Titik-Titik Puzzle (6)

Karawang dikenal dengan sumber daya pertaniannya yg besar, ditandai oleh luasnya hamparan sawah yg ada. Namun, invasi industri asing dan menjamurnya perumahan membuat lahan hijau tersebut semakin terhimpit. Pertama kali datang kesini, saya menyangka Karawang adalah kota yg kecil karena jalan utama yg saya lalui terkesan itu-itu saja. Padahal ternyata begitu banyak pedesaan yg lokasinya tidak dilalui jalan utama dengan sarana angkutan umum yg minim. Ini yg menginspirasi saya dan Jaya untuk merintis usaha agribisnis disini, sekaligus berusaha mempertahankan lahan sawah yg ada dan mengembangkan potensi lokal.

Jaya yg memang asli Karawang mengajak saya untuk berkunjung ke sebuah kumbung jamur merang milik Mas Santo. Kemudian beliau mereferensikan kami kepada seseorang bernama Pak Misa Suwarsa jika ingin belajar mengenai usaha budidaya jamur merang ini. Kami pun berangkat menemuinya dan ternyata beliau memang membuka pelatihan budidaya jamur merang selama 5 hari dengan biaya 3 juta rupiah. Sosok dan cerita yg beliau sampaikan begitu menarik perhatian kami sehingga saya pun memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Jamur merang yg memanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami dan limbah kapuk sebagai bahan baku utama, ternyata memiliki nilai jual yg tinggi dengan pasar yg masih luas. Proses produksi yg terlihat sederhana dengan menggunakan lahan yg kecil membuat kami berpikir jika usaha ini bisa diaplikasikan bersama masyarakat/petani sekitar untuk meningkatkan penghasilan dan produktivitas mereka.

Semangat kewirausahaan sosial yg dulu sempat membara akhirnya mengkristal menjadi sebuah keputusan resign dari tempat saya bekerja di Toyota. Proses resign ini terbilang cepat dan mendadak karena saya baru bekerja selama 6 bulan tanpa pemberitahuan one-month-notice. Caranya pun terkesan arogan dan berlebihan. Saya dengan terang-terangan mengirim email pengunduran diri ke berbagai divisi terkait pekerjaan saya dan mengumumkan diri di rapat ‘Asakai’ yg dihadiri beberapa pimpinan perusahaan. Selain itu, saya pun berkeliling pabrik untuk sekedar memoto orang2 yg pernah saya kenal disana, sekalian berpamitan dengan mereka. Emosi yg meletup-letup dan semangat nasionalisme menguasai diri saya saat itu. Berbagai respon pun saya dapatkan, yg tentunya berisi pro dan kontra. Seakan-akan saya menegaskan jika alumni almamater saya itu “tak bisa dipegang” dan “kutu loncat”. Rasa penyesalan yg kemudian menyeruak coba saya konversi menjadi jangkar untuk memacu perjalanan berikutnya.

Saya pun mendapatkan email dari seorang teman untuk mengikuti perlombaan business plan di Prasetiya Mulya Business School. Selain bisa mengikuti proses karantina selama seminggu disana, hadiah utamanya adalah berupa beasiswa S2 Manajemen Bisnis full. Selain itu, ada juga seleksi pelatihan Majelis Mujahid Bisnis dari Kang Rendy Saputra selama 12 kali pertemuan. Gayung pun bersambut. Rencana awal untuk belajar ilmu bisnis pun bisa terlaksana. Ilmu manajemen ala Toyota dan ilmu budidaya jamur merang akan berasa lengkap. Keputusan saya pun akhirnya semakin membulat.

Keputusan resign dari pekerjaan yg mapan tentunya ditentang oleh orang tua saya. Apalagi pilihan setelahnya adalah menjadi seorang petani jamur. Ini bukan berputar arah, tetapi memang terjun bebas. Begitu sulit memang meyakinkan orang tua dengan keputusan ini. Yg bisa saya tawarkan di awal adalah sebuah perjanjian : “Jika dalam waktu 6 bulan ke depan setelah resign kehidupan saya tidak membaik, maka saya akan mencari pekerjaan di perusahaan kembali”. Selain itu, saya pun mengiming-imingi dengan perlombaan bisnis yg akan saya ikuti. Mungkin saja kan saya bisa menang beasiswa S2, hehe…

Pelatihan budidaya jamur merang yg saya ikuti pun dimulai. Disana saya berkenalan dengan Pak Ade dan Pak Koko dari BPPT, Mas Tono dari Sragen, dan seorang kakek-kakek yg berasal dari Medan. Wuih, keren juga kan peserta pelatihannya dari mana-mana. Proses budidaya yg dimulai dari pengomposan hingga panen pun saya pelajari. Bau komposan yg menyengat hidung, panasnya kumbung yg menyesakkan dada, dan beratnya proses produksi ala petani yg menggunakan bahan baku hingga 1 ton lebih. Wow, sungguh menantang bagi saya pribadi yg memang jarang melakukan pekerjaan seberat itu.

Untuk memulai usaha budidaya jamur merang ini, saya pun berdiskusi dengan Jaya yg saat itu masih berseragam Toyota. Kami mengambil keputusan untuk menggunakan sisa gaji yg ada untuk membangun 1 kumbung lengkap dengan sarana tambahannya dan biaya 1 kali produksi awal. Untuk lokasinya, kami mengontrak sebuah lahan di dekat rumah Pak Misa agar kami bisa sering berkonsultasi dengan beliau. Semangat optimisme pun membara. Setelah semua perlengkapan dibeli, kumbung tegak berdiri, kami berdua pun melakukan proses produksiya sendiri. Ternyata luar biasa berat. Jerami kering yg cukup tajam, air komposan yg tak sedap, panasnya terik matahari, dan beratnya beban yg diangkat membuat kami tersiksa. Perjuangan awal menjadi seorang petani memang tak mudah sama sekali.

Dalam suatu kesempatan, kami berdua berdiskusi di sebuah angkringan malam mengenai mimpi dan apa yg ingin dilakukan ke depan. Perbincangannya begitu bebas, mulai dari bisnis yg akan dibangun, perekonomian, pendidikan, kegiatan sosial, sampai gerakan perubahan. Pada dini harinya, saya mengkristalkan itu semua menjadi sebuah tulisan berjudul “8 Mimpi Besar” pada sebuah buku. Itulah momen dimana saya merasakan semangat yg begitu besar, menggelora di dalam dada, dan menggoyangkan bulu kuduk. Mungkin inilah yg disebut proposal hidup. Dan inilah yg akan menjadi bahan bakar utama saya dalam mengarungi kehidupan. Unbelievable, sungguh sensasi yg luar biasa.

