Titik-Titik Puzzle (5)

Pilihan hidup pasca kelulusan dari kampus adalah pilihan yg sulit sekaligus membingungkan. Jika pada pilihan-pilihan kelulusan sebelumnya bisa lebih mudah diputuskan karena ada patokan tujuan (SMP/SMA/Universitas favorit), maka pilihan setelah diwisuda sangatlah beragam dan tidak ada patokan yg jelas. Mau melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3, mencari dan melamar pekerjaan, atau berwirausaha? Kuliah di jurusan apa dan dimana? Jenis pekerjaan apa dan perusahaan seperti apa? Usaha di bidang apa dan bagaimana memulainya? Tak pelak, banyak wisudawan baru yg tidak bisa menentukan pilihannya secara mutlak, cenderung coba-coba, mengalir seperti air, atau mengikuti kemana arah angin berhembus. Tak sedikit juga yg kemudian menyesali pilihannya, bergonta-ganti pekerjaan, dan tidak bisa menikmati apa yg dia kerjakan.

Saya pribadi saat itu memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Kebutuhan akan kuliah S2 menurut saya akan disesuaikan setelahnya, apakah di bidang engineering lagi atau di bidang manajemen bisnis. Dikarenakan saya ternyata kurang menyukai dunia engineering/programming, maka saya mencari pekerjaan di bidang bisnis/manajemen. Jadilah saya mengikuti proses seleksi dan wawancara di beberapa perusahaan konsultan bisnis. Yg saya manfaatkan dari proses kuliah teknik adalah sekedar pola pikir logis-matematis, analisis problem solving, dan sedikit ilmu soft skill yg didapat dari kesibukan berorganisasi. Di salah satu proses seleksi tersebut, ternyata ada pelatihan seputar bagaimana menjadi konsultan bisnis. Ada beberapa studi kasus mengenai market sizing, business operation, dan business strategy. Di perusahaan tersebut saya berkenalan dengan Bang Leonardo Kamilius, Bang Danu Wicaksana, dan Mbak Falah Fakhriyah. Saya melihat mereka sebagai orang2 yg cerdas dan bidang konsultan yg mereka jalani sebagai dunia yg menantang dan menyenangkan. Meski saya gagal dalam proses seleksinya, saya jadi mendapatkan insight jika saya ingin dan harus mendalami dunia bisnis dan manajemen.

Sambil menunggu proses seleksi di beberapa perusahaan, saya mengambil kerja magang di PT. LEN Industri. Rasa-rasanya tidak enak menganggur setelah diwisuda dan saya pun harus mulai mendapatkan penghasilan. Beruntung hasil kerja praktek dan tugas akhir saya disana diapresiasi, sehingga saya bisa diterima magang disana dengan gaji yg lumayan besar. Jenis pekerjaan yg didapat adalah (lagi-lagi) mengenai programming. Bekerja secara professional di divisi Research and Development sebuah BUMN ternyata tidaklah mudah dan menyenangkan bagi saya. Duduk berlama-lama di depan laptop dari pagi hingga sore membuat waktu seakan melambat. Apalagi di divisi RnD itu tidak ada guidance yg jelas, karena kita sendirilah yg mencari dan membuatnya. Artinya saya bekerja atas progress yg saya buat sendiri. Jika saya sendiri tidak menyukai bidang yg dikerjakan, bagaimana saya bisa membuat progress yg baik dan menyelesaikan pekerjaan itu? Perasaan magabut pun mulai menggelayuti. Namun, dengan bantuan Mas Yanuar Yudianto, Mas Ridlo Tubagus, dan Bu Wibi akhirnya saya bisa membuat progress yg berarti selama 2 bulan saya bekerja disana.

Setelah berkali-kali mengikuti seleksi di berbagai perusahaan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai Management Trainee di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dengan nama New Employee Development Program. Sebetulnya saya tidak mengira akan diterima disini karena minim persiapan dan proses seleksinya yg terbilang lama. Harapan saya adalah saya bisa belajar tentang ilmu manajemen di perusahaan yg terkenal dengan konsep Toyota Production System dan budaya Toyota Way nya ini. Apalagi perusahaan ini bersanding bersama Astra Group, sehingga mampu meraih market share terbesar bidang permobilan di Indonesia. Saya pun kemudian ditempatkan bekerja di Karawang, di sebuah pabrik manufacturing terbesar yg terbilang baru. Inilah pengalaman pertama saya merantau dari kota kelahiran saya.

