The Homeschooler

Dulu istilah homeschooling saya kenal sebagai sekolahnya anak2 yg super sibuk, artis cilik, penyanyi cilik, dll. Anak2 ‘terpilih’ itu diajar oleh guru2 privat yg datang ke rumah mereka. Dan memang inilah persepsi umum orang2 mengenai homeschooling. Padahal jika diartikan lebih luas homeschooling ini bisa berarti pendidikan (sekolah) anak di ranah rumah dan keluarganya sendiri. Yg bisa berarti pendidikan utama bagi si anak dengan orang tua sebagai guru privat utama. Saya pribadi pun baru tau tentang sudut pandang lain dari homeschooling ini beberapa waktu yg lalu.

Di zaman sekarang yg mewajibkan sekolah 9 tahun, ada komunitas yg berisi keluarga2 yg betul2 menyekolahkan anaknya di rumah, tidak di sekolah. Sistem pendidikan di sekolah dianggap tidak aman, yg memenjarakan anak2 mereka di dalam kelas, mengelompokkan yg bodoh dan yg pintar, membawa seabreg buku dan PR yg menguras pikiran, proses pengajaran guru yg tidak mengenal karakter anak, lingkungan sekolah yg terkadang destruktif, dll. Keluarga2 ini memutuskan untuk belajar bersama dengan anak2 mereka, dengan metode, ilmu, dan pembelajaran mandiri. Saya sebut ini sebagai otonomi keluarga di bidang pendidikan.

Keluarga anti-mainstream ini mau tidak mau memosisikan orang tua sebagai tauladan utama bagi anak2nya. Karena anak2 homeschooling ini berada dan berhadapan dengan orang tua mereka hampir sepanjang hari. Tidak ada sosok guru bahasa dan matematika di sekolah dan tidak ada teman2 dengan berbagai karakter lain di sekolah. Hal ini yg membuat keluarga homeschooling ini harus terus berkembang dalam ilmu dan karakter. Orang tua dan anak jadi saling mengontrol satu sama lain, saling bercermin.

Pertanyaan utama yg pasti mencuat adalah seputar bagaimana si anak bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, sertifikasi sekolah (ijazah) si anak, bagaimana mentransfer kurikulum pendidikan sekolah pada si anak, dan berbagai pertanyaan lain. Eksplorasi saya di salah satu keluarga homeschooling menyatakan jika pertanyaan2 itu hanyalah efek ketakutan akan masa depan si anak jika ia tidak bersekolah. Nyatanya adalah belajar itu bisa dimanapun dan keluarga harusnya adalah tempat sekolah inklusi terbaik bagi si anak. Nabi Muhammad pengubah zaman jahilliyah pun nyatanya tidak pernah bersekolah 😀

Kondisi rumah homeschooling yg saya singgahi cukup sederhana. Yg mencolok pada umumnya adalah tidak ada TV, yg secara fungsi diganti dengan internet dan buku2 sebagai sumber pembelajaran eksternal bagi anak2 mereka. Layaknya anak2 zaman sekarang, mereka sudah piawai menggunakan komputer untuk internetan meski masih berusia 5-6 tahun. Mbah Google, Youtube, dan situs2 permainan mendidik jadi santapan utama. Orang tua mereka tentunya lebih berperan sebagai pengawas dan fasilitator. Investasi utama dan terbesar keluarga ini nampaknya adalah buku2 cerita, buku2 pendidikan karakter, ensiklopedia, buku2 parenting, buku2 pelajaran bergambar dan bermetode kreatif, alat2 permainan edukatif, dan asupan makanan bergizi. Saya pribadi banyak belajar dari buku2 yg ada di rumah ini 😀

Anak2 homeschooling ini ternyata begitu polos. Jika ada hal2 dan kata2 yg tidak dimengerti oleh mereka, maka mereka akan langsung menanyakannya. Lingkungan keluarga ini sangat memerhatikan dan mengontrol pembicaraan di rumah mereka. Tidak ada kata2 kasar, minim kata2 larangan, minim topik2 yg tak jelas, penuh kata dan doa2 kebaikan, dan punya alur dan arah pembicaraan yg baik. Contohnya adalah penggunaan kata ‘hati2’ daripada ‘jangan’ dan ‘awas’, kalimat ‘lebih baik jika…’ daripada kalimat suruhan, mendoakan agar jadi anak sholeh daripada geraman ketika si anak ‘berulah’, hubungan sebab-akibat dalam menjelaskan sesuatu, dll. Padahal di luar sana (jika boleh membandingkan), anak2 zaman sekarang banyak yg punya kosakata hewani dalam pergaulan, bandel dalam artian negatif, udah tau pacaran dan hal2 tabu lainnya.

