Pak Hamzah (2)

Dalam suatu kesempatan, saya kembali bertemu dengan Pak Hamzah setelah sekian lama. Beliau masih menjadi seseorang yg saya kenal dengan senyumnya dan nada dering HP miliknya yg berbunyi lagu Rhoma Irama “Trerereng rereng… Hai Manusia… Hormatilah Ibumu… Yang melahirkan dan membesarkanmu…”. Pengingat yg selalu terngiang saat saya masih bersama beliau dulu. Beliau pun masih selalu merendah dengan posisi pekerjaannya, padahal jika ia pensiun nanti, saya yakin perusahaan akan sulit mencari pengganti dari beliau. Ketajaman penglihatannya, pengalamannya mendeteksi problem, keramahannya dengan tim kerja dan supplier, hingga nasehatnya yg kerap ia sampaikan. Dalam tulisan kedua tentang Pak Hamzah ini, ijinkan saya melanjutkan kisah perjalanan beliau beserta pemikirannya.

Pak Hamzah dulunya adalah seseorang yg tegas dan disegani, bahkan oleh karyawan sekelas manager sekalipun. Beliau bekerja bertahun-tahun di Divisi Painting bagian Quality. Beliaulah yang memutuskan suatu warna oke atau tidak, sama atau beda, tebal atau tipis, dan sebagainya. Ternyata begitu banyak jenis kecacatan pada warna suatu mobil. Dengan ketajaman penglihatannya, beliau bisa tau jika warna putih itu terlalu kuning/biru, dengan melihat dari sudut pandang tertentu. Seriously, di mata saya (dan mayoritas karyawan) nampak tidak ada yg berbeda. Penglihatan Pak Hamzah setara dengan alat pengecek warna yg berharga ratusan juta sekalipun. Pernah ada suatu kasus dimana ada mobil ‘pesanan’ seorang Manager diperiksa di bagian Quality. Pak Hamzah menyatakan jika mobil tersebut NG atau tidak sesuai standar pabrik karena catnya terlalu tebal. Sang Manager memang secara personal memesan mobil itu untuk dirinya sendiri dengan ketebalan cat yang tidak biasa. Sementara karyawan lain membiarkan hal itu, Pak Hamzah bersikukuh tidak akan membiarkan mobil itu keluar bagian Painting sebelum catnya diperbaiki menjadi sesuai standar. Mulai dari karyawan kelas operator hingga Manager bergantian membujuk beliau agar mobil itu di-OK-kan saja. Pak Hamzah tak bergeming, standar kualitas harus ditegakkan pada setiap mobil, tak pandang bulu, meski itu pesanan atasan sekalipun. Karena beliau tau jika setiap pekerjaan yg ia lakukan harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Itulah prinsipnya. Meski begitu, mobil pesanan sang manager itu ternyata bisa diloloskan atas persetujuan orang lain selain Pak Hamzah. Dan akhirnya kita berlepas diri dari perbuatan orang lain…

Mungkin karena ketegasan sikapnya itulah, posisi dan level pekerjaan beliau sulit untuk naik. Beliau pun memang cukup kritis dengan kebijakan-kebijakan perusahaan yang terkadang ‘berat sebelah’. Sudah menjadi rahasia umum jika orang yang vokal bersuara tentang kesejahteraan dan upah buruh, akan dipandang sebelah mata oleh perusahaan, apalagi yg empunya adalah orang asing. Pada akhirnya, beliau menolak menjadi ‘singa perusahaan’ yang siap sedia bertindak tegas (cenderung galak/judes) ketika berhadapan dengan rekan setim ataupun supplier. Meski seorang Quality Control seperti ini disukai perusahaan, tetapi orang semacam ini tidak akan disukai oleh rekan sejawat. Pak Hamzah berprinsip ketika jabatan itu dilepas dari seseorang, maka ia tidak lebih dari seorang manusia biasa di mata masyarakat. Ini artinya meski jika ia mempunyai jabatan tinggi saat di kantor atau saat pensiun, maka tetaplah ia dikenal sebagai manusia dengan karakter dan sifat yg menempel pada dirinya saat berada di luar kantor ataupun saat kembali ke masyarakat. Simpelnya, jika di kantor mungkin ia tak bisa ditonjok karena jabatannya sebagai direktur, maka di luar kantor bisa saja ia malah ditendang karena sikap otoriternya yang menyebalkan.

