Titik-Titik Puzzle (3)

Kehidupan perkuliahan dan suasana kampus memang menawarkan sajian idealisme yg kental. Terlebih dari suatu kampus dengan sejarah panjang tentang kemahasiswaan, kebebasan berpendapat, budaya diskusi, dan perjuangan mengkritisi bahkan ‘melawan’ pemerintahan. Yap, kampus bernama ITB pernah dikenal sebagai “The Last Stronghold” ataupun “Institut Terbaik Bangsa”, dimana banyak pemimpin-pemimpin hebat ‘dilahirkan’ disini. Meski seiring berjalannya waktu, slogan dan nama panggilan itu nampaknya semakin luntur (?).

Masa-masa pengenalan mahasiswa baru di ITB lebih banyak diisi oleh seminar, talkshow, pengenalan kampus, tugas-tugas, penampilan himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa, dan ramah tamah antarmahasiswa. Sedari awal, seminar dan talkshow pun sudah berisi paparan idealisme, profil alumni dan role model-nya, realita bangsa, perkembangan teknologi, dan apa yg bisa dilakukan kini dan di masa depan. Sebuah talkshow yg menarik perhatian saya saat itu adalah paparan pengalaman seorang alumni senior yg berhasil membangun sebuah bisnis pengolahan kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat. Setiap bagian dari kelapa mampu diolah menjadi suatu produk yg bernilai jual lebih dengan memanfaatkan alat dan mesin sederhana ciptaan si alumni tersebut. Proses produksi dan pengolahan yg melibatkan masyarakat sekitar turut meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Dalam hati kecil, saya berkata “Nah, ini dia!”, someday I want to become like him. Memang alas an idealis saya untuk berkuliah di ITB ini adalah agar saya bisa belajar bagaimana caranya membuat suatu alat tepat guna sambil meng-upgrade kualitas soft skill pribadi. Tekad untuk berubah dari seseorang yg kuper, kutu buku, maniak game, menjadi seorang aktivis idealis dengan segudang kesibukan pun mulai dicanangkan.

Pilihan aktivitas yg dipilih saat itu adalah di Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) dan di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA). Alasannya sederhana, saya ingin belajar berorganisasi dan menambah ilmu agama dan bisnis dari kedua unit kegiatan itu. Amanah yg didapat saat itu adalah menjadi panitia Divisi Acara & Marketing di Kajian Islam Terpusat (KIT) dan panitia Divisi Ticketing di Event Try Out UN-SPMB untuk anak2 SMA. Di kedua event ini saya berkenalan dengan orang2 yg luar biasa, di antaranya Yusuf Muhammad, Indra Pratama, Agung Wijaya Mitra Alam, Angga Kusnan Qodafi, Adjie Wicaksana, Taufiq Suryo, Chrisna Aditya, Fitrian Pambudi, Kang Ridwansyah Yusuf Ahmad, Kang Rendy Saputra, Kang Totoh Abdul Matin, Kang Albaz Rosada, dan masih banyak lagi. Begitu banyak pengalaman dan ilmu menarik seputar keorganisasian, team work, kepemimpinan, marketing, islam dan dakwah, yg didapat dari mereka. Kedua event itu berlangsung dengan cukup berhasil dan keseruan proses di dalamnya membuat saya “ketagihan”.

Kehidupan perkuliahan sebaliknya berlangsung biasa saja, berisi ceramah, catatan, tugas, praktikum, berpindah ruang kelas, laporan, dan begadang. Saya cukup berteman dekat dengan Esqi Aktiadi, Kharisma Surya Gautama, Hanugrha, Dadan Dawud, Harimurti Prasetio, Azhari Surya Adiputro, Taufik Khuswendi, dan Wafi “Harowa”. Kehidupan ber-YugiOh ria di Campus Center membuat saya berkenalan dengan Zaky Hassani, Dimas, Ashlih Dameitry, dan Muhammad Iqbal Faruqi. Orang tua yg menyuruh saya untuk fokus kuliah saja dan melarang aktif di organisasi, membuat saya harus bisa mengatur waktu, menyelesaikan ujian semester dengan nilai memuaskan, dan membuktikan diri pada orang tua jika kuliah dan organisasi bukanlah hal yg saling bertentangan. Aktif berorganisasi, pulang larut malam, lulus cumlaude dan tepat waktu, bukanlah hal yg mustahil untuk dicapai secara bersamaan. Saya mengambil Kang Muhammad Fajrin Rasyid sebagai role-model nya, MaPres ITB yg diumumkan saat PMB. Saya kemudian beranggapan jika kesibukanlah yg membuat segala sesuatu yg dilakukan jadi lebih efektif dan efisien. Saya dipaksa untuk lebih rajin, lebih menghargai waktu, dan dituntut oleh banyak deadline. Kehidupan lain berupa Dugem (Duduk Gembira Melingkar) membuat saya berteman dekat dengan Rino Ferdian, Ramdani Akbar, Ibrahim Imaduddin Islam, dan Kang Husna Nugrahapraja. Dugem ini mampu me-recharge semangat, ilmu, dan kekuatan hati dalam beraktivitas.

Di tingkat 2, saya memilih Teknik Elektro sebagai jurusan dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME). Proses kaderisasi di GAMAIS dan di HME ini menuntut kerjasama kelompok, militansi, kesiapan mental, dan fisik. Saya kemudian memilih fokus di GAMAIS karena mendapatkan amanah sebagai Ketua Departemen Humas Internal Kampus. Di departemen inilah saya berkenalan dekat dengan Yana Supriyatna, Aditya Putra Tama, Kang Ryan Alfian Noor, dan Kang Yudha Indrawan. Aktivitas ala humas pun saya lakoni, mulai dari keliling2 kampus, menyebar undangan ke himpunan2 dan unit2, mengurus birokrasi kampus, menghadiri forum dan diskusi terbuka, sampai mewakili senator di kongres. Secara tim Badan Pengurus Harian GAMAIS saat itu, saya bekerja sama dengan Kang Panji Prabowo, Kang Gesa Falugon, Kang Widi Noviansah, Kang Ardhesa Suhilman, dll. Saya beruntung 1 tim dengan kakak2 angkatan yg lebih tua sehingga bisa belajar banyak dari mereka. Sedangkan di HME, saya tidak begitu aktif, hanya beberapa kali menjadi panitia acara dan lomba. Disana saya bertemu dengan Arkan Muhammad Irsyad Sadeli, Yanwar Arditias, Salik Mukhlisin, Ihsan Mulia Permata, Kang Ikhsan Abdusyakur, Kang Ryvo Octaviano, dan Kang Iwa Kartiwa. Idealisme nasionalis semakin merasuk ke dalam diri saya ketika mengikuti beberapa pelatihan, talkshow, dan workshop disana. Salah satu yg saya ingat betul adalah ketika talkshow yg mengundang Kang Zulkaida Akbar dan Teh Shana Fatina dari Keluarga Mahasiswa ITB sebagai pembicara. Mereka mengatakan jika gambaran Indonesia di masa depan adalah gambaran mahasiswanya saat ini meliputi apa yg dipikirkan, direncanakan, dan dilakukannya. Dan katanya juga, calon pemimpin Indonesia di masa depan kemungkinan besar berasal dari kalangan entrepreneur, terutama yg bergerak juga di bidang sosial kemanusiaan.

Ahaha… jika dipikirkan memang begitu banyak orang yg melintas di kehidupan kampus dengan berbagai karakter dan kepribadian yg dimilikinya. Suasana kampus yg heterogen, yg berisi orang2 dari seluruh nusantara, yg mempunyai budaya dan bahasa berbeda. Mereka mengambil peran yg diinginkannya disana, mulai dari akademisi, peneliti, aktivis sosial, pengusaha muda, inventor, engineer, bahkan sampai politisi. Semua peran itu bercampur aduk dan mewarnai setiap orang di dalamnya. Ditambah pula bawaan materi kuliah teknik yg mengharuskan mahasiswanya berpikir sistematis, logis-matematis, dan analitis sebagai seorang problem solver. Jika saja semua itu dipadukan dengan ketahanan mental dan idealisme, kecerdasan emosi dan spiritual, kekuatan mindset dan kepedulian, maka setiap peran apapun yg diambil akan membawa kesuksesan dan kemaslahatan bagi diri dan lingkungannya.