Pergaulan anak2 homeschooling ini memang lebih banyak terfokus dengan orang tua mereka sendiri. Teman2 sebaya dan sepermainan lebih banyak didapat dari tetangga rumah mereka. Selain itu, kebetulan jika di rumah ini setiap sore ada kegiatan les bagi anak2 berusia TK dan SD. Interaksi dan komunikasi tambahan bagi si anak didapat ketika keluarga ini pergi ke suatu tempat ataupun berekreasi. Prinsip utamanya adalah si anak perlu terus didampingi hingga usianya menginjak 12 tahun, ketika karakter dan kepribadian si anak telah terbentuk dengan baik. Proses sosialisasi si anak dengan lingkungan sekitar bisa dilakukan sejalan dengan itu. Di rumah itu, saya pribadi memosisikan diri menjadi seorang ‘om’ dan teman bagi mereka. Yah, belajar momong anak juga sih, hehe… :p

 IMG_2943

Proses pembelajaran si anak homeschooling ini lebih difokuskan pada minat dan potensi si anak itu sendiri. Inilah yg disebut sekolah inklusif. Orang tua mereka hanya menyediakan ‘ruang’ untuk merangsang minat dan potensi itu keluar, meski terkadang orang tua juga mengarahkan pada apa2 yg mungkin terbaik bagi si anak. Kekuatannya ada pada sumber ilmu di lingkungan sekitar dan perhatian penuh orang tua. Tidak ada paksaan pada si anak untuk mempelajari hal ini dan itu, tetapi terkadang ada proses reward and punishment untuk hal2 tertentu. Akhlak, ilmu agama, dan sejarah jadi salah satu yg ‘mandatory’. Sains dan teknologi itu salah satu yg ‘optional’. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang jadi jendela utama dan akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu. Si anak pun terkadang diberi ‘proyek pribadi’ dalam melaksanakan sesuatu yg bersifat edukatif dan kreatif. Mereka juga ternyata dididik agar bisa menjadi pengusaha sukses di masa depan oleh orang tuanya. Untuk menopang hal ini, ada tools bernama “Strategic Family Planning” yg merencanakan proses pembelajaran dan proyek dari setiap anggota keluarga. Dengan begitu, hal yg dinamakan dengan “kurikulum sekolah” bisa diterjemahkan menjadi “kurikulum pembelajaran yg seru, kreatif, mendidik, menyenangkan, dan menantang”. Terkait ijazah? Ga usah dipikirin, hehe… Lagian kan pemerintah menyediakan ujian persamaan 😀

Terakhir, anak2 homeschooling ini punya kebebasan waktu yg merdeka. They have their own precious time. Lucu dan menarik melihat mereka beraktivitas dan berkembang dengan bebas dan ceria. Orang tua mereka pun, terutama ibunya, mempunyai waktu yg luang untuk mendidik dan bermain bersama.

Dan saya menulis ini pun bukan untuk memprovokasi pendidikan sekolah dengan homeschooling. Saya hanya membandingkan dengan sudut pandang yg lebih universal tentang pendidikan itu sendiri. Dengan kondisi yg ada di Indonesia  sekarang ini, saya hanya bisa menyimpulkan : Make your own inclusive school or just homeschooling! 😀

Iklan

Kakek Hakimi : Semangat Seorang Pendidik (Bagian 2)

Kakek Hakimi Basis 10

Kegiatan ‘nyantrik’ di kediaman Kakek Hakimi pada malam itu dilanjutkan dengan obrolan santai mengenai dunia pendidikan. Kakek pernah menjadi seorang Kepala Sekolah dan kemudian pensiun dini karena merasa ada banyak hal yg bertentangan dengan dirinya. Kurikulum, metode pengajaran, permasalahan guru, dan lain2. Hal2 semacam ini merupakan sesuatu yg sulit untuk diubah. Dan pengalaman saya pribadi, bekerja dalam lingkungan sistem yg tidak sesuai dengan hati nurani itu sungguh menyiksa. Di satu sisi mencoba berkompromi dengan keadaan, di satu sisi tidak mau terwarnai dengan keadaan tersebut, dan tidak banyak pula yg bisa diperbuat untuk mengubahnya.

