Titik-Titik Puzzle (4)

Kehidupan kampus tingkat 3 bisa dibilang sebagai puncak aktualisasi diri dari seorang mahasiswa karena dianggap sudah cukup dewasa dan berpengalaman untuk bisa memimpin sebuah organisasi kampus. Dan juga belum terlalu sibuk dengan kegiatan perkuliahan seperti mengerjakan Tugas Akhir atau skripsi. Pemilihan ketua di setiap himpunan dan unit mayoritas dilakukan dengan sistem pemungutan suara dan musyawarah. Setiap calon ketua memaparkan visi misinya dan membentuk tim sukses kampanye. Proses yg hampir mirip dengan pesta demokrasi pemilu di pemerintahan negeri ini.

Saya pribadi dipilih sebagai Ketua Muslim Elektroteknik saat itu, sebagai hasil keputusan dari musyawarah GAMAIS Wilayah Fakultas. Sejujurnya masih banyak orang lain yg menurut saya lebih pantas mengemban amanah ini. Saya dipilih karena dianggap aktif di GAMAIS Pusat dan stabil secara akademik, dan di sisi lain, beberapa calon lain telah menerima amanah yg cukup besar. Jadilah saya memulai roda organisasi ini bersama Muchammad Musyafa, Rachavidya Achmad, Arkan Muhammad Irsyad, Alfadho Khasroh, Muhammad Iqbal Faruqi, Kang Muhammad Hasan Sirojuddin, Kang Wahyu Fahmy Wisudawan, Kang Helmi Muslim, dan Kang Fahmi. Banyak pelajaran dan nasehat yg saya dapatkan dari mereka, mulai dari ketekunan mereka mendalami suatu hal sampai idealisme seorang muslim yg baik.

Di kuliah tingkat 3 ini saya memilih program studi Teknik Kendali, dengan harapan agar bisa merancang suatu robot yg dilengkapi dengan sensor dan alat pengendali. Bayangan saya saat itu, minimal saya nantinya bisa bekerja di suatu pabrik dengan alat dan mesin yg digerakkan secara otomatis. Namun, ternyata kemampuan praktis tidak bisa didapat dengan mudah melalui kuliah saja. Mayoritas materi yg diberikan adalah mengenai teori dasar dan perhitungan ngejelimet bagaimana suatu sistem kendali bekerja dengan segala komponen yg terdapat di dalamnya. Alhasil, saya tidak bisa berbuat banyak tentang robotika karena kesibukan organisasi nampaknya memakan waktu lebih banyak. Saya salut pada beberapa teman, seperti Ashlih Dameitry, Samratul Fuady, Azhari Surya Adiputro, dan Kang Syawaludin yg mampu membuat beberapa karya robotik yg mampu menjuarai perlombaan nasional dan internasional. Iri juga rasanya, tapi pilihan aktivitas telah diambil dan saya tidak boleh menyesal atas pilihan itu.

Dalam sebuah kesempatan, beberapa teman seprogram studi mengusulkan suatu event ekskursi, yaitu kegiatan mengunjungi beberapa industri di Jawa Barat. Saya pun ditunjuk jadi ketua panitianya, karena memang tidak ada orang lain yg mau. Sigh… Jadilah saya merencanakan event ini dengan dibantu oleh Arkan, Adrianto Tedjokusumo, Rico Hartono, Leonardo Tansil, Leo Arifwibawa, Fiandrie Marcell, dan beberapa teman yg lain. Sempat mengalami pengunduran jadwal, kekurangan panitia, hingga defisit pendanaan, akhirnya event ini bisa berlangsung selama 3 hari pulang-pergi. Industri yg dikunjungi saat itu adalah PT. LEN Industri, PT. Astra Honda Motor, PT. Pupuk Kujang, dan PT. Indoserako Sejahtera, yg mencakup bidang elektronika, manufacturing, kimia, dan kontraktor sistem kendali pabrik. Hari ketiga diisi oleh acara jalan-jalan ke Taman Mini, sekedar bersenang-senang dan berkunjung ke beberapa museum (sebetulnya karena kehabisan dana, sehingga kami hanya mampu ‘berlibur’ kesana, hehe…).

