Duet Sejoli Microfinance dan Koperasi

Microfinance dipandang sebagai salah satu bentuk yg mampu memberikan solusi terhadap masalah perekonomian warga. Pinjaman ringan berbunga ‘rendah’ non-agunan ini menjadi pilihan yg ‘ramah lingkungan’. Banyak lembaga keuangan yg mulai masuk ke ranah ini, mulai dari bank keliling / rentenir hingga perbankan umum. Microfinance memang mempunyai tingkat resiko yg rendah, dengan kata lain jarang ada kredit macet. Keuntungan bagi lembaganya pun terbilang cukup besar karena pasarnya sangat luas, mulai dari petani, pedagang kecil, hingga tukang asongan.

Dalam ranah pemberdayaan masyarakat, microfinance mempunyai sistem yg mudah diaplikasikan dan dimengerti oleh masyarakat pedesaan sekalipun. Sudah mulai banyak contoh kesuksesan microfinance dengan sistem yg baik. Special thanks to Muhammad Yamin, pendiri Grameen Bank, yg mampu menginspirasi dunia dengan gerakan microfinance berkelompok (renteng) di Bangladesh. Untuk di Indonesia sendiri, ada pergerakan Uda Masril Koto di Sumatera Barat dengan Bank Tani-nya, Shafiq Dhanani dengan Mitra Bisnis Keluarga di Jawa, Leonardo Kamillius dengan Koperasi Kasih Indonesia di Cilincing, dan yg lainnya.

Microfinance juga sering disandingkan dengan sistem koperasi simpan pinjam ataupun koperasi serba usaha. Sayangnya, ada beberapa oknum rentenir yg memanfaatkan sistem ini untuk meraup keuntungan yg sebesar-besarnya. Di Karawang sendiri, saya pernah menemukan praktek semacam ini. Si pemilik koperasi ternyata memperkaya diri dengan hasil riba dari para nasabahnya. Setiap ATM nasabah ‘disita’ selama proses pengembalian pinjaman dan aset nasabah pun akan ikut disita jika ternyata kreditnya macet di tengah jalan. Setiap hari banyak motor ‘debt collector’ yg terparkir di koperasi ini dan kemudian berkeliling untuk menagih pinjaman.

Di sisi lain, ada juga suatu gerakan menabung di daerah Karawang yg akhirnya berubah menjadi koperasi simpan pinjam dan berhasil mengumpulkan aset hingga 300 juta dan gadaian tanah sawah seluas 2 hektar dalam kurun waktu 6 tahun. Dalam waktu yg relatif lama ini, setiap nasabah menabung 500 rupiah per hari dan dikumpulkan per minggu. Setiap nasabah ini nantinya berhak mendapatkan pinjaman maksimal sebesar 2 kali lipat dari simpanannya dengan ‘uang jasa’ sebesar 10% dari nilai pinjaman. Yg menjadi pertimbangan disini adalah mayoritas pinjaman ternyata masih bersifat konsumtif, yaitu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang dapat dimaklumi karena masyoritas nasabahnya adalah ibu2 petani atau istri dari petani. Mereka akan menumpuk simpanan sukarela saat masa panen dan meminjam dana saat kesulitan di masa paceklik.

Alangkah lebih baik memang jika pinjaman dari microfinance seperti ini dipergunakan untuk modal usaha. Si koperasi pemberi dana bisa berperan sekaligus sebagai penyedia bahan baku dagangan, sarana pemasaran, dan lembaga pelatihan usaha. Koperasi pun bisa menjadi penengah antara tengkulak dan petani. Sudah menjadi rahasia umum jika banyak tengkulak ataupun bandar yg meraup keuntungan dari hasil pertanian secara tidak adil. Dengan pelatihan usaha yg dilakukan, para nasabah koperasi pun diharapkan mampu lebih produktif dalam menggunakan pinjaman. Ada banyak potensi lokal yg bisa dikembangkan menjadi produk yg bernilai lebih. Sistem pinjamannya pun jadi bisa diperbaiki, dari sistem berbunga ke sistem bagi hasil. Lebih adil, lebih berkah, dan sesuai prinsip syariah.

Revitalisasi microfinance dan koperasi ini memang jadi salah satu mimpi dan program bersama di suatu yayasan yg saya ikuti sekarang. Meski masih tahapan inisiasi, saya melihat proses revitalisasi ini akan cukup menantang. Dari mulai resistansi nasabah dan masyarakat hingga ke regulasi perkoperasian. Namun, saya yakin program ini bisa terwujud jika prosesnya diawali dengan niat yg baik, dikawal, dilakukan, dan didampingi oleh orang2 yg bervisi sama. Insya Allah.

Iklan