Kakek Hakimi : Semangat Seorang Pendidik (Bagian 2)

Kakek Hakimi Basis 10

Kegiatan ‘nyantrik’ di kediaman Kakek Hakimi pada malam itu dilanjutkan dengan obrolan santai mengenai dunia pendidikan. Kakek pernah menjadi seorang Kepala Sekolah dan kemudian pensiun dini karena merasa ada banyak hal yg bertentangan dengan dirinya. Kurikulum, metode pengajaran, permasalahan guru, dan lain2. Hal2 semacam ini merupakan sesuatu yg sulit untuk diubah. Dan pengalaman saya pribadi, bekerja dalam lingkungan sistem yg tidak sesuai dengan hati nurani itu sungguh menyiksa. Di satu sisi mencoba berkompromi dengan keadaan, di satu sisi tidak mau terwarnai dengan keadaan tersebut, dan tidak banyak pula yg bisa diperbuat untuk mengubahnya.

Salah satunya adalah mengenai kebanyakan guru yg hanya sebagai profesi mencari uang. Contoh ekstrimnya : datang masuk kelas, nyuruh buka LKS, kerjain dari halaman sekian hingga sekian, dan kemudian diam atau pergi keluar. Atau : nyuruh buka buku halaman sekian, menyuruh salah seorang muridnya membaca keras2, dan kemudian sekedar bertanya : mengerti anak2? Semua parameter keberhasilan mengacu kepada kurikulum dan metode pengajarannya pun tidak banyak berubah. Kebanyakan guru di Indonesia ini memang ‘kaku’ dan cenderung tidak mau belajar kembali. Ketika ada metode yg baru dan berbeda, mereka cenderung menolak dengan alasan telah terbiasa dengan metode yg lama. Jika ada sertifikasi, barulah mereka bersemangat mengikutinya karena hal ini akan berefek pada meningkatnya penghasilan mereka. Tapi, ini pun tidak serta merta mengubah karakter dan metode guru tersebut menjadi lebih baik, karena jika tidak ada follow-up, maka sertifikasi ini hanyalah sebuah kertas. Seharusnya adalah guru yg memang sebelumnya baik dan berprestasi lah yg berhak mendapatkan sertifikasi ini.

Ketika Kakek Hakimi mengajar matematika dengan metode Basis 10 di rumahnya, setiap anak itu akan mempunyai metode berhitung yg berbeda dengan yg diajarkan di sekolah. Maka ketika anak tersebut berada di sekolah, dia pun menjadi bingung karena gurunya menyuruh dia untuk berhitung menggunakan jari seperti biasa. Gurunya menolak untuk mengadopsi cara si anak berhitung, meskipun sama2 benar. Saya pribadi menilai jika metode Basis 10 lebih baik dan lebih cepat dibandingkan harus menghitung satu per satu jari. Orang tua si anak pun jadinya protes jika metode yg diajarkan Kakek tidak sesuai dgn yg diajarkan di sekolah. Jika terjadi kasus seperti ini, Kakek lebih memilih untuk berhenti mengajar pada anak tersebut agar si anak tidak merasa bingung dan lebih tertekan.

Kata Kakek, pernah ada kejadian anak didikannya memberikan hasil pengerjaan berhitung kepada gurunya sambil berkata, “Ini nilai saya 10 yah Pak, tolong jangan salah memeriksa”. Sontak gurunya kaget, ada anak yg berani dan yakin akan kebenaran jawabannya, meski baginya perkataan si anak itu cenderung kurang sopan. Di sisi kejadian lain, pernah ada anak SD kelas 6  dan SMP yg masih tidak bisa berhitung dengan benar. Setiap ada persoalan berhitung, dia masih harus menggunakan jarinya satu per satu. Bagaimana anak2 semacam ini bisa bertahan di sekolah? Padahal biasanya si anak akan dipaksa terus maju ke jenjang materi yg lebih sulit. Kakek akan menggunakan metode maju selangkah mundur selangkah untuk anak semacam ini. Mundur untuk bergerak maju, yaitu dengan cara mengubah cara berhitung si anak meski dia harus mengulang materi pelajaran matematikanya dari SD kelas 1 atau 2. Jika ‘pondasi’ si anak sudah kokoh, barulah dia bisa melanjutkan ke materi selanjutnya.

Kakek Hakimi pun terkadang mengajak anak didikannya untuk belajar dan bermain di luar kelas. Dengan suatu soal dan metode kreatif, anak2 bisa belajar dari apa yg dilihat dan dirasakannya dari sekeliling dari pagi hingga menjelang sore hari. Secara sekilas pun Kakek dapat menghargai orang di sekitarnya, meskipun orang itu jauh lebih muda. Ketika sesi sharing bersama kami, beliau tidak akan merokok sebelum meminta izin kepada kami. Dan tentunya karena kami pun keberatan, Kakek menahan keinginannya untuk merokok hingga larut malam ketika beliau bisa sendirian di teras rumah yg terbuka.

Melalui akun facebook-nya, Kakek sering mem-posting mengenai metode matematika Basis 10, kritik sosial, puisi, ataupun sekedar bahan tertawaan. Ketika berjalan kemana2, Kakek terkadang memerankan tokoh yg berbeda dari dirinya sendiri, terutama jika beliau baru pertama kali ke daerah tersebut. Pernah ketika Kakek pergi ke Bandung, beliau pura2 menjadi orang yg gagu agar bisa sampai ke tempat yg ingin ditujunya. Alasannya adalah orang lain akan lebih merespon dirinya dan menunjukkan arah yg detail dibanding ketika Kakek bertanya suatu alamat dgn ucapan yg lancar. Patut dicoba deh, hehe…

Kakek Hakimi memang mempunyai mimpi untuk memperkenalkan dan mengembangkan metode matematika Basis 10 ini ke khalayak luas. Pernah ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan tim Indonesia Mengajar, Kakek meminta untuk menjadi salah seorang fasilitatornya. Namun, karena persyaratan untuk menjadi fasilitator adalah berpendidikan S1, Kakek jadinya tidak bisa melaksanakan niatnya itu. Sehingga kini, Kakek Hakimi pun sedang giat untuk mengajarkan metode matematika Basis 10 ini pada mahasiswa dan lulusan S1, termasuk saya. Harapannya adalah dengan begitu, metode ini bisa diajarkan dan tersebar dengan lebih luas. Sebetulnya kami pun berencana untuk melaksanakan seminar dan workshop untuk menyebarluaskan metode ini kepada guru dan orang tua khususnya di Karawang.

Sesi ‘nyantrik’ bersama Kakek Hakimi pada malam itu selesai sekitar pukul 12 malam. Pada saat itu pun, Kakek masih asik di depan komputernya. Kakek ternyata memang masih terbiasa tidur larut malam. Ini menunjukkan staminanya yg masih ‘muda’. Keesokan harinya, agenda Kakek pun ternyata cukup padat. Setiap hari Kakek masih terus mengajar anak2 dari berbagai tingkatan, berkunjung ke suatu tempat, bertemu dengan orang2 baru, dan menjadi guru tamu di beberapa sekolahan. Luar biasa, semangat seorang pendidik masih tertanam dengan kuat di dalam diri Kakek Hakimi. Semoga semangat dan perjuangannya mampu menjadi inspirasi dan lecutan untuk bergerak menjadi lebih baik bagi generasi muda Indonesia sekarang ini. Aamiin.

