Titik-Titik Puzzle (6)

Karawang dikenal dengan sumber daya pertaniannya yg besar, ditandai oleh luasnya hamparan sawah yg ada. Namun, invasi industri asing dan menjamurnya perumahan membuat lahan hijau tersebut semakin terhimpit. Pertama kali datang kesini, saya menyangka Karawang adalah kota yg kecil karena jalan utama yg saya lalui terkesan itu-itu saja. Padahal ternyata begitu banyak pedesaan yg lokasinya tidak dilalui jalan utama dengan sarana angkutan umum yg minim. Ini yg menginspirasi saya dan Jaya untuk merintis usaha agribisnis disini, sekaligus berusaha mempertahankan lahan sawah yg ada dan mengembangkan potensi lokal.

Jaya yg memang asli Karawang mengajak saya untuk berkunjung ke sebuah kumbung jamur merang milik Mas Santo. Kemudian beliau mereferensikan kami kepada seseorang bernama Pak Misa Suwarsa jika ingin belajar mengenai usaha budidaya jamur merang ini. Kami pun berangkat menemuinya dan ternyata beliau memang membuka pelatihan budidaya jamur merang selama 5 hari dengan biaya 3 juta rupiah. Sosok dan cerita yg beliau sampaikan begitu menarik perhatian kami sehingga saya pun memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Jamur merang yg memanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami dan limbah kapuk sebagai bahan baku utama, ternyata memiliki nilai jual yg tinggi dengan pasar yg masih luas. Proses produksi yg terlihat sederhana dengan menggunakan lahan yg kecil membuat kami berpikir jika usaha ini bisa diaplikasikan bersama masyarakat/petani sekitar untuk meningkatkan penghasilan dan produktivitas mereka.

Semangat kewirausahaan sosial yg dulu sempat membara akhirnya mengkristal menjadi sebuah keputusan resign dari tempat saya bekerja di Toyota. Proses resign ini terbilang cepat dan mendadak karena saya baru bekerja selama 6 bulan tanpa pemberitahuan one-month-notice. Caranya pun terkesan arogan dan berlebihan. Saya dengan terang-terangan mengirim email pengunduran diri ke berbagai divisi terkait pekerjaan saya dan mengumumkan diri di rapat ‘Asakai’ yg dihadiri beberapa pimpinan perusahaan. Selain itu, saya pun berkeliling pabrik untuk sekedar memoto orang2 yg pernah saya kenal disana, sekalian berpamitan dengan mereka. Emosi yg meletup-letup dan semangat nasionalisme menguasai diri saya saat itu. Berbagai respon pun saya dapatkan, yg tentunya berisi pro dan kontra. Seakan-akan saya menegaskan jika alumni almamater saya itu “tak bisa dipegang” dan “kutu loncat”. Rasa penyesalan yg kemudian menyeruak coba saya konversi menjadi jangkar untuk memacu perjalanan berikutnya.

Saya pun mendapatkan email dari seorang teman untuk mengikuti perlombaan business plan di Prasetiya Mulya Business School. Selain bisa mengikuti proses karantina selama seminggu disana, hadiah utamanya adalah berupa beasiswa S2 Manajemen Bisnis full. Selain itu, ada juga seleksi pelatihan Majelis Mujahid Bisnis dari Kang Rendy Saputra selama 12 kali pertemuan. Gayung pun bersambut. Rencana awal untuk belajar ilmu bisnis pun bisa terlaksana. Ilmu manajemen ala Toyota dan ilmu budidaya jamur merang akan berasa lengkap. Keputusan saya pun akhirnya semakin membulat.

Keputusan resign dari pekerjaan yg mapan tentunya ditentang oleh orang tua saya. Apalagi pilihan setelahnya adalah menjadi seorang petani jamur. Ini bukan berputar arah, tetapi memang terjun bebas. Begitu sulit memang meyakinkan orang tua dengan keputusan ini. Yg bisa saya tawarkan di awal adalah sebuah perjanjian : “Jika dalam waktu 6 bulan ke depan setelah resign kehidupan saya tidak membaik, maka saya akan mencari pekerjaan di perusahaan kembali”. Selain itu, saya pun mengiming-imingi dengan perlombaan bisnis yg akan saya ikuti. Mungkin saja kan saya bisa menang beasiswa S2, hehe…

Pelatihan budidaya jamur merang yg saya ikuti pun dimulai. Disana saya berkenalan dengan Pak Ade dan Pak Koko dari BPPT, Mas Tono dari Sragen, dan seorang kakek-kakek yg berasal dari Medan. Wuih, keren juga kan peserta pelatihannya dari mana-mana. Proses budidaya yg dimulai dari pengomposan hingga panen pun saya pelajari. Bau komposan yg menyengat hidung, panasnya kumbung yg menyesakkan dada, dan beratnya proses produksi ala petani yg menggunakan bahan baku hingga 1 ton lebih. Wow, sungguh menantang bagi saya pribadi yg memang jarang melakukan pekerjaan seberat itu.

