Karawang Oh Karawang (Bagian 1)

Peta Karawang

Karawang ini nampaknya jd daerah yg menarik untuk dibahas sebagai studi sosial-ekonomi-geografis. Karawang yg berada di antara Jabodetabek dan Bandung ini merupakan daerah yg sangat strategis. Namun, mengapa sulit berkembang? Karawang mnjadi supplier brbagai bhn baku mulai dr prtanian sampai manufakturing ke daerah Jabotabek. Lalu knapa penduduknya tak sejahtera? 

Karawang dulu dikenal sbg kota pangkal perjuangan dan lumbung padi nasional. Lalu bagaimana kondisi tsb berefek kpd kondisinya sekarang? 

Mengapa perkembangan Karawang terasa lambat ketika daerah di sekitarnya terus menerus maju, seperti Purwakarta, Cikarang, dan Bekasi? 

Namun, ada pepatah mengatakan jika pujian & kenikmatan malah membuat kita jd lupa, kufur, & tak pernah bersyukur. Apakah ini sesuai dengan KarawangKetika nikmat sehat & waktu luang bisa melenakan, apakah hal ini terjadi pada mayoritas masyarakat Karawang saat ini?

Yap, melalui pertanyaan2 tadi mungkin penyebab sulitnya Karawang untuk berkembang bisa sedikit terjawab. Mari kita bahas dgn lebih mendetail. Karawang dikenal sbg daerah yg subur sehingga dulu bs jadi lumbung padi nasional. Dgn begitu, tentunya mayoritas penduduk berprofesi petani. Petani Karawang yg dimanjakan dgn tanah yg subur, berasa dirinya dpt memenuhi kebutuhannya hanya dgn bertani tradisional. Para petani Karawang dulu hidup nyaman dgn punya sawah yg luas. Jualnya gampang, tinggal ‘ngesot’ ke daerah perkotaan Jawa Barat.

Sawah Petani Karawang

Kehidupan petani Karawang nampaknya konsumtif jika saat panen tiba. Yg penting menikmati hidup setelah 4 bulan nyawah. Cukup jual gabah. Masa kemarau tiba, petani Karawang jarang yg mnanam palawija, soalnya duit panen dah cukup tuk hidup 4 bln ke depan sampe masa tanam brikutnya. Alhasil, mayoritas para petani Karawang nganggur tuh 4 bln pas kmarau sambil ngibas2 duit hsl panen. Sawahnya luas, nanem padi saja ‘cukup’

Singkat cerita, para petani Karawang pun beranak-pinak. Sesuai budaya, sawah pun dibagi2 kepada masing2 anaknya. Lahan per anak makin dikit. Klo ada anak petani Karawang yg mau nikah, yowes sebagian sawahnya dijual buat walimahan. Ga ada tabungan, sawah pun jadi duit instan. Semakin lama, semakin dikit lah sawah yg dimiliki para petani Karawang. Yg namanya padi kan perlu lahan luas. Apa jadinya klo cuma punya 1 ha? Lahan 1 ha sawah jadi tak cukup tuk menghidupi keluarga petani Karawang. Nanam palawija pun tak biasa. Jadilah mereka buruh tani.

Anak2 petani Karawang yg ngeliat bapaknya tak sejahtera jadi petani, jadilah mereka beralih profesi jd buruh pabrik. Aman dpt gaji tiap bulan. Karawang yg dianggap sebagai kawasan strategis, jadilah ia santapan menarik buat pabrik asing dan developer. Lahan sawah beralih fungsi. Smakin bnyk pabrik, smakin bnyk buruh yg diperlukan. Jadilah Karawang penghasil ‘robot’. Disana lebih populer SMK dibanding SMA. Anak2 petani Karawang pun berdalih jika jadi buruh lebih keren dari petani. Bergengsi, kantoran, dan pake seragam, meski gaji pas2an. Kebiasaan budaya konsumtif petani Karawang menjaring para buruh tuk menyicil ini itu, mayoritas barang2 tak perlu. Yg penting gaya!