Kakek Hakimi Musik

Iklan

Kakek Hakimi : Semangat Sumpah Pemuda (Bagian 1)

Kakek Hakimi

Dalam sebuah petualangan di Karawang, saya bertemu dengan seorang kakek guru yg eksentrik, bersemangat, dan cerdas di usianya yg menginjak 70 tahunan. Pertama kali saya melihat beliau adalah di sebuah laman Facebook yg memperlihatkan beliau sedang mengajar anak2 dengan ceria. Widih, unik juga nih ada kakek2 yg masih nyempetin ngajar, masih bisa konsentrasi, dan mengajar dengan benar. Orang2 menyebut dirinya dengan Kakek Hakimi, sesuai nama profil Facebook-nya. Saya langsung berniat untuk suatu saat berkunjung ke tempatnya.

Dengan ditemani beberapa teman dari Yayasan Sadamekar, suatu sore kami berangkat menggunakan motor dari Karawang Barat ke arah Cikampek, tempat kediaman beliau. Jarak perjalanan yg cukup jauh membuat kami membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di tempat tujuan. Kakek Hakimi ternyata beberapa kali pernah berangkat ke daerah Rawamerta dari Cikampek menggunakan motor sendirian dan menghabiskan waktu 2-3 jam perjalanan. Hal ini dilakukannya hanya agar bisa mengajar matematika dan kelas seni untuk anak2 di daerah Rawamerta. Hmm… niat mulia dengan semangat baja dan stamina yg luar biasa. Mendengar cerita ini saja sudah membuat saya kagum terhadap beliau.

Kami tiba di kediaman Kakek pada saat maghrib. Beliau menyambut kami dengan hangat lengkap menggunakan ikat kepala khas sunda yg selalu dipakainya. Saat pertama bertemu, saya cukup kikuk ketika ngobrol dengan Kakek karena beliau masih bisa aktif berbicara dengan baku dan suara yg lantang. Saya niatkan untuk bermalam di kediaman Kakek sambil ‘nyantrik’, bagaimana pengalaman beliau dalam hal pendidikan.

Agenda pertama Kakek dalam malam itu adalah mengajar salah satu teman untuk bermain biola. Beliau dengan piawai memainkan biola miliknya dan mencatat not angka lagu Happy Birthday pada sebuah papan tulis. Setelah menyetel suara biola yg lain menggunakan suatu alat khusus, beliau mengajak untuk memainkannya bersama. Suara biola mengalun halus memainkan lagu Happy Birthday diiringi beberapa not sumbang yg datang dari biola teman kami. Ternyata setiap lagu yg dimainkan, Kakek mengetahui not-nya berdasarkan feeling, dengan syarat Kakek harus tau irama dari lagu tersebut. Saya yg sedari dulu tidak bisa bernyanyi apalagi memainkan not hanya bisa menonton kepiawaian Kakek dalam bermusik.

Agenda kedua Kakek kemudian adalah mengajar saya mengenai metode Matematika Basis 10. Pertanyaan pertama yg dilemparkan kepada saya adalah mengapa 1+4 = 5 itu benar? Agak bingung dengan pertanyaan itu, saya hanya bisa berdehem. Kakek menanyakan hal itu kedua kalinya, dan saya balik bertanya apa maksudnya. Beliau kemudian menjawab 1+4 = 5 itu benar karena 5-4 = 1. Oh, maksudnya karena persamaan linear toh, saya baru ‘ngeh’. Kemudian Kakek bertanya lagi : 2+5 = berapa, dan saya pun menjawab 7, beliau mengulangi pertanyaanya lagi, dan saya pun kembali menyebutkan 7, ketiga kalinya beliau menanyakan hal yg sama, dan saya terdiam sebentar dan kembali menyebutkan 7. Benar! Barulah Kakek membenarkan jawaban saya. Beliau menjelaskan jika seorang anak ditanya berulang2 mengenai pertanyaan yg sama dan anak tersebut tidak yakin akan jawabannya sendiri, maka dia akan mengubah jawabannya meski jawaban awalnya adalah benar. Hmm… saya mulai melihat apa yg menjadi maksud dan tujuan Kakek.

Kemudian Kakek menulis beberapa angka berderet dalam 1 baris dan menempatkan titik2 berderet dalam 2 baris di bawahnya. Lalu beliau mengucapkan angka2 yg telah ditulisnya sambil mengisi titik2 di bawahnya : delapan, tujuh, lima belas, lima belas adalah enam; enam, delapan, empat belas, empat belas adalah lima; lima, enam, sebelas, sebelas adalah dua; dan seterusnya hingga angka ke-10 dalam 1 deret. Saya mencoba memahami apa yg ditulis dan dikatakan Kakek. Kemudian Kakek menghapus semua angka yg tadinya berupa titik2 dan langsung menantang saya untuk melakukan hal yg sama dengan yg telah ia tunjukkan. Beliau menyiapkan stopwatch-nya dan menekan tombol mulai ketika saya memulai mengucapkan angka2 tersebut persis seperti apa yg dikatakan Kakek sebelumnya. Alhamdulillah saya berhasil menjaga nama baik almamater saya dengan menyelesaikan deret angka itu dalam waktu 20 detikan.

Setelah itu Kakek menunjukkan beberapa pasangan angka : (S)atu dengan (S)embilan, (D)ua dengan (D)elapan, (T)iga dengan (T)ujuh, (E)mpat dengan (E)nam, dan (L)ima dengan (L)ima. Entah kebetulan atau direncanakan oleh pembuat Bahasa di Indonesia ini, ternyata setiap pasangan angka itu memiliki huruf awal yg sama. Dan yap, pasangan angka ini adalah pasangan Basis 10, artinya jumlah setiap pasangan angka di atas adalah 10. Metode Basis 10 yg digunakan secara umum untuk berhitung ini jika tidak salah biasanya didapatkan saat kita duduk di bangku SMA. Saya pribadi sering menggunakan bentuk basis lain, yaitu Basis 2 ketika mempelajari ilmu logika dan informatika komputer.

Dengan logika digit angka Basis 10, bukan hanya operasi penambahan dan pengurangan saja yg bisa dibuktikan kebenarannya, tetapi juga operasi perkalian dan pembagian. Berikut adalah contohnya :

258 x 56 = 14448

= [2]+[5] = 7; 7+[8] = 15 = 1+5 = {6} x ([5]+[6] = 11 = 1+1 = {2}); = [1]+[4] = 5; 5+[4] = 9; 9+[4] = 13 = 1+3 = 4; 4+[8] = 12 = 1+2 = {3}

= {6} x {2} = 12 = 1+2 = {3}; = {3}

Akhirnya, dibuktikan jika 3 = 3 (sama) dan hasil perkalian dinyatakan benar. Keterangan : angka di dalam [] adalah angka soal perkalian awal dan angka di dalam {} adalah angka yg selanjutnya diturunkan.

Tanpa ada maksud membuat bingung, tetapi Kakek memperkenalkan metode pendidikan matematika yg berkarakter. Maksudnya adalah dengan metode ini anak akan mempunyai rasa percaya diri dalam menyelesaikan soal berhitung, membuktikan kebenarannya, dan yakin akan kebenaran tersebut. Masalah yg sering terjadi pada anak2 yg baru mulai belajar matematika adalah kesulitan berhitung dan perasaan ragu2 saat melakukannya. Kesulitan dan perasaan ragu2 inilah yg kemudian membuat anak malas dan takut ketika berhadapan dengan matematika. Hal sepele semenjak usia TK dan SD inilah yg kemudian berlanjut menjadi ketakutan akut hingga si anak berusia remaja. Oleh karena itu, Kakek Hakimi mengubah metode pembelajaran matematika ini dengan konsep Basis 10 yg dibuat menyenangkan dan menantang.