Dengan proposal hidup ini juga, saya kembali mencoba meyakinkan kedua orang tua saya. Beruntung ada salah satu anggota keluarga besar yg dituakan, yg percaya kepada saya, dan membantu saya meyakinkan. Meski orang tua saya tidak sepenuhnya mendukung, tetapi setidaknya hati mereka mulai luruh. Karena bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridho Allah juga. Maka jadilah saya kembali berkuliah di “Universitas Kehidupan”, sebuah proses pembelajaran tiada henti yg seringkali menghadirkan kebetulan-kebetulan yg nyata, yg blueprint dan kurikulumnya telah diatur oleh-Nya. Setiap proses dan kepingannya begitu membekas dalam pikiran. Subhanallah…

Titik-Titik Puzzle (5)

Pilihan hidup pasca kelulusan dari kampus adalah pilihan yg sulit sekaligus membingungkan. Jika pada pilihan-pilihan kelulusan sebelumnya bisa lebih mudah diputuskan karena ada patokan tujuan (SMP/SMA/Universitas favorit), maka pilihan setelah diwisuda sangatlah beragam dan tidak ada patokan yg jelas. Mau melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3, mencari dan melamar pekerjaan, atau berwirausaha? Kuliah di jurusan apa dan dimana? Jenis pekerjaan apa dan perusahaan seperti apa? Usaha di bidang apa dan bagaimana memulainya? Tak pelak, banyak wisudawan baru yg tidak bisa menentukan pilihannya secara mutlak, cenderung coba-coba, mengalir seperti air, atau mengikuti kemana arah angin berhembus. Tak sedikit juga yg kemudian menyesali pilihannya, bergonta-ganti pekerjaan, dan tidak bisa menikmati apa yg dia kerjakan.

Saya pribadi saat itu memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Kebutuhan akan kuliah S2 menurut saya akan disesuaikan setelahnya, apakah di bidang engineering lagi atau di bidang manajemen bisnis. Dikarenakan saya ternyata kurang menyukai dunia engineering/programming, maka saya mencari pekerjaan di bidang bisnis/manajemen. Jadilah saya mengikuti proses seleksi dan wawancara di beberapa perusahaan konsultan bisnis. Yg saya manfaatkan dari proses kuliah teknik adalah sekedar pola pikir logis-matematis, analisis problem solving, dan sedikit ilmu soft skill yg didapat dari kesibukan berorganisasi. Di salah satu proses seleksi tersebut, ternyata ada pelatihan seputar bagaimana menjadi konsultan bisnis. Ada beberapa studi kasus mengenai market sizing, business operation, dan business strategy. Di perusahaan tersebut saya berkenalan dengan Bang Leonardo Kamilius, Bang Danu Wicaksana, dan Mbak Falah Fakhriyah. Saya melihat mereka sebagai orang2 yg cerdas dan bidang konsultan yg mereka jalani sebagai dunia yg menantang dan menyenangkan. Meski saya gagal dalam proses seleksinya, saya jadi mendapatkan insight jika saya ingin dan harus mendalami dunia bisnis dan manajemen.

Sambil menunggu proses seleksi di beberapa perusahaan, saya mengambil kerja magang di PT. LEN Industri. Rasa-rasanya tidak enak menganggur setelah diwisuda dan saya pun harus mulai mendapatkan penghasilan. Beruntung hasil kerja praktek dan tugas akhir saya disana diapresiasi, sehingga saya bisa diterima magang disana dengan gaji yg lumayan besar. Jenis pekerjaan yg didapat adalah (lagi-lagi) mengenai programming. Bekerja secara professional di divisi Research and Development sebuah BUMN ternyata tidaklah mudah dan menyenangkan bagi saya. Duduk berlama-lama di depan laptop dari pagi hingga sore membuat waktu seakan melambat. Apalagi di divisi RnD itu tidak ada guidance yg jelas, karena kita sendirilah yg mencari dan membuatnya. Artinya saya bekerja atas progress yg saya buat sendiri. Jika saya sendiri tidak menyukai bidang yg dikerjakan, bagaimana saya bisa membuat progress yg baik dan menyelesaikan pekerjaan itu? Perasaan magabut pun mulai menggelayuti. Namun, dengan bantuan Mas Yanuar Yudianto, Mas Ridlo Tubagus, dan Bu Wibi akhirnya saya bisa membuat progress yg berarti selama 2 bulan saya bekerja disana.

Setelah berkali-kali mengikuti seleksi di berbagai perusahaan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai Management Trainee di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dengan nama New Employee Development Program. Sebetulnya saya tidak mengira akan diterima disini karena minim persiapan dan proses seleksinya yg terbilang lama. Harapan saya adalah saya bisa belajar tentang ilmu manajemen di perusahaan yg terkenal dengan konsep Toyota Production System dan budaya Toyota Way nya ini. Apalagi perusahaan ini bersanding bersama Astra Group, sehingga mampu meraih market share terbesar bidang permobilan di Indonesia. Saya pun kemudian ditempatkan bekerja di Karawang, di sebuah pabrik manufacturing terbesar yg terbilang baru. Inilah pengalaman pertama saya merantau dari kota kelahiran saya.

Program NEDP ini memang menawarkan pembelajaran yg banyak, mulai dari Toyota Way, TPS, Toyota Business Practice (TBP), Plan-Do-Check-Action (PDCA), A3 Report, Floor Management, dll. Disinilah saya berteman dengan Deni Arifakhroji, Subban Malik, Irvandi Permana Arga Diputra, Fajar Hadi Pratama, Devy Freshia, Hanindita Diadjeng Sunu, Glenda Enzy Viona, Dhinda Prinita Sari, Andhini Novrita, dan beberapa yg lain. Dari pelatihan ke pelatihan, sampai ke Operator Experience Program, yg akhirnya saya pun ditempatkan di Quality Control Division. Saya kemudian mengontrak sebuah rumah bersama Deni, Subban, dan Arga. Kehidupan dunia kerja yg awalnya berasa manis kemudian berubah bentuk sedikit demi sedikit. Welcome to the real world! 🙂

Jenis pekerjaan di QCD ini memang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang, berkeliling pabrik, hingga mengunjungi pabrik supplier. Saya harus mengidentifikasi masalah kecacatan pada part-part mobil, memastikan kualitas part yg dikirimkan oleh supplier, dan membuat laporan tentang hal itu. Jenis pekerjaan yg menarik karena saya bisa aktif bergerak kesana kemari dan mempelajari banyak hal. Ini pun sesuai dengan apa yg saya bayangkan ketika kuliah di Teknik Kendali. Namun, bidang yg ditekuni ternyata tidaklah sesuai dengan yg dikerjakan. Saya merasa tidak nyaman ketika harus membongkar part-part mobil, mengukur clearance dan level, berkonflik dengan supplier dan tim dari divisi lain. Jam kerja pun ternyata dari pagi hingga malam, dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Lama kelamaan saya merasa kebebasan saya terenggut, saya tidak bisa mengaktualisasikan diri secara optimal.

