Strategi Bisnis (Just share)

Gambar

Strategi bisnis itu konsep strategi bisnis yg paling mendasar, selain dari marketing, operation, human resource, dan finance. Strategi bisnis itu secara overview meliputi definisi, visi, misi, value, strategi bersaing, tujuan, SWOT (di sini ane pake Porter Five Forces). Definisi strategi bisnis sendiri harus terdiri dr 3 aspek utama : produk, pasar/konsumen, dan nilai/manfaat.

Produk yg kyk kita ketahui dibagi jadi : barang/jasa, jadi/setengah jadi/ mentah, fungsional/spesifik.  Arti fungsional/spesifik disini artinya bisa dibuat secara massal, terstandar umum atau tidak. Kriteria produk kita harus bisa dikategorikan min. ke 3 aspek tadi. Ini basic biar kita tau perlakuan kita thdp produk nantinya. Aspek pasar/konsumen bs dibagi jadi berdasarkan tingkat pendapatan, melalui distributor/tidak, B2B/B2C, usia, tersebar/terpusat. Untuk aspek nilai/manfaat ini sebetulnya core dari sbuah bisnis. Bisnis yg berorientasi pd uang saja akan hancur dgn sendirinya.  Flownya adalh : nilai > kebutuhan > transaksi > uang > profit. Nilai dr bisnis ini akan menentukan persepsi konsumen thdp produk. Contoh definisi suatu bisnis : Baju anak2 yg ceria & trendy untuk dipasarkan ke dept. Store di wilayah perkotaan Jawa Barat. Dr contoh: Produk : baju (brng jadi, fungsional); Pasar : anak2, menengah ke atas, lwt distributor, tersebar. Nilai : ceria, trendy. Definisi bisnis seperti itu akan menjadi panduan bagi perusahaan & konsumen. Koridornya jelas ketika kita mempunyai brand.

Satu hal yg penting dari definisi bisnis ini adalah diferensiasi. Apa yg membedakan bisnis kita dibanding dgn yg udah ada? Diferensiasi ini bs digali dari proses pmbuatan produk, keunikan, nilai yg dibawa, atau kkurangan dr pesaing produk yg tlh ada.

Aspek strategi bisnis selanjutnya : Visi. Dengan definisi bisnis yg telah ada, perusahaan kita ingin menjadi seperti apa nantinya. Visi lbh sering jadi hal yg terpinggirkan. Asalkan profit dan bisnisnya jalan, yah gapapa. Tapi, masalahnya mau jalan kemana? Meski terkesan normatif, visi ini penting untuk arah perusahaan dan jd penyemangat bg anggota. Dan yah memang, visi itu bagusnya terkesan ‘setengah’ muluk2, harus menantang, dan sesuai ama definisi bisnis.  Contoh Visi : Menjadi Produsen Baju Anak2 yg Terbesar dan Tersebar di Indonesia.

Dari visi inilah baru disusun misi2 untuk mewujudkannya. Jika definisi dan visinya sudah jelas, maka mudah u/ menyusun misi. Contoh visi tadi memang terkesan uthopia. Tapi, sbg orang beragama, ucapan itu doa bukan? Yg perlu disesuaikan itu ikhtiarnya. Contoh misi : 1. Menyediakan baju anak2 sesuai kebutuhan market, 2. Melakukan penetrasi pasar ke dept2 store. 3. Dll.

Visi dan misi itu dijabarkan lg ke dalam target & sasaran2. Ini aspek strategi bisnis selanjutnya. Target/sasaran inilah yg harus SMART.  Tujuan & sasaran harus Spesifik, terukur (Measurable), dpt tercapai (Achievable), Realistis, dan terjadwal (Timely). Jabarin aja target & sasaran per tahun, per 5 tahun. Visi yg uthopia td kita capai dgn tangga2 kecil yg mungkin dicapai. Tentunya target/sasaran ini sifatnya dinamis & disesuaikan sesuai evaluasi. Klo ga keumuran, mungkin msh ada yg ngelanjutin. Contoh target #BuStra : 1. Dapat menyuplai 3 dept. Store di Bandung di akhir 2013. 2. Dapat memproduksi 100 piece baju/hari di Nov’13.