Salah satunya adalah mengenai kebanyakan guru yg hanya sebagai profesi mencari uang. Contoh ekstrimnya : datang masuk kelas, nyuruh buka LKS, kerjain dari halaman sekian hingga sekian, dan kemudian diam atau pergi keluar. Atau : nyuruh buka buku halaman sekian, menyuruh salah seorang muridnya membaca keras2, dan kemudian sekedar bertanya : mengerti anak2? Semua parameter keberhasilan mengacu kepada kurikulum dan metode pengajarannya pun tidak banyak berubah. Kebanyakan guru di Indonesia ini memang ‘kaku’ dan cenderung tidak mau belajar kembali. Ketika ada metode yg baru dan berbeda, mereka cenderung menolak dengan alasan telah terbiasa dengan metode yg lama. Jika ada sertifikasi, barulah mereka bersemangat mengikutinya karena hal ini akan berefek pada meningkatnya penghasilan mereka. Tapi, ini pun tidak serta merta mengubah karakter dan metode guru tersebut menjadi lebih baik, karena jika tidak ada follow-up, maka sertifikasi ini hanyalah sebuah kertas. Seharusnya adalah guru yg memang sebelumnya baik dan berprestasi lah yg berhak mendapatkan sertifikasi ini.

Ketika Kakek Hakimi mengajar matematika dengan metode Basis 10 di rumahnya, setiap anak itu akan mempunyai metode berhitung yg berbeda dengan yg diajarkan di sekolah. Maka ketika anak tersebut berada di sekolah, dia pun menjadi bingung karena gurunya menyuruh dia untuk berhitung menggunakan jari seperti biasa. Gurunya menolak untuk mengadopsi cara si anak berhitung, meskipun sama2 benar. Saya pribadi menilai jika metode Basis 10 lebih baik dan lebih cepat dibandingkan harus menghitung satu per satu jari. Orang tua si anak pun jadinya protes jika metode yg diajarkan Kakek tidak sesuai dgn yg diajarkan di sekolah. Jika terjadi kasus seperti ini, Kakek lebih memilih untuk berhenti mengajar pada anak tersebut agar si anak tidak merasa bingung dan lebih tertekan.

Kata Kakek, pernah ada kejadian anak didikannya memberikan hasil pengerjaan berhitung kepada gurunya sambil berkata, “Ini nilai saya 10 yah Pak, tolong jangan salah memeriksa”. Sontak gurunya kaget, ada anak yg berani dan yakin akan kebenaran jawabannya, meski baginya perkataan si anak itu cenderung kurang sopan. Di sisi kejadian lain, pernah ada anak SD kelas 6  dan SMP yg masih tidak bisa berhitung dengan benar. Setiap ada persoalan berhitung, dia masih harus menggunakan jarinya satu per satu. Bagaimana anak2 semacam ini bisa bertahan di sekolah? Padahal biasanya si anak akan dipaksa terus maju ke jenjang materi yg lebih sulit. Kakek akan menggunakan metode maju selangkah mundur selangkah untuk anak semacam ini. Mundur untuk bergerak maju, yaitu dengan cara mengubah cara berhitung si anak meski dia harus mengulang materi pelajaran matematikanya dari SD kelas 1 atau 2. Jika ‘pondasi’ si anak sudah kokoh, barulah dia bisa melanjutkan ke materi selanjutnya.

Kakek Hakimi pun terkadang mengajak anak didikannya untuk belajar dan bermain di luar kelas. Dengan suatu soal dan metode kreatif, anak2 bisa belajar dari apa yg dilihat dan dirasakannya dari sekeliling dari pagi hingga menjelang sore hari. Secara sekilas pun Kakek dapat menghargai orang di sekitarnya, meskipun orang itu jauh lebih muda. Ketika sesi sharing bersama kami, beliau tidak akan merokok sebelum meminta izin kepada kami. Dan tentunya karena kami pun keberatan, Kakek menahan keinginannya untuk merokok hingga larut malam ketika beliau bisa sendirian di teras rumah yg terbuka.