Di QCD ini saya berkenalan dengan Pak Hamzah Wirya Utama, Desyanti Wulandari, Faradinnita Akhsani, Mas Wahyu Priyandono, Mas Adhy Permana, Pak Isa, Pak Heru Purnomo, Pak Agus Wahyudi, Pak Maulana, Pak Herman, Dade Mukti Wijaya, dan rekan kerja yg lain. Aktivitas saya yg sering berkeliling pabrik membuat saya sering bersilaturahim dengan karyawan yg lain. Saya pun banyak belajar dari sosok Pak Hamzah, partner kerja sekaligus ‘ayah kedua’ saya. Idealisme yg mulai terkubur akhirnya muncul kembali setelah sering mengobrol ngalor ngidul dengan beliau. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, pertanian, budaya, sampai nasionalisme. Ditambah dengan kedatangan Jaya di QCD, keinginan berwirausaha saya pun mengkristal. Petualangan mencari ide usaha yg pas di Karawang pun dimulai…

Titik-Titik Puzzle (4)

Kehidupan kampus tingkat 3 bisa dibilang sebagai puncak aktualisasi diri dari seorang mahasiswa karena dianggap sudah cukup dewasa dan berpengalaman untuk bisa memimpin sebuah organisasi kampus. Dan juga belum terlalu sibuk dengan kegiatan perkuliahan seperti mengerjakan Tugas Akhir atau skripsi. Pemilihan ketua di setiap himpunan dan unit mayoritas dilakukan dengan sistem pemungutan suara dan musyawarah. Setiap calon ketua memaparkan visi misinya dan membentuk tim sukses kampanye. Proses yg hampir mirip dengan pesta demokrasi pemilu di pemerintahan negeri ini.

Saya pribadi dipilih sebagai Ketua Muslim Elektroteknik saat itu, sebagai hasil keputusan dari musyawarah GAMAIS Wilayah Fakultas. Sejujurnya masih banyak orang lain yg menurut saya lebih pantas mengemban amanah ini. Saya dipilih karena dianggap aktif di GAMAIS Pusat dan stabil secara akademik, dan di sisi lain, beberapa calon lain telah menerima amanah yg cukup besar. Jadilah saya memulai roda organisasi ini bersama Muchammad Musyafa, Rachavidya Achmad, Arkan Muhammad Irsyad, Alfadho Khasroh, Muhammad Iqbal Faruqi, Kang Muhammad Hasan Sirojuddin, Kang Wahyu Fahmy Wisudawan, Kang Helmi Muslim, dan Kang Fahmi. Banyak pelajaran dan nasehat yg saya dapatkan dari mereka, mulai dari ketekunan mereka mendalami suatu hal sampai idealisme seorang muslim yg baik.

Di kuliah tingkat 3 ini saya memilih program studi Teknik Kendali, dengan harapan agar bisa merancang suatu robot yg dilengkapi dengan sensor dan alat pengendali. Bayangan saya saat itu, minimal saya nantinya bisa bekerja di suatu pabrik dengan alat dan mesin yg digerakkan secara otomatis. Namun, ternyata kemampuan praktis tidak bisa didapat dengan mudah melalui kuliah saja. Mayoritas materi yg diberikan adalah mengenai teori dasar dan perhitungan ngejelimet bagaimana suatu sistem kendali bekerja dengan segala komponen yg terdapat di dalamnya. Alhasil, saya tidak bisa berbuat banyak tentang robotika karena kesibukan organisasi nampaknya memakan waktu lebih banyak. Saya salut pada beberapa teman, seperti Ashlih Dameitry, Samratul Fuady, Azhari Surya Adiputro, dan Kang Syawaludin yg mampu membuat beberapa karya robotik yg mampu menjuarai perlombaan nasional dan internasional. Iri juga rasanya, tapi pilihan aktivitas telah diambil dan saya tidak boleh menyesal atas pilihan itu.

Dalam sebuah kesempatan, beberapa teman seprogram studi mengusulkan suatu event ekskursi, yaitu kegiatan mengunjungi beberapa industri di Jawa Barat. Saya pun ditunjuk jadi ketua panitianya, karena memang tidak ada orang lain yg mau. Sigh… Jadilah saya merencanakan event ini dengan dibantu oleh Arkan, Adrianto Tedjokusumo, Rico Hartono, Leonardo Tansil, Leo Arifwibawa, Fiandrie Marcell, dan beberapa teman yg lain. Sempat mengalami pengunduran jadwal, kekurangan panitia, hingga defisit pendanaan, akhirnya event ini bisa berlangsung selama 3 hari pulang-pergi. Industri yg dikunjungi saat itu adalah PT. LEN Industri, PT. Astra Honda Motor, PT. Pupuk Kujang, dan PT. Indoserako Sejahtera, yg mencakup bidang elektronika, manufacturing, kimia, dan kontraktor sistem kendali pabrik. Hari ketiga diisi oleh acara jalan-jalan ke Taman Mini, sekedar bersenang-senang dan berkunjung ke beberapa museum (sebetulnya karena kehabisan dana, sehingga kami hanya mampu ‘berlibur’ kesana, hehe…).

Di selang waktu antara kuliah tingkat 3 dan tingkat 4, saya menjalani kerja praktek di PT. LEN Industri selama 2 bulan bersama Arkan. Yg kami kerjakan saat itu adalah memprogram sebuah chip embedded system agar mampu melakukan komunikasi serial dan ethernet dengan jaringan komputer. Memang terlihat keren, tapi entah kenapa saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan. Perasaan senang hanya bisa didapat ketika terjadi suatu keberhasilan dalam proses pemrograman. Selebihnya adalah rasa ngantuk dan rasa tanggung jawab atas perintah yg harus dikerjakan untuk menyelesaikan kerja praktek tersebut. Mungkin karena saya terbiasa bergerak dan berinteraksi dengan orang lain sehingga saya tidak tahan ketika harus diam duduk di suatu posisi dalam waktu yg lama.

