Seek Not See, Learn Not Earn

Pernah kan ngeliat petani lagi ngebajak sawah pake traktor? Selayang pandang nampak jika kerjaan itu gampang dilakuin. Cuma megang handle-nya terus jalan bolak-balik muterin sepetak sawah. Padahal dalam kenyataannya ngebajak sawah pake traktor itu kerjaan berat. Si petani harus bisa nahan bobot traktor biar bisa jalan lurus dan biar ga keguling saat ngelakuin belokan. Jika pertama kali nyoba, kata petaninya sih 2 kali bolak-balik aja udah kerasa ngos-ngosan. Padahal sepetak sawah ukuran beberapa ratus meter persegi aja butuh puluhan kali bolak-balik biar semua bagian tanahnya kebajak. Dan biasanya ukuran bayaran pekerja traktor itu per hektar, yaitu 10.000 meter persegi. Ckck… Ternyata luar biasa emang tenaga yg harus dikeluarin.

Di luar kerjaan mentraktor, tentunya masih banyak kerjaan lain yg sama-sama berat ataupun lebih berat lagi. Dan terkadang kita berpikiran jika kerjaan itu mudah hanya dengan melihatnya saja. Atau kita berpikiran jika kerjaan orang lain itu tidak sesulit apa yg kita sendiri kerjakan. Persepsi berat-ringan ataupun sulit-mudah itu muncul dari subjektivitas kita sendiri. Dan sering pula persepsi semacam ini menimbulkan konflik dan rasa ketidakadilan antara diri kita masing-masing.

Ketika kini sedang rame-ramenya pemberitaan demo buruh menuntut kenaikan upah, saya berpikiran jika persepsi ketidakadilan ini menjadi salah satu penyebabnya. Buruh merasa menjadi sapi perah suatu pabrik atau perusahaan, tetapi merasa pula upahnya minim jika dibandingkan dengan keuntungan perusahaan ataupun upah staff dan atasannya. Buruh pun melihat jika kerjaan seorang staff atau manager tidaklah berat, tetapi kok malah mendapatkan upah yg lebih tinggi. Sebaliknya, jajaran manajemen perusahaan melihat jika upah buruh itu sudah mencukupi kebutuhan hidup layak. Dan mereka pun berpikiran jika buruh itu hanya pekerja fisik yg tak perlu pusing memikirkan perkembangan dan kemajuan perusahaan. Kedua pihak ini nampak berseteru dengan persepsinya masing-masing.

Ketika dulu saya mulai bekerja di sebuah pabrik sebagai staff, ada program dari manajemen yg bernama Operator Experience, yg merupakan salah satu bagian dari On The Job Development (proses dari Management Trainee). Di program ini, saya diharuskan menjadi operator (buruh) di suatu proses assembly selama beberapa hari. Tujuannya adalah agar saya merasakan bagaimana capeknya, sulitnya, dan menderitanya seorang operator. Selain itu, saya pun diharuskan untuk mengusulkan suatu perbaikan di pekerjaan operator itu berdasarkan pengalaman yg didapat. Hasilnya ternyata lumayan : tangan bengkak, pinggang cekot-cekot, dan pastinya keringetan sekujur tubuh. Untuk perbaikannya, saya mengusulkan suatu metode untuk mengurangi kecacatan dalam proses di bagian itu, yg merupakan salah satu KPI perusahaan.

Di sisi lain, ketika saya murni bekerja sebagai staff, ternyata tidak sedikit yg over-estimate dan yg under-estimate. Seringkali operator atau bagian di bawah staff yg menanyakan tentang masalah yg tidak saya ketahui penyebab dan solusinya. Kalimat yg terlontar dari mereka (kira-kira) adalah “Ah, kan Bapak S1” atau “Ini kan tanggung jawab Bapak sebagai staff”. Lucunya adalah tujuan dari pertanyaan itu terkadang sekedar ingin ‘menguji’ saya. Dan sebetulnya saya pun berpikir jika terkadang operator lebih tau mengenai masalah tersebut karena lebih berpengalaman dari saya. Pertanyaan seputar gaji, keirian terhadap posisi staff, ‘kesenjangan’ dalam pekerjaan, dan hal semacamnya lumayan sering saya dengar ketika bergaul dengan operator. Padahal kenyataannya adalah upah operator dan staff tidak jauh berbeda, staff tidak ada uang lembur di atas 2 jam, pekerjaan kantor seringkali mengharuskan begadang, dan tentunya banyak laporan yg harus dibuat.