Melalui akun facebook-nya, Kakek sering mem-posting mengenai metode matematika Basis 10, kritik sosial, puisi, ataupun sekedar bahan tertawaan. Ketika berjalan kemana2, Kakek terkadang memerankan tokoh yg berbeda dari dirinya sendiri, terutama jika beliau baru pertama kali ke daerah tersebut. Pernah ketika Kakek pergi ke Bandung, beliau pura2 menjadi orang yg gagu agar bisa sampai ke tempat yg ingin ditujunya. Alasannya adalah orang lain akan lebih merespon dirinya dan menunjukkan arah yg detail dibanding ketika Kakek bertanya suatu alamat dgn ucapan yg lancar. Patut dicoba deh, hehe…

Kakek Hakimi memang mempunyai mimpi untuk memperkenalkan dan mengembangkan metode matematika Basis 10 ini ke khalayak luas. Pernah ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan tim Indonesia Mengajar, Kakek meminta untuk menjadi salah seorang fasilitatornya. Namun, karena persyaratan untuk menjadi fasilitator adalah berpendidikan S1, Kakek jadinya tidak bisa melaksanakan niatnya itu. Sehingga kini, Kakek Hakimi pun sedang giat untuk mengajarkan metode matematika Basis 10 ini pada mahasiswa dan lulusan S1, termasuk saya. Harapannya adalah dengan begitu, metode ini bisa diajarkan dan tersebar dengan lebih luas. Sebetulnya kami pun berencana untuk melaksanakan seminar dan workshop untuk menyebarluaskan metode ini kepada guru dan orang tua khususnya di Karawang.

Sesi ‘nyantrik’ bersama Kakek Hakimi pada malam itu selesai sekitar pukul 12 malam. Pada saat itu pun, Kakek masih asik di depan komputernya. Kakek ternyata memang masih terbiasa tidur larut malam. Ini menunjukkan staminanya yg masih ‘muda’. Keesokan harinya, agenda Kakek pun ternyata cukup padat. Setiap hari Kakek masih terus mengajar anak2 dari berbagai tingkatan, berkunjung ke suatu tempat, bertemu dengan orang2 baru, dan menjadi guru tamu di beberapa sekolahan. Luar biasa, semangat seorang pendidik masih tertanam dengan kuat di dalam diri Kakek Hakimi. Semoga semangat dan perjuangannya mampu menjadi inspirasi dan lecutan untuk bergerak menjadi lebih baik bagi generasi muda Indonesia sekarang ini. Aamiin.

Kakek Hakimi Musik

Kakek Hakimi : Semangat Sumpah Pemuda (Bagian 1)

Kakek Hakimi

Dalam sebuah petualangan di Karawang, saya bertemu dengan seorang kakek guru yg eksentrik, bersemangat, dan cerdas di usianya yg menginjak 70 tahunan. Pertama kali saya melihat beliau adalah di sebuah laman Facebook yg memperlihatkan beliau sedang mengajar anak2 dengan ceria. Widih, unik juga nih ada kakek2 yg masih nyempetin ngajar, masih bisa konsentrasi, dan mengajar dengan benar. Orang2 menyebut dirinya dengan Kakek Hakimi, sesuai nama profil Facebook-nya. Saya langsung berniat untuk suatu saat berkunjung ke tempatnya.

Dengan ditemani beberapa teman dari Yayasan Sadamekar, suatu sore kami berangkat menggunakan motor dari Karawang Barat ke arah Cikampek, tempat kediaman beliau. Jarak perjalanan yg cukup jauh membuat kami membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di tempat tujuan. Kakek Hakimi ternyata beberapa kali pernah berangkat ke daerah Rawamerta dari Cikampek menggunakan motor sendirian dan menghabiskan waktu 2-3 jam perjalanan. Hal ini dilakukannya hanya agar bisa mengajar matematika dan kelas seni untuk anak2 di daerah Rawamerta. Hmm… niat mulia dengan semangat baja dan stamina yg luar biasa. Mendengar cerita ini saja sudah membuat saya kagum terhadap beliau.

Kami tiba di kediaman Kakek pada saat maghrib. Beliau menyambut kami dengan hangat lengkap menggunakan ikat kepala khas sunda yg selalu dipakainya. Saat pertama bertemu, saya cukup kikuk ketika ngobrol dengan Kakek karena beliau masih bisa aktif berbicara dengan baku dan suara yg lantang. Saya niatkan untuk bermalam di kediaman Kakek sambil ‘nyantrik’, bagaimana pengalaman beliau dalam hal pendidikan.