Pabrik Karawang

Masa transisi petani jadi buruh pabrik di Karawang ini begitu cepat. Sehingga sulit lagi tuk menemukan anak muda yg menjadi petani. Lahan Karawang yg dulunya subur jadi terabaikan. Di lain pihak, ada konglomerat yg melihat potensi ini dan jadilah ia juragan sawah. 1 orang konglomerat Karawang ada yg menguasai 300 ha sawah. Bayangkan saja, sangat kapitalis. Yg kaya makin kaya, yg miskin makin miskin. Petani tradisional Karawang yg masih bertahan jadi terpinggirkan karena tak mampu mempunyai pasar. Jadilah ia menjual hasil panen pada tengkulak. Tengkulak Karawang pun beranak-pinak. Mereka mengambil untung sebesar2nya dr para petani. Petani pun diberi utang oleh mereka.

Pemerintahan Karawang bagaimana? Yah tetap saja berasal dari masyarakatnya. Mereka terjebak oleh kenyamanan lingkungan sekitarnya. Meski ada niatan untuk memperbaiki Karawang, mereka sudah malas tuk bergerak. Kondisinya sudah tak ideal, yg penting bisa hidup enak. Lalu bagaimana caranya tuk mengembalikan masa kejayaan Karawang di masa lalu? Yap, diharuskan ada yg mengusik zona nyaman mereka. Ada 2 hal yg bisa mengusik zona nyaman, yaitu masalah ekonomi dan politik. Usikan zona nyaman Karawang ini tentunya adlh pedang bermata dua, di 1 sisi bs ngasilin pergerakan positif, di sisi lain bisa jd pengusiran.

Status saya sebagai pendatang di Karawang ngehasilin perasaan tak nyaman, mengapa potensi sebesar ini tak termanfaatkan? Masalah begitu bnyk. Mungkin saja jika masyarakat asli Karawang sudah tdk lg peka trhdp masalah yg mereka hadapi. Seperti di awal, yg penting bisa hidup & makan. Ada 1 pepatah jika masalah terbesar yg dialami seseorang adalah ketika org tersebut merasa tak punya masalah. Itu yg mungkin trjadi di Karawang. Berarti untuk mengusik zona nyaman & kesadaran Karawang, dibutuhkn kondisi yg ckp ekstrem, seperti kondisi 98, kelaparan dan ketidakstabilan politik. 

Tapi, apakah hrs seperti itu? Ketika ada 1 contoh jika para peternak sapi di Gunung Kidul nekad ngirim sapi mereka jauh2 ke Jakarta. Padahal jika masyarakat Karawang beternak sapi atau komoditas lain, mereka akan dgn mudah menjualnya. Bisakah mereka diusik hati nuraninya? Memang dibutuhkan orang2  yg mampu mengusik kejiwaan masyarakat Karawang dgn pemikiran dan aksi nyata bahwa mereka bisa jd lbh baik! Orang-orang Karawang harus bergerak bersama dgn hati dan niatan tuk bisa mengubah nasib yg ada skrg menjadi lebih baik, mandiri, dan sejahtera.

Membangun Semangat Kewirausahaan Sosial

Photo0407

Seminar dan workshop yg saya ikuti pada cerita perjalanan sebelumnya adalah mengenai kewirausahaan sosial. Judul lengkapnya Revitalisasi Potensi Masyarakat Indonesia melalui Social Enterprise. Tema dan judul ini saya minati karena memang terkait salah satu impian dan aktivitas saya sekarang. Pembicaranya sendiri adalah seorang praktisi dan akademisi. Lengkap karena beramal harus dengan ilmu dan ilmu harus diamalkan.

Pembicara pertama yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan SMIH dan TNYI memaparkan penjelasan mengenai peranan sosial enterprise dalam lingkup sosial, bisnis, dan pemerintah. Dikatakan jika sosial enterprise mampu menyatukan semua elemen itu dalam kesatuan yg utuh. Sosial enterprise mampu memberdayakan dan memperbaiki masyarakat dengan memecahkan permasalahan sosial dengan kegiatan bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan bisnis yg dilakukan tentunya diutamakan yg berbasiskan potensi lokal masyarakat tersebut. Pak Zulfikar menemukan masalah yg hampir sama ketika beliau berkunjung ke beberapa daerah, terutama di pedesaaan : masyarakat di sana tidak mau mandiri dan bermental pengemis. Artinya mereka sebetulnya mempunyai potensi, namun enggan atau tidak tau bagaimana mengembangkannya dan hanya bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah atau lembaga lainnya.