Dalam hal struktur perusahaan, memang mayoritas dibagi menjadi 2 bagian, posisi teknis dan posisi manajemen. Buruh dan operator termasuk posisi teknis dan staff / manager termasuk posisi manajemen. Keduanya dipisahkan oleh sekat yg terlihat dan ‘sekat’ yg tak terlihat. ‘Sekat’ yg tak terlihat ini adalah operator dan staff memiliki hubungan yg berbeda terhadap perusahaan. Operator itu menganggap perusahaan sebagai ‘musuh’ dan perusahaan menganggap staff sebagai ‘teman’. Oleh karena itu, anggota aktif Serikat Pekerja dimanapun kebanyakan diisi oleh operator / buruh dengan segelintir orang staff. Jikalau seorang operator naik kelas menjadi staff, hampir dipastikan jika nantinya ia tidak akan aktif kembali di Serikat Pekerja. Sedihnya adalah seringkali sekat ini sengaja dibuat untuk memicu konflik kepentingan antara buruh dan manajemen agar perusahaan secara umum meraih keuntungan dan benefit maksimal. Dan ternyata hal-hal ini akhirnya yg menjadi salah satu alasan mengapa saya resign.

Berkaca pada pengalaman pribadi ini, cobalah jika setiap orang tidak hanya melihat dari apa yg didapat, tetapi lebih mencari apa-apa yg bisa dipelajari / dialami. Seorang buruh bisa mencoba atau mempelajari untuk menjadi pengusaha dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya mengatur karyawan. Seorang manager bisa mencoba mengerjakan pekerjaan seorang buruh dengan target waktu yg telah ia tetapkan sendiri. Seorang pengusaha bisa merasakan sulit dan lelahnya jatuh bangun agar ia tak lupa daratan ketika berada di puncak kesuksesan. Sulit dan mudah itu adalah persepsi sebelum kita melakukannya sendiri. Berat dan ringan itu adalah persepsi sebelum kita merasakannya sendiri. Yg bisa dibenarkan adalah : you can feel easy if you adapt, enjoy, and passionate about it.

Dreamer Wisdom

Back to the moment, ketika saya resign dulu, ada wawancara akhir dengan psikolog yg menguatkan niat saya untuk mengembangkan mimpi-mimpi saya ke depan. Proses resign dulu memang terasa begitu cepat, pikiran saya memang terkadang meledak-ledak ketika ada sesuatu yg ingin dilakukan. Rencana resign ketika umur 30-an, yaitu setelah bekerja sekitar 8 tahunan, mengalami percepatan jadwal menjadi hanya 6 bulanan setelah bekerja. Tidak disangka jika psikolog itu memfasilitasi saya dengan nasehat-nasehat yg berharga hingga saat ini. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya menuliskannya kembali di blog ini.

Yang pertama adalah memilih lingkungan positif berupa komunitas atau kelompok masyarakat yg benar dan mampu mendukung terwujudnya mimpi-mimpimu. Dengan posisi saya sebagai pendatang di Karawang saat itu, saya tidak punya kenalan ataupun koneksi yg bisa menuntun saya untuk memilih lingkungan yg tepat. Proses pencarian orang2 dengan lingkungan yg tepat memang menjadi suatu pengalaman yg menarik, especially when you don’t know where you are.