Sosok Kakek yg eksentrik dan metode pengajarannya yg ceria sudah cukup membuat anak2 betah belajar bersamanya dibandingkan dengan mayoritas guru2nya di sekolah. Dengan tangan memegang stopwatch, Kakek mengajak anak2 tersebut untuk bersemangat memecahkan soal. Dengan komunikasi yg bersifat membangun dan tidak menekan, anak2 kemudian malah merasa tertantang untuk mengalahkan catatan rekor waktunya sendiri dalam berhitung. Kemudian dengan kebiasaan mengecek kebenaran jawaban sendiri, anak2 didikannya akan merasa yakin mempunyai nilai sempurna saat menyerahkan hasil berhitungnya. Inilah salah satu yg dimaksud dengan pendidikan berkarakter : menciptakan anak2 yg pemberani dan bersemangat melalui pelajaran matematika!

Bersambung ke Bagian 2…

Membangun Semangat Kewirausahaan Sosial

Photo0407

Seminar dan workshop yg saya ikuti pada cerita perjalanan sebelumnya adalah mengenai kewirausahaan sosial. Judul lengkapnya Revitalisasi Potensi Masyarakat Indonesia melalui Social Enterprise. Tema dan judul ini saya minati karena memang terkait salah satu impian dan aktivitas saya sekarang. Pembicaranya sendiri adalah seorang praktisi dan akademisi. Lengkap karena beramal harus dengan ilmu dan ilmu harus diamalkan.

Pembicara pertama yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan SMIH dan TNYI memaparkan penjelasan mengenai peranan sosial enterprise dalam lingkup sosial, bisnis, dan pemerintah. Dikatakan jika sosial enterprise mampu menyatukan semua elemen itu dalam kesatuan yg utuh. Sosial enterprise mampu memberdayakan dan memperbaiki masyarakat dengan memecahkan permasalahan sosial dengan kegiatan bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan bisnis yg dilakukan tentunya diutamakan yg berbasiskan potensi lokal masyarakat tersebut. Pak Zulfikar menemukan masalah yg hampir sama ketika beliau berkunjung ke beberapa daerah, terutama di pedesaaan : masyarakat di sana tidak mau mandiri dan bermental pengemis. Artinya mereka sebetulnya mempunyai potensi, namun enggan atau tidak tau bagaimana mengembangkannya dan hanya bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah atau lembaga lainnya.

Metode Pak Zulfikar dalam menghadapi permasalahan masyarakat seperti ini adalah memaparkan kenyataan yg terjadi. Beliau memisalkan jika setiap orang di daerah itu menyisihkan sedikitnya 25 ribu sebulan untuk proses perbaikan daerahnya, maka dalam beberapa bulan saja sudah dapat terkumpul dana puluhan hingga ratusan juta. Dana sebesar ini nantinya bisa dipakai untuk memperbaiki fasilitas publik dan mengembangkan usaha daerah tersebut. Beliau juga menjanjikan akan meminjamkan dana sampai 60% dari jumlah dana yg dibutuhkan ketika masyarakat telah mampu mengumpulkan 40% di awal. Ketika dana tersebut dipakai untuk usaha, maka masyarakat akan menerima bagi hasil hingga 80% dari keuntungan. Selain itu, beliau menyisipkan unsur surprise di tengah2 ketika proses usaha berlangsung baik dengan memberikan hibah 50%, artinya masyarakat hanya perlu mengembalikan 50% dari pinjaman yg diberikan.

Metode Pak Zulfikar ini mengajarkan kemandirian dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat yg akan dibantunya. Masyarakat akan merasa memiliki usaha yg dijalankannya bersama karena ada uang mereka di dalamnya. Berbeda ketika dana pemerintah yg murni hibah dan tanpa pengawasan diberikan. Selain itu, reward yg diberikan tentunya akan memacu masyarakat untuk berusaha lebih baik lagi. Namun, metode ini dapat terlaksana dengan baik apabila adanya pendampingan dan ketegasan dari pihak yg akan membantu proses pengembangan kewirausahaan sosial ini. Pendampingan harusnya dilakukan intensif selama beberapa bulan di awal, artinya fasilitator tinggal bersama masyarakat tersebut dan membaur, tidak pulang pergi dan hanya mendampingi sebulan sekali. Ketegasan diperlukan ketika masyarakat memberontak dan memprotes proses yg ada. Tampilkan 3 hal utama yaitu fasilitator tidak melakukan kebohongan (dengan bukti rekening usaha, aliran dana, dll.), tidak menyakiti masyarakat setempat, dan tunjukkan perubahan yg terjadi ketika proses kewirausahaan sosial berlangsung.

Pembicara kedua, yaitu Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB menjelaskan mengenai proses dan pola pikir kewirausahaan sosial. Potensi lokal masyarakat sesungguhnya sangat besar dan bisa dikembangkan dengan proses kewirausahaan sosial. Hal ini karena kewirausahaan sosial bukanlah profit-oriented, melainkan benefit-oriented. Jika ada manfaat yg bisa dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, maka dengan sendirinya keuntungan materi bisa didapatkan. Prinsipnya adalah tidak takut, tidak menunda2, dan tidak ada yg tidak mungkin. Selain itu, kewirausahaan sosial membutuhkan 3N, yaitu Niat, Naluri, dan Nurani. Niat baik untuk membantu masyarakat, naluri untuk mengembangkan usaha masyarakat, dan nurani untuk bisa peduli pada kondisi sosial masyarakat.

Pembicara ketiga, yaitu Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Sosial Bisnis Dompet Dhuafa memaparkan fakta2 mengenai kewirausahaan dan kapitalisme yg kini berlangsung di dunia. Cara pemaparan beliau yg ‘nyeleneh’ memotivasi dan mengundang tawa dari para peserta. Sepatu merek terkenal di dunia Made in Indonesia berharga jutaan rupiah dibuat oleh buruh Indonesia dengan gaji 5 ribuan per hari. Seorang pegolf terkenal mendapatkan loyalty milyaran rupiah ketika mengiklankan sebuah produk olahraga sedangkan buruh yg membuat produk itu digaji hanya ribuan rupiah per hari. Ironis dan menyakitkan memang. Oleh karena itu, kewirausahaan sosial hadir untuk memberikan pembagian keuntungan yg lebih adil. Beliau mencontohkan sebuah kampung batik di Jawa Tengah yg menggaji pembatiknya jutaan rupiah dari setiap batik yg dihasilkannya. Beliau juga menyatakan jika pengusaha itu dibentuk bukan dilahirkan, bagaikan proses pembuatan semangka kotak yg dijual sangat mahal. Meski prosesnya menyakitkan, tetapi prosesnya itulah yg membentuk seorang pengusaha menjadi pribadi yg tangguh dan mempesona.

Di akhir sesi seminar, Pak Zulfikar Alimuddin menunjukkan sebuah video yg inspirational. Video mengenai seorang anak kecil yg mampu membuat perubahan. Video tersebut bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=GPeeZ6viNgY

Photo0408

 

Pada sesi workshop atau Focus Group Discussion, rekan saya mengambil topik mengenai permodalan rakyat untuk keseimbangan ekonomi sedangkan saya mengambil topik pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan platform kolaborasi. FGD yg saya ikuti difasilitasi oleh Mas Adhita, seorang mahasiswa S2 jurusan Teknologi Industri Pangan UGM yg telah beberapa kali menyabet juara lomba kewirausahaan. Beliau mengembangkan budidaya lele kolam kering di daerah Gunung Kidul. Kini aktivitas beliau sedang berusaha meng-ekspor kerajinan rotan dan bambu ke negara Turki.