Pak Hamzah juga sering membandingkan jaman sekarang dengan jaman presiden Pak Soeharto. Jika sekarang banyak beredar stiker “Piye kabare? Enak jamanku tho?”, maka Pak Hamzah adalah seseorang yg pro akan hal ini. Mungkin beliau setuju karena kondisi jaman Pak Harto memang terasa lebih damai dan lebih sejahtera, jika dibandingkan dengan jaman sekarang yang ramai konflik antarpartai dan kelompok masyarakat. Orang-orang berani saling sikut untuk memperoleh sesuap nasi. Para pejabat berani mengadu domba demi kepentingan politik diri dan partainya. Indonesia terasa semakin semrawut dari waktu ke waktu. Mungkin tidak ada yang perlu disalahkan dari perubahan jaman ini, kecuali diri kita sendiri. Apa yang telah kita lakukan? Apa kontribusi yang bisa kita berikan? Jika manusia-manusia di Indonesia ini merindukan jaman Pak Harto dulu, lantas apa yang menyebabkan mereka berpikiran seperti itu? Ini adalah refleksi yang mendalam bagi diri saya pribadi.

Satu hal lain yang menjadi perhatian dari Pak Hamzah adalah soal pertanian. Begitu banyak lahan pertanian yang beralih fungsi. Impor pangan semakin deras. Harganya pun semakin meninggi. Petani semakin melarat. Kesenjangan semakin mencuat. Hal ini juga yang sedang terjadi di Karawang. Pak Hamzah mempunyai 2 ide/mimpi tentang pertanian ini. Yang pertama adalah bagaimana caranya agar padi dapat tumbuh dimana saja laksana rumput yang bisa tumbuh dimana saja padahal kita tidak menanam bibit rumput disana. Yang kedua adalah membuat lahan pertanian bertingkat, yakni semacam gedung tinggi bertingkat yang berisi lahan pertanian di setiap tingkatnya. Pak Hamzah mencermati krisis lahan yang akan terjadi mengakibatkan krisis pangan yang semakin parah. Teknologi pertanian harus segera ditemukan agar manusia bisa tetap hidup memakan pangan dengan harga terjangkau. Sebesar apapun bisnis manufacturing ataupun IT merajalela, manusia tidak akan bisa hidup dengan memakan part-part mobil atau data-data informasi.

Yang Pak Hamzah takutkan di akhir adalah mengenai Post-Power Syndrome. Begitu banyak rekan kerjanya yang kemudian jatuh sakit bahkan sampai meninggal di sekitar masa usia pensiun. Pekerjaan dan beban tanggung jawab yang dirasakan saat bekerja tetiba hilang, dan akhirnya mempengaruhi kondisi mental dan kesehatan. Rasa kesepian, kebosanan, dan tidak mampu berbuat apa-apa datang menghinggapi orang-orang yang pensiun ini. Akan tetapi, saya berharap hal ini tidak akan terjadi pada Pak Hamzah. Pak Hamzah masih bisa berbuat banyak setelah pensiun nanti dengan menyebarkan pemikirannya dan beramal sebanyak-banyaknya kepada masyarakat sekitar. Saya yakin masih banyak orang di luar sana yang sepakat dengan Pak Hamzah, dan siap mengeksekusi hal-hal tersebut…

Iklan

Pak Hamzah (1)

Pertemuan saya dengan Pak Hamzah bermula saat saya “dipindahtugaskan” dari Divisi Production Engineering ke Divisi Quality Control. Sungguh kaku ketika sebelumnya saya bekerja bersama teman-teman sebaya untuk kemudian mempunyai partner kerja seorang Bapak berusia 50 tahunan. Apalagi ketika saya mengetahui jika Pak Hamzah ini berada di bawah “kelas karyawan” saya, alias beliau bisa dianggap sebagai “bawahan”. Bagaimana seseorang seperti saya yang baru masuk kerja beberapa bulan bisa menempati posisi di atas beliau dengan upah yg tentunya lebih tinggi? Bagaimana pengalaman seorang Pak Hamzah yang telah bekerja selama puluhan tahun tidak cukup dihargai agar bisa menjadi seorang “atasan”?

