lebih tua sehingga bisa belajar banyak dari mereka. Sedangkan di HME, saya tidak begitu aktif, hanya beberapa kali menjadi panitia acara dan lomba. Disana saya bertemu dengan Arkan Muhammad Irsyad Sadeli, Yanwar Arditias, Salik Mukhlisin, Ihsan Mulia Permata, Kang Ikhsan Abdusyakur, Kang Ryvo Octaviano, dan Kang Iwa Kartiwa. Idealisme nasionalis semakin merasuk ke dalam diri saya ketika mengikuti beberapa pelatihan, talkshow, dan workshop disana. Salah satu yg saya ingat betul adalah ketika talkshow yg mengundang Kang Zulkaida Akbar dan Teh Shana Fatina dari Keluarga Mahasiswa ITB sebagai pembicara. Mereka mengatakan jika gambaran Indonesia di masa depan adalah gambaran mahasiswanya saat ini meliputi apa yg dipikirkan, direncanakan, dan dilakukannya. Dan katanya juga, calon pemimpin Indonesia di masa depan kemungkinan besar berasal dari kalangan entrepreneur, terutama yg bergerak juga di bidang sosial kemanusiaan.

Ahaha… jika dipikirkan memang begitu banyak orang yg melintas di kehidupan kampus dengan berbagai karakter dan kepribadian yg dimilikinya. Suasana kampus yg heterogen, yg berisi orang2 dari seluruh nusantara, yg mempunyai budaya dan bahasa berbeda. Mereka mengambil peran yg diinginkannya disana, mulai dari akademisi, peneliti, aktivis sosial, pengusaha muda, inventor, engineer, bahkan sampai politisi. Semua peran itu bercampur aduk dan mewarnai setiap orang di dalamnya. Ditambah pula bawaan materi kuliah teknik yg mengharuskan mahasiswanya berpikir sistematis, logis-matematis, dan analitis sebagai seorang problem solver. Jika saja semua itu dipadukan dengan ketahanan mental dan idealisme, kecerdasan emosi dan spiritual, kekuatan mindset dan kepedulian, maka setiap peran apapun yg diambil akan membawa kesuksesan dan kemaslahatan bagi diri dan lingkungannya.