The Homeschooler

Dulu istilah homeschooling saya kenal sebagai sekolahnya anak2 yg super sibuk, artis cilik, penyanyi cilik, dll. Anak2 ‘terpilih’ itu diajar oleh guru2 privat yg datang ke rumah mereka. Dan memang inilah persepsi umum orang2 mengenai homeschooling. Padahal jika diartikan lebih luas homeschooling ini bisa berarti pendidikan (sekolah) anak di ranah rumah dan keluarganya sendiri. Yg bisa berarti pendidikan utama bagi si anak dengan orang tua sebagai guru privat utama. Saya pribadi pun baru tau tentang sudut pandang lain dari homeschooling ini beberapa waktu yg lalu.

Di zaman sekarang yg mewajibkan sekolah 9 tahun, ada komunitas yg berisi keluarga2 yg betul2 menyekolahkan anaknya di rumah, tidak di sekolah. Sistem pendidikan di sekolah dianggap tidak aman, yg memenjarakan anak2 mereka di dalam kelas, mengelompokkan yg bodoh dan yg pintar, membawa seabreg buku dan PR yg menguras pikiran, proses pengajaran guru yg tidak mengenal karakter anak, lingkungan sekolah yg terkadang destruktif, dll. Keluarga2 ini memutuskan untuk belajar bersama dengan anak2 mereka, dengan metode, ilmu, dan pembelajaran mandiri. Saya sebut ini sebagai otonomi keluarga di bidang pendidikan.

Keluarga anti-mainstream ini mau tidak mau memosisikan orang tua sebagai tauladan utama bagi anak2nya. Karena anak2 homeschooling ini berada dan berhadapan dengan orang tua mereka hampir sepanjang hari. Tidak ada sosok guru bahasa dan matematika di sekolah dan tidak ada teman2 dengan berbagai karakter lain di sekolah. Hal ini yg membuat keluarga homeschooling ini harus terus berkembang dalam ilmu dan karakter. Orang tua dan anak jadi saling mengontrol satu sama lain, saling bercermin.

Pertanyaan utama yg pasti mencuat adalah seputar bagaimana si anak bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, sertifikasi sekolah (ijazah) si anak, bagaimana mentransfer kurikulum pendidikan sekolah pada si anak, dan berbagai pertanyaan lain. Eksplorasi saya di salah satu keluarga homeschooling menyatakan jika pertanyaan2 itu hanyalah efek ketakutan akan masa depan si anak jika ia tidak bersekolah. Nyatanya adalah belajar itu bisa dimanapun dan keluarga harusnya adalah tempat sekolah inklusi terbaik bagi si anak. Nabi Muhammad pengubah zaman jahilliyah pun nyatanya tidak pernah bersekolah 😀

Kondisi rumah homeschooling yg saya singgahi cukup sederhana. Yg mencolok pada umumnya adalah tidak ada TV, yg secara fungsi diganti dengan internet dan buku2 sebagai sumber pembelajaran eksternal bagi anak2 mereka. Layaknya anak2 zaman sekarang, mereka sudah piawai menggunakan komputer untuk internetan meski masih berusia 5-6 tahun. Mbah Google, Youtube, dan situs2 permainan mendidik jadi santapan utama. Orang tua mereka tentunya lebih berperan sebagai pengawas dan fasilitator. Investasi utama dan terbesar keluarga ini nampaknya adalah buku2 cerita, buku2 pendidikan karakter, ensiklopedia, buku2 parenting, buku2 pelajaran bergambar dan bermetode kreatif, alat2 permainan edukatif, dan asupan makanan bergizi. Saya pribadi banyak belajar dari buku2 yg ada di rumah ini 😀

Anak2 homeschooling ini ternyata begitu polos. Jika ada hal2 dan kata2 yg tidak dimengerti oleh mereka, maka mereka akan langsung menanyakannya. Lingkungan keluarga ini sangat memerhatikan dan mengontrol pembicaraan di rumah mereka. Tidak ada kata2 kasar, minim kata2 larangan, minim topik2 yg tak jelas, penuh kata dan doa2 kebaikan, dan punya alur dan arah pembicaraan yg baik. Contohnya adalah penggunaan kata ‘hati2’ daripada ‘jangan’ dan ‘awas’, kalimat ‘lebih baik jika…’ daripada kalimat suruhan, mendoakan agar jadi anak sholeh daripada geraman ketika si anak ‘berulah’, hubungan sebab-akibat dalam menjelaskan sesuatu, dll. Padahal di luar sana (jika boleh membandingkan), anak2 zaman sekarang banyak yg punya kosakata hewani dalam pergaulan, bandel dalam artian negatif, udah tau pacaran dan hal2 tabu lainnya.