Hari-hari awal bekerja tentunya saya sangat bergantung pada Pak Hamzah. Bagaimana caranya mengidentifikasi kecacatan pada part mobil, membedakan warna yg nyaris terlihat sama, mendeteksi goresan yg sangat tipis pada body, membandingkan celah antar part mobil yang hanya berlebar sekian milimeter saja, sampai memutuskan sesuatu bersama supplier jika sebuah part yang dikirimkannya itu OK atau NG (Not Good). Semua jenis pekerjaan ini tentunya baru bagi saya, yang tentunya juga tidak diajarkan di kuliah ataupun di training/pelatihan saat masuk kerja. Semuanya harus saya pelajari di lapangan dari orang-orang yang memang punya pengalaman akan hal itu. Jika saat itu tidak ada Pak Hamzah di samping saya, maka saya hanyalah seorang sarjana yang tidak mampu berbuat sesuatu ataupun memutuskan sesuatu. Mungkin saya menjadi seseorang yg makan gaji buta dan jadi bahan cercaan karyawan lain. Dan lagi-lagi saya menanyakan hal yang sama, bagaimana seseorang yg berpengalaman yg bisa mengajarkan saya banyak hal tidak mendapatkan apresiasi yang sesuai dari perusahaan tempatnya bekerja?

Dengan bekal pertanyaan itu, saya mencoba menggali siapa sebenarnya Pak Hamzah ini, dan apakah banyak Pak Hamzah-Pak Hamzah lain yang bernasib sama. Pak Hamzah yang saya kenal adalah seorang Bapak lulusan sekolah menengah yang berasal dari kawasan Jakarta Utara. Beliau banyak bercerita mengenai kondisi daerah bernama Tanjung Priok dimana kehidupan disana sangatlah keras. Lulusan sekolah yang berasal darisana akan sulit mendapat pekerjaan dikarenakan kondisi lingkungan yang dikenal buruk. Alias mereka sudah di-blacklist. Pak Hamzah pun bercerita jika mayoritas warga pendatanglah yang mempunyai perangai buruk yang akhirnya mempengaruhi kondisi sosial budaya disana. Warga asli sana yang sebetulnya “innocent” jadi ikut kena getahnya. Beliau mencontohkan begitu tak berpendidikannya mayoritas warga pendatang yang berasal dari kawasan pedesaan. Mereka berlaku seenaknya, tak beretika, dan membawa budaya asal kampungnya. Arus urbanisasi yang padat mengakibatkan mereka harus berjibaku mencari sesuap nasi dengan warga pribumi. Siapa yg kuat akan bertahan dan siapa yg lemah akan tersingkir. Disini Pak Hamzah jadi mempunyai pemikiran jika sesungguhnya warga pedesaanlah yang harus dididik dan diberdayakan sehingga ia tak butuh pindah ke perkotaan untuk mencari kerja. Mereka seharusnya bisa mempunyai penghidupan yang layak di desa mereka sendiri. Sebagus apapun wilayah perkotaan berkembang, maka kesenjangan dan konflik sosial tidak akan bisa dihilangkan selama arus urbanisasi warga pedesaan tak terdidik ini terus membanjiri perkotaan.

Di sisi lain, Pak Hamzah pun bercerita tentang seseorang yg luar biasa yg mempunyai banyak usaha di kawasan Tanjung Priok. Orang ini lulus SD pun tidak, kakinya lumpuh, dan tak bisa baca tulis. Akan tetapi, usahanya meliputi rumah makan, transportasi angkutan umum, hingga minimarket. Hidupnya sangat berkecukupan dan dia menggunakan nama “Doa Ibu” sebagai nama usahanya. Modal utamanya adalah kerja keras, kejujuran, dan sikap tawakal. Ia tak takut dicurangi oleh karyawannya sendiri ketika menerima laporan keuangan karena memang dia tak bisa baca tulis. Ia menyerahkan kepercayaan sepenuhnya, yang penting dia menerima keuntungan yang bisa ia syukuri. “Rezeki sudah ada Yang Mengatur”, itulah prinsipnya. Kisah nyata ini berulang kali Pak Hamzah ceritakan, seolah-olah ingin menampar saya yang berstatus sarjana ini. “Sadar woy sadar… Lu tuh sarjana… Dia aja yang ga lulus SD bisa nyediain kerjaan buat banyak orang… Lah Elu bisanya cuma morotin upah perusahaan tempat Lu kerja…” Mungkin itu pesan implisit yang terkandung dari kisah itu. Pak Hamzah beranggapan jika seorang sarjana seharusnya tidak bekerja, justru ia yang harus menciptakan lapangan kerja. Yg gak sarjana aja banyak yang nganggur, lah ini yg sarjana ikutan berebut kursi kerjaan. “Biarkanlah lulusan madrasah yang bekerja di pabrik, kerjaan kayak begini mah mereka juga bisa”, hal itu juga yang sering Pak Hamzah katakan. Tamparan di wajah itu dilanjutkan dengan tusukan tajam di hati. Jleb.