Titik-Titik Puzzle (2)

Ada pendapat yg mengatakan jika karakter dan kepribadian itu sebagian besar dibentuk oleh lingkungan. Karakter dan kepribadian utama seseorang pun katanya terbentuk saat ia telah genap berusia 12 tahun. Itu berarti pola pengasuhan orang tua dan pola pendidikan + pergaulan saat TK hingga SMP memiliki kontribusi terbesar dalam hal ini. Mungkin bisa dikatakan jika saat itu ‘fase gunung es’ telah terlewati dimana seseorang secara “tidak sadar” telah terbentuk dan terwarnai oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga ia akan sulit mengubah kepribadian dan karakternya, kecuali dengan kesadaran penuh. Dikenal sebuah metode “memutus rantai gajah”, yaitu melakukan suatu tindakan perubahan yg berbeda dari kebiasaan sebelumnya yg konsisten dilakukan selama 90 hari.

Selepas masa SMP, seseorang yg melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA tentunya akan merasakan gejolak pubertas, pergaulan remaja, dan fase menemukan jati diri. Seseorang mulai bisa dengan sadar memilih sesuatu untuk dirinya, baik ataupun buruk, sesuai kepribadian yg telah terbentuk sebelumnya. Ingatan dan kenangan pada masa SMA pun semakin kuat terekam, seolah2 itu baru saja terjadi. Kepribadian yg telah terbentuk dihadapkan pada peristiwa dan kejadian yg mungkin saja mengubahnya 180 derajat atau malah menguatkannya. Ini gabungan antara pilihan, arahan, tujuan, lingkungan, dan takdir yg telah ditentukan oleh-Nya.

Berkaca pada pengalaman pribadi saat SMA, kepribadian saya yg cenderung pendiam dan melankolis-perfeksionis terus terbawa dari masa SD dan SMP. Praktis kelas 1 SMA saya lalui bersama 4 sahabat dekat, yaitu Ferry Anindito, Fadhil Ghalib Agam, Suryo Prasetyo, dan Muhammad Malik Idris. Ini jadi gank saat istirahat, tugas kelompok, grup drama, bermain PES, hingga bermain poker. Ferry yg sama-sama pendiam dan melankolis mengajak saya untuk ikut bergabung di Hikmatul Iman. Disini saya jadi tau seputar tenaga dalam dan tentang kampus bernama ITB dan mesjid bernama Salman. Karena memang salah satu proses latihannya dilakukan disana. Setelah bergabung selama 6 bulan, saya kapok ikut latihan karena rasa linu setelah sparing dan bengkak setelah mencoba mematahkan kikir. Fadhil dikenal sebagai ‘juragan’ sehingga kami sering bermain ke rumahnya untuk sekedar berkompetisi PES dan menghabiskan makanan. Disini saya baru tau jika bunga tabungan bank seorang karyawan senior di sebuah perusahaan minyak multinasional lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Suryo yg lebih supel dengan logat jawa yg kental bisa membuat gank ini lebih berwarna dan penuh canda tawa. Sedangkan Malik saat itu saya kenal sebagai seseorang yg tegas dan keras, bisa dianggap dia adalah ‘preman’ gank kami. Tetapi, sikapnya akan berubah banyak ketika berhadapan dengan murid perempuan, hehe…

Kelas 1 SMA yg saya kenal adalah masa-masanya bermain, dimana setiap orang memasuki masa ABG yg ceria dan menyenangkan. Dan ketika masuk kelas 2 SMA, yg saya tau (dan mungkin juga bagi sebagian besar murid di masa yg sama) adalah masa keakraban dan persahabatan. Pergaulan saya pun meluas hingga hapal setiap posisi murid laki-laki di setiap bangku sampai saat ini. Sayap kanan terdepan diisi oleh Sayyid Hakam Satrio dan Araf Pratamanaim. Jajaran di belakangnya diisi berturut-turut oleh Boma Ranggadjati-Ilmam Mukhlis, Krisha Adhya-Yogi Faldian, Iman Setyadi-Naufal Chairulfatah, Feiza Alfi-Raditya Hanung. Sedangkan sayap kiri diisi Achmad Faris Saffan-Eko Prasetyo, Reza Narindra-Saya, Markus-Muhammad Rizki, Evan Ardiansyah-Tedo Purnomo, Dadan Damayandri-Yusuf Nugraha. Banyak peristiwa menarik yg terjadi saat itu, mulai dari pola pergaulan, kisah persiapan drama kelas, cinlok-cinmon, kekompakan kelas, cerita tentang guru-guru, hingga perjalanan wisata ke Bali. Saya pribadi disini mendapatkan panggilan baru dengan nama gudjrin, sebuah momen yg membuat saya jadi lebih agamis, dan aktivasi email-sosial media sebagai tahapan untuk mulai ‘membuka diri’. Dan yg menjadi catatan tambahan adalah 90% lebih dari mereka lulus masuk fakultas-kampus bergengsi, seperti fakultas teknik-ITB ataupun ke fakultas kedokteran-psikologi.

Meski sempat diprotes oleh para murid, akhirnya susunan murid kelas 2 ini kembali dipecah sehingga kelas 3 diisi oleh susunan murid yg berbeda. Padahal harapannya adalah persahabatan yg telah terjalin bisa membantu proses belajar dan persiapan menghadapi UN-SPMB. Di kelas 3 ini saya berteman dekat dengan Rendi Oktavian, Alven Haeckal, Ardi Lazuardi, Indi Amrullah, dan Taufik Hidayat. Kepribadian yg menempel saat itu adalah hobi ngoprek-nya Alven dan hobi ngoding-nya Ardi. Ditambah sebangku dengan (Aa) Rendi, seorang ketua DKM mesjid sekolah, membuat saya jadi lebih religius, lebih sering ke mesjid, ikutan mentoring dan ta’lim, merutinkan doa setelah sholat dan tilawah. Bergaul dengan para remaja mesjid membuat saya semakin nyaman. Dari sini juga saya mendapatkan mentor seorang alumni ITB dan teman-teman seperjuangan bersama Reza Narindra, Muhammad Ferandy, Evan Ardiansyah, dan Bagus Dwiatmojo, dengan nama grup SPIRIT. Di dalam kelas bagian belakang terpampang sebuah board putih besar yg berisi nama-nama murid dan fakultas-kampus tujuannya masing-masing. Tekad telah ditetapkan dan saya pun mulai disiplin belajar, try-out, dan berdoa. Dalam sebuah perjalanan ke tempat try-out, tanpa sengaja saya tersasar melewati gerbang depan kampus ITB dan akhirnya mem-visualisasi-kan pikiran seolah-olah saya menjadi mahasiswa disana. Meski tanpa mengikuti bimbel, atas seijin Allah, akhirnya saya bisa mengenyam bangku kuliah di STEI ITB, sebuah chapter kehidupan baru yg ternyata lebih menarik lagi…

Titik-Titik Puzzle (1)

Sekelumit kisah perjalanan pastinya menceritakan tentang persilangan jalan, baik itu tentang pilihan hidup ataupun tentang orang-orang yg sempat bersimpangan dengan kita. Perjalanan hidup itu seperti tongkat estafet, setiap orang di dalamnya mengantarkan kita pada posisi sekarang ini. Perjalanan hidup itu seperti bermain puzzle, setiap orang di dalamnya mempunyai kepingan penting yg menggambarkan diri kita sekarang. Menjelang seperempat abad saya hidup di dunia ini, ijinkan saya untuk menulis rekam jejak perjalanan saya pribadi. Sekedar untuk mengenang, menguatkan langkah, mengevaluasi diri, dan mensyukuri semua nikmat dan petunjuk yg telah Allah berikan.