Setelah kerja praktek, dimulailah kuliah tingkat 4 yg lebih fokus pada pengerjaan Tugas Akhir. Saya berkeputusan untuk memilih TA yg bisa cepat selesai, berhubungan dengan dunia perusahaan, dan bisa dikerjakan berkelompok. Jadilah, saya mengerjakan topik TA berjudul Communication-Based Train Control (CBTC) bersama Doni Yusdinar, Rico Pradityo, Muhammad Haekal, dan Rio Ricardo, bekerja sama dengan PT. LEN Industri. Topik TA ini berkaitan erat dengan rencana pembuatan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika hasil dari TA kami ini nantinya bisa diaplikasikan langsung untuk memperbaiki sistem transportasi di ibukota. Untuk menyelesaikan TA ini, kami perlu bolak-balik mempresentasikan progress yg kami lakukan ke jajaran manajemen teknik R&D di LEN. Sekali lagi, ternyata dalam prosesnya, saya tidak bisa menikmati apa yg saya kerjakan, karena saya harus duduk termenung di depan laptop selama kurang lebih 2 bulan untuk membuat sebuah program yg akhirnya selesei di baris ke-7000-an. Dengan bantuan teman setim dan bimbingan dari Pak Agung, Pak Andriyanto, dan Pak Hilwadi, TA saya pun layak maju ke sidang akhir.

Momen sidang akhir memang jadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa yg akan lulus jadi sarjana. Gambaran dosen penguji dengan tatapan mengintimidasi yg akan mengajukan pertanyaan tajam pun muncul di pikiran. Betapa beruntungnya saya, 3 dosen penguji saya adalah dosen yg dikenal ‘killer’. Yg pertama adalah dosen legenda kendali, yg kedua cukup sering mengeluarkan mahasiswa dari kelas, dan dengan yg ketiga pernah beberapa kali tidak meluluskan mahasiswa yg diujinya. Huhu… Tapi akhirnya, saya bisa ‘lolos’ sidang dengan nilai BC, yg merupakan nilai ambang batas. Tak terbayang jika akhirnya saya gagal lolos sidang karena saat itu orang tua datang langsung untuk menyaksikan anaknya disidang. Mereka hanya menanyakan kenapa saat di dalam ruangan, suara dosen penguji terdengar cukup keras, hehe… Perasaan lega pun dilengkapi dengan rentetan revisi yg harus saya buat untuk menyelesaikan laporan akhir. Dengan bantuan dari dosen pembimbing, saya pun akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan 🙂

Tibalah momen wisuda. Momen selebrasi yg menjadi memori kebanggaan mahasiswa dan orang tuanya. Patung ganesha yg saya dapatkan ternyata mampu membuat orang tua saya terharu. Pemakaian baju toga, prosesi upacara kelulusan, dan acara arak-arakan keliling kampus menjadi pertanda lahirnya para sarjana baru. Sedih juga saat itu ketika harus berpisah dengan kampus, sahabat, dan segala kenangan di dalamnya. Dalam pikiran saya, menjadi sarjana adalah beban amanah yg harus dipertanggungjawabkan dan menjadi langkah awal menuju dunia kontribusi yg sesungguhnya…

Titik-Titik Puzzle (3)

Kehidupan perkuliahan dan suasana kampus memang menawarkan sajian idealisme yg kental. Terlebih dari suatu kampus dengan sejarah panjang tentang kemahasiswaan, kebebasan berpendapat, budaya diskusi, dan perjuangan mengkritisi bahkan ‘melawan’ pemerintahan. Yap, kampus bernama ITB pernah dikenal sebagai “The Last Stronghold” ataupun “Institut Terbaik Bangsa”, dimana banyak pemimpin-pemimpin hebat ‘dilahirkan’ disini. Meski seiring berjalannya waktu, slogan dan nama panggilan itu nampaknya semakin luntur (?).

Masa-masa pengenalan mahasiswa baru di ITB lebih banyak diisi oleh seminar, talkshow, pengenalan kampus, tugas-tugas, penampilan himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa, dan ramah tamah antarmahasiswa. Sedari awal, seminar dan talkshow pun sudah berisi paparan idealisme, profil alumni dan role model-nya, realita bangsa, perkembangan teknologi, dan apa yg bisa dilakukan kini dan di masa depan. Sebuah talkshow yg menarik perhatian saya saat itu adalah paparan pengalaman seorang alumni senior yg berhasil membangun sebuah bisnis pengolahan kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat. Setiap bagian dari kelapa mampu diolah menjadi suatu produk yg bernilai jual lebih dengan memanfaatkan alat dan mesin sederhana ciptaan si alumni tersebut. Proses produksi dan pengolahan yg melibatkan masyarakat sekitar turut meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Dalam hati kecil, saya berkata “Nah, ini dia!”, someday I want to become like him. Memang alas an idealis saya untuk berkuliah di ITB ini adalah agar saya bisa belajar bagaimana caranya membuat suatu alat tepat guna sambil meng-upgrade kualitas soft skill pribadi. Tekad untuk berubah dari seseorang yg kuper, kutu buku, maniak game, menjadi seorang aktivis idealis dengan segudang kesibukan pun mulai dicanangkan.

Pilihan aktivitas yg dipilih saat itu adalah di Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) dan di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA). Alasannya sederhana, saya ingin belajar berorganisasi dan menambah ilmu agama dan bisnis dari kedua unit kegiatan itu. Amanah yg didapat saat itu adalah menjadi panitia Divisi Acara & Marketing di Kajian Islam Terpusat (KIT) dan panitia Divisi Ticketing di Event Try Out UN-SPMB untuk anak2 SMA. Di kedua event ini saya berkenalan dengan orang2 yg luar biasa, di antaranya Yusuf Muhammad, Indra Pratama, Agung Wijaya Mitra Alam, Angga Kusnan Qodafi, Adjie Wicaksana, Taufiq Suryo, Chrisna Aditya, Fitrian Pambudi, Kang Ridwansyah Yusuf Ahmad, Kang Rendy Saputra, Kang Totoh Abdul Matin, Kang Albaz Rosada, dan masih banyak lagi. Begitu banyak pengalaman dan ilmu menarik seputar keorganisasian, team work, kepemimpinan, marketing, islam dan dakwah, yg didapat dari mereka. Kedua event itu berlangsung dengan cukup berhasil dan keseruan proses di dalamnya membuat saya “ketagihan”.