Program NEDP ini memang menawarkan pembelajaran yg banyak, mulai dari Toyota Way, TPS, Toyota Business Practice (TBP), Plan-Do-Check-Action (PDCA), A3 Report, Floor Management, dll. Disinilah saya berteman dengan Deni Arifakhroji, Subban Malik, Irvandi Permana Arga Diputra, Fajar Hadi Pratama, Devy Freshia, Hanindita Diadjeng Sunu, Glenda Enzy Viona, Dhinda Prinita Sari, Andhini Novrita, dan beberapa yg lain. Dari pelatihan ke pelatihan, sampai ke Operator Experience Program, yg akhirnya saya pun ditempatkan di Quality Control Division. Saya kemudian mengontrak sebuah rumah bersama Deni, Subban, dan Arga. Kehidupan dunia kerja yg awalnya berasa manis kemudian berubah bentuk sedikit demi sedikit. Welcome to the real world! 🙂

Jenis pekerjaan di QCD ini memang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang, berkeliling pabrik, hingga mengunjungi pabrik supplier. Saya harus mengidentifikasi masalah kecacatan pada part-part mobil, memastikan kualitas part yg dikirimkan oleh supplier, dan membuat laporan tentang hal itu. Jenis pekerjaan yg menarik karena saya bisa aktif bergerak kesana kemari dan mempelajari banyak hal. Ini pun sesuai dengan apa yg saya bayangkan ketika kuliah di Teknik Kendali. Namun, bidang yg ditekuni ternyata tidaklah sesuai dengan yg dikerjakan. Saya merasa tidak nyaman ketika harus membongkar part-part mobil, mengukur clearance dan level, berkonflik dengan supplier dan tim dari divisi lain. Jam kerja pun ternyata dari pagi hingga malam, dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Lama kelamaan saya merasa kebebasan saya terenggut, saya tidak bisa mengaktualisasikan diri secara optimal.

Di QCD ini saya berkenalan dengan Pak Hamzah Wirya Utama, Desyanti Wulandari, Faradinnita Akhsani, Mas Wahyu Priyandono, Mas Adhy Permana, Pak Isa, Pak Heru Purnomo, Pak Agus Wahyudi, Pak Maulana, Pak Herman, Dade Mukti Wijaya, dan rekan kerja yg lain. Aktivitas saya yg sering berkeliling pabrik membuat saya sering bersilaturahim dengan karyawan yg lain. Saya pun banyak belajar dari sosok Pak Hamzah, partner kerja sekaligus ‘ayah kedua’ saya. Idealisme yg mulai terkubur akhirnya muncul kembali setelah sering mengobrol ngalor ngidul dengan beliau. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, pertanian, budaya, sampai nasionalisme. Ditambah dengan kedatangan Jaya di QCD, keinginan berwirausaha saya pun mengkristal. Petualangan mencari ide usaha yg pas di Karawang pun dimulai…

Kakek Hakimi : Semangat Seorang Pendidik (Bagian 2)

Kakek Hakimi Basis 10

Kegiatan ‘nyantrik’ di kediaman Kakek Hakimi pada malam itu dilanjutkan dengan obrolan santai mengenai dunia pendidikan. Kakek pernah menjadi seorang Kepala Sekolah dan kemudian pensiun dini karena merasa ada banyak hal yg bertentangan dengan dirinya. Kurikulum, metode pengajaran, permasalahan guru, dan lain2. Hal2 semacam ini merupakan sesuatu yg sulit untuk diubah. Dan pengalaman saya pribadi, bekerja dalam lingkungan sistem yg tidak sesuai dengan hati nurani itu sungguh menyiksa. Di satu sisi mencoba berkompromi dengan keadaan, di satu sisi tidak mau terwarnai dengan keadaan tersebut, dan tidak banyak pula yg bisa diperbuat untuk mengubahnya.

Salah satunya adalah mengenai kebanyakan guru yg hanya sebagai profesi mencari uang. Contoh ekstrimnya : datang masuk kelas, nyuruh buka LKS, kerjain dari halaman sekian hingga sekian, dan kemudian diam atau pergi keluar. Atau : nyuruh buka buku halaman sekian, menyuruh salah seorang muridnya membaca keras2, dan kemudian sekedar bertanya : mengerti anak2? Semua parameter keberhasilan mengacu kepada kurikulum dan metode pengajarannya pun tidak banyak berubah. Kebanyakan guru di Indonesia ini memang ‘kaku’ dan cenderung tidak mau belajar kembali. Ketika ada metode yg baru dan berbeda, mereka cenderung menolak dengan alasan telah terbiasa dengan metode yg lama. Jika ada sertifikasi, barulah mereka bersemangat mengikutinya karena hal ini akan berefek pada meningkatnya penghasilan mereka. Tapi, ini pun tidak serta merta mengubah karakter dan metode guru tersebut menjadi lebih baik, karena jika tidak ada follow-up, maka sertifikasi ini hanyalah sebuah kertas. Seharusnya adalah guru yg memang sebelumnya baik dan berprestasi lah yg berhak mendapatkan sertifikasi ini.