Sejak lahir hingga masa balita, tubuh saya sering didera penyakit, mulai tipes, cacar, hingga asma bronkhitis yg acapkali kambuh. Spontan Ibu saya yg over-protective melarang saya untuk bermain dan ‘liar’ di luar rumah. Saya menghabiskan waktu hampir sehari semalam di dalam rumah setiap hari. Mungkin bisa dihitung dengan jari, berapa kali kaki saya menginjak tanah tanpa menggunakan sendal/sepatu. Itu sebabnya sampai sekarang telapak kaki dan tangan saya begitu halus, minim ‘rorombeheun’ dan kulit yg mengeras, sedikit gesekan saja bisa membuat telapak kaki dan tangan saya terluka. Praktis saat itu saya hidup dengan imajinasi dan teman2 imajiner di dalam rumah. Ada seorang teman nyata bernama Opik, yang merupakan tetangga di depan rumah. Seringkali saya menengok-nengok ke luar rumah dari jendela untuk sekedar memergoki Opik yg sedang lewat di depan rumah untuk kemudian saya panggil agar masuk dan bermain Playstation bersama. Lucunya, terkadang saya hanya butuh dia sebagai teman nonton atau mengobrol saja, yg main yah hanya saya sendiri. Ketika keluarganya memutuskan untuk pindah rumah, barulah saya merasakan sakitnya kehilangan seorang teman.

Masa-masa di TK dilalui dengan datar, tidak ada teman yg begitu dekat. Hanya ada 2 kejadian yg membekas, yaitu saat bertengkar dengan seorang teman dan ‘berhasil’ membuatnya menangis, dan ketika acara ulang taun saya dirayakan di sekolah, yaitu saat Ibu saya memasak Mie Goreng buatannya untuk disantap bersama seisi kelas. Mungkin 2 kejadian saat itu membuat saya merasakan 2 hal yg bertolak-belakang, tidak enaknya membuat orang lain menangis dan bahagianya saat bisa diperhatikan dan bisa berbagi dengan orang lain. Kelulusan TK saat itu dirayakan dengan foto memakai baju toga, sebuah doa agar setiap murid bisa bersekolah tinggi dan lulus sebagai sarjana.

Saat memasuki masa SD, saya mulai terbuka pada jalinan pertemanan, meski masih menjadi seorang yg pendiam. Ada beberapa teman dekat saat itu, Taufik Hilmi, Daniel, Rendi Bramantoro, Sigit Ramadhan, dll. Masing-masing dari mereka punya ciri dan karakter yg unik. Taufik dikenal sebagai murid yg pintar dan mempunyai tulisan yg sangat rapi, dia menjadi teman sebangku dan teman saat istirahat, kini yg saya tau dia jago dalam hal programming. Daniel dikenal sebagai murid berpostur paling tinggi, dia menjadi teman sejalan-pulang sekolah dan bermain ‘tazos’. Momen yg saya kenang adalah ketika dia memberi uang seratus rupiah kepada saya untuk menambahkan uang seribu yg saya punyai untuk dibelikan pedang-pedangan, sebagai hadiah kepada saya saat berulang taun. Rendi dikenal sebagai murid yg supel (termasuk pada murid perempuan) dan doyan maen bola, dia terkadang menjadi teman sepulang sekolah di rumah, untuk bermain bola dan PS. Kini ia menjadi sarjana jurusan farmasi dan sedang merintis bisnisnya sendiri. Sedangkan Sigit dikenal sebagai pelukis ulung dan ketua kelas, dia menjadi ketua grup pramuka saya dan teman kompetisi ‘Winning Eleven’. Kini yg saya tau ia adalah sarjana lulusan seni dan desain. Keempat teman dekat tersebut dan beberapa teman lainnya memberikan warna yg bermacam-macam pada diri saya pribadi. Ada juga teman dari SD kelas lain bernama Hari Purnama, yg sebetulnya saya lupa sejak kapan kami bisa akrab. Ditambah seorang guru bernama Pak Asep Hendra, yg mengajarkan muridnya untuk bermimpi melanjutkan sekolah ke SMP Favorit, jadilah saya bersama 5 orang teman lainnya (termasuk Sigit) berhasil lolos seleksi masuk SMPN 5 Bandung, sekolah SMP Terfavorit di Bandung.

Belajar di sekolah favorit dan unggulan, yg notabene berisi murid-murid terbaik, membuat lingkungan pertemanan jadi semakin kondusif sekaligus kompetitif. Regulasi sekolah yg memecah muridnya setiap kenaikan kelas, membuat saya berkenalan dengan beberapa teman dekat yg berbeda di setiap tahunnya. Di kelas 1-B, saya berteman dekat dengan Muh. Ihsan, Muh. Anggita Tresnamayung, dan Fajar Ajie Setiawan. Ihsan sebagai teman sebangku sama2 mempunyai tulisan yg rapih dan sesekali menggoda untuk bermain ke rumah saya. Anggita yg menjadi kenalan pertama saya saat itu dikenal sebagai murid yg pintar dan beberapa kali juga menjadi teman sebangku. Ajie adalah teman yg memperkenalkan saya pada ekskul Rohani, ekskul DKM yg pertama kalinya mengajarkan saya tentang teknologi dan proses kaderisasi. Sebuah kebetulan juga ketika itu pembinanya adalah seorang mahasiswa Teknik Fisika ITB. Di kelas 2-C, saya berteman dekat dengan Muh. Oki Wasil, Ahmad Yusran Diafri, dan Eki Hikmah Febriansyah. Oki sebagai teman sebangku terkadang berselisih paham dengan saya, yg akhirnya bisa berujung debat kusir. Disitu saya mulai merasakan adanya konflik dan belajar untuk mempertahankan pendapat. Yusran dikenal sebagai ‘badut’ kelas alias orang yg sering menjadi bahan tertawaan karena ulahnya sendiri. Sedangkan saya hanya bisa ‘berulah’ saat ada drama di sekolah saja, di saat saya bisa mengekspresikan diri saya dengan bebas, di luar kepribadian saya yg asli. Eki saat itu saya kenal sebagai murid yg ‘cunihin’, cuek saat bergaul, dan terkadang melakukan hal-hal aneh saat jam pelajaran berlangsung.

Di kelas 3-G, saya kemudian berteman dekat dan berkelompok bersama Yusran, Agung Satriyadi Wibowo, Arri Raditya, Agil Gilang Pratama, dan Lestian Atmopawiro. Kelas 3-G ini dikenal sebagai kelas biang masalah karena ‘berhasil’ membuat 3 guru bahasa (Indonesia, Inggris, Sunda) menangis di kelas karena ulah murid-murid di dalamnya. Praktis kami sekelas harus bolak-balik meminta maaf ke ruang guru. Ada momen-momen dimana saya diejek karena ‘cameuh’ dan berjari manis pendek, mulai dari awalnya membuat saya kesal, marah, hingga akhirnya terbiasa dengan semua ejekan itu. Ada juga momen mengerjakan PR seminggu ke depan di kelas karena motivasi agar bisa bermain Playstation jenis Role Playing Games di rumah sepuasnya. Dan juga, momen dimana saya menjadi pembawa ‘virus’ permainan kartu Yu-Gi-Oh di kelas, meski dengan peraturan yg dibuat sendiri. Dengan semangat yg sama dalam lingkungan yg kondusif, akhirnya saya dan mayoritas teman di kelas berhasil lolos seleksi ke SMA paling bergengsi di Bandung, SMAN 3 Bandung.

Dalam rekam jejak sampai saat itu juga, (saat ini) saya sadar dan merasa jika Allah mempunyai rencana dan rancangan terhadap hidup setiap manusia, termasuk saya, untuk sebuah tujuan di masa depan. Allah menyisipkannya dalam alam bawah sadar kita dan mengabadikannya dalam bentuk kenangan dan kepribadian. Allah pertemukan kita dengan orang-orang yg dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk melalui mereka dan melalui setiap peristiwa yg terjadi. Inilah mengapa Allah itu sungguh dekat, Dia Maha Mengetahui apa yg terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah kita menyadari akan petunjuk-Nya tersebut dan apakah kita telah memilih jalan terbaik yg telah Ia tunjukkan. Wallahu Alam.

Lintasan Doa dan Karma

Saya pikir jika setiap manusia akan selalu berkata-kata di dalam hati dan pikirannya. Entah berapa lama kita mampu tidak berkata-kata sama sekali. Dimanapun dan kapanpun, jarang sekali kita benar-benar diam termenung dengan pikiran yg kosong tanpa ada kata yg terlontar. Pikiran ini terus menerawang, membaca, merencanakan, berprasangka, mengenang, memerintah, ataupun berimajinasi. Dan karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu termasuk apa yg kita pikirkan, maka pikiran itu akan diarahkan oleh-Nya kepada suatu hal dan kenyataan sesuai kehendak-Nya secara kita sadari ataupun tidak.