Kehidupan perkuliahan sebaliknya berlangsung biasa saja, berisi ceramah, catatan, tugas, praktikum, berpindah ruang kelas, laporan, dan begadang. Saya cukup berteman dekat dengan Esqi Aktiadi, Kharisma Surya Gautama, Hanugrha, Dadan Dawud, Harimurti Prasetio, Azhari Surya Adiputro, Taufik Khuswendi, dan Wafi “Harowa”. Kehidupan ber-YugiOh ria di Campus Center membuat saya berkenalan dengan Zaky Hassani, Dimas, Ashlih Dameitry, dan Muhammad Iqbal Faruqi. Orang tua yg menyuruh saya untuk fokus kuliah saja dan melarang aktif di organisasi, membuat saya harus bisa mengatur waktu, menyelesaikan ujian semester dengan nilai memuaskan, dan membuktikan diri pada orang tua jika kuliah dan organisasi bukanlah hal yg saling bertentangan. Aktif berorganisasi, pulang larut malam, lulus cumlaude dan tepat waktu, bukanlah hal yg mustahil untuk dicapai secara bersamaan. Saya mengambil Kang Muhammad Fajrin Rasyid sebagai role-model nya, MaPres ITB yg diumumkan saat PMB. Saya kemudian beranggapan jika kesibukanlah yg membuat segala sesuatu yg dilakukan jadi lebih efektif dan efisien. Saya dipaksa untuk lebih rajin, lebih menghargai waktu, dan dituntut oleh banyak deadline. Kehidupan lain berupa Dugem (Duduk Gembira Melingkar) membuat saya berteman dekat dengan Rino Ferdian, Ramdani Akbar, Ibrahim Imaduddin Islam, dan Kang Husna Nugrahapraja. Dugem ini mampu me-recharge semangat, ilmu, dan kekuatan hati dalam beraktivitas.

Di tingkat 2, saya memilih Teknik Elektro sebagai jurusan dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME). Proses kaderisasi di GAMAIS dan di HME ini menuntut kerjasama kelompok, militansi, kesiapan mental, dan fisik. Saya kemudian memilih fokus di GAMAIS karena mendapatkan amanah sebagai Ketua Departemen Humas Internal Kampus. Di departemen inilah saya berkenalan dekat dengan Yana Supriyatna, Aditya Putra Tama, Kang Ryan Alfian Noor, dan Kang Yudha Indrawan. Aktivitas ala humas pun saya lakoni, mulai dari keliling2 kampus, menyebar undangan ke himpunan2 dan unit2, mengurus birokrasi kampus, menghadiri forum dan diskusi terbuka, sampai mewakili senator di kongres. Secara tim Badan Pengurus Harian GAMAIS saat itu, saya bekerja sama dengan Kang Panji Prabowo, Kang Gesa Falugon, Kang Widi Noviansah, Kang Ardhesa Suhilman, dll. Saya beruntung 1 tim dengan kakak2 angkatan yg lebih tua sehingga bisa belajar banyak dari mereka. Sedangkan di HME, saya tidak begitu aktif, hanya beberapa kali menjadi panitia acara dan lomba. Disana saya bertemu dengan Arkan Muhammad Irsyad Sadeli, Yanwar Arditias, Salik Mukhlisin, Ihsan Mulia Permata, Kang Ikhsan Abdusyakur, Kang Ryvo Octaviano, dan Kang Iwa Kartiwa. Idealisme nasionalis semakin merasuk ke dalam diri saya ketika mengikuti beberapa pelatihan, talkshow, dan workshop disana. Salah satu yg saya ingat betul adalah ketika talkshow yg mengundang Kang Zulkaida Akbar dan Teh Shana Fatina dari Keluarga Mahasiswa ITB sebagai pembicara. Mereka mengatakan jika gambaran Indonesia di masa depan adalah gambaran mahasiswanya saat ini meliputi apa yg dipikirkan, direncanakan, dan dilakukannya. Dan katanya juga, calon pemimpin Indonesia di masa depan kemungkinan besar berasal dari kalangan entrepreneur, terutama yg bergerak juga di bidang sosial kemanusiaan.

Ahaha… jika dipikirkan memang begitu banyak orang yg melintas di kehidupan kampus dengan berbagai karakter dan kepribadian yg dimilikinya. Suasana kampus yg heterogen, yg berisi orang2 dari seluruh nusantara, yg mempunyai budaya dan bahasa berbeda. Mereka mengambil peran yg diinginkannya disana, mulai dari akademisi, peneliti, aktivis sosial, pengusaha muda, inventor, engineer, bahkan sampai politisi. Semua peran itu bercampur aduk dan mewarnai setiap orang di dalamnya. Ditambah pula bawaan materi kuliah teknik yg mengharuskan mahasiswanya berpikir sistematis, logis-matematis, dan analitis sebagai seorang problem solver. Jika saja semua itu dipadukan dengan ketahanan mental dan idealisme, kecerdasan emosi dan spiritual, kekuatan mindset dan kepedulian, maka setiap peran apapun yg diambil akan membawa kesuksesan dan kemaslahatan bagi diri dan lingkungannya.

Titik-Titik Puzzle (2)

Ada pendapat yg mengatakan jika karakter dan kepribadian itu sebagian besar dibentuk oleh lingkungan. Karakter dan kepribadian utama seseorang pun katanya terbentuk saat ia telah genap berusia 12 tahun. Itu berarti pola pengasuhan orang tua dan pola pendidikan + pergaulan saat TK hingga SMP memiliki kontribusi terbesar dalam hal ini. Mungkin bisa dikatakan jika saat itu ‘fase gunung es’ telah terlewati dimana seseorang secara “tidak sadar” telah terbentuk dan terwarnai oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga ia akan sulit mengubah kepribadian dan karakternya, kecuali dengan kesadaran penuh. Dikenal sebuah metode “memutus rantai gajah”, yaitu melakukan suatu tindakan perubahan yg berbeda dari kebiasaan sebelumnya yg konsisten dilakukan selama 90 hari.

Selepas masa SMP, seseorang yg melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA tentunya akan merasakan gejolak pubertas, pergaulan remaja, dan fase menemukan jati diri. Seseorang mulai bisa dengan sadar memilih sesuatu untuk dirinya, baik ataupun buruk, sesuai kepribadian yg telah terbentuk sebelumnya. Ingatan dan kenangan pada masa SMA pun semakin kuat terekam, seolah2 itu baru saja terjadi. Kepribadian yg telah terbentuk dihadapkan pada peristiwa dan kejadian yg mungkin saja mengubahnya 180 derajat atau malah menguatkannya. Ini gabungan antara pilihan, arahan, tujuan, lingkungan, dan takdir yg telah ditentukan oleh-Nya.

