Sadar, Bertahan, dan Bangkit dalam Keber-Agama-an

Ketika kondisi masyarakat negeri ini jauh dari moralitas dan nilai-nilai luhur suatu agama, maka janganlah mengotori konteks kesucian agama itu sendiri. Ketika mereka tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup, maka sebetulnya saat itulah mereka mengotori kehidupannya sendiri. Ketika kebobrokan masyarakat tersebut begitu meluas, maka keraguan mereka pada aturan agama semakin membesar. Ketika logika dan kebutuhan hidup menguasai mereka, maka mereka tidak peduli apakah yang mereka lakukan benar atau salah menurut agama. Mereka seolah-olah tidak menghargai agama yang mereka anut. Akhirnya muncullah ketakutan dari diri mereka sendiri apabila hukum yang tertera dalam agama ditegakkan secara penuh. Mungkin karena mereka sendiri menyadari jika akan ada banyak hukuman berat yang akan mereka peroleh, atau setidaknya akan ada banyak batasan yang menghalangi mereka untuk menikmati hidup.

Ketika proses perniagaan dan pemenuhan kebutuhan hidup menggunakan aturan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama, maka muncullah ketidakadilan dan kesenjangan dalam taraf hidup masyarakat. Praktek riba, suap-menyuap, pencurian, penipuan, dan sikap mau untung sendiri merebak dimana-mana. Masyarakat semakin bersifat materialistis, semakin kaya semakin bisa menikmati hidup. Lapangan kerja semakin sulit, persaingan usaha semakin sengit, produk halal dan thayyib semakin raib, dan tagihan utang semakin buat menjerit. Hukum muamalat syariah yang seharusnya bisa ditegakkan, nyatanya hanya masih masuk dalam kajian terbatas. Rekayasa pun dilakukan beberapa lembaga keuangan agar praktek dagang mereka hanya bisa terlihat syariah untuk menarik segmen pasar tertentu.

Ketika era globalisasi dan liberalisasi digalakkan, maka semuanya dibuat terbuka, terlepas apakah aturan agama menutupnya atau tidak. Tidaklah semua yang terbuka itu baik. Jika perdagangan dibuat terbuka tanpa persiapan dan perhitungan yang matang, maka bisa berarti menutup puluhan hingga ratusan ribu UKM dalam negeri. Produk impor dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah membanjiri pasar tradisional dan modern. Dalam waktu dekat ini, ASEAN Economic Community harus disikapi dengan hati-hati. Regulasi pemerintah nampaknya menjadi peran sentral untuk menyelamatkan kestabilan usaha dan produk dalam negeri, apakah nantinya mereka menjadi pemain atau penonton. Demikian juga ketika akses pornoaksi dan pornografi dibuat terbuka atas nama kebebasan berekspresi, maka bisa berarti menutup mata sebagian besar masyarakat untuk sesuatu yang halal. Yang lebih luar biasa lagi ketika praktek maksiat terbuka didukung atas nama ladang penghidupan, mau dibawa kemana lagi keterbukaan tanpa agama di negeri ini. Jangankan agama, tanggung jawab pun nampaknya tidak dihiraukan.

Ketika media dan televisi menunjukkan selera buruk masyarakat yang menontonnya, maka keburukan itu sendiri akan menyerebak dengan sistematis. Begitu sulit menemukan acara yang enak dan bergizi untuk ditonton sehari-hari. Kriminalitas, sensualitas, aib, dan berbagai budaya buruk dicerna dalam pikiran dari acara yang ada. Aspek ekonomi dan kepentingan pribadi begitu kental dalam media dan televisi negeri ini. Lagi-lagi acara berbau agama dan nilai-nilai luhur yang dikandungnya nampaknya menjadi pilihan paling buncit bagi si penyedia jasa. Jika ada beberapa orang yang sadar, maka rumah tanpa televisi adalah lebih baik untuk memfilter asupan otak keluarga mereka.

Ketika kondisi politik negeri ini didera pertarungan sengit pun kesucian agama layak untuk diperjuangkan. Sebuah hembusan angin segar ketika partai-partai berbasis agama masih bisa menjadi pilihan masyarakat. Namun, ada sesuatu yang dianggap genting, sehingga partai-partai ini mengadakan pertemuan dan bersepakat untuk bersatu dan membentuk koalisi. Sebegitu kuat alasannya, sehingga kiai-kiai kondang negeri ini menyeru masyarakat untuk bersikap dalam pemilu tahun ini. Padahal jarang sekali mereka ikut campur dalam perpolitikan secara terbuka.

Ketika salah satu pemimpin partai berbasis agama yang berlambang Ka’bah, yang juga menjabat sebagai menteri agama, dituduh melakukan korupsi dalam pelaksanaan ibadah haji, terjadilah pembunuhan karakter dengan tembakan “Head Shot”. Saya tidak berbicara apakah beliau terbukti salah atau tidak, tetapi mengapa kasus ini digulirkan kebetulan ketika koalisi partai agama telah terbentuk? Padahal kasusnya sendiri terjadi pada periode 2012-2013. Yang di sisi lain, secara asumsi dan rahasia umum masyarakat, sebegitu sulitnya menemukan pejabat yang benar-benar bersih di seluruh jajaran pemerintah, termasuk kementrian. Yang di tatanan masyarakat bawah saja, praktek-praktek kotor begitu menggurita, sampai ada perumpamaan “Jika semua pelaku kejahatan (terutama KKN) diadili, maka penjara di negeri ini tak akan cukup menampungnya”. Sebegitu rumit dan peliknya sistem politik negeri ini sehingga peluru panasnya bisa ditembakkan kapan dan dimana saja ketika merasa dibutuhkan. Nampaknya penegakan hukum “tebang pilih” sulit dihilangkan dari asumsi.

Lalu, apakah masih ada yang tidak menyadari jika kondisi negeri ini sedang genting? Apakah masih ada yang mengesampingkan aspek agama dalam perbaikan negeri ini? Jawabannya adalah masih banyak, selama masyarakat negeri ini mementingkan dirinya sendiri dan apatis terhadap yang lain, terutama agamanya sendiri. Masa bodoh jika saya dianggap SARA dan fanatik terhadap agama saya sendiri. Saya hanya berusaha untuk membela apa yang saya yakini kebenarannya. Ijinkanlah saya pribadi untuk menyerukan :

Wahai umat yang sedikit,
Wahai umat yang terasing,
Wahai umat yang “memegang bara api di tangannya”,
Wahai umat yang meyakini agama ini sebagai pedoman hidup,
Wahai umat yang meyakini takdir dan ketetapan Allah,
Mari kita perkuat barisan,
Mari kita perbaiki akhlak kita dalam keterasingan,
Mari kita saling meringankan beban dan keperihan saudara kita,
Mari kita amalkan keyakinan kita dalam setiap aspek kehidupan,
Mari kita terus memohon kepada Allah agar terus diberikan ketetapan terbaik,

Mari kita jadikan momen saat ini untuk bersatu padu membangun peradaban yang adil sesuai tuntunan agama kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s