Yang kedua adalah memilih pasangan hidup. Bagi saya, ini nampaknya hal yg lebih sulit dari hal yg pertama. Pasangan hidup sebaiknya adalah orang yg mempunyai visi yg sama dengan pengetahuan dan pola pikir yg bisa memahami arti dari mimpi-mimpimu. Katanya membina seorang istri itu lebih melelahkan daripada membina sebuah masyarakat. Katanya lagi kehilangan rumah tangga bisa berarti kehilangan segalanya. Yang saya pikirkan adalah proses pencarian pasangan hidup merupakan proses pemantasan diri. Dalam perjalanan pribadi pun, saya sering mendengar cerita dan kasus yg menarik ketika bertemu teman2 yg telah menikah. Mayoritasnya adalah tentang rezeki dan kemudahan yg tiba2 mengalir setelah menikah. 

Yang ketiga adalah tentang membuat anchor dalam perjalanan meraih mimpi. Anchor disini bisa berarti suatu penyemangat ketika nanti harus jatuh bangun. Bentuk anchor itu bisa berupa sebuah event, kenangan tak terlupakan, ataupun momentum saat memulai. Sesuatu yg bisa diputar kembali di dalam otak. Bagi saya, menulis pengalaman pribadi seperti ini bisa menjadi anchor. Menghargai dan menikmati semua tahapan dan pencapaian memang bisa memotivasi diri sendiri.

Yang keempat adalah mengenali potensi diri sendiri. Hanya diri sendiri yg bisa menakar dan menilai hal ini. Bisa juga dengan mengenali karakter-karakter orang lain dan membandingkannya. Yang perlu diperhatikan adalah setiap orang sukses mempunyai karakternya masing-masing. Begitu beruntungnya kita ketika saat ini banyak buku yg menceritakan perjalanan hidup mereka. Membandingkan dan menyamakannya dengan diri sendiri bisa menjadi pembelajaran yg membuat perubahan. Be yourself disini berarti to be the best of yourself.

Yang kelima adalah mengenali medan yg akan dihadapi. Ini hal yg vital dalam menentukan seberapa cepat kita bisa berkembang dan dipercaya oleh sebuah masyarakat. Prosesnya mencakup analisis struktur sosial yg ada, tingkatan pendidikan, persepsi masyarakat, pola pikir yg berkembang, dan tokoh-tokoh yg ada di masyarakat tersebut. 

Perencanaan memang menjadi hal yg penting dalam melakukan proses-proses tersebut, meski dalam pelaksanaannya seringkali banyak hal yg di luar dugaan. Tetapi, justru itu yg memperkaya dan melejitkan kualitas diri. Nyatanya Allah selalu memberikan apa yg kita butuhkan dan memberikan juga ujian yg sesuai kemampuan kita. Jika perjalanan menuju mimpi itu perjalanan yg mendaki lagi sulit, maka yakinlah jika jalan itu jalan yg benar yg seharusnya kita tempuh. Somehow it’s always designed like that. Wallahu alam.

Membangun Semangat Kewirausahaan Sosial

Photo0407

Seminar dan workshop yg saya ikuti pada cerita perjalanan sebelumnya adalah mengenai kewirausahaan sosial. Judul lengkapnya Revitalisasi Potensi Masyarakat Indonesia melalui Social Enterprise. Tema dan judul ini saya minati karena memang terkait salah satu impian dan aktivitas saya sekarang. Pembicaranya sendiri adalah seorang praktisi dan akademisi. Lengkap karena beramal harus dengan ilmu dan ilmu harus diamalkan.

Pembicara pertama yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan SMIH dan TNYI memaparkan penjelasan mengenai peranan sosial enterprise dalam lingkup sosial, bisnis, dan pemerintah. Dikatakan jika sosial enterprise mampu menyatukan semua elemen itu dalam kesatuan yg utuh. Sosial enterprise mampu memberdayakan dan memperbaiki masyarakat dengan memecahkan permasalahan sosial dengan kegiatan bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan bisnis yg dilakukan tentunya diutamakan yg berbasiskan potensi lokal masyarakat tersebut. Pak Zulfikar menemukan masalah yg hampir sama ketika beliau berkunjung ke beberapa daerah, terutama di pedesaaan : masyarakat di sana tidak mau mandiri dan bermental pengemis. Artinya mereka sebetulnya mempunyai potensi, namun enggan atau tidak tau bagaimana mengembangkannya dan hanya bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah atau lembaga lainnya.