Ketika Kakek Hakimi mengajar matematika dengan metode Basis 10 di rumahnya, setiap anak itu akan mempunyai metode berhitung yg berbeda dengan yg diajarkan di sekolah. Maka ketika anak tersebut berada di sekolah, dia pun menjadi bingung karena gurunya menyuruh dia untuk berhitung menggunakan jari seperti biasa. Gurunya menolak untuk mengadopsi cara si anak berhitung, meskipun sama2 benar. Saya pribadi menilai jika metode Basis 10 lebih baik dan lebih cepat dibandingkan harus menghitung satu per satu jari. Orang tua si anak pun jadinya protes jika metode yg diajarkan Kakek tidak sesuai dgn yg diajarkan di sekolah. Jika terjadi kasus seperti ini, Kakek lebih memilih untuk berhenti mengajar pada anak tersebut agar si anak tidak merasa bingung dan lebih tertekan.

Kata Kakek, pernah ada kejadian anak didikannya memberikan hasil pengerjaan berhitung kepada gurunya sambil berkata, “Ini nilai saya 10 yah Pak, tolong jangan salah memeriksa”. Sontak gurunya kaget, ada anak yg berani dan yakin akan kebenaran jawabannya, meski baginya perkataan si anak itu cenderung kurang sopan. Di sisi kejadian lain, pernah ada anak SD kelas 6  dan SMP yg masih tidak bisa berhitung dengan benar. Setiap ada persoalan berhitung, dia masih harus menggunakan jarinya satu per satu. Bagaimana anak2 semacam ini bisa bertahan di sekolah? Padahal biasanya si anak akan dipaksa terus maju ke jenjang materi yg lebih sulit. Kakek akan menggunakan metode maju selangkah mundur selangkah untuk anak semacam ini. Mundur untuk bergerak maju, yaitu dengan cara mengubah cara berhitung si anak meski dia harus mengulang materi pelajaran matematikanya dari SD kelas 1 atau 2. Jika ‘pondasi’ si anak sudah kokoh, barulah dia bisa melanjutkan ke materi selanjutnya.

Kakek Hakimi pun terkadang mengajak anak didikannya untuk belajar dan bermain di luar kelas. Dengan suatu soal dan metode kreatif, anak2 bisa belajar dari apa yg dilihat dan dirasakannya dari sekeliling dari pagi hingga menjelang sore hari. Secara sekilas pun Kakek dapat menghargai orang di sekitarnya, meskipun orang itu jauh lebih muda. Ketika sesi sharing bersama kami, beliau tidak akan merokok sebelum meminta izin kepada kami. Dan tentunya karena kami pun keberatan, Kakek menahan keinginannya untuk merokok hingga larut malam ketika beliau bisa sendirian di teras rumah yg terbuka.

Melalui akun facebook-nya, Kakek sering mem-posting mengenai metode matematika Basis 10, kritik sosial, puisi, ataupun sekedar bahan tertawaan. Ketika berjalan kemana2, Kakek terkadang memerankan tokoh yg berbeda dari dirinya sendiri, terutama jika beliau baru pertama kali ke daerah tersebut. Pernah ketika Kakek pergi ke Bandung, beliau pura2 menjadi orang yg gagu agar bisa sampai ke tempat yg ingin ditujunya. Alasannya adalah orang lain akan lebih merespon dirinya dan menunjukkan arah yg detail dibanding ketika Kakek bertanya suatu alamat dgn ucapan yg lancar. Patut dicoba deh, hehe…

Kakek Hakimi memang mempunyai mimpi untuk memperkenalkan dan mengembangkan metode matematika Basis 10 ini ke khalayak luas. Pernah ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan tim Indonesia Mengajar, Kakek meminta untuk menjadi salah seorang fasilitatornya. Namun, karena persyaratan untuk menjadi fasilitator adalah berpendidikan S1, Kakek jadinya tidak bisa melaksanakan niatnya itu. Sehingga kini, Kakek Hakimi pun sedang giat untuk mengajarkan metode matematika Basis 10 ini pada mahasiswa dan lulusan S1, termasuk saya. Harapannya adalah dengan begitu, metode ini bisa diajarkan dan tersebar dengan lebih luas. Sebetulnya kami pun berencana untuk melaksanakan seminar dan workshop untuk menyebarluaskan metode ini kepada guru dan orang tua khususnya di Karawang.