Metode Pak Zulfikar dalam menghadapi permasalahan masyarakat seperti ini adalah memaparkan kenyataan yg terjadi. Beliau memisalkan jika setiap orang di daerah itu menyisihkan sedikitnya 25 ribu sebulan untuk proses perbaikan daerahnya, maka dalam beberapa bulan saja sudah dapat terkumpul dana puluhan hingga ratusan juta. Dana sebesar ini nantinya bisa dipakai untuk memperbaiki fasilitas publik dan mengembangkan usaha daerah tersebut. Beliau juga menjanjikan akan meminjamkan dana sampai 60% dari jumlah dana yg dibutuhkan ketika masyarakat telah mampu mengumpulkan 40% di awal. Ketika dana tersebut dipakai untuk usaha, maka masyarakat akan menerima bagi hasil hingga 80% dari keuntungan. Selain itu, beliau menyisipkan unsur surprise di tengah2 ketika proses usaha berlangsung baik dengan memberikan hibah 50%, artinya masyarakat hanya perlu mengembalikan 50% dari pinjaman yg diberikan.

Metode Pak Zulfikar ini mengajarkan kemandirian dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat yg akan dibantunya. Masyarakat akan merasa memiliki usaha yg dijalankannya bersama karena ada uang mereka di dalamnya. Berbeda ketika dana pemerintah yg murni hibah dan tanpa pengawasan diberikan. Selain itu, reward yg diberikan tentunya akan memacu masyarakat untuk berusaha lebih baik lagi. Namun, metode ini dapat terlaksana dengan baik apabila adanya pendampingan dan ketegasan dari pihak yg akan membantu proses pengembangan kewirausahaan sosial ini. Pendampingan harusnya dilakukan intensif selama beberapa bulan di awal, artinya fasilitator tinggal bersama masyarakat tersebut dan membaur, tidak pulang pergi dan hanya mendampingi sebulan sekali. Ketegasan diperlukan ketika masyarakat memberontak dan memprotes proses yg ada. Tampilkan 3 hal utama yaitu fasilitator tidak melakukan kebohongan (dengan bukti rekening usaha, aliran dana, dll.), tidak menyakiti masyarakat setempat, dan tunjukkan perubahan yg terjadi ketika proses kewirausahaan sosial berlangsung.

Pembicara kedua, yaitu Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB menjelaskan mengenai proses dan pola pikir kewirausahaan sosial. Potensi lokal masyarakat sesungguhnya sangat besar dan bisa dikembangkan dengan proses kewirausahaan sosial. Hal ini karena kewirausahaan sosial bukanlah profit-oriented, melainkan benefit-oriented. Jika ada manfaat yg bisa dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, maka dengan sendirinya keuntungan materi bisa didapatkan. Prinsipnya adalah tidak takut, tidak menunda2, dan tidak ada yg tidak mungkin. Selain itu, kewirausahaan sosial membutuhkan 3N, yaitu Niat, Naluri, dan Nurani. Niat baik untuk membantu masyarakat, naluri untuk mengembangkan usaha masyarakat, dan nurani untuk bisa peduli pada kondisi sosial masyarakat.

Pembicara ketiga, yaitu Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Sosial Bisnis Dompet Dhuafa memaparkan fakta2 mengenai kewirausahaan dan kapitalisme yg kini berlangsung di dunia. Cara pemaparan beliau yg ‘nyeleneh’ memotivasi dan mengundang tawa dari para peserta. Sepatu merek terkenal di dunia Made in Indonesia berharga jutaan rupiah dibuat oleh buruh Indonesia dengan gaji 5 ribuan per hari. Seorang pegolf terkenal mendapatkan loyalty milyaran rupiah ketika mengiklankan sebuah produk olahraga sedangkan buruh yg membuat produk itu digaji hanya ribuan rupiah per hari. Ironis dan menyakitkan memang. Oleh karena itu, kewirausahaan sosial hadir untuk memberikan pembagian keuntungan yg lebih adil. Beliau mencontohkan sebuah kampung batik di Jawa Tengah yg menggaji pembatiknya jutaan rupiah dari setiap batik yg dihasilkannya. Beliau juga menyatakan jika pengusaha itu dibentuk bukan dilahirkan, bagaikan proses pembuatan semangka kotak yg dijual sangat mahal. Meski prosesnya menyakitkan, tetapi prosesnya itulah yg membentuk seorang pengusaha menjadi pribadi yg tangguh dan mempesona.