Metode Pak Zulfikar dalam menghadapi permasalahan masyarakat seperti ini adalah memaparkan kenyataan yg terjadi. Beliau memisalkan jika setiap orang di daerah itu menyisihkan sedikitnya 25 ribu sebulan untuk proses perbaikan daerahnya, maka dalam beberapa bulan saja sudah dapat terkumpul dana puluhan hingga ratusan juta. Dana sebesar ini nantinya bisa dipakai untuk memperbaiki fasilitas publik dan mengembangkan usaha daerah tersebut. Beliau juga menjanjikan akan meminjamkan dana sampai 60% dari jumlah dana yg dibutuhkan ketika masyarakat telah mampu mengumpulkan 40% di awal. Ketika dana tersebut dipakai untuk usaha, maka masyarakat akan menerima bagi hasil hingga 80% dari keuntungan. Selain itu, beliau menyisipkan unsur surprise di tengah2 ketika proses usaha berlangsung baik dengan memberikan hibah 50%, artinya masyarakat hanya perlu mengembalikan 50% dari pinjaman yg diberikan.

Metode Pak Zulfikar ini mengajarkan kemandirian dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat yg akan dibantunya. Masyarakat akan merasa memiliki usaha yg dijalankannya bersama karena ada uang mereka di dalamnya. Berbeda ketika dana pemerintah yg murni hibah dan tanpa pengawasan diberikan. Selain itu, reward yg diberikan tentunya akan memacu masyarakat untuk berusaha lebih baik lagi. Namun, metode ini dapat terlaksana dengan baik apabila adanya pendampingan dan ketegasan dari pihak yg akan membantu proses pengembangan kewirausahaan sosial ini. Pendampingan harusnya dilakukan intensif selama beberapa bulan di awal, artinya fasilitator tinggal bersama masyarakat tersebut dan membaur, tidak pulang pergi dan hanya mendampingi sebulan sekali. Ketegasan diperlukan ketika masyarakat memberontak dan memprotes proses yg ada. Tampilkan 3 hal utama yaitu fasilitator tidak melakukan kebohongan (dengan bukti rekening usaha, aliran dana, dll.), tidak menyakiti masyarakat setempat, dan tunjukkan perubahan yg terjadi ketika proses kewirausahaan sosial berlangsung.

Pembicara kedua, yaitu Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB menjelaskan mengenai proses dan pola pikir kewirausahaan sosial. Potensi lokal masyarakat sesungguhnya sangat besar dan bisa dikembangkan dengan proses kewirausahaan sosial. Hal ini karena kewirausahaan sosial bukanlah profit-oriented, melainkan benefit-oriented. Jika ada manfaat yg bisa dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, maka dengan sendirinya keuntungan materi bisa didapatkan. Prinsipnya adalah tidak takut, tidak menunda2, dan tidak ada yg tidak mungkin. Selain itu, kewirausahaan sosial membutuhkan 3N, yaitu Niat, Naluri, dan Nurani. Niat baik untuk membantu masyarakat, naluri untuk mengembangkan usaha masyarakat, dan nurani untuk bisa peduli pada kondisi sosial masyarakat.