Agenda pertama Kakek dalam malam itu adalah mengajar salah satu teman untuk bermain biola. Beliau dengan piawai memainkan biola miliknya dan mencatat not angka lagu Happy Birthday pada sebuah papan tulis. Setelah menyetel suara biola yg lain menggunakan suatu alat khusus, beliau mengajak untuk memainkannya bersama. Suara biola mengalun halus memainkan lagu Happy Birthday diiringi beberapa not sumbang yg datang dari biola teman kami. Ternyata setiap lagu yg dimainkan, Kakek mengetahui not-nya berdasarkan feeling, dengan syarat Kakek harus tau irama dari lagu tersebut. Saya yg sedari dulu tidak bisa bernyanyi apalagi memainkan not hanya bisa menonton kepiawaian Kakek dalam bermusik.

Agenda kedua Kakek kemudian adalah mengajar saya mengenai metode Matematika Basis 10. Pertanyaan pertama yg dilemparkan kepada saya adalah mengapa 1+4 = 5 itu benar? Agak bingung dengan pertanyaan itu, saya hanya bisa berdehem. Kakek menanyakan hal itu kedua kalinya, dan saya balik bertanya apa maksudnya. Beliau kemudian menjawab 1+4 = 5 itu benar karena 5-4 = 1. Oh, maksudnya karena persamaan linear toh, saya baru ‘ngeh’. Kemudian Kakek bertanya lagi : 2+5 = berapa, dan saya pun menjawab 7, beliau mengulangi pertanyaanya lagi, dan saya pun kembali menyebutkan 7, ketiga kalinya beliau menanyakan hal yg sama, dan saya terdiam sebentar dan kembali menyebutkan 7. Benar! Barulah Kakek membenarkan jawaban saya. Beliau menjelaskan jika seorang anak ditanya berulang2 mengenai pertanyaan yg sama dan anak tersebut tidak yakin akan jawabannya sendiri, maka dia akan mengubah jawabannya meski jawaban awalnya adalah benar. Hmm… saya mulai melihat apa yg menjadi maksud dan tujuan Kakek.

Kemudian Kakek menulis beberapa angka berderet dalam 1 baris dan menempatkan titik2 berderet dalam 2 baris di bawahnya. Lalu beliau mengucapkan angka2 yg telah ditulisnya sambil mengisi titik2 di bawahnya : delapan, tujuh, lima belas, lima belas adalah enam; enam, delapan, empat belas, empat belas adalah lima; lima, enam, sebelas, sebelas adalah dua; dan seterusnya hingga angka ke-10 dalam 1 deret. Saya mencoba memahami apa yg ditulis dan dikatakan Kakek. Kemudian Kakek menghapus semua angka yg tadinya berupa titik2 dan langsung menantang saya untuk melakukan hal yg sama dengan yg telah ia tunjukkan. Beliau menyiapkan stopwatch-nya dan menekan tombol mulai ketika saya memulai mengucapkan angka2 tersebut persis seperti apa yg dikatakan Kakek sebelumnya. Alhamdulillah saya berhasil menjaga nama baik almamater saya dengan menyelesaikan deret angka itu dalam waktu 20 detikan.

Setelah itu Kakek menunjukkan beberapa pasangan angka : (S)atu dengan (S)embilan, (D)ua dengan (D)elapan, (T)iga dengan (T)ujuh, (E)mpat dengan (E)nam, dan (L)ima dengan (L)ima. Entah kebetulan atau direncanakan oleh pembuat Bahasa di Indonesia ini, ternyata setiap pasangan angka itu memiliki huruf awal yg sama. Dan yap, pasangan angka ini adalah pasangan Basis 10, artinya jumlah setiap pasangan angka di atas adalah 10. Metode Basis 10 yg digunakan secara umum untuk berhitung ini jika tidak salah biasanya didapatkan saat kita duduk di bangku SMA. Saya pribadi sering menggunakan bentuk basis lain, yaitu Basis 2 ketika mempelajari ilmu logika dan informatika komputer.