Sesi ‘nyantrik’ bersama Kakek Hakimi pada malam itu selesai sekitar pukul 12 malam. Pada saat itu pun, Kakek masih asik di depan komputernya. Kakek ternyata memang masih terbiasa tidur larut malam. Ini menunjukkan staminanya yg masih ‘muda’. Keesokan harinya, agenda Kakek pun ternyata cukup padat. Setiap hari Kakek masih terus mengajar anak2 dari berbagai tingkatan, berkunjung ke suatu tempat, bertemu dengan orang2 baru, dan menjadi guru tamu di beberapa sekolahan. Luar biasa, semangat seorang pendidik masih tertanam dengan kuat di dalam diri Kakek Hakimi. Semoga semangat dan perjuangannya mampu menjadi inspirasi dan lecutan untuk bergerak menjadi lebih baik bagi generasi muda Indonesia sekarang ini. Aamiin.

Kakek Hakimi Musik

Membangun Semangat Kewirausahaan Sosial

Photo0407

Seminar dan workshop yg saya ikuti pada cerita perjalanan sebelumnya adalah mengenai kewirausahaan sosial. Judul lengkapnya Revitalisasi Potensi Masyarakat Indonesia melalui Social Enterprise. Tema dan judul ini saya minati karena memang terkait salah satu impian dan aktivitas saya sekarang. Pembicaranya sendiri adalah seorang praktisi dan akademisi. Lengkap karena beramal harus dengan ilmu dan ilmu harus diamalkan.

Pembicara pertama yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan SMIH dan TNYI memaparkan penjelasan mengenai peranan sosial enterprise dalam lingkup sosial, bisnis, dan pemerintah. Dikatakan jika sosial enterprise mampu menyatukan semua elemen itu dalam kesatuan yg utuh. Sosial enterprise mampu memberdayakan dan memperbaiki masyarakat dengan memecahkan permasalahan sosial dengan kegiatan bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan bisnis yg dilakukan tentunya diutamakan yg berbasiskan potensi lokal masyarakat tersebut. Pak Zulfikar menemukan masalah yg hampir sama ketika beliau berkunjung ke beberapa daerah, terutama di pedesaaan : masyarakat di sana tidak mau mandiri dan bermental pengemis. Artinya mereka sebetulnya mempunyai potensi, namun enggan atau tidak tau bagaimana mengembangkannya dan hanya bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah atau lembaga lainnya.

Metode Pak Zulfikar dalam menghadapi permasalahan masyarakat seperti ini adalah memaparkan kenyataan yg terjadi. Beliau memisalkan jika setiap orang di daerah itu menyisihkan sedikitnya 25 ribu sebulan untuk proses perbaikan daerahnya, maka dalam beberapa bulan saja sudah dapat terkumpul dana puluhan hingga ratusan juta. Dana sebesar ini nantinya bisa dipakai untuk memperbaiki fasilitas publik dan mengembangkan usaha daerah tersebut. Beliau juga menjanjikan akan meminjamkan dana sampai 60% dari jumlah dana yg dibutuhkan ketika masyarakat telah mampu mengumpulkan 40% di awal. Ketika dana tersebut dipakai untuk usaha, maka masyarakat akan menerima bagi hasil hingga 80% dari keuntungan. Selain itu, beliau menyisipkan unsur surprise di tengah2 ketika proses usaha berlangsung baik dengan memberikan hibah 50%, artinya masyarakat hanya perlu mengembalikan 50% dari pinjaman yg diberikan.

Metode Pak Zulfikar ini mengajarkan kemandirian dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat yg akan dibantunya. Masyarakat akan merasa memiliki usaha yg dijalankannya bersama karena ada uang mereka di dalamnya. Berbeda ketika dana pemerintah yg murni hibah dan tanpa pengawasan diberikan. Selain itu, reward yg diberikan tentunya akan memacu masyarakat untuk berusaha lebih baik lagi. Namun, metode ini dapat terlaksana dengan baik apabila adanya pendampingan dan ketegasan dari pihak yg akan membantu proses pengembangan kewirausahaan sosial ini. Pendampingan harusnya dilakukan intensif selama beberapa bulan di awal, artinya fasilitator tinggal bersama masyarakat tersebut dan membaur, tidak pulang pergi dan hanya mendampingi sebulan sekali. Ketegasan diperlukan ketika masyarakat memberontak dan memprotes proses yg ada. Tampilkan 3 hal utama yaitu fasilitator tidak melakukan kebohongan (dengan bukti rekening usaha, aliran dana, dll.), tidak menyakiti masyarakat setempat, dan tunjukkan perubahan yg terjadi ketika proses kewirausahaan sosial berlangsung.