Pembicara ketiga, yaitu Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Sosial Bisnis Dompet Dhuafa memaparkan fakta2 mengenai kewirausahaan dan kapitalisme yg kini berlangsung di dunia. Cara pemaparan beliau yg ‘nyeleneh’ memotivasi dan mengundang tawa dari para peserta. Sepatu merek terkenal di dunia Made in Indonesia berharga jutaan rupiah dibuat oleh buruh Indonesia dengan gaji 5 ribuan per hari. Seorang pegolf terkenal mendapatkan loyalty milyaran rupiah ketika mengiklankan sebuah produk olahraga sedangkan buruh yg membuat produk itu digaji hanya ribuan rupiah per hari. Ironis dan menyakitkan memang. Oleh karena itu, kewirausahaan sosial hadir untuk memberikan pembagian keuntungan yg lebih adil. Beliau mencontohkan sebuah kampung batik di Jawa Tengah yg menggaji pembatiknya jutaan rupiah dari setiap batik yg dihasilkannya. Beliau juga menyatakan jika pengusaha itu dibentuk bukan dilahirkan, bagaikan proses pembuatan semangka kotak yg dijual sangat mahal. Meski prosesnya menyakitkan, tetapi prosesnya itulah yg membentuk seorang pengusaha menjadi pribadi yg tangguh dan mempesona.

Di akhir sesi seminar, Pak Zulfikar Alimuddin menunjukkan sebuah video yg inspirational. Video mengenai seorang anak kecil yg mampu membuat perubahan. Video tersebut bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=GPeeZ6viNgY

Photo0408

 

Pada sesi workshop atau Focus Group Discussion, rekan saya mengambil topik mengenai permodalan rakyat untuk keseimbangan ekonomi sedangkan saya mengambil topik pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan platform kolaborasi. FGD yg saya ikuti difasilitasi oleh Mas Adhita, seorang mahasiswa S2 jurusan Teknologi Industri Pangan UGM yg telah beberapa kali menyabet juara lomba kewirausahaan. Beliau mengembangkan budidaya lele kolam kering di daerah Gunung Kidul. Kini aktivitas beliau sedang berusaha meng-ekspor kerajinan rotan dan bambu ke negara Turki.

Pada awal FGD ini, Mas Adhita mempersilahkan beberapa peserta untuk menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Ada yg bercerita mengenai niatnya yg ingin membuat supplier sayuran dan pangan organik di daerah Kalimantan dan ada yg bercerita mengenai pengalamannya bekerja di forwarding company dan niatnya untuk mengembangkan usaha di daerahnya sendiri. Saya pribadi ikut menceritakan pergerakan saya bersama rekan2 di yayasan Sadamekar yg meliputi pendidikan, koperasi, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Dari contoh2 kasus ini, Mas Adhita memaparkan proses kewirausahaan sosial yg umum terjadi. Ada Smart Small Farmer di Thailand yg mampu mengolah berbagai jenis sayuran dan buah2an dalam skala industri. Mulai dari pemberian bibit, pengolahan lahan, pemanenan, proses grading, pengemasan, dan distribusi ke berbagai daerah. Uniknya adalah meski semua bibit dan lahan adalah milik perusahaan, tetapi petani disana tetap memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan yg kuat terhadap usaha yg dijalankan. Prosesnya pun melibatkan aplikasi teknologi yg mumpuni, salah satunya adalah indikator yg mampu menunjukkan jika suatu sayuran telah kadaluarsa dalam kemasan. Grade A (terbaik) akan dikirimkan ke Eropa, Grade B dikirimkan ke Amerika, Jepang, China, dan negara lain yg setara, Grade C dipakai di lingkungan dan negara sendiri, dan tragisnya Grade D (terburuk) akan dikirimkan ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

Mas Adhita kemudian memberikan skema umum yg sering digunakan dalam proses kewirausahaan sosial di Indonesia, yaitu dengan mengembangkan koperasi dan usaha berbasis potensi lokal. Proses awal terbaik adalah dengan melihat pasar dan menariknya hingga ke hulu, dari demand sampai ke supply. Beliau menjelaskan mengenai Porter Five Forces, market size dan market share, proses pendistribusian yg melibatkan promosi, prinsip Total Quality Management (TQM), pembuatan Demonstration Plot (Demplot), penguatan produksi dan pengolahan, prinsip Plan-Do-Check-Action (PDCA), dan kegiatan Kaizen (Continous Improvement). Ini semua mengingatkan saya pada tempat kerja, pelatihan bisnis, dan proses kewirausahaan sosial yg sedang dilakukan.