Oleh karena kami berdua adalah partner kerja di bagian eksterior, hampir di setiap pekerjaan saya selalu bersama beliau. Bukan saja karena saya membutuhkan bantuannya, tetapi juga karena asiknya saya mengobrol dengan beliau mengenai banyak hal di luar urusan pekerjaan. Sungguh banyak pelajaran dan makna kehidupan yang beliau ajarkan. Dan ini saya anggap lebih penting dari pelajaran mengenai bagaimana suatu pekerjaan Quality Control bisa selesai dengan baik. Di saat senggang ataupun saat mengidentifikasi masalah, kami sering berlama-lama untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul. Tujuan saya untuk mengetahui pribadi Pak Hamzah jadi lebih mengasikkan. Ada beberapa hal di luar jalan kehidupannya yang membuat saya tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut. It’s a life philosophy, wisdom, and it’s magic…

Perjalanan Menarik Karawang-Bekasi-Depok (Edisi Kewirausahaan Sosial)

Sabtu dini hari saya berdua bersama Mas Oris bersiap2 untuk berangkat ke Depok dari Rengasdengklok Karawang. Dengan modal niat dan info rute, kami berangkat memakai motor dan dilanjutkan dengan naik kereta, Kami berencana mengikuti sebuah seminar kewirausahaan sosial di kampus psikologi UI yg dimulai jam 8.30. Alhamdulillah pas sampai stasiun kereta Karawang, kami berhasil mendapatkan 2 tiket terakhir yg tersedia. Mungkin jika telat 10 detik saja, kami tidak akan mendapatkan tiket itu dan entah bagaimana kami akan ke Depok. Dan sesuai prasangka, kami harus menunggu kereta yg telat datang beberapa saat. Meski weekend ternyata KRD ke arah Jakarta ini tetap penuh dan kami terpaksa harus berdiri dekat pintu keluar di samping toilet kereta yg bau pesing. Keterpaksaan ini juga akibat kami tak mau kelewatan turun di stasiun Bekasi.

Sesampainya di stasiun Bekasi, saya dengan bodohnya melangkah keluar dengan kaki kanan saat kereta masih berjalan pelan. Kaki saya terseret dan hampir saja terjatuh. Seketika teringat beberapa cerita orang yg meninggal akibat ‘salah kaki’ ini saat turun dari kendaraan yg masih berjalan. Ada yg meninggal akibat gegar otak dan ada yg meninggal karena langsung tergilas (GLEG!). Sesuai info rute yg diberikan, kami harus melanjutkan perjalanan menggunakan commuter line dari stasiun bekasi ke arah depok dan turun di stasiun UI. Karena pertama kali juga kami menaiki commuter line, kami agak kikuk ketika menggunakan kartu sebagai tiket masuk. First impression nya adalah commuter line ini cukup nyaman dengan boots yg menggantung di pegangan tangan kereta. Unik juga nih strategi promosi dari AP Boots, hehe…

Setelah melihat info rute commuter line, ternyata kami harus transit dulu di Manggarai untuk selanjutnya menaiki commuter line lain yg ke arah Depok. Sepanjang perjalanan, kami berdua asik ngobrol mengenai pengalaman Mas Oris membesarkan usaha franchise “Jarimatika” Bu Septi miliknya dan bagaimana pengalaman beliau di Jepang saat menaiki kereta. Meski terus berdiri semenjak naik KRD sampai commuter line dan tiba di stasiun UI, kami tetap menikmati perjalanan dengan mengobrol mengenai hal2 tersebut.

