Karawang Oh Karawang (Bagian 3) : The Ugly Truth

Terinspirasi dari judul film kemarin malam, ijinkan saya menulis beberapa the ugly truth lagi mengenai suatu kabupaten yg bernama Karawang ini. Mengenai hubungan pria dan wanita, ternyata di Karawang ini cukup banyak yg telah melewati batas. Akibatnya adalah Karawang menjadi salah satu daerah dengan penderita AIDS terbanyak di Jawa Barat. Seperti yg sudah saya sampaikan sebelumnya jika hampir di setiap kecamatan terdapat ‘fasilitas’ lokalisasi. Kadangkala saya mendengar nama daerah lokalisasi itu terucap dari beberapa penduduk desa, dari yg hanya gurauan hingga bernada ajakan. Ekstrimnya adalah terkadang pria2 itu mengucapkannya di depan istrinya sendiri dan seolah-olah “jajan di tempat seperti itu” merupakan hal yg lumrah. Na’udzubillah.

Mungkin salah satu alasan lokalisasi2 itu berdiri adalah karena banyaknya wanita desa disini yg bekerja sebagai TKW di luar negeri. Wanita desa ini menjadi TKW bertahun-tahun dan jarang pulang kampung. Sekalinya pulang itu pun hanya beberapa saat sebelum mereka pergi kembali untuk beberapa tahun berikutnya. Otomatis mereka tidak punya waktu untuk melayani suami dan keluarganya sendiri. Selain itu pula, beberapa TKW mengalami pelecehan seksual di luar negeri dan terkadang membawa penyakit menular seksual saat pulang kampung. Kondisi penyebaran penyakit AIDS ini diperparah juga oleh ulah sebagian pemuda desa. Pernah suatu ketika saya mendengar aktivitas para pemuda desa yg membawa seorang wanita untuk “dipakai beramai-ramai”. Ada yg berupa kejadian pemerkosaan, atas dasar “suka sama suka”, ataupun karena bayaran atau “arisan”. Na’udzubillah.

Selain tentang AIDS ini, the ugly truth lainnya adalah banyaknya LSM atau ormas di Karawang yg sering bertikai, dari mulai tawuran hingga pembakaran kendaraan dan fasilitas umum. Penyebabnya antara lain adalah berebut jatah preman (japrem), berebut lokasi kekuasaan dan jatah limbah pabrik, ataupun karena alasan politis. Beberapa LSM dan ormas ternyata memang bentukan pejabat yg punya kepentingan politis pribadi. LSM dan ormas ini dipakai sebagai basis massa pendukung ataupun sebagai oposisi pejabat / partai lainnya. Lucunya adalah meski hal ini terkadang telah menjadi rahasia umum, tetapi tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan pihak berwenang (ataupun masyarakat itu sendiri).┬áDan “kegiatan” tawuran bukanlah milik LSM dan ormas semata. Tawuran acapkali terjadi di kalangan pelajar, buruh-pabrik-aparat, dan antardesa. Nampaknya tawuran menjadi bentuk aktualisasi diri yg salah. Bahkan ada di suatu daerah, tawuran ini sudah menjadi rutin dilakukan di tiap malam minggu dalam beberapa bulan terakhir. Astaghfirullah.

Konflik kesukuan di Karawang pun nampaknya lumayan tinggi, yaitu antara suku pribumi dengan suku pendatang, terutama suku Jawa. Penyebab utamanya adalah kecemburuan sosial dimana suku Jawa lebih sering diterima bekerja di pabrik di Karawang ketimbang suku pribumi. Kecemburuan sosial ini sering ditunjukkan di grup-grup media sosial Karawang semacam FB. Padahal dalam pandangan kacamata pribadi, konflik ini sebetulnya terkait kualitas SDM lokal dan pendatang. SDM lokal Karawang acapkali berulah ketika bekerja di pabrik, seperti sering membolos, membentak atasan karena merasa pribumi dan punya ‘dekengan’, tidur saat bekerja, dll. Meski tidak semua SDM lokal seperti ini, namun hal ini menimbulkan stigma negatif pada manajemen pabrik untuk tidak menerima karyawan asli dari Karawang. Saya pribadi melihat kenyataan hal ini ketika dulu bekerja, dan memang mayoritas operator adalah orang luar Karawang. Selain itu, ada banyak kasus lain dimana calon karyawan harus membayar sekian juta kepada oknum manajemen agar bisa diterima. Dan biasanya, jika calon karyawan ini nantinya pun diterima secara kontrak, ia tidak akan dipertahankan menjadi karyawan permanen.

Di sisi lain, kualitas pendidikan di Karawang pun terbilang di bawah rata2 jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Sulit untuk menemukan sekolah yang berkualitas disini. Mencari yg best input saja sudah sulit, apalagi yg best process. Jarang yg mampu melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Universitas yg ada di Karawang pun lebih banyak diisi oleh kelas karyawan. Ada di suatu kecamatan dimana ada puluhan SD disana, namun hanya ada 1 SMP saja di kecamatan yg sama. Tidak terbayang begitu sesaknya SMP tersebut menampung output dari puluhan SD. Dalam bisnis, mungkin ini bisa disebut monopoli, bagus bagi si SMP yg tak akan pernah kekurangan murid, tapi buruk bagi si murid karena pastinya harus berebut tempat dengan kualitas pendidikan yg tak seberapa.

Kondisi pemerintahan pun pastinya sebagian besar telah tercermin dari kondisi masyarakatnya. And I don’t want to mention that because it would be just repetition from what I said earlier : tidak transparan, tidak tegas, apatis, korup, dll.

Dalam beberapa tahun mendatang, Karawang pun akan mempunyai pelabuhan dan bandara berskala nasional (dan mungkin internasional). Pelabuhan di utara dan bandara di selatan. Jika kondisi masyarakatnya masih seperti sekarang ini, tak terbayang apa yg akan terjadi berikutnya. Pendatang semakin banyak, kegiatan ekonomi semakin deras, konflik sosial semakin meluas, dan intervensi pihak asing semakin kuat. Pelabuhan tanjung priok bisa menjadi contoh yg buruk dimana kondisi masyarakat disana begitu keras, sampai2 banyak perusahaan mem-blacklist siapapun yg berasal darisana. Hal yg sama sangat mungkin terjadi di Karawang dalam waktu mendatang. Ditambah gelombang globalisasi seperti Asean Economic Community akan melanda negeri ini dalam waktu dekat, yg pastinya akan meningkatkan persaingan kerja.

Sejujurnya, saya menulis hal-hal ini bukanlah untuk menyebarkan kegelapan, tetapi hanya berupaya untuk membukakan mata bagi siapa saja yg membacanya. Karawang hanyalah sebagian kecil dari bangsa ini, dan kini ia sedang ‘sakit’. Begitu banyak penyakit dan masalah menandakan jika begitu banyak pula bentuk kontribusi dan solusi yg bisa kita berikan. Dan tentunya, daripada kita mengutuk kegelapan, lebih baik kita menciptakan cahaya perubahan. Let’s shine together!

Iklan