Karawang Oh Karawang (Bagian 2) : Tanah Bengkok yang Tergadai

Dalam ranah suatu kelurahan, ada yg dikenal dengan sebutan “Tanah Bengkok”. Tanah bengkok ini adalah tanah milik pemerintah yg seharusnya dipergunakan untuk kebutuhan pemerintahan dan masyarakat pada umumnya. Di daerah Kabupaten seperti Karawang, tanah bengkok ini memiliki cakupan yg lumayan luas, ada yg mencapai 12 hektar. Tanah bengkok di wilayah pedesaan tentunya banyak yg merupakan tanah sawah. Tanah bengkok semacam ini menjadi salah satu sumber dana pemerintahan desa. Namun, pada kenyataannya malah sering terjadi kasus yg ‘unik’ di tanah bengkok kelurahan di Karawang ini.

Sudah menjadi rahasia umum jika pemilu dan pilkada memakan dana yg tidak sedikit. Setiap calon yg ‘bertarung’ di kancah pemilihan politik ini harus siap secara materi. Di sebuah kelurahan di Karawang aja, setiap calon lurah atau kades ‘harus’ menyiapkan dana minimal 250 juta rupiah. Jika wilayah kelurahan dekat dengan pabrik atau lahan proyek, dana yg disiapkan ternyata jauh lebih besar, udah nyampe M-M-an.¬†Uang ratusan juta hingga milyaran rupiah ini digelontorkan untuk publikasi dan ‘sedekah’ ke tiap warga. Nilai ‘sedekah’ saat proses kampanye ini ternyata mencapai 250 ribu per orang. Jadi bisa dibayangkan jika 1 keluarga itu ada 4 orang dan ada 2 orang calon lurah yg maju, keluarga tersebut bisa ‘panen duit’ sampai 2 juta saat kampanye. Asik juga yah :p

Terus jika si calon lurah ga punya duit sebanyak itu buat kampanye gimana? Si calon lurah ini ternyata akan bersedia meminjamnya ke orang lain. Ada sekelompok bandar judi yg punya ‘ide bisnis’ dari kejadian ini dan menawarkan ‘bantuan’. Mereka mau meminjamkan uang yg diperlukan dengan ketentuan : si calon lurah tidak perlu membayar sepeser pun jika ia kalah dalam pemilihan dan sebaliknya jika ia menang, ia harus membayar 2 kali lipat uang yg dipinjamnya. Dengan ketentuan seperti ini tentunya si bandar judi tidak akan mau rugi. Mereka ternyata punya suatu survey yg menunjukkan jika si calon yg ditawarkan pinjaman tersebut adalah calon pemenang. Dan jikapun kenyataan berkata lain, para bandar judi ini tetap akan memaksakan keadaan hingga si calon yg diusungnya bisa menang. Di sisi si calon, dia akan merasa aman dengan ketentuan seperti ini. Dan jika ia menolak pun, para bandar judi yg ‘berkuasa’ ini akan mengancam dan membuat ia kalah dalam pemilihan bagaimana pun caranya.

Ketika proses kampanye selesai dan si calon lurah ini dinyatakan menang, bandar judi pun langsung menagih janji. Lurah terpilih ini pun tentunya akan berusaha membalikkan modal bandar judi 2 kali lipat sesuai ketentuan dan meraih keuntungan pribadi. Salah satu caranya adalah menyerahkan hasil dari tanah bengkok kelurahan kepada si bandar judi. Kesepakatan ‘penyerahan’ tanah bengkok ini ternyata sudah bisa diprediksi kedua belah pihak. Tanah bengkok berupa sawah berhektar2 bisa dikonversi menjadi duit milyaran dalam waktu 5 tahun, yaitu selama si lurah berkuasa. Apalagi jika kelurahan dekat dengan pabrik atau lokasi proyek, setoran dana dan limbah dari perusahaan bisa menjadi ladang duit yg lebih besar bagi si lurah dan bandar judi.

Jika kondisi seperti ini sudah menjadi rahasia umum, terus kenapa masyarakat di kelurahan tersebut tak protes? Sesuai yg dijelaskan sebelumnya, tentunya karena ada panen duit bagi masyarakat saat proses kampanye berlangsung. Flow-nya adalah : pinjaman uang bandar judi -> si calon lurah ‘sedekah’ -> masyarakat seneng -> si calon lurah menang -> tanah bengkok ‘tergadai’ -> bandar judi dan si calon lurah sama2 untung. Faktor kepedulian dan kesadaran masyarakat yg rendah yg membuat kondisi ini menjadi masalah yg pelik. ¬†Masyarakat tersebut tergolong egois dan apatis, hanya ingin untung sesaat, dan bisa diperdaya dengan mudah. Padahal jika dipikir dengan logika jernih, tanah bengkok seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Memang alangkah ‘lucunya’ negeri ini. Jika dan hanya jika masyarakat sadar betul akan hal ini dan peduli dengan proses pemerintahan yg berlangsung, maka tanah bengkok tidak akan tergadai pada penjudi, proses pemilihan bisa berjalan dengan bersih, dan akhirnya ada sumber dana yg bisa dimanfaatkan bersama.

Ini hanya suatu contoh jika kepedulian memang jadi barang mahal di negeri ini. Dan kepedulian memang jadi salah satu solusi terbaik di negeri ini. Ketika masyarakat di negeri ini saling tidak peduli, maka pemimpinnya pun tidak akan peduli. Ketika masyarakat mencari untung sesaat, maka pemimpinnya pun akan mencari untung sesaat (yg lebih besar). Akan tetapi, saya yakin jika sesungguhnya kepedulian itu bisa ditularkan kepada siapapun, karena setiap manusia memiliki hati dan nurani. Gelombang kepedulian yg menjadi harapan di negeri ini harus terus digulirkan, dari orang ke orang, dari rakyat ke rakyat, dari pemimpin ke pemimpin, dari desa ke desa, dari kota ke kota, hingga akhirnya melingkupi semua wilayah di negeri ini. Aamiin.

Iklan