Karena 4 Perkara Ini Telah Ditentukan Oleh-Nya

Berbicara mengenai takdir dalam Islam memang menarik jika dikaitkan dengan pola pikir dan perilaku kita sehari-hari. Ada sebuah hadits yang menyebutkan jika pada saat janin berusia 4 bulan, maka Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat 4 perkara bagi si jabang bayi, yaitu rezekinya, ajalnya, amalannya, dan kehidupan setelah matinya : surga atau neraka. Ketika orang awam seperti saya pertama kali mendengar hadits ini, reaksinya adalah kebingungan. Bagaimana bisa 4 perkara gaib yang terbilang sangat penting bagi kehidupan seorang hamba ditentukan sebelum ia lahir, mengerti, dan beraktivitas di dunia? Bagaimana bisa usaha dan amalan yang telah dan akan kita lakukan sebetulnya sudah di-judge oleh Allah mengenai besaran dan akhirannya?

Alhamdulillah saya mendapat sebuah kajian mengenai hadits ini, meski melalui siaran radio. Sebagaimana yang diketahui, Allah memiliki sebuah buku bernama Lauhul Mahfudz yang berisi semua perkara sebelum segala sesuatu diciptakan. Lauhul Mahfudz ini bisa disebut bank data. Semua isi dari Lauhul Mahfudz ini hanya Allah saja yang mengetahui. Tidak ada satu pun makhluk-Nya, termasuk malaikat, yang mengetahui isi dari Lauhul Mahfudz tersebut. Jadi, ketika Allah memerintahkan malaikat untuk mencatat 4 perkara di atas, malaikat pun tidak tahu apakah itu yang tertera di Lauhul Mahfudz atau bukan.

Ketika ada hadits yang mengatakan jika silaturahim dapat memperluas rezeki dan memperpanjang umur, maka sesungguhnya ini tidak bertentangan dengan hadits mengenai 4 perkara di atas. Allah bisa saja memerintahkan malaikat untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur seseorang karena dia sering menjalin silaturahim, di luar ketentuan 4 perkara tersebut, karena memang itulah yang tercatat di Lauhul Mahfudz. Ada pula ulama yang mengatakan jika umur yang diperpanjang itu maksudnya adalah keberkahan umurnya yang diperpanjang, bukan besaran umur itu sendiri.

Bukan keilmuan saya, untuk membahas aqidah dan fiqih mengenai hadits 4 perkara ini, tetapi ijinkan saya untuk berbagi mengenai apa makna yang tersirat dari hadits ini. Sekali lagi dikaitkan dengan pola pikir dan perilaku kita di dunia. Pertama, ketika rezeki setiap makhluk sudah ditentukan oleh Allah, maka yang perlu kita usahakan adalah mencari dan meluaskan rezeki tersebut. Maksudnya adalah kita tidak berhak dengki, menghakimi kondisi ekonomi diri sendiri dan orang lain, dan kemudian membanding-bandingkannya. Kita tidak pernah tahu bagaimana rezeki kita di masa depan. Bisa saja seseorang yg miskin hari ini adalah seorang milyarder di masa depan, dan sebaliknya, seorang hartawan hari ini bisa saja adalah seorang pengemis di masa depan.

Setiap makhluk menerima rezeki yang Allah berikan, bukan yang ia dapatkan. Maka sangat mudah bagi Allah untuk mengambil atau menambah kembali rezeki yang telah ia berikan. Contoh yang menarik ketika seseorang yg membangun kekayaan dengan utang dan riba jatuh ke dalam keterpurukan, karena caranya yang salah dan tidak berkah dalam memaknai perluasan rezeki. Ada yang terpikat gaya hidup mewah karena terdorong kecemburuan dan kesenjangan sosial, meski sebetulnya rezekinya tak mampu mengakomodasi itu semua. Akan tetapi, ada juga orang yang berbahagia dengan hidup sederhana, yang dengan rezekinya yang sedikit, dia masih dapat bersedekah dengan apa yang ia bisa dan punyai. Miris rasanya ketika sebagian besar orang mencap si kaya dan si miskin dari apa yang terlihat olehnya, dan merasa sombong atau tak beruntung karena hal itu. Yang kemudian kebahagiaan hidupnya sangat bergantung pada seberapa besar materi yang ia punya. Mungkin sebagian besar orang tersebut tidak mampu meyakini rezekinya sendiri dan memaknai yang telah Allah berikan kepadanya.