Pembicara kedua, yaitu Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB menjelaskan mengenai proses dan pola pikir kewirausahaan sosial. Potensi lokal masyarakat sesungguhnya sangat besar dan bisa dikembangkan dengan proses kewirausahaan sosial. Hal ini karena kewirausahaan sosial bukanlah profit-oriented, melainkan benefit-oriented. Jika ada manfaat yg bisa dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, maka dengan sendirinya keuntungan materi bisa didapatkan. Prinsipnya adalah tidak takut, tidak menunda2, dan tidak ada yg tidak mungkin. Selain itu, kewirausahaan sosial membutuhkan 3N, yaitu Niat, Naluri, dan Nurani. Niat baik untuk membantu masyarakat, naluri untuk mengembangkan usaha masyarakat, dan nurani untuk bisa peduli pada kondisi sosial masyarakat.

Pembicara ketiga, yaitu Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Sosial Bisnis Dompet Dhuafa memaparkan fakta2 mengenai kewirausahaan dan kapitalisme yg kini berlangsung di dunia. Cara pemaparan beliau yg ‘nyeleneh’ memotivasi dan mengundang tawa dari para peserta. Sepatu merek terkenal di dunia Made in Indonesia berharga jutaan rupiah dibuat oleh buruh Indonesia dengan gaji 5 ribuan per hari. Seorang pegolf terkenal mendapatkan loyalty milyaran rupiah ketika mengiklankan sebuah produk olahraga sedangkan buruh yg membuat produk itu digaji hanya ribuan rupiah per hari. Ironis dan menyakitkan memang. Oleh karena itu, kewirausahaan sosial hadir untuk memberikan pembagian keuntungan yg lebih adil. Beliau mencontohkan sebuah kampung batik di Jawa Tengah yg menggaji pembatiknya jutaan rupiah dari setiap batik yg dihasilkannya. Beliau juga menyatakan jika pengusaha itu dibentuk bukan dilahirkan, bagaikan proses pembuatan semangka kotak yg dijual sangat mahal. Meski prosesnya menyakitkan, tetapi prosesnya itulah yg membentuk seorang pengusaha menjadi pribadi yg tangguh dan mempesona.

Di akhir sesi seminar, Pak Zulfikar Alimuddin menunjukkan sebuah video yg inspirational. Video mengenai seorang anak kecil yg mampu membuat perubahan. Video tersebut bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=GPeeZ6viNgY

Photo0408

 

Pada sesi workshop atau Focus Group Discussion, rekan saya mengambil topik mengenai permodalan rakyat untuk keseimbangan ekonomi sedangkan saya mengambil topik pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan platform kolaborasi. FGD yg saya ikuti difasilitasi oleh Mas Adhita, seorang mahasiswa S2 jurusan Teknologi Industri Pangan UGM yg telah beberapa kali menyabet juara lomba kewirausahaan. Beliau mengembangkan budidaya lele kolam kering di daerah Gunung Kidul. Kini aktivitas beliau sedang berusaha meng-ekspor kerajinan rotan dan bambu ke negara Turki.

Pada awal FGD ini, Mas Adhita mempersilahkan beberapa peserta untuk menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Ada yg bercerita mengenai niatnya yg ingin membuat supplier sayuran dan pangan organik di daerah Kalimantan dan ada yg bercerita mengenai pengalamannya bekerja di forwarding company dan niatnya untuk mengembangkan usaha di daerahnya sendiri. Saya pribadi ikut menceritakan pergerakan saya bersama rekan2 di yayasan Sadamekar yg meliputi pendidikan, koperasi, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Dari contoh2 kasus ini, Mas Adhita memaparkan proses kewirausahaan sosial yg umum terjadi. Ada Smart Small Farmer di Thailand yg mampu mengolah berbagai jenis sayuran dan buah2an dalam skala industri. Mulai dari pemberian bibit, pengolahan lahan, pemanenan, proses grading, pengemasan, dan distribusi ke berbagai daerah. Uniknya adalah meski semua bibit dan lahan adalah milik perusahaan, tetapi petani disana tetap memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan yg kuat terhadap usaha yg dijalankan. Prosesnya pun melibatkan aplikasi teknologi yg mumpuni, salah satunya adalah indikator yg mampu menunjukkan jika suatu sayuran telah kadaluarsa dalam kemasan. Grade A (terbaik) akan dikirimkan ke Eropa, Grade B dikirimkan ke Amerika, Jepang, China, dan negara lain yg setara, Grade C dipakai di lingkungan dan negara sendiri, dan tragisnya Grade D (terburuk) akan dikirimkan ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