Setelah semua pemaparan itu dijelaskan, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk merumuskan suatu contoh nyata bagaimana langkah2 membuat kewirausahaan sosial dan skemanya. Kelompok saya memilih untuk memikirkan solusi kewirausahaan sosial untuk menanggulangi alih fungsi lahan pertanian dan alih profesi dari para petani. Langkah2nya kami sesuaikan dengan prinsip Toyota Business Practices (TBP) yg sempat saya pelajari ketika bekerja sedangkan skemanya kami sesuaikan dengan pendekatan prinsip koperasi, kesejahteraan petani, dan pemotongan jalur distribusi. Setelah semua kelompok sedikit mempresentasikan hasil diskusinya, kami pun mengikuti acara penutupan yg berlangsung di auditorium utama.

Hmm… that’s all. Itu yg bisa saya ceritakan pada kesempatan mengikuti seminar kewirausahaan sosial dari psikologi UI dan Sosial Entrepreneur Academy (SEA) Dompet Dhuafa ini. Yg saya yakini adalah kewirausahaan sosial ini dapat menjadi solusi untuk melawan kapitalisme global, memeratakan kesejahteraan, dan menyelesaikan beberapa permasalahan pelik di Indonesia ini. Dan saya yakin pula jika semakin banyak pemuda dan komunitas yg bermimpi, bersatu, dan bergerak bersama mewujudkan tujuan mulia dari kewirausahaan sosial ini. Aamiin.

Perjalanan Menarik Karawang-Bekasi-Depok (Edisi Kewirausahaan Sosial)

Sabtu dini hari saya berdua bersama Mas Oris bersiap2 untuk berangkat ke Depok dari Rengasdengklok Karawang. Dengan modal niat dan info rute, kami berangkat memakai motor dan dilanjutkan dengan naik kereta, Kami berencana mengikuti sebuah seminar kewirausahaan sosial di kampus psikologi UI yg dimulai jam 8.30. Alhamdulillah pas sampai stasiun kereta Karawang, kami berhasil mendapatkan 2 tiket terakhir yg tersedia. Mungkin jika telat 10 detik saja, kami tidak akan mendapatkan tiket itu dan entah bagaimana kami akan ke Depok. Dan sesuai prasangka, kami harus menunggu kereta yg telat datang beberapa saat. Meski weekend ternyata KRD ke arah Jakarta ini tetap penuh dan kami terpaksa harus berdiri dekat pintu keluar di samping toilet kereta yg bau pesing. Keterpaksaan ini juga akibat kami tak mau kelewatan turun di stasiun Bekasi.

Sesampainya di stasiun Bekasi, saya dengan bodohnya melangkah keluar dengan kaki kanan saat kereta masih berjalan pelan. Kaki saya terseret dan hampir saja terjatuh. Seketika teringat beberapa cerita orang yg meninggal akibat ‘salah kaki’ ini saat turun dari kendaraan yg masih berjalan. Ada yg meninggal akibat gegar otak dan ada yg meninggal karena langsung tergilas (GLEG!). Sesuai info rute yg diberikan, kami harus melanjutkan perjalanan menggunakan commuter line dari stasiun bekasi ke arah depok dan turun di stasiun UI. Karena pertama kali juga kami menaiki commuter line, kami agak kikuk ketika menggunakan kartu sebagai tiket masuk. First impression nya adalah commuter line ini cukup nyaman dengan boots yg menggantung di pegangan tangan kereta. Unik juga nih strategi promosi dari AP Boots, hehe…

Setelah melihat info rute commuter line, ternyata kami harus transit dulu di Manggarai untuk selanjutnya menaiki commuter line lain yg ke arah Depok. Sepanjang perjalanan, kami berdua asik ngobrol mengenai pengalaman Mas Oris membesarkan usaha franchise “Jarimatika” Bu Septi miliknya dan bagaimana pengalaman beliau di Jepang saat menaiki kereta. Meski terus berdiri semenjak naik KRD sampai commuter line dan tiba di stasiun UI, kami tetap menikmati perjalanan dengan mengobrol mengenai hal2 tersebut.