Setiap lintasan pikiran itu bisa berarti doa dan bisa berakibat sebuah karma. Sebuah buku dan film berjudul “The Secret” menjelaskan jika pikiran kita mampu menarik seluruh alam semesta untuk mendukung apa yg kita pikirkan. Yang menjadi sorotan saya adalah sebetulnya Allah-lah yg memerintahkan alam semesta ini menuruti doa-doa orang yg dikehendaki-Nya. Dan yg menjadi tambahan adalah apa yg kita pikirkan tentang sesuatu itu bisa berbalik kepada diri kita sendiri. Pengalaman saya pribadi menunjukkan kedua hal ini.

Suatu ketika saya terlibat dalam suatu komunitas di Karawang yg sedang membutuhkan anggota tambahan. Anggota tambahan ini diharapkan mampu aktif berkegiatan dan setidaknya mempunyai pengalaman berorganisasi. Dan dikarenakan komunitas ini basic kegiatannya adalah seputar bisnis, maka anggota tambahan ini pun sebaiknya adalah seorang pengusaha. Pada saat itu, ternyata sangat sulit bagi saya untuk menemukan spesifikasi anggota seperti itu, terlebih saya adalah seorang pendatang di Karawang yg juga merupakan daerah industri, dimana sebagian besar masyarakatnya bekerja di pabrik.

Dalam suatu kepasrahan, saya berkata di dalam hati jika seandainya saya bisa menemukan seseorang yg mirip dengan saya pribadi. Saat itu, ingin rasanya mempunyai jurus kage bunshin ala Naruto. Dan selang beberapa hari muncul sebuah SMS dari seseorang yg mengajak ketemuan. Ketika itu saya bingung darimana dia mendapatkan nomer HP saya karena memang sebelumnya saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengannya. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai koordinator suatu komunitas bisnis lain di Karawang. Ketika pertama kali bertemu, kami ternyata cepat akrab karena memiliki visi dan pandangan yg hampir sama. Beliau pun fokus membesarkan usahanya sendiri di bidang makanan dan minuman. Dan yg menjadi kejutan terbesar bagi saya adalah nama beliau Fajry, nama yg juga mirip dengan saya (apalagi jika diucapkan berbarengan). Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya saya pun mengetahui jika kondisi beliau saat itu 11-12 dengan kondisi saya saat itu juga, dalam hal bisnis, organisasi, dan komunitas. Yg menjadi perbedaan adalah beliau orang asli Karawang yg telah menikah (sigh…), yg berarti sesuai juga dengan keinginan saya mempunyai partner asli orang Karawang yg dilengkapi dengan ‘ilmu kemapanan’. Subhanallah.

Dalam peristiwa lain, suatu ketika saya melihat kaki karyawan yg sedang terluka. Katanya luka itu didapat akibat goresan mesin traktor ketika membajak sawah. Terus terang saya agak jijik melihatnya karena luka tersebut agak menganga dan terkadang dihinggapi lalat ketika bekerja. Pada siang harinya, saya pergi ke daerah Purwakarta menaiki motor bersama seorang teman karena ada suatu keperluan. Dalam perjalanan pulang ke Karawang, terjadi hujan yg cukup lebat dan kami pun menepi. Akibat lelah menunggu dan waktu sudah mulai kesorean, kami pun nekat menembus hujan untuk melanjutkan perjalanan. Pada suatu jalan menurun yg licin, motor yg kami naiki slip dan kehilangan keseimbangan. Akhirnya kami terjatuh dengan kaki menghantam aspal. Cepat-cepat kami bangkit dan bergerak ke pinggir jalan. Tak terbayang nasib kami jika ada truk di belakang motor kami. Di pinggir jalan, saya mengecek kaki saya yg terasa perih dan ternyata lukanya berbentuk goresan memanjang yg sekilas mirip dengan luka karyawan yg paginya saya lihat. Astaghfirullah.

Ketika memikirkan kedua peristiwa yg berlainan seperti itu, saya pun terkadang jadi merinding. Dan jika setiap peristiwa bisa direfleksikan, sebetulnya banyak peristiwa lain yg juga terjadi akibat lintasan pikiran kita. Bisa begitu indahnya dan begitu berbahayanya lintasan pikiran yg ada di benak kita. Saya selalu percaya jika pikiran kita memancarkan gelombang doa yg bisa berbuah baik bagi kita dan bisa juga berbuah karma simalakama. Seakan-akan pikiran kita mempunyai frekuensi tertentu dan menarik sesuatu ataupun seseorang berfrekuensi sama. Dan tentunya ini menunjukkan jika sesungguhnya Allah Maha Adil dan Maha Memberi Peringatan. Doa yg baik dan buruk akan Allah kabulkan jika Ia berkehendak. Doa baik yg terkabulkan menuntun kita agar terus bersyukur dan ‘doa’ buruk yg terkabulkan menuntun kita agar terus beristighfar dan bertaubat. Dan keduanya menuntun kita agar terus ingat kepada-Nya dengan selalu menjaga pikiran dan perkataan kita. Wallahu alam.

Seek Not See, Learn Not Earn

Pernah kan ngeliat petani lagi ngebajak sawah pake traktor? Selayang pandang nampak jika kerjaan itu gampang dilakuin. Cuma megang handle-nya terus jalan bolak-balik muterin sepetak sawah. Padahal dalam kenyataannya ngebajak sawah pake traktor itu kerjaan berat. Si petani harus bisa nahan bobot traktor biar bisa jalan lurus dan biar ga keguling saat ngelakuin belokan. Jika pertama kali nyoba, kata petaninya sih 2 kali bolak-balik aja udah kerasa ngos-ngosan. Padahal sepetak sawah ukuran beberapa ratus meter persegi aja butuh puluhan kali bolak-balik biar semua bagian tanahnya kebajak. Dan biasanya ukuran bayaran pekerja traktor itu per hektar, yaitu 10.000 meter persegi. Ckck… Ternyata luar biasa emang tenaga yg harus dikeluarin.

Di luar kerjaan mentraktor, tentunya masih banyak kerjaan lain yg sama-sama berat ataupun lebih berat lagi. Dan terkadang kita berpikiran jika kerjaan itu mudah hanya dengan melihatnya saja. Atau kita berpikiran jika kerjaan orang lain itu tidak sesulit apa yg kita sendiri kerjakan. Persepsi berat-ringan ataupun sulit-mudah itu muncul dari subjektivitas kita sendiri. Dan sering pula persepsi semacam ini menimbulkan konflik dan rasa ketidakadilan antara diri kita masing-masing.

Ketika kini sedang rame-ramenya pemberitaan demo buruh menuntut kenaikan upah, saya berpikiran jika persepsi ketidakadilan ini menjadi salah satu penyebabnya. Buruh merasa menjadi sapi perah suatu pabrik atau perusahaan, tetapi merasa pula upahnya minim jika dibandingkan dengan keuntungan perusahaan ataupun upah staff dan atasannya. Buruh pun melihat jika kerjaan seorang staff atau manager tidaklah berat, tetapi kok malah mendapatkan upah yg lebih tinggi. Sebaliknya, jajaran manajemen perusahaan melihat jika upah buruh itu sudah mencukupi kebutuhan hidup layak. Dan mereka pun berpikiran jika buruh itu hanya pekerja fisik yg tak perlu pusing memikirkan perkembangan dan kemajuan perusahaan. Kedua pihak ini nampak berseteru dengan persepsinya masing-masing.

Ketika dulu saya mulai bekerja di sebuah pabrik sebagai staff, ada program dari manajemen yg bernama Operator Experience, yg merupakan salah satu bagian dari On The Job Development (proses dari Management Trainee). Di program ini, saya diharuskan menjadi operator (buruh) di suatu proses assembly selama beberapa hari. Tujuannya adalah agar saya merasakan bagaimana capeknya, sulitnya, dan menderitanya seorang operator. Selain itu, saya pun diharuskan untuk mengusulkan suatu perbaikan di pekerjaan operator itu berdasarkan pengalaman yg didapat. Hasilnya ternyata lumayan : tangan bengkak, pinggang cekot-cekot, dan pastinya keringetan sekujur tubuh. Untuk perbaikannya, saya mengusulkan suatu metode untuk mengurangi kecacatan dalam proses di bagian itu, yg merupakan salah satu KPI perusahaan.