Pergaulan anak2 homeschooling ini memang lebih banyak terfokus dengan orang tua mereka sendiri. Teman2 sebaya dan sepermainan lebih banyak didapat dari tetangga rumah mereka. Selain itu, kebetulan jika di rumah ini setiap sore ada kegiatan les bagi anak2 berusia TK dan SD. Interaksi dan komunikasi tambahan bagi si anak didapat ketika keluarga ini pergi ke suatu tempat ataupun berekreasi. Prinsip utamanya adalah si anak perlu terus didampingi hingga usianya menginjak 12 tahun, ketika karakter dan kepribadian si anak telah terbentuk dengan baik. Proses sosialisasi si anak dengan lingkungan sekitar bisa dilakukan sejalan dengan itu. Di rumah itu, saya pribadi memosisikan diri menjadi seorang ‘om’ dan teman bagi mereka. Yah, belajar momong anak juga sih, hehe… :p

 IMG_2943

Proses pembelajaran si anak homeschooling ini lebih difokuskan pada minat dan potensi si anak itu sendiri. Inilah yg disebut sekolah inklusif. Orang tua mereka hanya menyediakan ‘ruang’ untuk merangsang minat dan potensi itu keluar, meski terkadang orang tua juga mengarahkan pada apa2 yg mungkin terbaik bagi si anak. Kekuatannya ada pada sumber ilmu di lingkungan sekitar dan perhatian penuh orang tua. Tidak ada paksaan pada si anak untuk mempelajari hal ini dan itu, tetapi terkadang ada proses reward and punishment untuk hal2 tertentu. Akhlak, ilmu agama, dan sejarah jadi salah satu yg ‘mandatory’. Sains dan teknologi itu salah satu yg ‘optional’. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang jadi jendela utama dan akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu. Si anak pun terkadang diberi ‘proyek pribadi’ dalam melaksanakan sesuatu yg bersifat edukatif dan kreatif. Mereka juga ternyata dididik agar bisa menjadi pengusaha sukses di masa depan oleh orang tuanya. Untuk menopang hal ini, ada tools bernama “Strategic Family Planning” yg merencanakan proses pembelajaran dan proyek dari setiap anggota keluarga. Dengan begitu, hal yg dinamakan dengan “kurikulum sekolah” bisa diterjemahkan menjadi “kurikulum pembelajaran yg seru, kreatif, mendidik, menyenangkan, dan menantang”. Terkait ijazah? Ga usah dipikirin, hehe… Lagian kan pemerintah menyediakan ujian persamaan 😀

Terakhir, anak2 homeschooling ini punya kebebasan waktu yg merdeka. They have their own precious time. Lucu dan menarik melihat mereka beraktivitas dan berkembang dengan bebas dan ceria. Orang tua mereka pun, terutama ibunya, mempunyai waktu yg luang untuk mendidik dan bermain bersama.

Dan saya menulis ini pun bukan untuk memprovokasi pendidikan sekolah dengan homeschooling. Saya hanya membandingkan dengan sudut pandang yg lebih universal tentang pendidikan itu sendiri. Dengan kondisi yg ada di Indonesia  sekarang ini, saya hanya bisa menyimpulkan : Make your own inclusive school or just homeschooling! 😀

Dugem Pendidikan Anak

Photo0400

Pada suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah keluarga yg tergabung di komunitas IIP (Ibu-Ibu Professional) Karawang. Memang sebelumnya saya pribadi ingin belajar ke rumah Bu Septi, pendiri komunitas IIP ini di Salatiga, tapi yah berhubung ada ‘cabang’ nya di Karawang, saya memilih ‘nyantrik’ ke tempat yg lebih dekat. Kesan pertamanya unik dan seru aja karena anak2nya semua bersekolah di rumah karena dirasa belum ada sekolah yg cukup baik di Karawang sebagai tempat pendidikan anak2nya tersebut.

Keluarga ini juga menyediakan bimbingan belajar matematika bernama “Jarimatika” untuk anak2 berusia TK dan SD. Menarik memang belajar sambil bermain bersama anak2 dengan beragam karakter dan keunikannya masing2. Ada yg pinter tapi ga mau diem, ada yg menolak untuk belajar tapi asik sendiri, ada yg usil dan ngejailin temennya, dan ada pula yg penurut. Ciri khas yg pasti adalah suasananya riang, penuh canda tawa dengan senyuman yg ‘menggoda’, polos, dan terlihat tanpa beban. Memang guru lesnya pun tidak memaksa anak untuk mau belajar dan mengerti matematika, semuanya diserahkan pada minat si anak. Katanya yg terpenting adalah komunikasi dengan orang tua si anak jika anak itu tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu, biarkan dia memilih apa yg disukainya, karena mungkin itu yg menjadi bakatnya kelak. Masalah bayaran itu murni diserahkan kepada ortu si anak, jika anaknya tidak mau belajar dalam les yah silahkan aja ga perlu bayar. Urutannya adalah minat, proses, dan manfaat. Jika sejak awal tidak ada minat dari si anak, yah kenapa harus dilanjutkan?