Kedua, ketika ajal setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah, maka yang perlu kita usahakan adalah memperbanyak keberkahan yang bisa kita dapatkan dan berikan di rentang umur kita sendiri. Kita tidak berhak menghakimi yang tua akan segera mati, dan yang muda mempunyai waktu yang masih lama sebelum mati. Kita tidak bisa hanya melakukan kebaikan ketika nanti sudah tua, dan kita tidak bisa berleha-leha menikmati hidup ketika masih muda. Ajal itu ditentukan agar kita bisa mempersiapkan diri dan menjemputnya sebaik mungkin, tidak bergantung umur kita hari ini. Meski umur kita ditakdirkan pendek, kita bisa melakukan kebaikan sebanyak mungkin sehingga keberkahan yang kita dapatkan bisa jauh melebihi umur kita setelah mati. Dan jika umur kita ditakdirkan panjang, kita bisa menghindari keburukan yang dapat mengurangi keberkahan hidup. Karena kita tidak tahu apakah pertambahan umur kita hari ini akan menambah dosa atau pahala kita.

Ketiga, ketika amalan setiap makhluk telah ditetapkan oleh Allah, maka yang bisa kita usahakan adalah melakukan amalan terbaik bagi diri kita sendiri. Kita tidak berhak menghakimi amalan kita lebih baik dari orang lain, dan juga sebaliknya. Kita tidak bisa menilai amalan kita lebih kecil dibandingkan amalan orang lain yang terlihat besar. Amalan kita tidak bisa dibandingkan dengan orang lain yang mempunyai kekayaan, kekuasaan, ataupun ilmu berlebih. Tidak ada yang tahu besaran keikhlasan dan penerimaan Allah terhadap setiap amalan yang telah dilakukan. Kita tidak perlu berkecil hati ketika melihat diri kita adalah seorang manusia biasa yang hanya bisa beramal sedikit. Dan kita pun tidak boleh berbesar hati ketika kita mampu beramal besar ketika kita adalah seorang dermawan ataupun dianggap seorang ulama. Sekali lagi, ketentuan besar kecilnya amalan kita hanya Allah yang tahu, maka fokuslah pada diri sendiri, bersikap tawadhu, dan berusaha seikhlas mungkin.

Keempat, ketika Allah telah menentukan setiap makhluk-Nya akan memasuki surga atau neraka sebelum ia dilahirkan, maka yang bisa kita usahakan adalah keistiqomahan kita dalam beramal dan bertaubat. Sebaik-baiknya keistiqomahan adalah khusnul khotimah, yaitu kematian yang baik. Dan sebaik-baiknya taubat adalah taubatan nasuha, yaitu kita tidak akan mengulangi keburukan yang telah kita lakukan. Kita tidak berhak menghakimi dan berpikiran seorang ahli maksiat hari ini akan masuk neraka nantinya, dan kita tidak berhak beranggapan seorang ulama hari ini akan masuk surga nantinya. Kita tidak pernah tahu jika Allah menakdirkan si ahli maksiat mendapatkan hidayah dan menjadi seseorang yang dikehendaki-Nya untuk masuk surga di penghujung umurnya. Dan kita tidak pernah tahu jika Allah menakdirkan seorang ulama melakukan sebuah dosa besar di penghujung umurnya yang akhirnya memasukkannya ke dalam neraka. Sekali lagi, kita hanya bisa menilai diri kita sendiri dan berusaha istiqomah melakukan amalan terbaik setiap detiknya hingga ajal menjemput.

Dengan begitu, keempat perkara yang telah ditentukan oleh Allah sebelum kita lahir tersebut, yaitu rezeki, ajal, amalan, dan surga/neraka, dapat dimaksudkan agar kita selalu mengontrol setiap pikiran dan perilaku kita. Begitu luar biasa akhlak seorang muslim ketika dia mampu meyakini hal ini dengan sesungguhnya. Dia akan pandai mengevaluasi diri, namun tidak lihai menghakimi orang lain. Dia akan elok dalam bersikap dan berpikiran terhadap diri sendiri dan orang lain. Memang sungguh indah ilmu dan pengetahuan Allah yang tercantum dalam agama Islam ini. Keempat perkara ini bukanlah wujud dari ketidakadilan dan keberpihakan Allah terhadap sebagian makhluk-Nya, melainkan justru salah satu bentuk peringatan dan pedoman hidup bagi setiap makhluk-Nya. Dan sungguh tulisan ini, saya tujukan bagi diri saya pribadi dan semoga bisa menjadi amal jariyah berupa ilmu bagi diri saya pribadi dan kita semua yang membaca dan menyadarinya. Mohon koreksi saya jika ada yang salah dengan tulisan saya ini. Wallahu ‘Alam.