Pada awal FGD ini, Mas Adhita mempersilahkan beberapa peserta untuk menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Ada yg bercerita mengenai niatnya yg ingin membuat supplier sayuran dan pangan organik di daerah Kalimantan dan ada yg bercerita mengenai pengalamannya bekerja di forwarding company dan niatnya untuk mengembangkan usaha di daerahnya sendiri. Saya pribadi ikut menceritakan pergerakan saya bersama rekan2 di yayasan Sadamekar yg meliputi pendidikan, koperasi, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Dari contoh2 kasus ini, Mas Adhita memaparkan proses kewirausahaan sosial yg umum terjadi. Ada Smart Small Farmer di Thailand yg mampu mengolah berbagai jenis sayuran dan buah2an dalam skala industri. Mulai dari pemberian bibit, pengolahan lahan, pemanenan, proses grading, pengemasan, dan distribusi ke berbagai daerah. Uniknya adalah meski semua bibit dan lahan adalah milik perusahaan, tetapi petani disana tetap memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan yg kuat terhadap usaha yg dijalankan. Prosesnya pun melibatkan aplikasi teknologi yg mumpuni, salah satunya adalah indikator yg mampu menunjukkan jika suatu sayuran telah kadaluarsa dalam kemasan. Grade A (terbaik) akan dikirimkan ke Eropa, Grade B dikirimkan ke Amerika, Jepang, China, dan negara lain yg setara, Grade C dipakai di lingkungan dan negara sendiri, dan tragisnya Grade D (terburuk) akan dikirimkan ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

Mas Adhita kemudian memberikan skema umum yg sering digunakan dalam proses kewirausahaan sosial di Indonesia, yaitu dengan mengembangkan koperasi dan usaha berbasis potensi lokal. Proses awal terbaik adalah dengan melihat pasar dan menariknya hingga ke hulu, dari demand sampai ke supply. Beliau menjelaskan mengenai Porter Five Forces, market size dan market share, proses pendistribusian yg melibatkan promosi, prinsip Total Quality Management (TQM), pembuatan Demonstration Plot (Demplot), penguatan produksi dan pengolahan, prinsip Plan-Do-Check-Action (PDCA), dan kegiatan Kaizen (Continous Improvement). Ini semua mengingatkan saya pada tempat kerja, pelatihan bisnis, dan proses kewirausahaan sosial yg sedang dilakukan.

Setelah semua pemaparan itu dijelaskan, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk merumuskan suatu contoh nyata bagaimana langkah2 membuat kewirausahaan sosial dan skemanya. Kelompok saya memilih untuk memikirkan solusi kewirausahaan sosial untuk menanggulangi alih fungsi lahan pertanian dan alih profesi dari para petani. Langkah2nya kami sesuaikan dengan prinsip Toyota Business Practices (TBP) yg sempat saya pelajari ketika bekerja sedangkan skemanya kami sesuaikan dengan pendekatan prinsip koperasi, kesejahteraan petani, dan pemotongan jalur distribusi. Setelah semua kelompok sedikit mempresentasikan hasil diskusinya, kami pun mengikuti acara penutupan yg berlangsung di auditorium utama.

Hmm… that’s all. Itu yg bisa saya ceritakan pada kesempatan mengikuti seminar kewirausahaan sosial dari psikologi UI dan Sosial Entrepreneur Academy (SEA) Dompet Dhuafa ini. Yg saya yakini adalah kewirausahaan sosial ini dapat menjadi solusi untuk melawan kapitalisme global, memeratakan kesejahteraan, dan menyelesaikan beberapa permasalahan pelik di Indonesia ini. Dan saya yakin pula jika semakin banyak pemuda dan komunitas yg bermimpi, bersatu, dan bergerak bersama mewujudkan tujuan mulia dari kewirausahaan sosial ini. Aamiin.

Perjalanan Menarik Karawang-Bekasi-Depok (Edisi Kewirausahaan Sosial)

Sabtu dini hari saya berdua bersama Mas Oris bersiap2 untuk berangkat ke Depok dari Rengasdengklok Karawang. Dengan modal niat dan info rute, kami berangkat memakai motor dan dilanjutkan dengan naik kereta, Kami berencana mengikuti sebuah seminar kewirausahaan sosial di kampus psikologi UI yg dimulai jam 8.30. Alhamdulillah pas sampai stasiun kereta Karawang, kami berhasil mendapatkan 2 tiket terakhir yg tersedia. Mungkin jika telat 10 detik saja, kami tidak akan mendapatkan tiket itu dan entah bagaimana kami akan ke Depok. Dan sesuai prasangka, kami harus menunggu kereta yg telat datang beberapa saat. Meski weekend ternyata KRD ke arah Jakarta ini tetap penuh dan kami terpaksa harus berdiri dekat pintu keluar di samping toilet kereta yg bau pesing. Keterpaksaan ini juga akibat kami tak mau kelewatan turun di stasiun Bekasi.

Sesampainya di stasiun Bekasi, saya dengan bodohnya melangkah keluar dengan kaki kanan saat kereta masih berjalan pelan. Kaki saya terseret dan hampir saja terjatuh. Seketika teringat beberapa cerita orang yg meninggal akibat ‘salah kaki’ ini saat turun dari kendaraan yg masih berjalan. Ada yg meninggal akibat gegar otak dan ada yg meninggal karena langsung tergilas (GLEG!). Sesuai info rute yg diberikan, kami harus melanjutkan perjalanan menggunakan commuter line dari stasiun bekasi ke arah depok dan turun di stasiun UI. Karena pertama kali juga kami menaiki commuter line, kami agak kikuk ketika menggunakan kartu sebagai tiket masuk. First impression nya adalah commuter line ini cukup nyaman dengan boots yg menggantung di pegangan tangan kereta. Unik juga nih strategi promosi dari AP Boots, hehe…

Setelah melihat info rute commuter line, ternyata kami harus transit dulu di Manggarai untuk selanjutnya menaiki commuter line lain yg ke arah Depok. Sepanjang perjalanan, kami berdua asik ngobrol mengenai pengalaman Mas Oris membesarkan usaha franchise “Jarimatika” Bu Septi miliknya dan bagaimana pengalaman beliau di Jepang saat menaiki kereta. Meski terus berdiri semenjak naik KRD sampai commuter line dan tiba di stasiun UI, kami tetap menikmati perjalanan dengan mengobrol mengenai hal2 tersebut.

Setibanya di stasiun UI, kami bingung juga apakah kartu tiket harus dikembalikan atau tidak. Dengan jaimnya kami tidak bertanya dan hanya melihat penumpang lain yg keluar. Oh, ternyata setiap penumpang tetap memiliki kartu ini di tangannya. Pertanyaan selanjutnya yg ada di benak kami adalah apakah kami tak harus bayar lagi ketika nanti melakukan perjalanan pulang? Karena kami menganggap harga tiketnya terlalu mahal untuk sekali perjalanan, yakni 19 ribu untuk berdua, jika dibandingkan dengan KRD yg hanya 5 ribu berdua. Haha… so opportunist. Untuk menuju kampus psikologi UI, kami harus berjalan dan bertanya pada beberapa orang di sekitar. Kami melewati jurusan studi sastra Jepang, FISIP, dan kemudian sampai juga di psikologi. Mas Oris memikirkan potensi beliau membuka les bahasa Jepang sedangkan saya memikirkan betapa besarnya kampus UI ini dibandingkan kampus saya di Bandung dulu (maklum ga pernah studi banding kesini, hehe). Yg kompak kami pikirkan adalah banyaknya mobil yg diparkir di FISIP, apa karena banyak anak pejabat yg belajar ilmu politik yah? Hehe…

Sebelum sampai di auditorium psikologi UI, kami bertemu salah seorang peserta seminar lain yg sama2 kebingungan. Ternyata beliau undangan dari Dompet Dhuafa Volunteer, sebuah komunitas relawan pergerakan dari salah satu lembaga zakat di Indonesia. Tak dinyana ternyata kami bertiga menjadi peserta pertama yg hadir di seminar kewirausahaan sosial ini. Ruangan yg dingin membuat saya dan Mas Oris tak melepaskan jaket yg dikenakan sebelumnya. Dengan semangat dan percaya diri kami berdua duduk di kursi paling depan, yg nantinya sebaris dengan para pembicara di seminar ini. Sudah jadi kebiasaan mayoritas orang Indonesia, peserta lain malah memilih kursi yg lebih di belakang ataupun di pojok. Pengalaman semangat orang Jepang dari Mas Oris lah yg membuat kami berdua untuk memilih di kursi paling depan.