Mas Adhita kemudian memberikan skema umum yg sering digunakan dalam proses kewirausahaan sosial di Indonesia, yaitu dengan mengembangkan koperasi dan usaha berbasis potensi lokal. Proses awal terbaik adalah dengan melihat pasar dan menariknya hingga ke hulu, dari demand sampai ke supply. Beliau menjelaskan mengenai Porter Five Forces, market size dan market share, proses pendistribusian yg melibatkan promosi, prinsip Total Quality Management (TQM), pembuatan Demonstration Plot (Demplot), penguatan produksi dan pengolahan, prinsip Plan-Do-Check-Action (PDCA), dan kegiatan Kaizen (Continous Improvement). Ini semua mengingatkan saya pada tempat kerja, pelatihan bisnis, dan proses kewirausahaan sosial yg sedang dilakukan.

Setelah semua pemaparan itu dijelaskan, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk merumuskan suatu contoh nyata bagaimana langkah2 membuat kewirausahaan sosial dan skemanya. Kelompok saya memilih untuk memikirkan solusi kewirausahaan sosial untuk menanggulangi alih fungsi lahan pertanian dan alih profesi dari para petani. Langkah2nya kami sesuaikan dengan prinsip Toyota Business Practices (TBP) yg sempat saya pelajari ketika bekerja sedangkan skemanya kami sesuaikan dengan pendekatan prinsip koperasi, kesejahteraan petani, dan pemotongan jalur distribusi. Setelah semua kelompok sedikit mempresentasikan hasil diskusinya, kami pun mengikuti acara penutupan yg berlangsung di auditorium utama.

Hmm… that’s all. Itu yg bisa saya ceritakan pada kesempatan mengikuti seminar kewirausahaan sosial dari psikologi UI dan Sosial Entrepreneur Academy (SEA) Dompet Dhuafa ini. Yg saya yakini adalah kewirausahaan sosial ini dapat menjadi solusi untuk melawan kapitalisme global, memeratakan kesejahteraan, dan menyelesaikan beberapa permasalahan pelik di Indonesia ini. Dan saya yakin pula jika semakin banyak pemuda dan komunitas yg bermimpi, bersatu, dan bergerak bersama mewujudkan tujuan mulia dari kewirausahaan sosial ini. Aamiin.

Perjalanan Menarik Karawang-Bekasi-Depok (Edisi Kewirausahaan Sosial)

Sabtu dini hari saya berdua bersama Mas Oris bersiap2 untuk berangkat ke Depok dari Rengasdengklok Karawang. Dengan modal niat dan info rute, kami berangkat memakai motor dan dilanjutkan dengan naik kereta, Kami berencana mengikuti sebuah seminar kewirausahaan sosial di kampus psikologi UI yg dimulai jam 8.30. Alhamdulillah pas sampai stasiun kereta Karawang, kami berhasil mendapatkan 2 tiket terakhir yg tersedia. Mungkin jika telat 10 detik saja, kami tidak akan mendapatkan tiket itu dan entah bagaimana kami akan ke Depok. Dan sesuai prasangka, kami harus menunggu kereta yg telat datang beberapa saat. Meski weekend ternyata KRD ke arah Jakarta ini tetap penuh dan kami terpaksa harus berdiri dekat pintu keluar di samping toilet kereta yg bau pesing. Keterpaksaan ini juga akibat kami tak mau kelewatan turun di stasiun Bekasi.

Sesampainya di stasiun Bekasi, saya dengan bodohnya melangkah keluar dengan kaki kanan saat kereta masih berjalan pelan. Kaki saya terseret dan hampir saja terjatuh. Seketika teringat beberapa cerita orang yg meninggal akibat ‘salah kaki’ ini saat turun dari kendaraan yg masih berjalan. Ada yg meninggal akibat gegar otak dan ada yg meninggal karena langsung tergilas (GLEG!). Sesuai info rute yg diberikan, kami harus melanjutkan perjalanan menggunakan commuter line dari stasiun bekasi ke arah depok dan turun di stasiun UI. Karena pertama kali juga kami menaiki commuter line, kami agak kikuk ketika menggunakan kartu sebagai tiket masuk. First impression nya adalah commuter line ini cukup nyaman dengan boots yg menggantung di pegangan tangan kereta. Unik juga nih strategi promosi dari AP Boots, hehe…

Setelah melihat info rute commuter line, ternyata kami harus transit dulu di Manggarai untuk selanjutnya menaiki commuter line lain yg ke arah Depok. Sepanjang perjalanan, kami berdua asik ngobrol mengenai pengalaman Mas Oris membesarkan usaha franchise “Jarimatika” Bu Septi miliknya dan bagaimana pengalaman beliau di Jepang saat menaiki kereta. Meski terus berdiri semenjak naik KRD sampai commuter line dan tiba di stasiun UI, kami tetap menikmati perjalanan dengan mengobrol mengenai hal2 tersebut.