Berkaca pada pengalaman pribadi saat SMA, kepribadian saya yg cenderung pendiam dan melankolis-perfeksionis terus terbawa dari masa SD dan SMP. Praktis kelas 1 SMA saya lalui bersama 4 sahabat dekat, yaitu Ferry Anindito, Fadhil Ghalib Agam, Suryo Prasetyo, dan Muhammad Malik Idris. Ini jadi gank saat istirahat, tugas kelompok, grup drama, bermain PES, hingga bermain poker. Ferry yg sama-sama pendiam dan melankolis mengajak saya untuk ikut bergabung di Hikmatul Iman. Disini saya jadi tau seputar tenaga dalam dan tentang kampus bernama ITB dan mesjid bernama Salman. Karena memang salah satu proses latihannya dilakukan disana. Setelah bergabung selama 6 bulan, saya kapok ikut latihan karena rasa linu setelah sparing dan bengkak setelah mencoba mematahkan kikir. Fadhil dikenal sebagai ‘juragan’ sehingga kami sering bermain ke rumahnya untuk sekedar berkompetisi PES dan menghabiskan makanan. Disini saya baru tau jika bunga tabungan bank seorang karyawan senior di sebuah perusahaan minyak multinasional lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Suryo yg lebih supel dengan logat jawa yg kental bisa membuat gank ini lebih berwarna dan penuh canda tawa. Sedangkan Malik saat itu saya kenal sebagai seseorang yg tegas dan keras, bisa dianggap dia adalah ‘preman’ gank kami. Tetapi, sikapnya akan berubah banyak ketika berhadapan dengan murid perempuan, hehe…

Kelas 1 SMA yg saya kenal adalah masa-masanya bermain, dimana setiap orang memasuki masa ABG yg ceria dan menyenangkan. Dan ketika masuk kelas 2 SMA, yg saya tau (dan mungkin juga bagi sebagian besar murid di masa yg sama) adalah masa keakraban dan persahabatan. Pergaulan saya pun meluas hingga hapal setiap posisi murid laki-laki di setiap bangku sampai saat ini. Sayap kanan terdepan diisi oleh Sayyid Hakam Satrio dan Araf Pratamanaim. Jajaran di belakangnya diisi berturut-turut oleh Boma Ranggadjati-Ilmam Mukhlis, Krisha Adhya-Yogi Faldian, Iman Setyadi-Naufal Chairulfatah, Feiza Alfi-Raditya Hanung. Sedangkan sayap kiri diisi Achmad Faris Saffan-Eko Prasetyo, Reza Narindra-Saya, Markus-Muhammad Rizki, Evan Ardiansyah-Tedo Purnomo, Dadan Damayandri-Yusuf Nugraha. Banyak peristiwa menarik yg terjadi saat itu, mulai dari pola pergaulan, kisah persiapan drama kelas, cinlok-cinmon, kekompakan kelas, cerita tentang guru-guru, hingga perjalanan wisata ke Bali. Saya pribadi disini mendapatkan panggilan baru dengan nama gudjrin, sebuah momen yg membuat saya jadi lebih agamis, dan aktivasi email-sosial media sebagai tahapan untuk mulai ‘membuka diri’. Dan yg menjadi catatan tambahan adalah 90% lebih dari mereka lulus masuk fakultas-kampus bergengsi, seperti fakultas teknik-ITB ataupun ke fakultas kedokteran-psikologi.

Meski sempat diprotes oleh para murid, akhirnya susunan murid kelas 2 ini kembali dipecah sehingga kelas 3 diisi oleh susunan murid yg berbeda. Padahal harapannya adalah persahabatan yg telah terjalin bisa membantu proses belajar dan persiapan menghadapi UN-SPMB. Di kelas 3 ini saya berteman dekat dengan Rendi Oktavian, Alven Haeckal, Ardi Lazuardi, Indi Amrullah, dan Taufik Hidayat. Kepribadian yg menempel saat itu adalah hobi ngoprek-nya Alven dan hobi ngoding-nya Ardi. Ditambah sebangku dengan (Aa) Rendi, seorang ketua DKM mesjid sekolah, membuat saya jadi lebih religius, lebih sering ke mesjid, ikutan mentoring dan ta’lim, merutinkan doa setelah sholat dan tilawah. Bergaul dengan para remaja mesjid membuat saya semakin nyaman. Dari sini juga saya mendapatkan mentor seorang alumni ITB dan teman-teman seperjuangan bersama Reza Narindra, Muhammad Ferandy, Evan Ardiansyah, dan Bagus Dwiatmojo, dengan nama grup SPIRIT. Di dalam kelas bagian belakang terpampang sebuah board putih besar yg berisi nama-nama murid dan fakultas-kampus tujuannya masing-masing. Tekad telah ditetapkan dan saya pun mulai disiplin belajar, try-out, dan berdoa. Dalam sebuah perjalanan ke tempat try-out, tanpa sengaja saya tersasar melewati gerbang depan kampus ITB dan akhirnya mem-visualisasi-kan pikiran seolah-olah saya menjadi mahasiswa disana. Meski tanpa mengikuti bimbel, atas seijin Allah, akhirnya saya bisa mengenyam bangku kuliah di STEI ITB, sebuah chapter kehidupan baru yg ternyata lebih menarik lagi…

Titik-Titik Puzzle (1)

Sekelumit kisah perjalanan pastinya menceritakan tentang persilangan jalan, baik itu tentang pilihan hidup ataupun tentang orang-orang yg sempat bersimpangan dengan kita. Perjalanan hidup itu seperti tongkat estafet, setiap orang di dalamnya mengantarkan kita pada posisi sekarang ini. Perjalanan hidup itu seperti bermain puzzle, setiap orang di dalamnya mempunyai kepingan penting yg menggambarkan diri kita sekarang. Menjelang seperempat abad saya hidup di dunia ini, ijinkan saya untuk menulis rekam jejak perjalanan saya pribadi. Sekedar untuk mengenang, menguatkan langkah, mengevaluasi diri, dan mensyukuri semua nikmat dan petunjuk yg telah Allah berikan.

Sejak lahir hingga masa balita, tubuh saya sering didera penyakit, mulai tipes, cacar, hingga asma bronkhitis yg acapkali kambuh. Spontan Ibu saya yg over-protective melarang saya untuk bermain dan ‘liar’ di luar rumah. Saya menghabiskan waktu hampir sehari semalam di dalam rumah setiap hari. Mungkin bisa dihitung dengan jari, berapa kali kaki saya menginjak tanah tanpa menggunakan sendal/sepatu. Itu sebabnya sampai sekarang telapak kaki dan tangan saya begitu halus, minim ‘rorombeheun’ dan kulit yg mengeras, sedikit gesekan saja bisa membuat telapak kaki dan tangan saya terluka. Praktis saat itu saya hidup dengan imajinasi dan teman2 imajiner di dalam rumah. Ada seorang teman nyata bernama Opik, yang merupakan tetangga di depan rumah. Seringkali saya menengok-nengok ke luar rumah dari jendela untuk sekedar memergoki Opik yg sedang lewat di depan rumah untuk kemudian saya panggil agar masuk dan bermain Playstation bersama. Lucunya, terkadang saya hanya butuh dia sebagai teman nonton atau mengobrol saja, yg main yah hanya saya sendiri. Ketika keluarganya memutuskan untuk pindah rumah, barulah saya merasakan sakitnya kehilangan seorang teman.