Sesi seminar berlangsung hingga pukul 12 siang yg diisi oleh ketiga pembicara utama, yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan Semangat Membangun Indonesia Hebat (SMIH), Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB, dan Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Socio Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa. Setelah sesi seminar, acara dilanjutkan dengan break makan siang dan sholat dzuhur. Sesi kedua materi dilanjutkan dengan Focus Group Discussion yg dibagi menjadi 4 ruangan dengan 4 topik yg berbeda. Saya dan Mas Oris memilih ruangan yg berbeda agar kami mendapatkan 2 topik berbeda yg kami minati, meski kami harus tidak mengikuti pembagian ruangan yg dibuat panitia. Sori yak kami tidak mau ditempatkan di ruangan yg sama dengan topik yg tidak kami minati dan kami pikir aturan pembagian ini tidak sepenuhnya mengikat, hehe…

Sepanjang sesi seminar dan FGD, kami dengan PD-nya SKSD dengan para pembicara dan tokoh2 penting yg hadir di acara. Maklum, selain ingin mendapatkan ilmu yg bermanfaat, kami juga ingin memperluas networking kami di bidang kewirausahaan sosial. Ada praktisi, akademisi, provokator, relawan, komunitas, dan beberapa yayasan yg mengikuti acara ini dan bergerak di bidang ini. Dengan berbekal profil dari yayasan “Sadamekar” yg kami bawa, kami berkenalan dengan mereka dan sedikit memperkenalkan yayasan ini. Semoga saja di lain kesempatan kami bisa berkolaborasi dengan mereka dalam mengembangkan kewirausahaan sosial di Karawang dan di Indonesia.

Sesi FGD selesai pada pukul 4 sore dan dilanjutkan dengan sesi penutupan acara. Karena kami tidak mengharapkan doorprize, jadinya kami pun tidak mendapatkannya. Padahal mah sih pengen, tapi menurut mitos yg beredar klo ga berharap malah nantinya yg akan dapet, jadinya kami memilih untuk tidak berharap, haha… Setelah semua rangkaian acara selesai, kami bergegas kembali ke stasiun UI karena hari telah menjelang sore dan kami pun tak mengerti jadwal terakhir keberangkatan dari commuter line dan KRD. Pertanyaan kami mengenai kartu tiket pun terjawab : kami harus membayar lagi untuk perjalanan pulang, tetapi dengan harga 8 ribu berdua. Oh, ternyata kami harus membayar lebih mahal di awal untuk biaya jaminan kartu sebesar 5 ribu. Bodohnya kami adalah hal itu ternyata tertera di struk pembelian tiket -__-

Sempat nyasar ke arah Jakarta Kota, kami akhirnya sampai di stasiun Bekasi pada sekitar pukul 6 sore. Tragisnya adalah tiket KRD untuk keberangkatan jam 7 telah habis terjual dan kereta selanjutnya baru berangkat jam 9 malam (di jadwal, tak tau kenyataannya). Niat jahat kami muncul untuk kembali masuk ke stasiun menggunakan kartu tiket commuter line dan memaksa masuk ke KRD meski tak punya tiket. Ah, paling kena denda doang, pikir kami. Tapi setelah dipikir2 lagi, niat jahat itu kami urungkan. Kemudian prasangka buruk kami muncul ketika kami akan memilih untuk naik angkot dan elf ke Karawang karena pengalaman kami diturunkan in the middle of somewhere and must pay twice and the long time we must take because of “ngetem”. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu KRD jam 9 malam saja sambil istirahat dan sholat maghrib dan isya.

Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah warteg pinggiran. Ketika kami menyantap soto ayam, datanglah seorang bencong dengan pakaian aduhai menyanyi mendekati kami. Dengan sedikit menoleh untuk menolak memberi sumbangan, kami harus tetap menjaga selera makan kami. Waktu baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika kami bisa membeli tiket KRD untuk pulang. Itu artinya kami harus menunggu 1,5 jam plus+plus di stasiun. Huft, pekerjaan menunggu yg cukup berat sepertinya. Di saat menunggu itu kami habiskan dengan mengobrol mengenai beberapa hal. Mencuat suatu “hot topic” ketika seorang single berhadapan dengan seorang lelaki beristri satu beranak tiga. You know what I mean lah yah, haha…

Di selang pembicaraan seru itu, kami melihat bencong yg kami lihat di warteg berjalan di pinggir rel diikuti seorang pria. Prasangka buruk kami langsung mencuat, apa yg akan mereka lakukan dalam kegelapan? Niat kami untuk mengikuti mereka berdua akhirnya kami urungkan karena takut melihat sesuatu yg tak ingin kami bayangkan… Setelah beberapa saat, bencong tersebut kami lihat kembali ke stasiun dengan wig yg telah dilepas dan pakaian yg telah berganti. Ow…ow…ow… ga usah dipikirin lagi lah yah, mungkin dia memang sekedar menyelesaikan pekerjaan mengemisnya dengan mengganti kepribadian.

Sesuai yg kami perkirakan meski tidak eksak betul, 1,5 jam plus+plus menunggu itu berarti 2,5 jam. Setengah jam terakhir, perbincangan kami ditemani seorang supir truk yg baru pulang bekerja. Bapak beliau ternyata dulunya adalah seorang petugas PT. KA dan beliau pun menyatakan jika praktek KKN telah berlangsung lama di tubuh BUMN semacam ini. Sigh… kami hanya bisa geleng2 kepala mendengarkan sebuah rahasia umum tersebut. Setelah KRD tiba di stasiun, kami langsung bergegas masuk agar bisa duduk di kursi kereta. Maklum, stamina kami telah cukup terkuras dan kami pun cukup mengantuk. Mas Oris meminta ijin untuk tidur dan meminta saya untuk tetap bangun dan memeriksa sampai mana kereta telah berjalan. Maklum lagi, Mas Oris nantinya yg akan mengendarai motor dari stasiun Karawang sampai Rengasdengklok dan kereta hanya akan berhenti di stasiun Karawang dalam waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah cikampek. Buku “Sekolahnya Manusia” karya Munif Chatib yg saya bawa tak mampu saya baca dengan konsentrasi sehingga saya hanya memegangnya saja sambil mendengarkan musik penyemangat di earphone.

Pukul 11 malam kami sampai di stasiun Karawang. Daerah sekitar stasiun tersebut diisi beberapa warung remang2 A.K.A Lokalisasi yg cukup terkenal di daerah Karawang dengan sebutan “Se-er” A.K.A Sisi Rel. Cukup rame nampaknya sambil diiringi musik dangdut erotis. Tanpa pikir panjang, kami masuk ke… penitipan motor dan langsung bergegas menuju Rengasdengklok. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di kediaman Mas Oris, yg merangkap juga sebagai sekre komunitas IIP Karawang, dengan selamat pada pukul 12 malam. Cheers and Good Night!