Di sisi lain, ketika saya murni bekerja sebagai staff, ternyata tidak sedikit yg over-estimate dan yg under-estimate. Seringkali operator atau bagian di bawah staff yg menanyakan tentang masalah yg tidak saya ketahui penyebab dan solusinya. Kalimat yg terlontar dari mereka (kira-kira) adalah “Ah, kan Bapak S1” atau “Ini kan tanggung jawab Bapak sebagai staff”. Lucunya adalah tujuan dari pertanyaan itu terkadang sekedar ingin ‘menguji’ saya. Dan sebetulnya saya pun berpikir jika terkadang operator lebih tau mengenai masalah tersebut karena lebih berpengalaman dari saya. Pertanyaan seputar gaji, keirian terhadap posisi staff, ‘kesenjangan’ dalam pekerjaan, dan hal semacamnya lumayan sering saya dengar ketika bergaul dengan operator. Padahal kenyataannya adalah upah operator dan staff tidak jauh berbeda, staff tidak ada uang lembur di atas 2 jam, pekerjaan kantor seringkali mengharuskan begadang, dan tentunya banyak laporan yg harus dibuat.

Dalam hal struktur perusahaan, memang mayoritas dibagi menjadi 2 bagian, posisi teknis dan posisi manajemen. Buruh dan operator termasuk posisi teknis dan staff / manager termasuk posisi manajemen. Keduanya dipisahkan oleh sekat yg terlihat dan ‘sekat’ yg tak terlihat. ‘Sekat’ yg tak terlihat ini adalah operator dan staff memiliki hubungan yg berbeda terhadap perusahaan. Operator itu menganggap perusahaan sebagai ‘musuh’ dan perusahaan menganggap staff sebagai ‘teman’. Oleh karena itu, anggota aktif Serikat Pekerja dimanapun kebanyakan diisi oleh operator / buruh dengan segelintir orang staff. Jikalau seorang operator naik kelas menjadi staff, hampir dipastikan jika nantinya ia tidak akan aktif kembali di Serikat Pekerja. Sedihnya adalah seringkali sekat ini sengaja dibuat untuk memicu konflik kepentingan antara buruh dan manajemen agar perusahaan secara umum meraih keuntungan dan benefit maksimal. Dan ternyata hal-hal ini akhirnya yg menjadi salah satu alasan mengapa saya resign.

Berkaca pada pengalaman pribadi ini, cobalah jika setiap orang tidak hanya melihat dari apa yg didapat, tetapi lebih mencari apa-apa yg bisa dipelajari / dialami. Seorang buruh bisa mencoba atau mempelajari untuk menjadi pengusaha dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya mengatur karyawan. Seorang manager bisa mencoba mengerjakan pekerjaan seorang buruh dengan target waktu yg telah ia tetapkan sendiri. Seorang pengusaha bisa merasakan sulit dan lelahnya jatuh bangun agar ia tak lupa daratan ketika berada di puncak kesuksesan. Sulit dan mudah itu adalah persepsi sebelum kita melakukannya sendiri. Berat dan ringan itu adalah persepsi sebelum kita merasakannya sendiri. Yg bisa dibenarkan adalah : you can feel easy if you adapt, enjoy, and passionate about it.

Dreamer Wisdom

Back to the moment, ketika saya resign dulu, ada wawancara akhir dengan psikolog yg menguatkan niat saya untuk mengembangkan mimpi-mimpi saya ke depan. Proses resign dulu memang terasa begitu cepat, pikiran saya memang terkadang meledak-ledak ketika ada sesuatu yg ingin dilakukan. Rencana resign ketika umur 30-an, yaitu setelah bekerja sekitar 8 tahunan, mengalami percepatan jadwal menjadi hanya 6 bulanan setelah bekerja. Tidak disangka jika psikolog itu memfasilitasi saya dengan nasehat-nasehat yg berharga hingga saat ini. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya menuliskannya kembali di blog ini.

Yang pertama adalah memilih lingkungan positif berupa komunitas atau kelompok masyarakat yg benar dan mampu mendukung terwujudnya mimpi-mimpimu. Dengan posisi saya sebagai pendatang di Karawang saat itu, saya tidak punya kenalan ataupun koneksi yg bisa menuntun saya untuk memilih lingkungan yg tepat. Proses pencarian orang2 dengan lingkungan yg tepat memang menjadi suatu pengalaman yg menarik, especially when you don’t know where you are.

Yang kedua adalah memilih pasangan hidup. Bagi saya, ini nampaknya hal yg lebih sulit dari hal yg pertama. Pasangan hidup sebaiknya adalah orang yg mempunyai visi yg sama dengan pengetahuan dan pola pikir yg bisa memahami arti dari mimpi-mimpimu. Katanya membina seorang istri itu lebih melelahkan daripada membina sebuah masyarakat. Katanya lagi kehilangan rumah tangga bisa berarti kehilangan segalanya. Yang saya pikirkan adalah proses pencarian pasangan hidup merupakan proses pemantasan diri. Dalam perjalanan pribadi pun, saya sering mendengar cerita dan kasus yg menarik ketika bertemu teman2 yg telah menikah. Mayoritasnya adalah tentang rezeki dan kemudahan yg tiba2 mengalir setelah menikah. 

Yang ketiga adalah tentang membuat anchor dalam perjalanan meraih mimpi. Anchor disini bisa berarti suatu penyemangat ketika nanti harus jatuh bangun. Bentuk anchor itu bisa berupa sebuah event, kenangan tak terlupakan, ataupun momentum saat memulai. Sesuatu yg bisa diputar kembali di dalam otak. Bagi saya, menulis pengalaman pribadi seperti ini bisa menjadi anchor. Menghargai dan menikmati semua tahapan dan pencapaian memang bisa memotivasi diri sendiri.

Yang keempat adalah mengenali potensi diri sendiri. Hanya diri sendiri yg bisa menakar dan menilai hal ini. Bisa juga dengan mengenali karakter-karakter orang lain dan membandingkannya. Yang perlu diperhatikan adalah setiap orang sukses mempunyai karakternya masing-masing. Begitu beruntungnya kita ketika saat ini banyak buku yg menceritakan perjalanan hidup mereka. Membandingkan dan menyamakannya dengan diri sendiri bisa menjadi pembelajaran yg membuat perubahan. Be yourself disini berarti to be the best of yourself.

Yang kelima adalah mengenali medan yg akan dihadapi. Ini hal yg vital dalam menentukan seberapa cepat kita bisa berkembang dan dipercaya oleh sebuah masyarakat. Prosesnya mencakup analisis struktur sosial yg ada, tingkatan pendidikan, persepsi masyarakat, pola pikir yg berkembang, dan tokoh-tokoh yg ada di masyarakat tersebut. 

Perencanaan memang menjadi hal yg penting dalam melakukan proses-proses tersebut, meski dalam pelaksanaannya seringkali banyak hal yg di luar dugaan. Tetapi, justru itu yg memperkaya dan melejitkan kualitas diri. Nyatanya Allah selalu memberikan apa yg kita butuhkan dan memberikan juga ujian yg sesuai kemampuan kita. Jika perjalanan menuju mimpi itu perjalanan yg mendaki lagi sulit, maka yakinlah jika jalan itu jalan yg benar yg seharusnya kita tempuh. Somehow it’s always designed like that. Wallahu alam.

Duet Sejoli Microfinance dan Koperasi

Microfinance dipandang sebagai salah satu bentuk yg mampu memberikan solusi terhadap masalah perekonomian warga. Pinjaman ringan berbunga ‘rendah’ non-agunan ini menjadi pilihan yg ‘ramah lingkungan’. Banyak lembaga keuangan yg mulai masuk ke ranah ini, mulai dari bank keliling / rentenir hingga perbankan umum. Microfinance memang mempunyai tingkat resiko yg rendah, dengan kata lain jarang ada kredit macet. Keuntungan bagi lembaganya pun terbilang cukup besar karena pasarnya sangat luas, mulai dari petani, pedagang kecil, hingga tukang asongan.