Masa-masa di TK dilalui dengan datar, tidak ada teman yg begitu dekat. Hanya ada 2 kejadian yg membekas, yaitu saat bertengkar dengan seorang teman dan ‘berhasil’ membuatnya menangis, dan ketika acara ulang taun saya dirayakan di sekolah, yaitu saat Ibu saya memasak Mie Goreng buatannya untuk disantap bersama seisi kelas. Mungkin 2 kejadian saat itu membuat saya merasakan 2 hal yg bertolak-belakang, tidak enaknya membuat orang lain menangis dan bahagianya saat bisa diperhatikan dan bisa berbagi dengan orang lain. Kelulusan TK saat itu dirayakan dengan foto memakai baju toga, sebuah doa agar setiap murid bisa bersekolah tinggi dan lulus sebagai sarjana.

Saat memasuki masa SD, saya mulai terbuka pada jalinan pertemanan, meski masih menjadi seorang yg pendiam. Ada beberapa teman dekat saat itu, Taufik Hilmi, Daniel, Rendi Bramantoro, Sigit Ramadhan, dll. Masing-masing dari mereka punya ciri dan karakter yg unik. Taufik dikenal sebagai murid yg pintar dan mempunyai tulisan yg sangat rapi, dia menjadi teman sebangku dan teman saat istirahat, kini yg saya tau dia jago dalam hal programming. Daniel dikenal sebagai murid berpostur paling tinggi, dia menjadi teman sejalan-pulang sekolah dan bermain ‘tazos’. Momen yg saya kenang adalah ketika dia memberi uang seratus rupiah kepada saya untuk menambahkan uang seribu yg saya punyai untuk dibelikan pedang-pedangan, sebagai hadiah kepada saya saat berulang taun. Rendi dikenal sebagai murid yg supel (termasuk pada murid perempuan) dan doyan maen bola, dia terkadang menjadi teman sepulang sekolah di rumah, untuk bermain bola dan PS. Kini ia menjadi sarjana jurusan farmasi dan sedang merintis bisnisnya sendiri. Sedangkan Sigit dikenal sebagai pelukis ulung dan ketua kelas, dia menjadi ketua grup pramuka saya dan teman kompetisi ‘Winning Eleven’. Kini yg saya tau ia adalah sarjana lulusan seni dan desain. Keempat teman dekat tersebut dan beberapa teman lainnya memberikan warna yg bermacam-macam pada diri saya pribadi. Ada juga teman dari SD kelas lain bernama Hari Purnama, yg sebetulnya saya lupa sejak kapan kami bisa akrab. Ditambah seorang guru bernama Pak Asep Hendra, yg mengajarkan muridnya untuk bermimpi melanjutkan sekolah ke SMP Favorit, jadilah saya bersama 5 orang teman lainnya (termasuk Sigit) berhasil lolos seleksi masuk SMPN 5 Bandung, sekolah SMP Terfavorit di Bandung.

Belajar di sekolah favorit dan unggulan, yg notabene berisi murid-murid terbaik, membuat lingkungan pertemanan jadi semakin kondusif sekaligus kompetitif. Regulasi sekolah yg memecah muridnya setiap kenaikan kelas, membuat saya berkenalan dengan beberapa teman dekat yg berbeda di setiap tahunnya. Di kelas 1-B, saya berteman dekat dengan Muh. Ihsan, Muh. Anggita Tresnamayung, dan Fajar Ajie Setiawan. Ihsan sebagai teman sebangku sama2 mempunyai tulisan yg rapih dan sesekali menggoda untuk bermain ke rumah saya. Anggita yg menjadi kenalan pertama saya saat itu dikenal sebagai murid yg pintar dan beberapa kali juga menjadi teman sebangku. Ajie adalah teman yg memperkenalkan saya pada ekskul Rohani, ekskul DKM yg pertama kalinya mengajarkan saya tentang teknologi dan proses kaderisasi. Sebuah kebetulan juga ketika itu pembinanya adalah seorang mahasiswa Teknik Fisika ITB. Di kelas 2-C, saya berteman dekat dengan Muh. Oki Wasil, Ahmad Yusran Diafri, dan Eki Hikmah Febriansyah. Oki sebagai teman sebangku terkadang berselisih paham dengan saya, yg akhirnya bisa berujung debat kusir. Disitu saya mulai merasakan adanya konflik dan belajar untuk mempertahankan pendapat. Yusran dikenal sebagai ‘badut’ kelas alias orang yg sering menjadi bahan tertawaan karena ulahnya sendiri. Sedangkan saya hanya bisa ‘berulah’ saat ada drama di sekolah saja, di saat saya bisa mengekspresikan diri saya dengan bebas, di luar kepribadian saya yg asli. Eki saat itu saya kenal sebagai murid yg ‘cunihin’, cuek saat bergaul, dan terkadang melakukan hal-hal aneh saat jam pelajaran berlangsung.

Di kelas 3-G, saya kemudian berteman dekat dan berkelompok bersama Yusran, Agung Satriyadi Wibowo, Arri Raditya, Agil Gilang Pratama, dan Lestian Atmopawiro. Kelas 3-G ini dikenal sebagai kelas biang masalah karena ‘berhasil’ membuat 3 guru bahasa (Indonesia, Inggris, Sunda) menangis di kelas karena ulah murid-murid di dalamnya. Praktis kami sekelas harus bolak-balik meminta maaf ke ruang guru. Ada momen-momen dimana saya diejek karena ‘cameuh’ dan berjari manis pendek, mulai dari awalnya membuat saya kesal, marah, hingga akhirnya terbiasa dengan semua ejekan itu. Ada juga momen mengerjakan PR seminggu ke depan di kelas karena motivasi agar bisa bermain Playstation jenis Role Playing Games di rumah sepuasnya. Dan juga, momen dimana saya menjadi pembawa ‘virus’ permainan kartu Yu-Gi-Oh di kelas, meski dengan peraturan yg dibuat sendiri. Dengan semangat yg sama dalam lingkungan yg kondusif, akhirnya saya dan mayoritas teman di kelas berhasil lolos seleksi ke SMA paling bergengsi di Bandung, SMAN 3 Bandung.