Dugem Pendidikan Anak

Photo0400

Pada suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah keluarga yg tergabung di komunitas IIP (Ibu-Ibu Professional) Karawang. Memang sebelumnya saya pribadi ingin belajar ke rumah Bu Septi, pendiri komunitas IIP ini di Salatiga, tapi yah berhubung ada ‘cabang’ nya di Karawang, saya memilih ‘nyantrik’ ke tempat yg lebih dekat. Kesan pertamanya unik dan seru aja karena anak2nya semua bersekolah di rumah karena dirasa belum ada sekolah yg cukup baik di Karawang sebagai tempat pendidikan anak2nya tersebut.

Keluarga ini juga menyediakan bimbingan belajar matematika bernama “Jarimatika” untuk anak2 berusia TK dan SD. Menarik memang belajar sambil bermain bersama anak2 dengan beragam karakter dan keunikannya masing2. Ada yg pinter tapi ga mau diem, ada yg menolak untuk belajar tapi asik sendiri, ada yg usil dan ngejailin temennya, dan ada pula yg penurut. Ciri khas yg pasti adalah suasananya riang, penuh canda tawa dengan senyuman yg ‘menggoda’, polos, dan terlihat tanpa beban. Memang guru lesnya pun tidak memaksa anak untuk mau belajar dan mengerti matematika, semuanya diserahkan pada minat si anak. Katanya yg terpenting adalah komunikasi dengan orang tua si anak jika anak itu tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu, biarkan dia memilih apa yg disukainya, karena mungkin itu yg menjadi bakatnya kelak. Masalah bayaran itu murni diserahkan kepada ortu si anak, jika anaknya tidak mau belajar dalam les yah silahkan aja ga perlu bayar. Urutannya adalah minat, proses, dan manfaat. Jika sejak awal tidak ada minat dari si anak, yah kenapa harus dilanjutkan?

Photo0402

Pengalaman di atas memperlihatkan jika ada masalah dengan dunia pendidikan anak di Indonesia sekarang ini. Anak kecil kok udah dikasih les? Dan kenapa kok peminatnya banyak? Jadi kapan waktu anak itu untuk bermain sedangkan jadwal sekolah skrg yg makin padat? Kenapa pula yg memberikan les itu malahan anaknya sendiri tidak dibelajarkan di sekolah? Jaman saya TK dulu perasaan boro-boro ada les, belajar yg buat otak jelimet aja ga ada, kebanyakan dihabiskan dengan bermain. TK jaman sekarang katanya malah udah diajarin pertambahan angka puluhan. Mayoritas sekolah sekarang berlomba2 menonjolkan dirinya sebagai sekolah yg mampu menghasilkan anak2 yg pintar berhitung, membaca, penurut, dll. Apa memang tujuan pendidikan seperti itu?

Memang jaman sekarang ini kebanyakan orang tua tidak memahami bagaimana cara mendidik dan mengembangkan potensi anak sejak dini. Orang tua lebih menekan anak agar menjadi seperti yg ia inginkan. Aliran mainstream dari sekolah2 yg ada terus-menerus mendidik anak2 menjadi seperti yg sekolah itu inginkan, menciptakan hasil didikan dengan cetakan yg sama. Anak2 yg tidak dapat mengikuti bentuk cetakan itu dianggap bodoh, tidak penurut, nakal, dan dicap mempunyai masa depan yg suram. Cetakan yg dikenal sebagai kurikulum ini mendorong anak agar lebih ‘pintar’ sedini mungkin. Yg dulu biasanya diajarkan di SD sekarang jadi mulai diajarkan di TK, yg dulu biasanya diajarkan di SMP sekarang mulai diajarkan di SD. Apa memang tujuan pendidikan sekolah kini seperti itu?

Proses dari pendidikan seperti itu nampaknya menghasilkan anak2 yg mudah stress, penuh tekanan, cenderung memberontak, penuh kebingungan, dan krisis jati diri. Meskipun banyak juga anak2 yg menjadi ‘pintar’ menurut pencapaian kurikulum sekolah, tetapi banyak juga (termasuk yg dianggap pintar itu) yg kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Terbawa2 pergaulan yg destruktif lah, pelampiasan aktualisasi diri yg salah lah, pesimistis pada banyak hal termasuk dirinya sendiri, egois dan apatis pada lingkungan sekitar, dll. Jelas2 bukan suatu hasil pendidikan yg diinginkan kan?

Yang menjadi pemikiran saya saat ini adalah pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter dan akhlak yg baik bagi anak untuk kemudian mengembangkan potensi dirinya sesuai minat dan bakatnya. Dalam tujuan pendidikan seperti ini dan dalam kondisi sekarang ini, memang orang tua dan keluargalah yg mempunyai peranan paling penting. Orang tua sejatinya harus mampu menjadi seorang tauladan, panutan, teman bermain, dan belajar bagi si anak. Cetakan kurikulum pendidikannya disesuaikan pada si anak, bukan si anak yg harus mengikuti cetakan kurikulum orang tuanya ataupun sekolah2 umum yg ada. Dengan mindset seperti ini dengan disertai pengalaman dan kenyataan yg ada, yg terbersit di kepala saya adalah bagaimana menjadikan dasar pendidikan keluarga ini ke sekolah2 yg ada?

Dunia gemerlap anak2 itu sekali lagi saya katakan : sangat menarik. Saya pribadi sampai saat ini masih menyimpan sifat kekanak-kanakan di dalam diri. Karena jujur, sifat2 itu menyenangkan, apalagi ketika berhadapan dan bergaul dengan anak2 kecil. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi kolot kan? Menjadi dewasa bukan berarti merasa superior kan? Menjadi dewasa bukan berarti kita merasa mengerti hal2 di sekeliling kita berdasarkan pengalaman pribadi (bertahun-tahun) kan? Karena menjadi dewasa berarti menjadi lebih bijak, lebih peka, lebih bisa menempatkan diri, lebih bisa menghargai anak dan orang2 yg lebih muda, lebih bisa mengerti dunia anak, dan mengerti jika jaman itu ternyata terus berubah. Wallahu alam.

8 Step Pemecahan Masalah ala Toyota

Akibat akun chirpstory saya yang tiba2 tidak bisa diakses, maka dari itu beberapa archive saya posting ulang di blog ini agar lebih terdokumentasikan. Kali ini mengenai Toyota Business Practice. Semoga Bermanfaat 🙂

Toyota Business Practice itu adlh tools yg dipake o/ Toyota untuk problem solving. TBP ini terdiri dari 8 step yg bener2 general, bs dpake pd brbagai kasus

TBP step 0 : Background :
> Disini definisikan latar belakang masalah yg terjadi. Tunjukkan jika masalah ini penting dan genting u/ dipecahkan
> Bandingkan brbagai masalah yg ada brdasarkan data aktual. Misalkn brdasar yg paling sering trjadi (pareto), efeknya luas, dll.
> Jangan salah dlm memilih fokus masalah. Pastikan jk masalah ini terpecahkan, benefitnya besar untuk organisasi/perusahaan.
> Latar belakang masalah yg ngawur akan menyebabkan step2 berikutnya akan berasa sia2 ketika dilakukan. Benefitnya drasa tdk ada

TBP step 1 : Clarify the problem :
> Perjelas masalah yg telah dipilih untuk dipecahkan. Apa pengaruh masalah ini thdp visi besar perusahaan.
> Tunjukkan masalah itu sebagai gap antara kondisi ideal dan kondisi aktual. Ini mmpermudah kita dlm mlihat besarnya masalah tsb
> Usahakan kondisi ideal dan kondisi aktual itu terkuantifikasi atau ada nilainya. Jdnya besaran masalah itu dpt benar2 terukur
> Contoh : suatu delivery barang idealnya trkirim dlm jangka waktu 30 menit. Trnyata aktualnya ada yg smpai 2 jam. Gap : 1,5 jam. Contoh lain : Kita menargetkan idealnya tidak ada barang cacat. Trnyata ditemukan sjumlah barang yg cacat. Gap : jmlh yg cacat