Dalam ranah pemberdayaan masyarakat, microfinance mempunyai sistem yg mudah diaplikasikan dan dimengerti oleh masyarakat pedesaan sekalipun. Sudah mulai banyak contoh kesuksesan microfinance dengan sistem yg baik. Special thanks to Muhammad Yamin, pendiri Grameen Bank, yg mampu menginspirasi dunia dengan gerakan microfinance berkelompok (renteng) di Bangladesh. Untuk di Indonesia sendiri, ada pergerakan Uda Masril Koto di Sumatera Barat dengan Bank Tani-nya, Shafiq Dhanani dengan Mitra Bisnis Keluarga di Jawa, Leonardo Kamillius dengan Koperasi Kasih Indonesia di Cilincing, dan yg lainnya.

Microfinance juga sering disandingkan dengan sistem koperasi simpan pinjam ataupun koperasi serba usaha. Sayangnya, ada beberapa oknum rentenir yg memanfaatkan sistem ini untuk meraup keuntungan yg sebesar-besarnya. Di Karawang sendiri, saya pernah menemukan praktek semacam ini. Si pemilik koperasi ternyata memperkaya diri dengan hasil riba dari para nasabahnya. Setiap ATM nasabah ‘disita’ selama proses pengembalian pinjaman dan aset nasabah pun akan ikut disita jika ternyata kreditnya macet di tengah jalan. Setiap hari banyak motor ‘debt collector’ yg terparkir di koperasi ini dan kemudian berkeliling untuk menagih pinjaman.

Di sisi lain, ada juga suatu gerakan menabung di daerah Karawang yg akhirnya berubah menjadi koperasi simpan pinjam dan berhasil mengumpulkan aset hingga 300 juta dan gadaian tanah sawah seluas 2 hektar dalam kurun waktu 6 tahun. Dalam waktu yg relatif lama ini, setiap nasabah menabung 500 rupiah per hari dan dikumpulkan per minggu. Setiap nasabah ini nantinya berhak mendapatkan pinjaman maksimal sebesar 2 kali lipat dari simpanannya dengan ‘uang jasa’ sebesar 10% dari nilai pinjaman. Yg menjadi pertimbangan disini adalah mayoritas pinjaman ternyata masih bersifat konsumtif, yaitu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang dapat dimaklumi karena masyoritas nasabahnya adalah ibu2 petani atau istri dari petani. Mereka akan menumpuk simpanan sukarela saat masa panen dan meminjam dana saat kesulitan di masa paceklik.

Alangkah lebih baik memang jika pinjaman dari microfinance seperti ini dipergunakan untuk modal usaha. Si koperasi pemberi dana bisa berperan sekaligus sebagai penyedia bahan baku dagangan, sarana pemasaran, dan lembaga pelatihan usaha. Koperasi pun bisa menjadi penengah antara tengkulak dan petani. Sudah menjadi rahasia umum jika banyak tengkulak ataupun bandar yg meraup keuntungan dari hasil pertanian secara tidak adil. Dengan pelatihan usaha yg dilakukan, para nasabah koperasi pun diharapkan mampu lebih produktif dalam menggunakan pinjaman. Ada banyak potensi lokal yg bisa dikembangkan menjadi produk yg bernilai lebih. Sistem pinjamannya pun jadi bisa diperbaiki, dari sistem berbunga ke sistem bagi hasil. Lebih adil, lebih berkah, dan sesuai prinsip syariah.

Revitalisasi microfinance dan koperasi ini memang jadi salah satu mimpi dan program bersama di suatu yayasan yg saya ikuti sekarang. Meski masih tahapan inisiasi, saya melihat proses revitalisasi ini akan cukup menantang. Dari mulai resistansi nasabah dan masyarakat hingga ke regulasi perkoperasian. Namun, saya yakin program ini bisa terwujud jika prosesnya diawali dengan niat yg baik, dikawal, dilakukan, dan didampingi oleh orang2 yg bervisi sama. Insya Allah.

Karawang Oh Karawang (Bagian 3) : The Ugly Truth

Terinspirasi dari judul film kemarin malam, ijinkan saya menulis beberapa the ugly truth lagi mengenai suatu kabupaten yg bernama Karawang ini. Mengenai hubungan pria dan wanita, ternyata di Karawang ini cukup banyak yg telah melewati batas. Akibatnya adalah Karawang menjadi salah satu daerah dengan penderita AIDS terbanyak di Jawa Barat. Seperti yg sudah saya sampaikan sebelumnya jika hampir di setiap kecamatan terdapat ‘fasilitas’ lokalisasi. Kadangkala saya mendengar nama daerah lokalisasi itu terucap dari beberapa penduduk desa, dari yg hanya gurauan hingga bernada ajakan. Ekstrimnya adalah terkadang pria2 itu mengucapkannya di depan istrinya sendiri dan seolah-olah “jajan di tempat seperti itu” merupakan hal yg lumrah. Na’udzubillah.

Mungkin salah satu alasan lokalisasi2 itu berdiri adalah karena banyaknya wanita desa disini yg bekerja sebagai TKW di luar negeri. Wanita desa ini menjadi TKW bertahun-tahun dan jarang pulang kampung. Sekalinya pulang itu pun hanya beberapa saat sebelum mereka pergi kembali untuk beberapa tahun berikutnya. Otomatis mereka tidak punya waktu untuk melayani suami dan keluarganya sendiri. Selain itu pula, beberapa TKW mengalami pelecehan seksual di luar negeri dan terkadang membawa penyakit menular seksual saat pulang kampung. Kondisi penyebaran penyakit AIDS ini diperparah juga oleh ulah sebagian pemuda desa. Pernah suatu ketika saya mendengar aktivitas para pemuda desa yg membawa seorang wanita untuk “dipakai beramai-ramai”. Ada yg berupa kejadian pemerkosaan, atas dasar “suka sama suka”, ataupun karena bayaran atau “arisan”. Na’udzubillah.

Selain tentang AIDS ini, the ugly truth lainnya adalah banyaknya LSM atau ormas di Karawang yg sering bertikai, dari mulai tawuran hingga pembakaran kendaraan dan fasilitas umum. Penyebabnya antara lain adalah berebut jatah preman (japrem), berebut lokasi kekuasaan dan jatah limbah pabrik, ataupun karena alasan politis. Beberapa LSM dan ormas ternyata memang bentukan pejabat yg punya kepentingan politis pribadi. LSM dan ormas ini dipakai sebagai basis massa pendukung ataupun sebagai oposisi pejabat / partai lainnya. Lucunya adalah meski hal ini terkadang telah menjadi rahasia umum, tetapi tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan pihak berwenang (ataupun masyarakat itu sendiri). Dan “kegiatan” tawuran bukanlah milik LSM dan ormas semata. Tawuran acapkali terjadi di kalangan pelajar, buruh-pabrik-aparat, dan antardesa. Nampaknya tawuran menjadi bentuk aktualisasi diri yg salah. Bahkan ada di suatu daerah, tawuran ini sudah menjadi rutin dilakukan di tiap malam minggu dalam beberapa bulan terakhir. Astaghfirullah.

Konflik kesukuan di Karawang pun nampaknya lumayan tinggi, yaitu antara suku pribumi dengan suku pendatang, terutama suku Jawa. Penyebab utamanya adalah kecemburuan sosial dimana suku Jawa lebih sering diterima bekerja di pabrik di Karawang ketimbang suku pribumi. Kecemburuan sosial ini sering ditunjukkan di grup-grup media sosial Karawang semacam FB. Padahal dalam pandangan kacamata pribadi, konflik ini sebetulnya terkait kualitas SDM lokal dan pendatang. SDM lokal Karawang acapkali berulah ketika bekerja di pabrik, seperti sering membolos, membentak atasan karena merasa pribumi dan punya ‘dekengan’, tidur saat bekerja, dll. Meski tidak semua SDM lokal seperti ini, namun hal ini menimbulkan stigma negatif pada manajemen pabrik untuk tidak menerima karyawan asli dari Karawang. Saya pribadi melihat kenyataan hal ini ketika dulu bekerja, dan memang mayoritas operator adalah orang luar Karawang. Selain itu, ada banyak kasus lain dimana calon karyawan harus membayar sekian juta kepada oknum manajemen agar bisa diterima. Dan biasanya, jika calon karyawan ini nantinya pun diterima secara kontrak, ia tidak akan dipertahankan menjadi karyawan permanen.