Dalam rekam jejak sampai saat itu juga, (saat ini) saya sadar dan merasa jika Allah mempunyai rencana dan rancangan terhadap hidup setiap manusia, termasuk saya, untuk sebuah tujuan di masa depan. Allah menyisipkannya dalam alam bawah sadar kita dan mengabadikannya dalam bentuk kenangan dan kepribadian. Allah pertemukan kita dengan orang-orang yg dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk melalui mereka dan melalui setiap peristiwa yg terjadi. Inilah mengapa Allah itu sungguh dekat, Dia Maha Mengetahui apa yg terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah kita menyadari akan petunjuk-Nya tersebut dan apakah kita telah memilih jalan terbaik yg telah Ia tunjukkan. Wallahu Alam.

Lintasan Doa dan Karma

Saya pikir jika setiap manusia akan selalu berkata-kata di dalam hati dan pikirannya. Entah berapa lama kita mampu tidak berkata-kata sama sekali. Dimanapun dan kapanpun, jarang sekali kita benar-benar diam termenung dengan pikiran yg kosong tanpa ada kata yg terlontar. Pikiran ini terus menerawang, membaca, merencanakan, berprasangka, mengenang, memerintah, ataupun berimajinasi. Dan karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu termasuk apa yg kita pikirkan, maka pikiran itu akan diarahkan oleh-Nya kepada suatu hal dan kenyataan sesuai kehendak-Nya secara kita sadari ataupun tidak.

Setiap lintasan pikiran itu bisa berarti doa dan bisa berakibat sebuah karma. Sebuah buku dan film berjudul “The Secret” menjelaskan jika pikiran kita mampu menarik seluruh alam semesta untuk mendukung apa yg kita pikirkan. Yang menjadi sorotan saya adalah sebetulnya Allah-lah yg memerintahkan alam semesta ini menuruti doa-doa orang yg dikehendaki-Nya. Dan yg menjadi tambahan adalah apa yg kita pikirkan tentang sesuatu itu bisa berbalik kepada diri kita sendiri. Pengalaman saya pribadi menunjukkan kedua hal ini.

Suatu ketika saya terlibat dalam suatu komunitas di Karawang yg sedang membutuhkan anggota tambahan. Anggota tambahan ini diharapkan mampu aktif berkegiatan dan setidaknya mempunyai pengalaman berorganisasi. Dan dikarenakan komunitas ini basic kegiatannya adalah seputar bisnis, maka anggota tambahan ini pun sebaiknya adalah seorang pengusaha. Pada saat itu, ternyata sangat sulit bagi saya untuk menemukan spesifikasi anggota seperti itu, terlebih saya adalah seorang pendatang di Karawang yg juga merupakan daerah industri, dimana sebagian besar masyarakatnya bekerja di pabrik.

Dalam suatu kepasrahan, saya berkata di dalam hati jika seandainya saya bisa menemukan seseorang yg mirip dengan saya pribadi. Saat itu, ingin rasanya mempunyai jurus kage bunshin ala Naruto. Dan selang beberapa hari muncul sebuah SMS dari seseorang yg mengajak ketemuan. Ketika itu saya bingung darimana dia mendapatkan nomer HP saya karena memang sebelumnya saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengannya. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai koordinator suatu komunitas bisnis lain di Karawang. Ketika pertama kali bertemu, kami ternyata cepat akrab karena memiliki visi dan pandangan yg hampir sama. Beliau pun fokus membesarkan usahanya sendiri di bidang makanan dan minuman. Dan yg menjadi kejutan terbesar bagi saya adalah nama beliau Fajry, nama yg juga mirip dengan saya (apalagi jika diucapkan berbarengan). Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya saya pun mengetahui jika kondisi beliau saat itu 11-12 dengan kondisi saya saat itu juga, dalam hal bisnis, organisasi, dan komunitas. Yg menjadi perbedaan adalah beliau orang asli Karawang yg telah menikah (sigh…), yg berarti sesuai juga dengan keinginan saya mempunyai partner asli orang Karawang yg dilengkapi dengan ‘ilmu kemapanan’. Subhanallah.

Dalam peristiwa lain, suatu ketika saya melihat kaki karyawan yg sedang terluka. Katanya luka itu didapat akibat goresan mesin traktor ketika membajak sawah. Terus terang saya agak jijik melihatnya karena luka tersebut agak menganga dan terkadang dihinggapi lalat ketika bekerja. Pada siang harinya, saya pergi ke daerah Purwakarta menaiki motor bersama seorang teman karena ada suatu keperluan. Dalam perjalanan pulang ke Karawang, terjadi hujan yg cukup lebat dan kami pun menepi. Akibat lelah menunggu dan waktu sudah mulai kesorean, kami pun nekat menembus hujan untuk melanjutkan perjalanan. Pada suatu jalan menurun yg licin, motor yg kami naiki slip dan kehilangan keseimbangan. Akhirnya kami terjatuh dengan kaki menghantam aspal. Cepat-cepat kami bangkit dan bergerak ke pinggir jalan. Tak terbayang nasib kami jika ada truk di belakang motor kami. Di pinggir jalan, saya mengecek kaki saya yg terasa perih dan ternyata lukanya berbentuk goresan memanjang yg sekilas mirip dengan luka karyawan yg paginya saya lihat. Astaghfirullah.

Ketika memikirkan kedua peristiwa yg berlainan seperti itu, saya pun terkadang jadi merinding. Dan jika setiap peristiwa bisa direfleksikan, sebetulnya banyak peristiwa lain yg juga terjadi akibat lintasan pikiran kita. Bisa begitu indahnya dan begitu berbahayanya lintasan pikiran yg ada di benak kita. Saya selalu percaya jika pikiran kita memancarkan gelombang doa yg bisa berbuah baik bagi kita dan bisa juga berbuah karma simalakama. Seakan-akan pikiran kita mempunyai frekuensi tertentu dan menarik sesuatu ataupun seseorang berfrekuensi sama. Dan tentunya ini menunjukkan jika sesungguhnya Allah Maha Adil dan Maha Memberi Peringatan. Doa yg baik dan buruk akan Allah kabulkan jika Ia berkehendak. Doa baik yg terkabulkan menuntun kita agar terus bersyukur dan ‘doa’ buruk yg terkabulkan menuntun kita agar terus beristighfar dan bertaubat. Dan keduanya menuntun kita agar terus ingat kepada-Nya dengan selalu menjaga pikiran dan perkataan kita. Wallahu alam.