Setibanya di stasiun UI, kami bingung juga apakah kartu tiket harus dikembalikan atau tidak. Dengan jaimnya kami tidak bertanya dan hanya melihat penumpang lain yg keluar. Oh, ternyata setiap penumpang tetap memiliki kartu ini di tangannya. Pertanyaan selanjutnya yg ada di benak kami adalah apakah kami tak harus bayar lagi ketika nanti melakukan perjalanan pulang? Karena kami menganggap harga tiketnya terlalu mahal untuk sekali perjalanan, yakni 19 ribu untuk berdua, jika dibandingkan dengan KRD yg hanya 5 ribu berdua. Haha… so opportunist. Untuk menuju kampus psikologi UI, kami harus berjalan dan bertanya pada beberapa orang di sekitar. Kami melewati jurusan studi sastra Jepang, FISIP, dan kemudian sampai juga di psikologi. Mas Oris memikirkan potensi beliau membuka les bahasa Jepang sedangkan saya memikirkan betapa besarnya kampus UI ini dibandingkan kampus saya di Bandung dulu (maklum ga pernah studi banding kesini, hehe). Yg kompak kami pikirkan adalah banyaknya mobil yg diparkir di FISIP, apa karena banyak anak pejabat yg belajar ilmu politik yah? Hehe…

Sebelum sampai di auditorium psikologi UI, kami bertemu salah seorang peserta seminar lain yg sama2 kebingungan. Ternyata beliau undangan dari Dompet Dhuafa Volunteer, sebuah komunitas relawan pergerakan dari salah satu lembaga zakat di Indonesia. Tak dinyana ternyata kami bertiga menjadi peserta pertama yg hadir di seminar kewirausahaan sosial ini. Ruangan yg dingin membuat saya dan Mas Oris tak melepaskan jaket yg dikenakan sebelumnya. Dengan semangat dan percaya diri kami berdua duduk di kursi paling depan, yg nantinya sebaris dengan para pembicara di seminar ini. Sudah jadi kebiasaan mayoritas orang Indonesia, peserta lain malah memilih kursi yg lebih di belakang ataupun di pojok. Pengalaman semangat orang Jepang dari Mas Oris lah yg membuat kami berdua untuk memilih di kursi paling depan.

Sesi seminar berlangsung hingga pukul 12 siang yg diisi oleh ketiga pembicara utama, yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan Semangat Membangun Indonesia Hebat (SMIH), Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB, dan Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Socio Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa. Setelah sesi seminar, acara dilanjutkan dengan break makan siang dan sholat dzuhur. Sesi kedua materi dilanjutkan dengan Focus Group Discussion yg dibagi menjadi 4 ruangan dengan 4 topik yg berbeda. Saya dan Mas Oris memilih ruangan yg berbeda agar kami mendapatkan 2 topik berbeda yg kami minati, meski kami harus tidak mengikuti pembagian ruangan yg dibuat panitia. Sori yak kami tidak mau ditempatkan di ruangan yg sama dengan topik yg tidak kami minati dan kami pikir aturan pembagian ini tidak sepenuhnya mengikat, hehe…

Sepanjang sesi seminar dan FGD, kami dengan PD-nya SKSD dengan para pembicara dan tokoh2 penting yg hadir di acara. Maklum, selain ingin mendapatkan ilmu yg bermanfaat, kami juga ingin memperluas networking kami di bidang kewirausahaan sosial. Ada praktisi, akademisi, provokator, relawan, komunitas, dan beberapa yayasan yg mengikuti acara ini dan bergerak di bidang ini. Dengan berbekal profil dari yayasan “Sadamekar” yg kami bawa, kami berkenalan dengan mereka dan sedikit memperkenalkan yayasan ini. Semoga saja di lain kesempatan kami bisa berkolaborasi dengan mereka dalam mengembangkan kewirausahaan sosial di Karawang dan di Indonesia.

Sesi FGD selesai pada pukul 4 sore dan dilanjutkan dengan sesi penutupan acara. Karena kami tidak mengharapkan doorprize, jadinya kami pun tidak mendapatkannya. Padahal mah sih pengen, tapi menurut mitos yg beredar klo ga berharap malah nantinya yg akan dapet, jadinya kami memilih untuk tidak berharap, haha… Setelah semua rangkaian acara selesai, kami bergegas kembali ke stasiun UI karena hari telah menjelang sore dan kami pun tak mengerti jadwal terakhir keberangkatan dari commuter line dan KRD. Pertanyaan kami mengenai kartu tiket pun terjawab : kami harus membayar lagi untuk perjalanan pulang, tetapi dengan harga 8 ribu berdua. Oh, ternyata kami harus membayar lebih mahal di awal untuk biaya jaminan kartu sebesar 5 ribu. Bodohnya kami adalah hal itu ternyata tertera di struk pembelian tiket -__-