Dengan logika digit angka Basis 10, bukan hanya operasi penambahan dan pengurangan saja yg bisa dibuktikan kebenarannya, tetapi juga operasi perkalian dan pembagian. Berikut adalah contohnya :

258 x 56 = 14448

= [2]+[5] = 7; 7+[8] = 15 = 1+5 = {6} x ([5]+[6] = 11 = 1+1 = {2}); = [1]+[4] = 5; 5+[4] = 9; 9+[4] = 13 = 1+3 = 4; 4+[8] = 12 = 1+2 = {3}

= {6} x {2} = 12 = 1+2 = {3}; = {3}

Akhirnya, dibuktikan jika 3 = 3 (sama) dan hasil perkalian dinyatakan benar. Keterangan : angka di dalam [] adalah angka soal perkalian awal dan angka di dalam {} adalah angka yg selanjutnya diturunkan.

Tanpa ada maksud membuat bingung, tetapi Kakek memperkenalkan metode pendidikan matematika yg berkarakter. Maksudnya adalah dengan metode ini anak akan mempunyai rasa percaya diri dalam menyelesaikan soal berhitung, membuktikan kebenarannya, dan yakin akan kebenaran tersebut. Masalah yg sering terjadi pada anak2 yg baru mulai belajar matematika adalah kesulitan berhitung dan perasaan ragu2 saat melakukannya. Kesulitan dan perasaan ragu2 inilah yg kemudian membuat anak malas dan takut ketika berhadapan dengan matematika. Hal sepele semenjak usia TK dan SD inilah yg kemudian berlanjut menjadi ketakutan akut hingga si anak berusia remaja. Oleh karena itu, Kakek Hakimi mengubah metode pembelajaran matematika ini dengan konsep Basis 10 yg dibuat menyenangkan dan menantang.

Sosok Kakek yg eksentrik dan metode pengajarannya yg ceria sudah cukup membuat anak2 betah belajar bersamanya dibandingkan dengan mayoritas guru2nya di sekolah. Dengan tangan memegang stopwatch, Kakek mengajak anak2 tersebut untuk bersemangat memecahkan soal. Dengan komunikasi yg bersifat membangun dan tidak menekan, anak2 kemudian malah merasa tertantang untuk mengalahkan catatan rekor waktunya sendiri dalam berhitung. Kemudian dengan kebiasaan mengecek kebenaran jawaban sendiri, anak2 didikannya akan merasa yakin mempunyai nilai sempurna saat menyerahkan hasil berhitungnya. Inilah salah satu yg dimaksud dengan pendidikan berkarakter : menciptakan anak2 yg pemberani dan bersemangat melalui pelajaran matematika!

Bersambung ke Bagian 2…

Dugem Pendidikan Anak

Photo0400

Pada suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah keluarga yg tergabung di komunitas IIP (Ibu-Ibu Professional) Karawang. Memang sebelumnya saya pribadi ingin belajar ke rumah Bu Septi, pendiri komunitas IIP ini di Salatiga, tapi yah berhubung ada ‘cabang’ nya di Karawang, saya memilih ‘nyantrik’ ke tempat yg lebih dekat. Kesan pertamanya unik dan seru aja karena anak2nya semua bersekolah di rumah karena dirasa belum ada sekolah yg cukup baik di Karawang sebagai tempat pendidikan anak2nya tersebut.

Keluarga ini juga menyediakan bimbingan belajar matematika bernama “Jarimatika” untuk anak2 berusia TK dan SD. Menarik memang belajar sambil bermain bersama anak2 dengan beragam karakter dan keunikannya masing2. Ada yg pinter tapi ga mau diem, ada yg menolak untuk belajar tapi asik sendiri, ada yg usil dan ngejailin temennya, dan ada pula yg penurut. Ciri khas yg pasti adalah suasananya riang, penuh canda tawa dengan senyuman yg ‘menggoda’, polos, dan terlihat tanpa beban. Memang guru lesnya pun tidak memaksa anak untuk mau belajar dan mengerti matematika, semuanya diserahkan pada minat si anak. Katanya yg terpenting adalah komunikasi dengan orang tua si anak jika anak itu tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu, biarkan dia memilih apa yg disukainya, karena mungkin itu yg menjadi bakatnya kelak. Masalah bayaran itu murni diserahkan kepada ortu si anak, jika anaknya tidak mau belajar dalam les yah silahkan aja ga perlu bayar. Urutannya adalah minat, proses, dan manfaat. Jika sejak awal tidak ada minat dari si anak, yah kenapa harus dilanjutkan?