Aspek strategi bisnis selanjutnya itu strategi bersaing. Ini merupakan segmentasi pasar secara umum. Strategi bersaing ini dibagi jd Massal/Pasar Tertentu dan Unik (Premium)/ Produksi Murah. Jadi ada 4 kuadran yg bisa dipilih.  Contoh yg mudah u/ ngegambarin jenis strategi bersaing itu ada di persaingan produksi mobil. Pasar Tertentu+Premium: Ferrari, Porsche. Massal+Premium: BMW, Lexus. Massal+Murah: Ford, Toyota. Pasar Tertentu + Murah: Proton, Timor. Dari contoh strategi bersaing tadi terlihat kan pesaing dan pasar yg terbentuk. Ferrari ga bkl ‘keganggu’ ama Proton. Strategi bersaing ini untuk produk yg dianggap sejenis aja yah. Tentukan perlakuan promosi & Branding sesuai kuadran td.

Aspek terakhir strategi bisnis itu adalah analisis SWOT. Tapi untuk bisnis, kita bisa pakai analisis Porter Five Forces. Porter Five Forces ini dibagi jd 5 aspek: Kompetitor, Konsumen, Supplier, Produk Substitusi, & Ancaman Pesaing Baru (peniruan). Dari ke-5 aspek Porter Five Forces tadi itu bisa di drop down banyak bgt analisis. Ane bkalan jabarin secara umumnya aja.

Kompetitor : smakin sedikit > smakin bagus, tdk ada brand terkenal > smakin bagus, demand smakin cpt naik > smakin bagus. Contoh kompetisi yg kuat > sulit u/ masuk : industri provider telekomunikasi (udah terliat dr iklan2 yg ada.

Konsumen : smakin loyal, smakin sulit berpindah brand > smakin bagus. Sbaliknya, kondisi ini buruk klo kita di new entry. Konsumen : Mie instan, kita sulit untuk masuk karna konsumen begitu addicted ke indo*** atau mie sed** kan?

Substitusi : tidak ada produk pengganti, harga pengganti mahal > smakin bagus. Contoh yg buruk : walkman, kamera analog.

Ancaman Baru : smakin besar skala produksi, smakin sulit prosesnya, smakin bnyk asset, smakin sulit ditiru > smakin bagus. Contoh : kita akan sulit masuk & lngsng bersaing dgn industri pembuat kapal terbang (airbus, boeing).

Supplier : smakin bnyk supplier, smakin tdk dominan, smakin tersebar > smakin bagus. Contoh yg bagus : KFC.

Jika 3 atau lebih dr aspek PFF tadi itu bisnis kita unggul, maka strategi bisnis kita bisa dijalankan dengan baik. Aspek tambahan strategi bisnis yg bisa kita eksplor adalah dari prinsip 3P : Profit, People, dan Planet. Usahakan ada 3 benefit itu pd bisnis. CMIIW 🙂

Iklan

Si Kecil Siswanto

Saat lahir katanya tubuh saya mencapai 3 kg lebih. Tentunya orang tua saya saat itu mengira klo saya bakalan jadi ‘bayi sehat’ alias bayi gendut. Sejak kecil saya diurus oleh Ibu bersama pembantu yg sudah dianggap bagian dari keluarga. Sejak kecil pula ternyata tubuh saya sering terserang penyakit, mulai dari tipes sampai asma bronchitis. Prediksi di awal pun meleset, bobot tubuh saya semakin menurun karena sakit dan kurangnya nafsu makan.

Banyak usulan dari keluarga jika sebaiknya nama saya diganti saja, mungkin ga cocok atau katanya saat itu saya tidak mau diberi nama Fadjrin Febrianto. Lupa juga apa saja usulan nama yg disebutkan, yg saya ingat hanya 2, si Kopral karena kakek saya purnawirawan tentara (tentunya nama itu hanya guyonan keluarga semata) dan Siswanto, usulan nama dari dokter langganan saya (alm.). Tiap kali datang ke dokter itu, saya dipanggil Siswanto. Nada bicaranya tegas, ga main2 masalah obat (yaiyalah, maksudnya rasanya pahit banget), dan klo lagi terapi perlakuannya lugas, mirip ngobatin orang dewasa.

Si kecil Siswanto mulai memasuki jenjang TK. Dengan bekal penyakit asma bronchitis yg diidapnya, ia menjadi seseorang yg pendiam. Maklum, sebelum masa TK, dia menghabiskan waktu di rumah terus bersama Ibu dan Bibinya. Ibunya pun menerapkan standar ganda dalam pergaulannya alias over-protective, jadinya ia jarang sekali bermain dengan anak2 di sekitar rumahnya. Kehidupan jenjang TK di kelas hampir tak terasa sama sekali, kecuali suatu ingatan mengenai keributan kecil Siswanto dengan temannya. Si Pendiam ternyata mampu juga membuat temannya menangis, meski dirinya sendiri ikut menangis.