Untuk memulai usaha budidaya jamur merang ini, saya pun berdiskusi dengan Jaya yg saat itu masih berseragam Toyota. Kami mengambil keputusan untuk menggunakan sisa gaji yg ada untuk membangun 1 kumbung lengkap dengan sarana tambahannya dan biaya 1 kali produksi awal. Untuk lokasinya, kami mengontrak sebuah lahan di dekat rumah Pak Misa agar kami bisa sering berkonsultasi dengan beliau. Semangat optimisme pun membara. Setelah semua perlengkapan dibeli, kumbung tegak berdiri, kami berdua pun melakukan proses produksiya sendiri. Ternyata luar biasa berat. Jerami kering yg cukup tajam, air komposan yg tak sedap, panasnya terik matahari, dan beratnya beban yg diangkat membuat kami tersiksa. Perjuangan awal menjadi seorang petani memang tak mudah sama sekali.

Dalam suatu kesempatan, kami berdua berdiskusi di sebuah angkringan malam mengenai mimpi dan apa yg ingin dilakukan ke depan. Perbincangannya begitu bebas, mulai dari bisnis yg akan dibangun, perekonomian, pendidikan, kegiatan sosial, sampai gerakan perubahan. Pada dini harinya, saya mengkristalkan itu semua menjadi sebuah tulisan berjudul “8 Mimpi Besar” pada sebuah buku. Itulah momen dimana saya merasakan semangat yg begitu besar, menggelora di dalam dada, dan menggoyangkan bulu kuduk. Mungkin inilah yg disebut proposal hidup. Dan inilah yg akan menjadi bahan bakar utama saya dalam mengarungi kehidupan. Unbelievable, sungguh sensasi yg luar biasa.

Dengan proposal hidup ini juga, saya kembali mencoba meyakinkan kedua orang tua saya. Beruntung ada salah satu anggota keluarga besar yg dituakan, yg percaya kepada saya, dan membantu saya meyakinkan. Meski orang tua saya tidak sepenuhnya mendukung, tetapi setidaknya hati mereka mulai luruh. Karena bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridho Allah juga. Maka jadilah saya kembali berkuliah di “Universitas Kehidupan”, sebuah proses pembelajaran tiada henti yg seringkali menghadirkan kebetulan-kebetulan yg nyata, yg blueprint dan kurikulumnya telah diatur oleh-Nya. Setiap proses dan kepingannya begitu membekas dalam pikiran. Subhanallah…

Strategi Bisnis (Just share)

Gambar

Strategi bisnis itu konsep strategi bisnis yg paling mendasar, selain dari marketing, operation, human resource, dan finance. Strategi bisnis itu secara overview meliputi definisi, visi, misi, value, strategi bersaing, tujuan, SWOT (di sini ane pake Porter Five Forces). Definisi strategi bisnis sendiri harus terdiri dr 3 aspek utama : produk, pasar/konsumen, dan nilai/manfaat.

Produk yg kyk kita ketahui dibagi jadi : barang/jasa, jadi/setengah jadi/ mentah, fungsional/spesifik.  Arti fungsional/spesifik disini artinya bisa dibuat secara massal, terstandar umum atau tidak. Kriteria produk kita harus bisa dikategorikan min. ke 3 aspek tadi. Ini basic biar kita tau perlakuan kita thdp produk nantinya. Aspek pasar/konsumen bs dibagi jadi berdasarkan tingkat pendapatan, melalui distributor/tidak, B2B/B2C, usia, tersebar/terpusat. Untuk aspek nilai/manfaat ini sebetulnya core dari sbuah bisnis. Bisnis yg berorientasi pd uang saja akan hancur dgn sendirinya.  Flownya adalh : nilai > kebutuhan > transaksi > uang > profit. Nilai dr bisnis ini akan menentukan persepsi konsumen thdp produk. Contoh definisi suatu bisnis : Baju anak2 yg ceria & trendy untuk dipasarkan ke dept. Store di wilayah perkotaan Jawa Barat. Dr contoh: Produk : baju (brng jadi, fungsional); Pasar : anak2, menengah ke atas, lwt distributor, tersebar. Nilai : ceria, trendy. Definisi bisnis seperti itu akan menjadi panduan bagi perusahaan & konsumen. Koridornya jelas ketika kita mempunyai brand.

Satu hal yg penting dari definisi bisnis ini adalah diferensiasi. Apa yg membedakan bisnis kita dibanding dgn yg udah ada? Diferensiasi ini bs digali dari proses pmbuatan produk, keunikan, nilai yg dibawa, atau kkurangan dr pesaing produk yg tlh ada.