Di sisi lain, kualitas pendidikan di Karawang pun terbilang di bawah rata2 jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Sulit untuk menemukan sekolah yang berkualitas disini. Mencari yg best input saja sudah sulit, apalagi yg best process. Jarang yg mampu melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Universitas yg ada di Karawang pun lebih banyak diisi oleh kelas karyawan. Ada di suatu kecamatan dimana ada puluhan SD disana, namun hanya ada 1 SMP saja di kecamatan yg sama. Tidak terbayang begitu sesaknya SMP tersebut menampung output dari puluhan SD. Dalam bisnis, mungkin ini bisa disebut monopoli, bagus bagi si SMP yg tak akan pernah kekurangan murid, tapi buruk bagi si murid karena pastinya harus berebut tempat dengan kualitas pendidikan yg tak seberapa.

Kondisi pemerintahan pun pastinya sebagian besar telah tercermin dari kondisi masyarakatnya. And I don’t want to mention that because it would be just repetition from what I said earlier : tidak transparan, tidak tegas, apatis, korup, dll.

Dalam beberapa tahun mendatang, Karawang pun akan mempunyai pelabuhan dan bandara berskala nasional (dan mungkin internasional). Pelabuhan di utara dan bandara di selatan. Jika kondisi masyarakatnya masih seperti sekarang ini, tak terbayang apa yg akan terjadi berikutnya. Pendatang semakin banyak, kegiatan ekonomi semakin deras, konflik sosial semakin meluas, dan intervensi pihak asing semakin kuat. Pelabuhan tanjung priok bisa menjadi contoh yg buruk dimana kondisi masyarakat disana begitu keras, sampai2 banyak perusahaan mem-blacklist siapapun yg berasal darisana. Hal yg sama sangat mungkin terjadi di Karawang dalam waktu mendatang. Ditambah gelombang globalisasi seperti Asean Economic Community akan melanda negeri ini dalam waktu dekat, yg pastinya akan meningkatkan persaingan kerja.

Sejujurnya, saya menulis hal-hal ini bukanlah untuk menyebarkan kegelapan, tetapi hanya berupaya untuk membukakan mata bagi siapa saja yg membacanya. Karawang hanyalah sebagian kecil dari bangsa ini, dan kini ia sedang ‘sakit’. Begitu banyak penyakit dan masalah menandakan jika begitu banyak pula bentuk kontribusi dan solusi yg bisa kita berikan. Dan tentunya, daripada kita mengutuk kegelapan, lebih baik kita menciptakan cahaya perubahan. Let’s shine together!

The Homeschooler

Dulu istilah homeschooling saya kenal sebagai sekolahnya anak2 yg super sibuk, artis cilik, penyanyi cilik, dll. Anak2 ‘terpilih’ itu diajar oleh guru2 privat yg datang ke rumah mereka. Dan memang inilah persepsi umum orang2 mengenai homeschooling. Padahal jika diartikan lebih luas homeschooling ini bisa berarti pendidikan (sekolah) anak di ranah rumah dan keluarganya sendiri. Yg bisa berarti pendidikan utama bagi si anak dengan orang tua sebagai guru privat utama. Saya pribadi pun baru tau tentang sudut pandang lain dari homeschooling ini beberapa waktu yg lalu.

Di zaman sekarang yg mewajibkan sekolah 9 tahun, ada komunitas yg berisi keluarga2 yg betul2 menyekolahkan anaknya di rumah, tidak di sekolah. Sistem pendidikan di sekolah dianggap tidak aman, yg memenjarakan anak2 mereka di dalam kelas, mengelompokkan yg bodoh dan yg pintar, membawa seabreg buku dan PR yg menguras pikiran, proses pengajaran guru yg tidak mengenal karakter anak, lingkungan sekolah yg terkadang destruktif, dll. Keluarga2 ini memutuskan untuk belajar bersama dengan anak2 mereka, dengan metode, ilmu, dan pembelajaran mandiri. Saya sebut ini sebagai otonomi keluarga di bidang pendidikan.

Keluarga anti-mainstream ini mau tidak mau memosisikan orang tua sebagai tauladan utama bagi anak2nya. Karena anak2 homeschooling ini berada dan berhadapan dengan orang tua mereka hampir sepanjang hari. Tidak ada sosok guru bahasa dan matematika di sekolah dan tidak ada teman2 dengan berbagai karakter lain di sekolah. Hal ini yg membuat keluarga homeschooling ini harus terus berkembang dalam ilmu dan karakter. Orang tua dan anak jadi saling mengontrol satu sama lain, saling bercermin.

Pertanyaan utama yg pasti mencuat adalah seputar bagaimana si anak bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, sertifikasi sekolah (ijazah) si anak, bagaimana mentransfer kurikulum pendidikan sekolah pada si anak, dan berbagai pertanyaan lain. Eksplorasi saya di salah satu keluarga homeschooling menyatakan jika pertanyaan2 itu hanyalah efek ketakutan akan masa depan si anak jika ia tidak bersekolah. Nyatanya adalah belajar itu bisa dimanapun dan keluarga harusnya adalah tempat sekolah inklusi terbaik bagi si anak. Nabi Muhammad pengubah zaman jahilliyah pun nyatanya tidak pernah bersekolah 😀

Kondisi rumah homeschooling yg saya singgahi cukup sederhana. Yg mencolok pada umumnya adalah tidak ada TV, yg secara fungsi diganti dengan internet dan buku2 sebagai sumber pembelajaran eksternal bagi anak2 mereka. Layaknya anak2 zaman sekarang, mereka sudah piawai menggunakan komputer untuk internetan meski masih berusia 5-6 tahun. Mbah Google, Youtube, dan situs2 permainan mendidik jadi santapan utama. Orang tua mereka tentunya lebih berperan sebagai pengawas dan fasilitator. Investasi utama dan terbesar keluarga ini nampaknya adalah buku2 cerita, buku2 pendidikan karakter, ensiklopedia, buku2 parenting, buku2 pelajaran bergambar dan bermetode kreatif, alat2 permainan edukatif, dan asupan makanan bergizi. Saya pribadi banyak belajar dari buku2 yg ada di rumah ini 😀

Anak2 homeschooling ini ternyata begitu polos. Jika ada hal2 dan kata2 yg tidak dimengerti oleh mereka, maka mereka akan langsung menanyakannya. Lingkungan keluarga ini sangat memerhatikan dan mengontrol pembicaraan di rumah mereka. Tidak ada kata2 kasar, minim kata2 larangan, minim topik2 yg tak jelas, penuh kata dan doa2 kebaikan, dan punya alur dan arah pembicaraan yg baik. Contohnya adalah penggunaan kata ‘hati2’ daripada ‘jangan’ dan ‘awas’, kalimat ‘lebih baik jika…’ daripada kalimat suruhan, mendoakan agar jadi anak sholeh daripada geraman ketika si anak ‘berulah’, hubungan sebab-akibat dalam menjelaskan sesuatu, dll. Padahal di luar sana (jika boleh membandingkan), anak2 zaman sekarang banyak yg punya kosakata hewani dalam pergaulan, bandel dalam artian negatif, udah tau pacaran dan hal2 tabu lainnya.