Berbeda dengan kehidupan di kelas TK, kehidupan Siswanto di rumahnya malah benar2 ‘hidup’ dengan imajinasi dan petualangan. Film-film kartun tahun ’90-an mengilhami dirinya menjadi seorang petualang, ninja, tentara, ataupun pahlawan bersenjata api. Jika sudah begitu, ia akan asyik main sendiri hingga berjam-jam, menciptakan monolog-dialog, hingga membuat senjata mainan. Kebiasaannya ini terus bertahan lama.

Ketika memasuki SD, kehidupan Siswanto pun tidak banyak berubah. Penyakit asma bronchitis masih sering kambuh dan ia pun sering disebut ‘si letoy’ oleh guru olahraga. Jika ada maen bola pun, ia sudah senang jika mampu menyentuh bola barang sekali dalam pertandingan. Masih menjadi seseorang yg pendiam, bahkan ia pernah beberapa kali kecepirit gara2 tak berani bilang ingin ke belakang saat kelas berlangsung. Dan tentunya ia pun tetap diam, meski teman di sekitarnya kebauan. Sigh, sungguh memalukan sekali momen itu bagi dirinya. Memasuki kelas 3 atau 4 SD, mulai muncul perubahan, Siswanto sudah memiliki teman baik yg sering berangkat pulang pergi sekolah bersama. Di kelas 4 SD pun ia sudah mulai menggunakan kacamata. Maklum, Nintendo dan Sega saat itu sudah muncul di pasaran dan tentunya ia banyak menghabiskan waktu memainkannya di rumah. Di saat2 itu juga, ia mulai merasakan cinta monyet pada teman sekelasnya. Perasaan dag-dig-dug-der ia alami ketika berdekatan dengan dirinya, terlebih saat itu sekolah punya kebijakan jika pasangan tempat duduk haruslah pria-wanita dan terus bergantian.

Guru-guru di SD tempat Siswanto itu banyak yang unik. Ada Pak Roy yang tegas, pernah menyuruh muridnya menepuk2 tembok di depan kelas gara2 kepergok sering ‘tatalub meja’. Ada Pak Dadi yang sering menyuruh muridnya membuat karangan cerita. Ada Pak Nano guru musik yang sering menunjuk muridnya untuk nyanyi di depan kelas. Dan ada 1 guru lain yg sangat menarik perhatian. Namanya Pak Asep Hendra, beliau adalah guru sejarah dan geografi. Cara dia mengajar dan menghukum siswanya sungguh unik. Di 1 hari ia akan menulis di papan tulis dan menyuruh muridnya untuk menyalin dengan cepat hingga kelas berakhir. Dan di 1 hari lainnya, ia akan bercerita mengenai apa yg telah ia tulis pada hari sebelumnya dengan penuh ekspresi dan imajinasi hingga kelas berakhir. Seru, tiap murid termasuk Siswanto akan menanti-nanti saat Pak Asep bercerita. Namun di sisi lain, jika murid2nya melakukan kesalahan seperti membuat keributan di kelas, maka Pak Asep tidak segan-segan menyuruh murid2nya untuk mengerjakan dan menyalin soal pilihan ganda hingga 3x di bukunya masing-masing. Huft…

Siswanto yg pendiam nampaknya termasuk murid yg lumayan pintar di kelasnya, karena ia tidak ada aktivitas lain di kelas selain mendengarkan gurunya atau mengantuk. Berbeda dengan murid yg lain, yg biasanya mengobrol ataupun menulis buku diari (duh, taun ’90an pasti ingat dengan istilah ‘ma-kes’ dan ‘mi-kes’). Menyontek saat ujian pun ia tak berani, takut ketauan gurunya. Memasuki kelas 5 SD, Pak Asep mulai memperkenalkan konsep baru. Setiap di akhir kelas, beliau akan mengadakan mencongak. Ia menyuruh murid2nya membuat grafik nilai dari setiap hasil mencongak. Ia juga menyuruh menuliskan nama SMP Favorit di atas grafik bernilai 7 dan menuliskan SMP ‘Jelek’ di bawah grafik bernilai 6. Hal ini mengajarkan muridnya untuk bermimpi dan mempunyai target ke depan. Ia akan menyebut primadona / raja / ratu bagi murid yg bernilai baik dan menyebut dodol pada murid bernilai jelek. Di setiap akhir kelas pun, beliau akan mengajukan pertanyaan dan barangsiapa yg bisa menjawab bisa pulang sekolah duluan. 2 murid terakhir yg tinggal di kelas akan mempunyai gelar “Raja dan Ratu Boneng”. Alhasil, tiap murid yg sudah berhasil menjawab pun tidak akan pulang duluan karena ingin mengetahui siapa yg mendapat gelar tersebut saat itu. Penuh canda tawa, tetapi di saat itu sang guru mengajarkan rasanya berkompetisi.