TBP step 2 : Breakdown the problem :
> Pecah masalah yg telah dipilih td dr berbagai sudut pandang. Masalah itu bisa saja terlalu abstrak.
> Pecah masalah berdasarkan prinsip 4W 1H. What, when, who, where, how. Ini akan membantu kita mencari fokus masalah.
> Contoh : delivery brng yg lebih dr 30 menit bisa dipecah berdasarkan siapa yg mengantar, sbrapa jauh jaraknya, ketika kpn, dll. Barang yg cacat td bisa dipecah berdasar jenis cacat, lokasi cacat, kapan ditemukan cacat, dll.
> Pd step ini kita fokuskan pd jumlah masalah yg terjadi berdasar breakdown yg telah dilakukan. Intinya mncari problem yang akan diselesaikan
> Contoh : hasil breakdown : dr 20 kasus delivery yg lbh dr 30 menit : 4 kasus diantar oleh si A, 6 kasus diantar o/ B; 10 kasus delivery ke daerah 1, 5 kasus ke daerah 2; 12 kasus terjadi pagi hari, 5 kasus di siang, 3 kasus di malem.
> Dr contoh breakdown td, kita bisa melihat scope masalah dgn lebih gamblang. Fokus pemecahan masalah pun bisa terlihat. Fokus masalah yg akn dpecahkan bs diambil dr jmlh kasus trbnyk dr hsl breakdown. Dr contoh td diambil 12 kasus yg trjdi d pagi
> Dlm step ini juga ditentukan point of occurrence. Tentukan letak masalah yg terjadi berdasar urutan proses yg sudah ada.
> Contoh : dalam delivery barang ada proses : pengangkutan, pengiriman, pencarian alamat, dan unloading. Tntukan standar waktu pada masing2 proses. Pd proses pengangkutan:3 mnt (msh dlm stndar),pengiriman:60 mnt [letak masalah],pncarian alamat:5 mnt (dlm standar) ; unloading:5 mnt (dlm stndar)
> Dlm menentukan fokus, prioritas, dan letak masalah, kita memang hrs mlakukan pngecekan lngsng ke ‘lapangan’. Liht scara detail

TBP step 3 : Target Setting :
> Setelah melakukan proses breakdown yg benar, maka kita akan dngn mudah menentukan target u/ penyelesaian mslh
> Sblum pnjelasn lbh jauh, #TBP bs dpake jg bwt analisis u/ mulai bisnis. Tp contoh2 yg ane pake lbh ke penyelesaian mslh bisnis yg udah jln
> Target yg ditentukan itu haruslah spesifik, terukur, menantang, dan dlm jangka waktu tertentu agar dpt terkontrol dan kita pun terpacu.
> Target setting disini tidak perlu sampai mewujudkan kondisi ideal yg telah ditetapkan di awal. Lakukan scara bertahap.
> Contoh : Mnghilangkan mslh delivery yg lbh dr 30 mnt di pagi hari dgn mngurangi waktu pngiriman menjd 20 mnt dlm waktu 1 bulan
> Dari contoh target td dpt dilihat jika fokus penyelesaian masalah begitu jelas. Ini memudahkan kita dlm step berikutnya.

TBP step 4 : Root Cause Analysis :
> Inilah salah satu step tersulit. Pada step ini kita harus mencari akar penyebab dr masalah yg terjadi.
> Jika akar mslh tdk didapat dgn benar, maka kmungkinan besar mslh yg ada akan berulang meski sudah ada penanggulangan nantinya
> Munculkan terus pertanyaan why pd masalah yg terjadi sehingga tdk ada alasan lg yg bisa diambil. Rata2 lakukan hingga 3-5x why
> Pola pikir bantuan yg biasanya dipake adlh analisis 4M 1E : Man, Machine, Method, Material, Environment
> Man : pengalaman, kesehatan, keahlian, beban kerja.
> Machine : kerusakan, perawatan, tepat guna, efisien atau tidak.
> Method: urutan proses, ergonomy, standard, efektif/tidak.
> Material: kualitas, cocok/tidak. Environment: lingkungan, eksternal
> Pecah penyebab masalah berdasarkan aspek2 td. Berikn poin korelasi mslh dan kmungkinan pnybab yg ada. Kombinasikan 4M1E dgn 5why
> Contoh : u/ mslh delay delivery. Man : trnyata org yg mengantar sehat, pengalaman 2 thn, tau daerah domisili -> BKN PENYEBAB. Machine : Pngiriman pake mobil lebih lama -> why? -> tdk dpt bergerak leluasa -> why? -> lalu lintas padat -> ADA KORELASI. Method : pengiriman lebih dari 20 menit -> why? -> jalur relatif jauh -> why? -> jarak ke tmpt tujuan lebih dari 10 km -> ADA KORELASI. Material : lama proses pengiriman barang tidak trkait dgn material dr barang & angkutan yg dipake -> TIDAK ADA KORELASI. Environment : delay di pagi hari -> why? -> ad simpul kemacetan -> why? -> bnyk org kerja brkndara d daerah itu -> ADA KORELASI
> Dari contoh tersebut ada 3 kmungkinan penyebab : lalu lintas padat, jarak lebih dari 10 km, dan bnyk kndaraan saat pagi hari. Ini jd bekal u/ step brikutnya

TBP step 5 : Countermeasure Plan :
> Step ini merupakan tahapan perencanaan dlm menanggulangi mslh berdasarkan penyebab yg sudah dianalisis.
> Countermeasure yg dilakukan bersifat temporary dan fix. Temporary countermeasure dilakukan agar mslh tdk terjadi dlm waktu dkt
> Buatlah timeline penyelesaian brdasarkan target waktu yg udah ditentukan. Buat planning sedetail mngkn dgn mnyertakan keypoint
> Countermeasure yg akan dilakukan bs lebih dr satu sesuai jumlah penyebab mslh, namun lakukan scara bertahap dan satu per satu. Namun bs saja hanya dilakukan 1 countermeasure dgn ditambah analisis masalah yg lebih lanjut, dicari yg paling efektif.
> Analisis countrmeasure bs dibagi dr 4 aspek : safety, quality, productivity, dan cost. Disini brlaku prioritas, tp tdk mengikat. Jadi cari countermeasure yg 1. Paling aman, 2. Bisa menjaga kualitas, 3. Paling cepat dan menghasilkan, 4. Paling murah biayanya
> Contoh dr kasus delay delivery: penyebab dan countermeasure-nya : Lalu lintas padat -> delivery dpt dilakukan pake motor 1-1/brtahap. Lalu lintas padat -> memakai jalur alternatif. Jarak lebih dari 10 km -> membuat cabang distributor baru / memacu kendaraan dgn cepat. Macet di pagi hari -> ubah jdwal pengiriman jd dini hari / lbh awal. > Nah, dari solusi2 countrmeasure yg ada, analisis SQPC-nya : Delivery pake motor 1-1 : jk brng yg dikirim bnyk -> tdk aman jk overload, cost relatif bsar, buth manpower bnyk dan bolak-balik; Pake jalur alternatif -> biasanya jalan jelek dan memutar : rawan kecelakaan, potensi merusak kualitas brng, cost relatif bsar; Buka cabang distributor baru : efektif, namun butuh prsiapan lama dan butuh cost yg sngt besar (Potensi u/ jd fix countrmeasure); Mengubah jadwal pengiriman jd lbh awal : Efisien, dpt dilakukan dgn cepat, cost dikit, hanya nambah manhour -> Potensi trbaik
> Dari analisis SQPC tadi didapat potensi temporary dan fix countermeasure. Atur jadwal dan lanjut ke step berikutnya.