Photo0402

Pengalaman di atas memperlihatkan jika ada masalah dengan dunia pendidikan anak di Indonesia sekarang ini. Anak kecil kok udah dikasih les? Dan kenapa kok peminatnya banyak? Jadi kapan waktu anak itu untuk bermain sedangkan jadwal sekolah skrg yg makin padat? Kenapa pula yg memberikan les itu malahan anaknya sendiri tidak dibelajarkan di sekolah? Jaman saya TK dulu perasaan boro-boro ada les, belajar yg buat otak jelimet aja ga ada, kebanyakan dihabiskan dengan bermain. TK jaman sekarang katanya malah udah diajarin pertambahan angka puluhan. Mayoritas sekolah sekarang berlomba2 menonjolkan dirinya sebagai sekolah yg mampu menghasilkan anak2 yg pintar berhitung, membaca, penurut, dll. Apa memang tujuan pendidikan seperti itu?

Memang jaman sekarang ini kebanyakan orang tua tidak memahami bagaimana cara mendidik dan mengembangkan potensi anak sejak dini. Orang tua lebih menekan anak agar menjadi seperti yg ia inginkan. Aliran mainstream dari sekolah2 yg ada terus-menerus mendidik anak2 menjadi seperti yg sekolah itu inginkan, menciptakan hasil didikan dengan cetakan yg sama. Anak2 yg tidak dapat mengikuti bentuk cetakan itu dianggap bodoh, tidak penurut, nakal, dan dicap mempunyai masa depan yg suram. Cetakan yg dikenal sebagai kurikulum ini mendorong anak agar lebih ‘pintar’ sedini mungkin. Yg dulu biasanya diajarkan di SD sekarang jadi mulai diajarkan di TK, yg dulu biasanya diajarkan di SMP sekarang mulai diajarkan di SD. Apa memang tujuan pendidikan sekolah kini seperti itu?

Proses dari pendidikan seperti itu nampaknya menghasilkan anak2 yg mudah stress, penuh tekanan, cenderung memberontak, penuh kebingungan, dan krisis jati diri. Meskipun banyak juga anak2 yg menjadi ‘pintar’ menurut pencapaian kurikulum sekolah, tetapi banyak juga (termasuk yg dianggap pintar itu) yg kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Terbawa2 pergaulan yg destruktif lah, pelampiasan aktualisasi diri yg salah lah, pesimistis pada banyak hal termasuk dirinya sendiri, egois dan apatis pada lingkungan sekitar, dll. Jelas2 bukan suatu hasil pendidikan yg diinginkan kan?

Yang menjadi pemikiran saya saat ini adalah pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter dan akhlak yg baik bagi anak untuk kemudian mengembangkan potensi dirinya sesuai minat dan bakatnya. Dalam tujuan pendidikan seperti ini dan dalam kondisi sekarang ini, memang orang tua dan keluargalah yg mempunyai peranan paling penting. Orang tua sejatinya harus mampu menjadi seorang tauladan, panutan, teman bermain, dan belajar bagi si anak. Cetakan kurikulum pendidikannya disesuaikan pada si anak, bukan si anak yg harus mengikuti cetakan kurikulum orang tuanya ataupun sekolah2 umum yg ada. Dengan mindset seperti ini dengan disertai pengalaman dan kenyataan yg ada, yg terbersit di kepala saya adalah bagaimana menjadikan dasar pendidikan keluarga ini ke sekolah2 yg ada?

Dunia gemerlap anak2 itu sekali lagi saya katakan : sangat menarik. Saya pribadi sampai saat ini masih menyimpan sifat kekanak-kanakan di dalam diri. Karena jujur, sifat2 itu menyenangkan, apalagi ketika berhadapan dan bergaul dengan anak2 kecil. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi kolot kan? Menjadi dewasa bukan berarti merasa superior kan? Menjadi dewasa bukan berarti kita merasa mengerti hal2 di sekeliling kita berdasarkan pengalaman pribadi (bertahun-tahun) kan? Karena menjadi dewasa berarti menjadi lebih bijak, lebih peka, lebih bisa menempatkan diri, lebih bisa menghargai anak dan orang2 yg lebih muda, lebih bisa mengerti dunia anak, dan mengerti jika jaman itu ternyata terus berubah. Wallahu alam.