Waktu terus berjalan dan Siswanto pun dinyatakan sembuh dari asma bronchitis ketika ia berada di kelas 5 atau 6 SD. Nilai2 mencongaknya pun menghasilkan grafik rata-rata positif di atas 7 selama 20 kali tes mencongak. Ia pun optimis jika ia mampu masuk SMP Favorit saat itu. Padahal jika dipikir2, soal mencongak itu akan cukup berbeda jauh dengan soal UN masuk SMP. Saat UN berlangsung, Siswanto pun menjadi salah satu ujung tombak tempat bertanya teman2nya. Alhamdulillah, saat pengumuman masuk SMP, Siswanto benar-benar berhasil lolos ke SMP Favorit yg ia tuliskan di grafik mencongaknya. Takjub dan kagum, mengingat SD itu hanya SD biasa, bukan SD unggulan yg siap ‘bedol desa’ masuk ke SMP Favorit. SD yg sedianya bernama SD Kartika X-10 alias SD Terang itu kini memperoleh nama alias lain, yaitu SD alias depan BSM alias depan Trans Studio…

Sebuah Perkenalan

Assalaamu’alaykum Wr. Wb.

Hello Blogging World!

Mumpung lagi ‘ga ada kerjaan’, ijinkan saya hari ini untuk memulai nulis blog pribadi. Hmm… agak bingung juga sih mau nulis apaan, berhubung selama ini cuma update2 status di FB atau twitter. Tapi, biasanya sih klo pertama-tama yah seputar perkenalan diri kali yah…

So, nama saya adalah Fadjrin Febrianto, lahir tahun ’89 dan gede di Bandung. Anak ke-2 dari ketiga bersaudara dari pasangan Papah dan Mamah saya, Herry Sugianto dan Sri Mulyantini. Namatin pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA, ampe kuliah di Bandung, tapi sekarang  ngesot dikit ke Karawang. Alasannya sih gara2 dapet panggilan kerja di pabrik terus katanya biar bisa mandiri, ga dikelonin terus ama orang tua.

Blog ini saya namain gudjrin biar nyeleneh, punya nilai sejarah, dan filosofis. Gudjrin itu salah satu nama panggilan saya saat SMA. Dan setelah saya tekuni nama itu saat selesei kuliah, ternyata bisa diurai juga jadi nilai2 filosofis yg indah : GUna Daya Juang RIdho Nusantara.  Hmm… lumayan kan, meski agak maksa, hehe… Nama panjang si GuDJRiN inilah yang kelak (insya Allah) jadi nama perusahaan saya. Maklum, kerja di pabrik cuma betah 6 bulan, terus banting setir jadi petani dengan niatan biar bisa jadi pengusaha yg bisa ikutan menyejahterakan petani. Aamiin.

Niat nulis blog ini juga sekedar ingin merangkai titik-titik kehidupan. Prosesnya saja, karena input dan outputnya sudah jelas, lahir dan mati. Lahirnya saya tentunya merupakan hasil tanggung jawab orang tua saya atas ijin Allah dan matinya saya sudah pasti menjadi takdir Allah. Yg jadi poin penting adalah bagaimana saya menghadapi kematian, seberapa tinggi titik akhir tersebut, seberapa banyak manfaat yg dihadirkan, input2 baru (baca : anak) seperti apa yg akan saya hasilkan nanti, dan bekal apa yg saya bawa ke akhirat nanti.

Salah satu hobi saya juga melihat perjalanan hidup seseorang. Menarik ketika Allah memberikan blueprint kehidupan kepada mimpi-mimpi mereka. Mengalir, tapi menuju suatu tujuan. Terbentur, berkelak-kelok, terhimpit, terjun bebas, hingga akhirnya menuju lautan yang tenang. Luar biasa, membuat diri ini juga ingin ikut bermimpi. Mimpi yg sesuai panggilan jiwa. Mungkin nanti blog ini juga akan banyak menghadirkan blueprint Allah terhadap mimpi-mimpi saya. Yah dengan harapan bisa ikut menginspirasi orang2 yg sehobi dengan saya melihat suatu perjalanan hidup.

In the end of my first post, ijinkan saya mengajak teman2 semua untuk menjadi pribadi yg Berguna dan Berdaya memperJuangkan Ridho Illahi di Nusantara ini. Markibangin, Mari Kita Bangun Indonesia. It’s not about me or you, but it’s about WHAT WE CAN DO FOR THIS COUNTRY.

Best Regards 🙂