Photo0402

Pengalaman di atas memperlihatkan jika ada masalah dengan dunia pendidikan anak di Indonesia sekarang ini. Anak kecil kok udah dikasih les? Dan kenapa kok peminatnya banyak? Jadi kapan waktu anak itu untuk bermain sedangkan jadwal sekolah skrg yg makin padat? Kenapa pula yg memberikan les itu malahan anaknya sendiri tidak dibelajarkan di sekolah? Jaman saya TK dulu perasaan boro-boro ada les, belajar yg buat otak jelimet aja ga ada, kebanyakan dihabiskan dengan bermain. TK jaman sekarang katanya malah udah diajarin pertambahan angka puluhan. Mayoritas sekolah sekarang berlomba2 menonjolkan dirinya sebagai sekolah yg mampu menghasilkan anak2 yg pintar berhitung, membaca, penurut, dll. Apa memang tujuan pendidikan seperti itu?

Memang jaman sekarang ini kebanyakan orang tua tidak memahami bagaimana cara mendidik dan mengembangkan potensi anak sejak dini. Orang tua lebih menekan anak agar menjadi seperti yg ia inginkan. Aliran mainstream dari sekolah2 yg ada terus-menerus mendidik anak2 menjadi seperti yg sekolah itu inginkan, menciptakan hasil didikan dengan cetakan yg sama. Anak2 yg tidak dapat mengikuti bentuk cetakan itu dianggap bodoh, tidak penurut, nakal, dan dicap mempunyai masa depan yg suram. Cetakan yg dikenal sebagai kurikulum ini mendorong anak agar lebih ‘pintar’ sedini mungkin. Yg dulu biasanya diajarkan di SD sekarang jadi mulai diajarkan di TK, yg dulu biasanya diajarkan di SMP sekarang mulai diajarkan di SD. Apa memang tujuan pendidikan sekolah kini seperti itu?

Proses dari pendidikan seperti itu nampaknya menghasilkan anak2 yg mudah stress, penuh tekanan, cenderung memberontak, penuh kebingungan, dan krisis jati diri. Meskipun banyak juga anak2 yg menjadi ‘pintar’ menurut pencapaian kurikulum sekolah, tetapi banyak juga (termasuk yg dianggap pintar itu) yg kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Terbawa2 pergaulan yg destruktif lah, pelampiasan aktualisasi diri yg salah lah, pesimistis pada banyak hal termasuk dirinya sendiri, egois dan apatis pada lingkungan sekitar, dll. Jelas2 bukan suatu hasil pendidikan yg diinginkan kan?

Yang menjadi pemikiran saya saat ini adalah pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter dan akhlak yg baik bagi anak untuk kemudian mengembangkan potensi dirinya sesuai minat dan bakatnya. Dalam tujuan pendidikan seperti ini dan dalam kondisi sekarang ini, memang orang tua dan keluargalah yg mempunyai peranan paling penting. Orang tua sejatinya harus mampu menjadi seorang tauladan, panutan, teman bermain, dan belajar bagi si anak. Cetakan kurikulum pendidikannya disesuaikan pada si anak, bukan si anak yg harus mengikuti cetakan kurikulum orang tuanya ataupun sekolah2 umum yg ada. Dengan mindset seperti ini dengan disertai pengalaman dan kenyataan yg ada, yg terbersit di kepala saya adalah bagaimana menjadikan dasar pendidikan keluarga ini ke sekolah2 yg ada?

Dunia gemerlap anak2 itu sekali lagi saya katakan : sangat menarik. Saya pribadi sampai saat ini masih menyimpan sifat kekanak-kanakan di dalam diri. Karena jujur, sifat2 itu menyenangkan, apalagi ketika berhadapan dan bergaul dengan anak2 kecil. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi kolot kan? Menjadi dewasa bukan berarti merasa superior kan? Menjadi dewasa bukan berarti kita merasa mengerti hal2 di sekeliling kita berdasarkan pengalaman pribadi (bertahun-tahun) kan? Karena menjadi dewasa berarti menjadi lebih bijak, lebih peka, lebih bisa menempatkan diri, lebih bisa menghargai anak dan orang2 yg lebih muda, lebih bisa mengerti dunia anak, dan mengerti jika jaman itu ternyata terus berubah. Wallahu alam.