Aspek strategi bisnis selanjutnya : Visi. Dengan definisi bisnis yg telah ada, perusahaan kita ingin menjadi seperti apa nantinya. Visi lbh sering jadi hal yg terpinggirkan. Asalkan profit dan bisnisnya jalan, yah gapapa. Tapi, masalahnya mau jalan kemana? Meski terkesan normatif, visi ini penting untuk arah perusahaan dan jd penyemangat bg anggota. Dan yah memang, visi itu bagusnya terkesan ‘setengah’ muluk2, harus menantang, dan sesuai ama definisi bisnis.  Contoh Visi : Menjadi Produsen Baju Anak2 yg Terbesar dan Tersebar di Indonesia.

Dari visi inilah baru disusun misi2 untuk mewujudkannya. Jika definisi dan visinya sudah jelas, maka mudah u/ menyusun misi. Contoh visi tadi memang terkesan uthopia. Tapi, sbg orang beragama, ucapan itu doa bukan? Yg perlu disesuaikan itu ikhtiarnya. Contoh misi : 1. Menyediakan baju anak2 sesuai kebutuhan market, 2. Melakukan penetrasi pasar ke dept2 store. 3. Dll.

Visi dan misi itu dijabarkan lg ke dalam target & sasaran2. Ini aspek strategi bisnis selanjutnya. Target/sasaran inilah yg harus SMART.  Tujuan & sasaran harus Spesifik, terukur (Measurable), dpt tercapai (Achievable), Realistis, dan terjadwal (Timely). Jabarin aja target & sasaran per tahun, per 5 tahun. Visi yg uthopia td kita capai dgn tangga2 kecil yg mungkin dicapai. Tentunya target/sasaran ini sifatnya dinamis & disesuaikan sesuai evaluasi. Klo ga keumuran, mungkin msh ada yg ngelanjutin. Contoh target #BuStra : 1. Dapat menyuplai 3 dept. Store di Bandung di akhir 2013. 2. Dapat memproduksi 100 piece baju/hari di Nov’13.

Aspek strategi bisnis selanjutnya itu strategi bersaing. Ini merupakan segmentasi pasar secara umum. Strategi bersaing ini dibagi jd Massal/Pasar Tertentu dan Unik (Premium)/ Produksi Murah. Jadi ada 4 kuadran yg bisa dipilih.  Contoh yg mudah u/ ngegambarin jenis strategi bersaing itu ada di persaingan produksi mobil. Pasar Tertentu+Premium: Ferrari, Porsche. Massal+Premium: BMW, Lexus. Massal+Murah: Ford, Toyota. Pasar Tertentu + Murah: Proton, Timor. Dari contoh strategi bersaing tadi terlihat kan pesaing dan pasar yg terbentuk. Ferrari ga bkl ‘keganggu’ ama Proton. Strategi bersaing ini untuk produk yg dianggap sejenis aja yah. Tentukan perlakuan promosi & Branding sesuai kuadran td.

Aspek terakhir strategi bisnis itu adalah analisis SWOT. Tapi untuk bisnis, kita bisa pakai analisis Porter Five Forces. Porter Five Forces ini dibagi jd 5 aspek: Kompetitor, Konsumen, Supplier, Produk Substitusi, & Ancaman Pesaing Baru (peniruan). Dari ke-5 aspek Porter Five Forces tadi itu bisa di drop down banyak bgt analisis. Ane bkalan jabarin secara umumnya aja.

Kompetitor : smakin sedikit > smakin bagus, tdk ada brand terkenal > smakin bagus, demand smakin cpt naik > smakin bagus. Contoh kompetisi yg kuat > sulit u/ masuk : industri provider telekomunikasi (udah terliat dr iklan2 yg ada.

Konsumen : smakin loyal, smakin sulit berpindah brand > smakin bagus. Sbaliknya, kondisi ini buruk klo kita di new entry. Konsumen : Mie instan, kita sulit untuk masuk karna konsumen begitu addicted ke indo*** atau mie sed** kan?

Substitusi : tidak ada produk pengganti, harga pengganti mahal > smakin bagus. Contoh yg buruk : walkman, kamera analog.

Ancaman Baru : smakin besar skala produksi, smakin sulit prosesnya, smakin bnyk asset, smakin sulit ditiru > smakin bagus. Contoh : kita akan sulit masuk & lngsng bersaing dgn industri pembuat kapal terbang (airbus, boeing).

Supplier : smakin bnyk supplier, smakin tdk dominan, smakin tersebar > smakin bagus. Contoh yg bagus : KFC.

Jika 3 atau lebih dr aspek PFF tadi itu bisnis kita unggul, maka strategi bisnis kita bisa dijalankan dengan baik. Aspek tambahan strategi bisnis yg bisa kita eksplor adalah dari prinsip 3P : Profit, People, dan Planet. Usahakan ada 3 benefit itu pd bisnis. CMIIW 🙂