Keluarga ‘Alien’ yg Inspiring

Pada postingan ini, saya mau sedikit sharing materi yg saya dapetin di acara Forum Indonesia Muda mengenai Parenting. Pembicaranya adalah Bu Septi Peni Wulandani. Beliau adalah sosok seorang Ibu dari keluarga ‘Alien’ yg luar biasa. Berikut ini saya share review materinya. Tetapi, mohon maaf sesuai judulnya juga yg Alien, maka cara bacanya juga adalah dari bawah ke atas dan tiap enter. Maklum saya copas dari twitter pribadi saya, hehe… Smoga Menginspirasi. Start from the End, End from the Start 🙂

Sumber lain yg bisa dijadikan rujukan :

http://mommiesdaily.com/2013/04/08/motherhood-monday-cerita-ibu-profesional/

http://m.youtube.com/watch?hl=en&gl=ID&client=mv-google&rl=yes&v=LLaruM1ShBM&feature=relmfu

Cek juga : ibuprofesional.com

Visi keluarga mereka adalah untuk membentuk keluarga2 tangguh di Indonesia. Menciptakan ‘alien2’ baru. Aamiin, smoga terwujud Bu @septipw 🙂

Mereka ‘membuang’ ijazah dan memutuskan hidup untuk mencari gelar alm. dan almh. terbaik. Uang bukanlah prioritas mereka.

Keluarga mereka tahan krisis. Perubahan kurikulum sekolah, gonjang-ganjing politik, dll seakan2 tdk berpengaruh kpd mereka.

Fakta lainnya adalah adik dan adik bungsu Enes ternyata cenderung mempunyai kemampuan yg lebih luar biasa, orang tua dan kakaknya jd pemicu

SUBHANALLAH! Merinding dan ampir nangis saya pas ngedenger fakta itu. Pendidikan keluarga ternyata bisa seluar biasa itu di era skrg ini.

Dgn berbekal presentasi, dia berhasil diterima kuliah tnpa ijazah & dgn berbekal mindset bisnis & keahliannya mengajar, dia bs hidup mandiri

Enes merasa dia berhasil karena masih ‘menyusu’ pada kdua orang tuanya. Dan dia berusaha u/ membuktikan bahwa dia bisa berhasil di negri org

1 pelajaran penting lainnya adalah Enes memberanikan diri untuk ‘hijrah’ ke Singapura di umur 14 taun untuk belajar mandiri.

Pimpinannya menyetujui dan voila Enes belajar saham dari orang yg betul2 ahli dan praktisi. Sekali lagi, tanpa ijazah sama sekali.

Sebagai gantinya, dia meminta slot waktu 15 menit setiap kali dia selesai bersih2 u/ berdiskusi dgn pimpinan perusahaan itu mengenai saham!

Contohnya, Enes pernah mengajukan diri untuk menjadi cleaning service di suatu perusahaan keuangan tanpa dibayar.

Selain itu, mereka punya budaya khusus yg namanya ‘Nyantrik’, yaitu anak2nya dibiarkan magang atau belajar di tempat orang2 sukses dan ahli.

Jadi, mereka terbiasa dengan kegagalan dan tak akan merasa sedih akan hal itu. Kegagalan adalah proses belajar, itu sarana untuk naik level.

Dan yg uniknya, di tiap minggu akan ada meeting keluarga di meja makan atau di cafe. Setiap kegagalan yg terjadi akan dirayakan!

Mereka pun dilatih untuk membuat vision board sejak kecil. “Kelulusan” mereka dinilai dari pencapaian visi dan proyek yg direncanakan.

Enes suka hal2 berbau lingkungan, Ara suka dengan sapi, dan si bungsu suka dgn robotika. Passion didapat dan subhanallah cepat berkembang.

Bukan berarti orang tua mereka jago segalanya, tetapi mereka sendirilah yg belajar itu semua. Tanya, bimbing, fasilitasi, dan beri apresiasi

Contohnya si adik bungsu belajar permutasi dari permainan Kubik Cube, kubus geodesi dari proses pecahnya telur, sifat2 air saat di WC, dll.

Sehingga Enes, Ara, dan adiknya mempelajari sains dan ilmu terapan. Mereka melihat, ingin tau, berhipotesis, mencari jawaban, bereksperimen.

Sejak kecil, mereka memilih untuk membuang televisi dari rumah mereka. Ilmu didapat dari buku, internet, dan fenomena sekitar.

Tidak ada paksaan, orang tuanya hanya membimbing, dan semua pilihan diserahkan kpd anak. Terus gimana kemampuan akademis mereka?

Kuncinya adalah agar mereka bisa menjadi orang yg bermanfaat bagi orang lain dan sekitar. Sekolah atau tidak, itu sekedar pilihan.

Saat golden age itu, anak2nya didorong untuk menemukan apa passion dan mimpi besar mereka. Visi hidup mereka tersusun sejak kecil.

Ingat usia golden age kan? Usia dmana anak belajar dgn sangat cepat. Di situlah Bu Septi & keluarga men’design’ pola pikir dan karakter anak

Mereka berkembang dengan semangat belajar dan rasa keingintauan yg luar biasa. Orang tuanya ‘hanya’ mengajarkan Learn How To Learn.

Dan memang kita terjebak dgn yg namanya sekolah. Mereka belajar itu semua dari keluarga. Bapak dan Ibunya menjadi fasilitator sejati.

Terus tiga bersaudara itu belajar darimana ampe bisa sejago itu? Matematika, fisika, bisnis, dll.? Sedangkan mereka ga sekolah sama sekali?

Adik bungsunya yg laki2 di bawah umur 10 taun udah bisa buat robot hidraulik dari barang2 bekas, tanpa ijazah TK sekalipun. Kok bisa?

Adiknya, Ara, di usia yg ampir sama, udah bisa melakukan penyuluhan dan punya peternakan 5000 ekor sapi bersama masyarakat, tanpa ijazah

Enes di usia 14 taun udah punya bnyk pnghargaan & proyek pmberdayaan lingkungan, sehingga bs diterima di universitas Singapura tanpa ijazah

Tak peduli siapapun yg menganggap mereka ‘aneh’ dan bahkan marah kpd mereka, asalkan Allah dan Rasul-Nya tidak marah dgn apa yg dilkukan.

Prinsip yg dipegang adalah semuanya boleh asalkan tidak melakukan yg tidak boleh. Anak2nya ‘dibiarkan’ memilih apa yg dia sukai.

Bu Septi dan suami ternyata udah berkomitmen untuk mendidik anak2nya sendiri. Sekolah itu adalah pilihan, tapi belajar itu adalah keharusan.

Alasannya kenapa? Apa keluarganya ga mampu biayai? Apa anak2nya emang males sekolah? Tidak, ternyata itu adalah pilihan yg luar biasa.

Yap, itulah anak sulung Bu Septi, namanya Enes. Adik prtamanya sama2 memilih u/ ga skolah sejak SD & adik kduanya memilih ga skolah sejak TK

Percayakah kalian klo ada anak Indonesia bisa lulus S1 di SIngapura dgn umur 18 taun tanpa pernah mengenyam SMA, SMP, bahkan ga lulus SD?

Metode keluarga Bu Septi dlm mendidik itu mind blowing dan without the box. Cocok banget klo keluarga beliau disebut keluarga ‘alien’.