TBP step 6 : Develop countermeasure :
> Step ini adalah pelaksanaan dr planning pd step sebelumnya. Jk planningnya mantap, maka tinggal action
> Jk analisis SQPC dr countermeasure msh rancu / tdk yakin, maka step ini akan jadi proses trial and error. Cari solusi trbaik!
> Dalam plaksanaannya, catat smua efek yg ditimbulkan dr countermeasure yg dilakukan. Cek kesesuaiannya dgn plan yg tlah disusun
> Lakukan temporary countermeasure dgn cepat agar mslh solve sementara dan sesuai target waktu. Fix Countermeasure bisa dilakukan setelahnya
> Contoh : Countermeasure dgn penjadwalan lebih awal bisa dilakukn sesuai plan awal, nambah jam kerja 2 jam dr jam 5-7, cost manhour 20ribu

TBP step 7 : Process and result evaluation :
> Step ini mrupakan evaluasi dr countermeasure yg telah dilakukan, apakah efektif atau tidak.
> Bandingkan pencapaian dgn target yg telah ditentukan. Proses yg baik seharusnya menghasilkan result yg baik pula.
> Pd step ini dpt dipertimbangkn u/ mlakukan analisis dan countrmeasure yg lain sesuai hasil yg didapat. Jd bs balik lg ke step 6
> Pilihlah langkah trbaik. Dgn data dan analisis yg baik, kita bs milih u/ mengejar trget, ktpatan waktu / lanjut k step brikutnya
> Contoh : Dari Countermeasure penjadwalan lebih awal didapat : pegawai ada yg terlambat, kurang efektif u/ pengiriman hari Senin pagi. Dari awalnya ada 20 kasus delay delivery, setelah 1 bulan (sesuai target waktu di awal) kasus dpt berkurang jd hanya 3 kasus. Countermeasure ini diputuskan menjadi pilihan terbaik u/ sementara sambil menyusun planning ke depan u/ membuat cabang distributor baru. Dgn pilihan yg tlh diambil tersebut dpt dilihat jk kita tlh menyelesaikan suatu mslh dgn cukup efektif. Lanjut ke step trakhir

TBP step 8 : Standardization :
> Ini adlh step menstandarkan apa yg tlh dilakukan pd step2 sblumnya sbg acuan, patokan, dan jangkar.
> Dokumentasikn smua hal yg tlh dilakukan, tp jgn jdkan hnya sbg history. Jgn smpai mslh yg sama terulang gara2 ksalahan yg sama
> Tiru, duplikasi, dan modifikasi step2 yg tlh dilakukan u/ mslh yg kira2 serupa. Dpt jg dilihat dari step breakdown yg dilakukn
> Contoh : kasus delay delivery u/ malam hari ternyata bisa diselesaikan dgn pengubahan jadwal lebih awal.

Kesimpulan :
8 step TBP : Background, Clarify, Breakdown, Target Setting, Root Cause Analysis, Countermeasure Plan, Develop Countermeasure, Evaluation, Standardization.

Next :
8 step TBP yg tlh dlakukn mrupakn 1 cycle PDCA (Plan-Do-Check-Action) : Tools lain agar proses pngembangn (kaizen) bs dlakukn trus-mnerus. Dokumentasi ke-8 step TBP yg tlh dilakukan dlm 1 cycle PDCA itu biasanya menggunakn tools A3 Report : suatu laporan yg sistematis dan ringkas.

Seni Merangkai Waktu

Waktu adalah dimensi terpenting dalam kehidupan
Waktu adalah sumber daya yang paling tidak terbarukan
Waktu adalah mata uang tertinggi
Waktu adalah perasaan lambat atau cepat
Waktu adalah penentu kemenangan
Waktu adalah perjalanan

Berjalan, berlari, menunggu, sabar, tergesa-gesa, santai, melamun, bosan, dan terdiam. Setiap orang di dunia ini pastinya pernah melakukan hal tersebut terhadap waktu. Adakalanya kita berharap waktu berjalan lebih lambat dari biasanya, adakalanya kita tak sabar menunggu untuk sampai pada suatu waktu yg kita anggap penting, dan adakalanya kita tak memperdulikan waktu. Perasaan kita sering dicampuradukkan oleh waktu, terhimpit deadline, menunggu panggilan tes, janjian ketemu seseorang, telat, dll.

Setiap orang berdoa agar diberikan umur yang panjang. Meski terkadang kita tak tau akan mempergunakannya untuk apa, bingung akan melakukan apa, bosan dengan rutinitas yg ada. Mungkin yang diinginkan adalah waktu akan terasa lambat ketika kita melakukan hal2 yg menyenangkan. Mungkin juga yang diinginkan adalah keberkahan, karena semakin lama hidup maka semakin banyak pula amal kebaikan yang dilakukan. Namun, pada kenyataannya sering pula yang terjadi adalah sebaliknya, waktu malah terasa lambat ketika mata kuliah membosankan dan dosa kita pun bertambah akibat mengumpat si dosen.

Katanya belajar itu tidak mengenal waktu. Kapanpun kita bisa belajar dari apapun yg ada dan terjadi di sekeliling kita. Hanya saja kita perlu kemauan dan kepekaan sebagai tombol aktivasi otak. Kebalikan dari belajar, bekerja itu nampaknya mengenal waktu. Pengalaman pribadi mengatakan jika bekerja itu dikejar dan mengejar waktu, tergantung pada perusahaan mana kita bekerja. Ada pula yg beranggapan jika bekerja itu adalah untuk sekedar menunggu weekend, mengecap weekday sebagai ujian kesabaran. Lain halnya dengan berbisnis, waktu dikenal dan diukur sebagai produktivitas. Gimana caranya setiap detik itu bisa menghasilkan sesuatu. Waktu berasa sangat berharga. Tidak ada produktivitas artinya tidak ada pemasukan. Tidak ada perkembangan artinya kejenuhan.

Kompleksitas dari waktu ini sangat menarik. Saya pribadi mengibaratkan seni merangkai waktu adalah sebuah masterpiece kehidupan. Kita melukiskan masa lalu dengan tekstur dan kontur yg jelas dan tegas. Kita menciptakan masa depan sebagai lukisan abstrak yg kita sendiri tau maknanya (atau tidak). Kita membolak-balikkan perasaan dan ekspresi kita di antara kedua masa itu, hikmah dan harapan, pengalaman dan perbaikan, mimpi buruk dan mimpi indah. Rangkaian waktu itu luar biasa menakjubkan jika kita mau dan mampu menyadarinya. Setiap orang mempunyai cerita dan lukisannya sendiri yang akhirnya membentuk cerminan diri. Dan setiap orang pun nampaknya tau akan ilmu seni merangkai waktu ini : bersabar di waktu sulit, bersyukur di waktu senang, bersegera di waktu genting, bersemangat di waktu kerja, produktif di waktu luang, bermanfaat di setiap waktu, dan berdoa untuk masa depan. Nikmati setiap corak dan motif yg diberi oleh waktu yang ada. Selalu ciptakan moment terbaik di masa kini dan desainlah moment yang lebih baik di masa depan. Rangkailah setiap moment itu bagaikan sebuah puzzle dan yakinlah setiap kepingan puzzle yang lain akan datang tepat pada waktunya, menciptakan sebuah masterpiece dari lukisan kehidupan kita. Insya Allah.