Di selang waktu antara kuliah tingkat 3 dan tingkat 4, saya menjalani kerja praktek di PT. LEN Industri selama 2 bulan bersama Arkan. Yg kami kerjakan saat itu adalah memprogram sebuah chip embedded system agar mampu melakukan komunikasi serial dan ethernet dengan jaringan komputer. Memang terlihat keren, tapi entah kenapa saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan. Perasaan senang hanya bisa didapat ketika terjadi suatu keberhasilan dalam proses pemrograman. Selebihnya adalah rasa ngantuk dan rasa tanggung jawab atas perintah yg harus dikerjakan untuk menyelesaikan kerja praktek tersebut. Mungkin karena saya terbiasa bergerak dan berinteraksi dengan orang lain sehingga saya tidak tahan ketika harus diam duduk di suatu posisi dalam waktu yg lama.

Setelah kerja praktek, dimulailah kuliah tingkat 4 yg lebih fokus pada pengerjaan Tugas Akhir. Saya berkeputusan untuk memilih TA yg bisa cepat selesai, berhubungan dengan dunia perusahaan, dan bisa dikerjakan berkelompok. Jadilah, saya mengerjakan topik TA berjudul Communication-Based Train Control (CBTC) bersama Doni Yusdinar, Rico Pradityo, Muhammad Haekal, dan Rio Ricardo, bekerja sama dengan PT. LEN Industri. Topik TA ini berkaitan erat dengan rencana pembuatan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika hasil dari TA kami ini nantinya bisa diaplikasikan langsung untuk memperbaiki sistem transportasi di ibukota. Untuk menyelesaikan TA ini, kami perlu bolak-balik mempresentasikan progress yg kami lakukan ke jajaran manajemen teknik R&D di LEN. Sekali lagi, ternyata dalam prosesnya, saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan, karena saya harus duduk termenung di depan laptop selama kurang lebih 2 bulan untuk membuat sebuah program yg akhirnya selesei di baris ke-7000-an. Dengan bantuan teman setim dan bimbingan dari Pak Agung, Pak Andriyanto, dan Pak Hilwadi, TA saya pun layak maju ke sidang akhir.

Momen sidang akhir memang jadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa yg akan lulus jadi sarjana. Gambaran dosen penguji dengan tatapan mengintimidasi yg akan mengajukan pertanyaan tajam pun muncul di pikiran. Betapa beruntungnya saya, 3 dosen penguji saya adalah dosen yg dikenal ‘killer’. Yg pertama adalah dosen legenda kendali, yg kedua cukup sering mengeluarkan mahasiswa dari kelas, dan dengan yg ketiga pernah beberapa kali tidak meluluskan mahasiswa yg diujinya. Huhu… Tapi akhirnya, saya bisa ‘lolos’ sidang dengan nilai BC, yg merupakan nilai ambang batas. Tak terbayang jika akhirnya saya gagal lolos sidang karena saat itu orang tua datang langsung untuk menyaksikan anaknya disidang. Mereka hanya menanyakan kenapa saat di dalam ruangan, suara dosen penguji terdengar cukup keras, hehe… Perasaan lega pun dilengkapi dengan rentetan revisi yg harus saya buat untuk menyelesaikan laporan akhir. Dengan bantuan dari dosen pembimbing, saya pun akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan 🙂

Tibalah momen wisuda. Momen selebrasi yg menjadi memori kebanggaan mahasiswa dan orang tuanya. Patung ganesha yg saya dapatkan ternyata mampu membuat orang tua saya terharu. Pemakaian baju toga, prosesi upacara kelulusan, dan acara arak-arakan keliling kampus menjadi pertanda lahirnya para sarjana baru. Sedih juga saat itu ketika harus berpisah dengan kampus, sahabat, dan segala kenangan di dalamnya. Dalam pikiran saya, menjadi sarjana adalah beban amanah yg harus dipertanggungjawabkan dan menjadi langkah awal menuju dunia kontribusi yg sesungguhnya…