Di akhir sesi seminar, Pak Zulfikar Alimuddin menunjukkan sebuah video yg inspirational. Video mengenai seorang anak kecil yg mampu membuat perubahan. Video tersebut bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=GPeeZ6viNgY

Photo0408

 

Pada sesi workshop atau Focus Group Discussion, rekan saya mengambil topik mengenai permodalan rakyat untuk keseimbangan ekonomi sedangkan saya mengambil topik pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan platform kolaborasi. FGD yg saya ikuti difasilitasi oleh Mas Adhita, seorang mahasiswa S2 jurusan Teknologi Industri Pangan UGM yg telah beberapa kali menyabet juara lomba kewirausahaan. Beliau mengembangkan budidaya lele kolam kering di daerah Gunung Kidul. Kini aktivitas beliau sedang berusaha meng-ekspor kerajinan rotan dan bambu ke negara Turki.

Pada awal FGD ini, Mas Adhita mempersilahkan beberapa peserta untuk menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Ada yg bercerita mengenai niatnya yg ingin membuat supplier sayuran dan pangan organik di daerah Kalimantan dan ada yg bercerita mengenai pengalamannya bekerja di forwarding company dan niatnya untuk mengembangkan usaha di daerahnya sendiri. Saya pribadi ikut menceritakan pergerakan saya bersama rekan2 di yayasan Sadamekar yg meliputi pendidikan, koperasi, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Dari contoh2 kasus ini, Mas Adhita memaparkan proses kewirausahaan sosial yg umum terjadi. Ada Smart Small Farmer di Thailand yg mampu mengolah berbagai jenis sayuran dan buah2an dalam skala industri. Mulai dari pemberian bibit, pengolahan lahan, pemanenan, proses grading, pengemasan, dan distribusi ke berbagai daerah. Uniknya adalah meski semua bibit dan lahan adalah milik perusahaan, tetapi petani disana tetap memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan yg kuat terhadap usaha yg dijalankan. Prosesnya pun melibatkan aplikasi teknologi yg mumpuni, salah satunya adalah indikator yg mampu menunjukkan jika suatu sayuran telah kadaluarsa dalam kemasan. Grade A (terbaik) akan dikirimkan ke Eropa, Grade B dikirimkan ke Amerika, Jepang, China, dan negara lain yg setara, Grade C dipakai di lingkungan dan negara sendiri, dan tragisnya Grade D (terburuk) akan dikirimkan ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

Mas Adhita kemudian memberikan skema umum yg sering digunakan dalam proses kewirausahaan sosial di Indonesia, yaitu dengan mengembangkan koperasi dan usaha berbasis potensi lokal. Proses awal terbaik adalah dengan melihat pasar dan menariknya hingga ke hulu, dari demand sampai ke supply. Beliau menjelaskan mengenai Porter Five Forces, market size dan market share, proses pendistribusian yg melibatkan promosi, prinsip Total Quality Management (TQM), pembuatan Demonstration Plot (Demplot), penguatan produksi dan pengolahan, prinsip Plan-Do-Check-Action (PDCA), dan kegiatan Kaizen (Continous Improvement). Ini semua mengingatkan saya pada tempat kerja, pelatihan bisnis, dan proses kewirausahaan sosial yg sedang dilakukan.

Setelah semua pemaparan itu dijelaskan, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk merumuskan suatu contoh nyata bagaimana langkah2 membuat kewirausahaan sosial dan skemanya. Kelompok saya memilih untuk memikirkan solusi kewirausahaan sosial untuk menanggulangi alih fungsi lahan pertanian dan alih profesi dari para petani. Langkah2nya kami sesuaikan dengan prinsip Toyota Business Practices (TBP) yg sempat saya pelajari ketika bekerja sedangkan skemanya kami sesuaikan dengan pendekatan prinsip koperasi, kesejahteraan petani, dan pemotongan jalur distribusi. Setelah semua kelompok sedikit mempresentasikan hasil diskusinya, kami pun mengikuti acara penutupan yg berlangsung di auditorium utama.

Hmm… that’s all. Itu yg bisa saya ceritakan pada kesempatan mengikuti seminar kewirausahaan sosial dari psikologi UI dan Sosial Entrepreneur Academy (SEA) Dompet Dhuafa ini. Yg saya yakini adalah kewirausahaan sosial ini dapat menjadi solusi untuk melawan kapitalisme global, memeratakan kesejahteraan, dan menyelesaikan beberapa permasalahan pelik di Indonesia ini. Dan saya yakin pula jika semakin banyak pemuda dan komunitas yg bermimpi, bersatu, dan bergerak bersama mewujudkan tujuan mulia dari kewirausahaan sosial ini. Aamiin.