Sempat nyasar ke arah Jakarta Kota, kami akhirnya sampai di stasiun Bekasi pada sekitar pukul 6 sore. Tragisnya adalah tiket KRD untuk keberangkatan jam 7 telah habis terjual dan kereta selanjutnya baru berangkat jam 9 malam (di jadwal, tak tau kenyataannya). Niat jahat kami muncul untuk kembali masuk ke stasiun menggunakan kartu tiket commuter line dan memaksa masuk ke KRD meski tak punya tiket. Ah, paling kena denda doang, pikir kami. Tapi setelah dipikir2 lagi, niat jahat itu kami urungkan. Kemudian prasangka buruk kami muncul ketika kami akan memilih untuk naik angkot dan elf ke Karawang karena pengalaman kami diturunkan in the middle of somewhere and must pay twice and the long time we must take because of “ngetem”. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu KRD jam 9 malam saja sambil istirahat dan sholat maghrib dan isya.

Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah warteg pinggiran. Ketika kami menyantap soto ayam, datanglah seorang bencong dengan pakaian aduhai menyanyi mendekati kami. Dengan sedikit menoleh untuk menolak memberi sumbangan, kami harus tetap menjaga selera makan kami. Waktu baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika kami bisa membeli tiket KRD untuk pulang. Itu artinya kami harus menunggu 1,5 jam plus+plus di stasiun. Huft, pekerjaan menunggu yg cukup berat sepertinya. Di saat menunggu itu kami habiskan dengan mengobrol mengenai beberapa hal. Mencuat suatu “hot topic” ketika seorang single berhadapan dengan seorang lelaki beristri satu beranak tiga. You know what I mean lah yah, haha…

Di selang pembicaraan seru itu, kami melihat bencong yg kami lihat di warteg berjalan di pinggir rel diikuti seorang pria. Prasangka buruk kami langsung mencuat, apa yg akan mereka lakukan dalam kegelapan? Niat kami untuk mengikuti mereka berdua akhirnya kami urungkan karena takut melihat sesuatu yg tak ingin kami bayangkan… Setelah beberapa saat, bencong tersebut kami lihat kembali ke stasiun dengan wig yg telah dilepas dan pakaian yg telah berganti. Ow…ow…ow… ga usah dipikirin lagi lah yah, mungkin dia memang sekedar menyelesaikan pekerjaan mengemisnya dengan mengganti kepribadian.

Sesuai yg kami perkirakan meski tidak eksak betul, 1,5 jam plus+plus menunggu itu berarti 2,5 jam. Setengah jam terakhir, perbincangan kami ditemani seorang supir truk yg baru pulang bekerja. Bapak beliau ternyata dulunya adalah seorang petugas PT. KA dan beliau pun menyatakan jika praktek KKN telah berlangsung lama di tubuh BUMN semacam ini. Sigh… kami hanya bisa geleng2 kepala mendengarkan sebuah rahasia umum tersebut. Setelah KRD tiba di stasiun, kami langsung bergegas masuk agar bisa duduk di kursi kereta. Maklum, stamina kami telah cukup terkuras dan kami pun cukup mengantuk. Mas Oris meminta ijin untuk tidur dan meminta saya untuk tetap bangun dan memeriksa sampai mana kereta telah berjalan. Maklum lagi, Mas Oris nantinya yg akan mengendarai motor dari stasiun Karawang sampai Rengasdengklok dan kereta hanya akan berhenti di stasiun Karawang dalam waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah cikampek. Buku “Sekolahnya Manusia” karya Munif Chatib yg saya bawa tak mampu saya baca dengan konsentrasi sehingga saya hanya memegangnya saja sambil mendengarkan musik penyemangat di earphone.

Pukul 11 malam kami sampai di stasiun Karawang. Daerah sekitar stasiun tersebut diisi beberapa warung remang2 A.K.A Lokalisasi yg cukup terkenal di daerah Karawang dengan sebutan “Se-er” A.K.A Sisi Rel. Cukup rame nampaknya sambil diiringi musik dangdut erotis. Tanpa pikir panjang, kami masuk ke… penitipan motor dan langsung bergegas menuju Rengasdengklok. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di kediaman Mas Oris, yg merangkap juga sebagai sekre komunitas IIP Karawang, dengan selamat pada pukul 12 malam. Cheers and Good Night!