Setibanya di stasiun UI, kami bingung juga apakah kartu tiket harus dikembalikan atau tidak. Dengan jaimnya kami tidak bertanya dan hanya melihat penumpang lain yg keluar. Oh, ternyata setiap penumpang tetap memiliki kartu ini di tangannya. Pertanyaan selanjutnya yg ada di benak kami adalah apakah kami tak harus bayar lagi ketika nanti melakukan perjalanan pulang? Karena kami menganggap harga tiketnya terlalu mahal untuk sekali perjalanan, yakni 19 ribu untuk berdua, jika dibandingkan dengan KRD yg hanya 5 ribu berdua. Haha… so opportunist. Untuk menuju kampus psikologi UI, kami harus berjalan dan bertanya pada beberapa orang di sekitar. Kami melewati jurusan studi sastra Jepang, FISIP, dan kemudian sampai juga di psikologi. Mas Oris memikirkan potensi beliau membuka les bahasa Jepang sedangkan saya memikirkan betapa besarnya kampus UI ini dibandingkan kampus saya di Bandung dulu (maklum ga pernah studi banding kesini, hehe). Yg kompak kami pikirkan adalah banyaknya mobil yg diparkir di FISIP, apa karena banyak anak pejabat yg belajar ilmu politik yah? Hehe…

Sebelum sampai di auditorium psikologi UI, kami bertemu salah seorang peserta seminar lain yg sama2 kebingungan. Ternyata beliau undangan dari Dompet Dhuafa Volunteer, sebuah komunitas relawan pergerakan dari salah satu lembaga zakat di Indonesia. Tak dinyana ternyata kami bertiga menjadi peserta pertama yg hadir di seminar kewirausahaan sosial ini. Ruangan yg dingin membuat saya dan Mas Oris tak melepaskan jaket yg dikenakan sebelumnya. Dengan semangat dan percaya diri kami berdua duduk di kursi paling depan, yg nantinya sebaris dengan para pembicara di seminar ini. Sudah jadi kebiasaan mayoritas orang Indonesia, peserta lain malah memilih kursi yg lebih di belakang ataupun di pojok. Pengalaman semangat orang Jepang dari Mas Oris lah yg membuat kami berdua untuk memilih di kursi paling depan.

Sesi seminar berlangsung hingga pukul 12 siang yg diisi oleh ketiga pembicara utama, yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan Semangat Membangun Indonesia Hebat (SMIH), Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB, dan Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Socio Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa. Setelah sesi seminar, acara dilanjutkan dengan break makan siang dan sholat dzuhur. Sesi kedua materi dilanjutkan dengan Focus Group Discussion yg dibagi menjadi 4 ruangan dengan 4 topik yg berbeda. Saya dan Mas Oris memilih ruangan yg berbeda agar kami mendapatkan 2 topik berbeda yg kami minati, meski kami harus tidak mengikuti pembagian ruangan yg dibuat panitia. Sori yak kami tidak mau ditempatkan di ruangan yg sama dengan topik yg tidak kami minati dan kami pikir aturan pembagian ini tidak sepenuhnya mengikat, hehe…

Sepanjang sesi seminar dan FGD, kami dengan PD-nya SKSD dengan para pembicara dan tokoh2 penting yg hadir di acara. Maklum, selain ingin mendapatkan ilmu yg bermanfaat, kami juga ingin memperluas networking kami di bidang kewirausahaan sosial. Ada praktisi, akademisi, provokator, relawan, komunitas, dan beberapa yayasan yg mengikuti acara ini dan bergerak di bidang ini. Dengan berbekal profil dari yayasan “Sadamekar” yg kami bawa, kami berkenalan dengan mereka dan sedikit memperkenalkan yayasan ini. Semoga saja di lain kesempatan kami bisa berkolaborasi dengan mereka dalam mengembangkan kewirausahaan sosial di Karawang dan di Indonesia.