Pergaulan anak2 homeschooling ini memang lebih banyak terfokus dengan orang tua mereka sendiri. Teman2 sebaya dan sepermainan lebih banyak didapat dari tetangga rumah mereka. Selain itu, kebetulan jika di rumah ini setiap sore ada kegiatan les bagi anak2 berusia TK dan SD. Interaksi dan komunikasi tambahan bagi si anak didapat ketika keluarga ini pergi ke suatu tempat ataupun berekreasi. Prinsip utamanya adalah si anak perlu terus didampingi hingga usianya menginjak 12 tahun, ketika karakter dan kepribadian si anak telah terbentuk dengan baik. Proses sosialisasi si anak dengan lingkungan sekitar bisa dilakukan sejalan dengan itu. Di rumah itu, saya pribadi memosisikan diri menjadi seorang ‘om’ dan teman bagi mereka. Yah, belajar momong anak juga sih, hehe… :p

 IMG_2943

Proses pembelajaran si anak homeschooling ini lebih difokuskan pada minat dan potensi si anak itu sendiri. Inilah yg disebut sekolah inklusif. Orang tua mereka hanya menyediakan ‘ruang’ untuk merangsang minat dan potensi itu keluar, meski terkadang orang tua juga mengarahkan pada apa2 yg mungkin terbaik bagi si anak. Kekuatannya ada pada sumber ilmu di lingkungan sekitar dan perhatian penuh orang tua. Tidak ada paksaan pada si anak untuk mempelajari hal ini dan itu, tetapi terkadang ada proses reward and punishment untuk hal2 tertentu. Akhlak, ilmu agama, dan sejarah jadi salah satu yg ‘mandatory’. Sains dan teknologi itu salah satu yg ‘optional’. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang jadi jendela utama dan akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu. Si anak pun terkadang diberi ‘proyek pribadi’ dalam melaksanakan sesuatu yg bersifat edukatif dan kreatif. Mereka juga ternyata dididik agar bisa menjadi pengusaha sukses di masa depan oleh orang tuanya. Untuk menopang hal ini, ada tools bernama “Strategic Family Planning” yg merencanakan proses pembelajaran dan proyek dari setiap anggota keluarga. Dengan begitu, hal yg dinamakan dengan “kurikulum sekolah” bisa diterjemahkan menjadi “kurikulum pembelajaran yg seru, kreatif, mendidik, menyenangkan, dan menantang”. Terkait ijazah? Ga usah dipikirin, hehe… Lagian kan pemerintah menyediakan ujian persamaan 😀

Terakhir, anak2 homeschooling ini punya kebebasan waktu yg merdeka. They have their own precious time. Lucu dan menarik melihat mereka beraktivitas dan berkembang dengan bebas dan ceria. Orang tua mereka pun, terutama ibunya, mempunyai waktu yg luang untuk mendidik dan bermain bersama.

Dan saya menulis ini pun bukan untuk memprovokasi pendidikan sekolah dengan homeschooling. Saya hanya membandingkan dengan sudut pandang yg lebih universal tentang pendidikan itu sendiri. Dengan kondisi yg ada di Indonesia  sekarang ini, saya hanya bisa menyimpulkan : Make your own inclusive school or just homeschooling! 😀

Karawang Oh Karawang (Bagian 2) : Tanah Bengkok yang Tergadai

Dalam ranah suatu kelurahan, ada yg dikenal dengan sebutan “Tanah Bengkok”. Tanah bengkok ini adalah tanah milik pemerintah yg seharusnya dipergunakan untuk kebutuhan pemerintahan dan masyarakat pada umumnya. Di daerah Kabupaten seperti Karawang, tanah bengkok ini memiliki cakupan yg lumayan luas, ada yg mencapai 12 hektar. Tanah bengkok di wilayah pedesaan tentunya banyak yg merupakan tanah sawah. Tanah bengkok semacam ini menjadi salah satu sumber dana pemerintahan desa. Namun, pada kenyataannya malah sering terjadi kasus yg ‘unik’ di tanah bengkok kelurahan di Karawang ini.

Sudah menjadi rahasia umum jika pemilu dan pilkada memakan dana yg tidak sedikit. Setiap calon yg ‘bertarung’ di kancah pemilihan politik ini harus siap secara materi. Di sebuah kelurahan di Karawang aja, setiap calon lurah atau kades ‘harus’ menyiapkan dana minimal 250 juta rupiah. Jika wilayah kelurahan dekat dengan pabrik atau lahan proyek, dana yg disiapkan ternyata jauh lebih besar, udah nyampe M-M-an. Uang ratusan juta hingga milyaran rupiah ini digelontorkan untuk publikasi dan ‘sedekah’ ke tiap warga. Nilai ‘sedekah’ saat proses kampanye ini ternyata mencapai 250 ribu per orang. Jadi bisa dibayangkan jika 1 keluarga itu ada 4 orang dan ada 2 orang calon lurah yg maju, keluarga tersebut bisa ‘panen duit’ sampai 2 juta saat kampanye. Asik juga yah :p

Terus jika si calon lurah ga punya duit sebanyak itu buat kampanye gimana? Si calon lurah ini ternyata akan bersedia meminjamnya ke orang lain. Ada sekelompok bandar judi yg punya ‘ide bisnis’ dari kejadian ini dan menawarkan ‘bantuan’. Mereka mau meminjamkan uang yg diperlukan dengan ketentuan : si calon lurah tidak perlu membayar sepeser pun jika ia kalah dalam pemilihan dan sebaliknya jika ia menang, ia harus membayar 2 kali lipat uang yg dipinjamnya. Dengan ketentuan seperti ini tentunya si bandar judi tidak akan mau rugi. Mereka ternyata punya suatu survey yg menunjukkan jika si calon yg ditawarkan pinjaman tersebut adalah calon pemenang. Dan jikapun kenyataan berkata lain, para bandar judi ini tetap akan memaksakan keadaan hingga si calon yg diusungnya bisa menang. Di sisi si calon, dia akan merasa aman dengan ketentuan seperti ini. Dan jika ia menolak pun, para bandar judi yg ‘berkuasa’ ini akan mengancam dan membuat ia kalah dalam pemilihan bagaimana pun caranya.

Ketika proses kampanye selesai dan si calon lurah ini dinyatakan menang, bandar judi pun langsung menagih janji. Lurah terpilih ini pun tentunya akan berusaha membalikkan modal bandar judi 2 kali lipat sesuai ketentuan dan meraih keuntungan pribadi. Salah satu caranya adalah menyerahkan hasil dari tanah bengkok kelurahan kepada si bandar judi. Kesepakatan ‘penyerahan’ tanah bengkok ini ternyata sudah bisa diprediksi kedua belah pihak. Tanah bengkok berupa sawah berhektar2 bisa dikonversi menjadi duit milyaran dalam waktu 5 tahun, yaitu selama si lurah berkuasa. Apalagi jika kelurahan dekat dengan pabrik atau lokasi proyek, setoran dana dan limbah dari perusahaan bisa menjadi ladang duit yg lebih besar bagi si lurah dan bandar judi.

Jika kondisi seperti ini sudah menjadi rahasia umum, terus kenapa masyarakat di kelurahan tersebut tak protes? Sesuai yg dijelaskan sebelumnya, tentunya karena ada panen duit bagi masyarakat saat proses kampanye berlangsung. Flow-nya adalah : pinjaman uang bandar judi -> si calon lurah ‘sedekah’ -> masyarakat seneng -> si calon lurah menang -> tanah bengkok ‘tergadai’ -> bandar judi dan si calon lurah sama2 untung. Faktor kepedulian dan kesadaran masyarakat yg rendah yg membuat kondisi ini menjadi masalah yg pelik.  Masyarakat tersebut tergolong egois dan apatis, hanya ingin untung sesaat, dan bisa diperdaya dengan mudah. Padahal jika dipikir dengan logika jernih, tanah bengkok seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Memang alangkah ‘lucunya’ negeri ini. Jika dan hanya jika masyarakat sadar betul akan hal ini dan peduli dengan proses pemerintahan yg berlangsung, maka tanah bengkok tidak akan tergadai pada penjudi, proses pemilihan bisa berjalan dengan bersih, dan akhirnya ada sumber dana yg bisa dimanfaatkan bersama.

Ini hanya suatu contoh jika kepedulian memang jadi barang mahal di negeri ini. Dan kepedulian memang jadi salah satu solusi terbaik di negeri ini. Ketika masyarakat di negeri ini saling tidak peduli, maka pemimpinnya pun tidak akan peduli. Ketika masyarakat mencari untung sesaat, maka pemimpinnya pun akan mencari untung sesaat (yg lebih besar). Akan tetapi, saya yakin jika sesungguhnya kepedulian itu bisa ditularkan kepada siapapun, karena setiap manusia memiliki hati dan nurani. Gelombang kepedulian yg menjadi harapan di negeri ini harus terus digulirkan, dari orang ke orang, dari rakyat ke rakyat, dari pemimpin ke pemimpin, dari desa ke desa, dari kota ke kota, hingga akhirnya melingkupi semua wilayah di negeri ini. Aamiin.