Sesi FGD selesai pada pukul 4 sore dan dilanjutkan dengan sesi penutupan acara. Karena kami tidak mengharapkan doorprize, jadinya kami pun tidak mendapatkannya. Padahal mah sih pengen, tapi menurut mitos yg beredar klo ga berharap malah nantinya yg akan dapet, jadinya kami memilih untuk tidak berharap, haha… Setelah semua rangkaian acara selesai, kami bergegas kembali ke stasiun UI karena hari telah menjelang sore dan kami pun tak mengerti jadwal terakhir keberangkatan dari commuter line dan KRD. Pertanyaan kami mengenai kartu tiket pun terjawab : kami harus membayar lagi untuk perjalanan pulang, tetapi dengan harga 8 ribu berdua. Oh, ternyata kami harus membayar lebih mahal di awal untuk biaya jaminan kartu sebesar 5 ribu. Bodohnya kami adalah hal itu ternyata tertera di struk pembelian tiket -__-

Sempat nyasar ke arah Jakarta Kota, kami akhirnya sampai di stasiun Bekasi pada sekitar pukul 6 sore. Tragisnya adalah tiket KRD untuk keberangkatan jam 7 telah habis terjual dan kereta selanjutnya baru berangkat jam 9 malam (di jadwal, tak tau kenyataannya). Niat jahat kami muncul untuk kembali masuk ke stasiun menggunakan kartu tiket commuter line dan memaksa masuk ke KRD meski tak punya tiket. Ah, paling kena denda doang, pikir kami. Tapi setelah dipikir2 lagi, niat jahat itu kami urungkan. Kemudian prasangka buruk kami muncul ketika kami akan memilih untuk naik angkot dan elf ke Karawang karena pengalaman kami diturunkan in the middle of somewhere and must pay twice and the long time we must take because of “ngetem”. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu KRD jam 9 malam saja sambil istirahat dan sholat maghrib dan isya.

Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah warteg pinggiran. Ketika kami menyantap soto ayam, datanglah seorang bencong dengan pakaian aduhai menyanyi mendekati kami. Dengan sedikit menoleh untuk menolak memberi sumbangan, kami harus tetap menjaga selera makan kami. Waktu baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika kami bisa membeli tiket KRD untuk pulang. Itu artinya kami harus menunggu 1,5 jam plus+plus di stasiun. Huft, pekerjaan menunggu yg cukup berat sepertinya. Di saat menunggu itu kami habiskan dengan mengobrol mengenai beberapa hal. Mencuat suatu “hot topic” ketika seorang single berhadapan dengan seorang lelaki beristri satu beranak tiga. You know what I mean lah yah, haha…

Di selang pembicaraan seru itu, kami melihat bencong yg kami lihat di warteg berjalan di pinggir rel diikuti seorang pria. Prasangka buruk kami langsung mencuat, apa yg akan mereka lakukan dalam kegelapan? Niat kami untuk mengikuti mereka berdua akhirnya kami urungkan karena takut melihat sesuatu yg tak ingin kami bayangkan… Setelah beberapa saat, bencong tersebut kami lihat kembali ke stasiun dengan wig yg telah dilepas dan pakaian yg telah berganti. Ow…ow…ow… ga usah dipikirin lagi lah yah, mungkin dia memang sekedar menyelesaikan pekerjaan mengemisnya dengan mengganti kepribadian.

Sesuai yg kami perkirakan meski tidak eksak betul, 1,5 jam plus+plus menunggu itu berarti 2,5 jam. Setengah jam terakhir, perbincangan kami ditemani seorang supir truk yg baru pulang bekerja. Bapak beliau ternyata dulunya adalah seorang petugas PT. KA dan beliau pun menyatakan jika praktek KKN telah berlangsung lama di tubuh BUMN semacam ini. Sigh… kami hanya bisa geleng2 kepala mendengarkan sebuah rahasia umum tersebut. Setelah KRD tiba di stasiun, kami langsung bergegas masuk agar bisa duduk di kursi kereta. Maklum, stamina kami telah cukup terkuras dan kami pun cukup mengantuk. Mas Oris meminta ijin untuk tidur dan meminta saya untuk tetap bangun dan memeriksa sampai mana kereta telah berjalan. Maklum lagi, Mas Oris nantinya yg akan mengendarai motor dari stasiun Karawang sampai Rengasdengklok dan kereta hanya akan berhenti di stasiun Karawang dalam waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah cikampek. Buku “Sekolahnya Manusia” karya Munif Chatib yg saya bawa tak mampu saya baca dengan konsentrasi sehingga saya hanya memegangnya saja sambil mendengarkan musik penyemangat di earphone.

Pukul 11 malam kami sampai di stasiun Karawang. Daerah sekitar stasiun tersebut diisi beberapa warung remang2 A.K.A Lokalisasi yg cukup terkenal di daerah Karawang dengan sebutan “Se-er” A.K.A Sisi Rel. Cukup rame nampaknya sambil diiringi musik dangdut erotis. Tanpa pikir panjang, kami masuk ke… penitipan motor dan langsung bergegas menuju Rengasdengklok. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di kediaman Mas Oris, yg merangkap juga sebagai sekre komunitas IIP Karawang, dengan selamat pada pukul 12 malam. Cheers and Good Night!