Setibanya di stasiun UI, kami bingung juga apakah kartu tiket harus dikembalikan atau tidak. Dengan jaimnya kami tidak bertanya dan hanya melihat penumpang lain yg keluar. Oh, ternyata setiap penumpang tetap memiliki kartu ini di tangannya. Pertanyaan selanjutnya yg ada di benak kami adalah apakah kami tak harus bayar lagi ketika nanti melakukan perjalanan pulang? Karena kami menganggap harga tiketnya terlalu mahal untuk sekali perjalanan, yakni 19 ribu untuk berdua, jika dibandingkan dengan KRD yg hanya 5 ribu berdua. Haha… so opportunist. Untuk menuju kampus psikologi UI, kami harus berjalan dan bertanya pada beberapa orang di sekitar. Kami melewati jurusan studi sastra Jepang, FISIP, dan kemudian sampai juga di psikologi. Mas Oris memikirkan potensi beliau membuka les bahasa Jepang sedangkan saya memikirkan betapa besarnya kampus UI ini dibandingkan kampus saya di Bandung dulu (maklum ga pernah studi banding kesini, hehe). Yg kompak kami pikirkan adalah banyaknya mobil yg diparkir di FISIP, apa karena banyak anak pejabat yg belajar ilmu politik yah? Hehe…

Sebelum sampai di auditorium psikologi UI, kami bertemu salah seorang peserta seminar lain yg sama2 kebingungan. Ternyata beliau undangan dari Dompet Dhuafa Volunteer, sebuah komunitas relawan pergerakan dari salah satu lembaga zakat di Indonesia. Tak dinyana ternyata kami bertiga menjadi peserta pertama yg hadir di seminar kewirausahaan sosial ini. Ruangan yg dingin membuat saya dan Mas Oris tak melepaskan jaket yg dikenakan sebelumnya. Dengan semangat dan percaya diri kami berdua duduk di kursi paling depan, yg nantinya sebaris dengan para pembicara di seminar ini. Sudah jadi kebiasaan mayoritas orang Indonesia, peserta lain malah memilih kursi yg lebih di belakang ataupun di pojok. Pengalaman semangat orang Jepang dari Mas Oris lah yg membuat kami berdua untuk memilih di kursi paling depan.

Sesi seminar berlangsung hingga pukul 12 siang yg diisi oleh ketiga pembicara utama, yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan Semangat Membangun Indonesia Hebat (SMIH), Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB, dan Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Socio Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa. Setelah sesi seminar, acara dilanjutkan dengan break makan siang dan sholat dzuhur. Sesi kedua materi dilanjutkan dengan Focus Group Discussion yg dibagi menjadi 4 ruangan dengan 4 topik yg berbeda. Saya dan Mas Oris memilih ruangan yg berbeda agar kami mendapatkan 2 topik berbeda yg kami minati, meski kami harus tidak mengikuti pembagian ruangan yg dibuat panitia. Sori yak kami tidak mau ditempatkan di ruangan yg sama dengan topik yg tidak kami minati dan kami pikir aturan pembagian ini tidak sepenuhnya mengikat, hehe…

Sepanjang sesi seminar dan FGD, kami dengan PD-nya SKSD dengan para pembicara dan tokoh2 penting yg hadir di acara. Maklum, selain ingin mendapatkan ilmu yg bermanfaat, kami juga ingin memperluas networking kami di bidang kewirausahaan sosial. Ada praktisi, akademisi, provokator, relawan, komunitas, dan beberapa yayasan yg mengikuti acara ini dan bergerak di bidang ini. Dengan berbekal profil dari yayasan “Sadamekar” yg kami bawa, kami berkenalan dengan mereka dan sedikit memperkenalkan yayasan ini. Semoga saja di lain kesempatan kami bisa berkolaborasi dengan mereka dalam mengembangkan kewirausahaan sosial di Karawang dan di Indonesia.

Sesi FGD selesai pada pukul 4 sore dan dilanjutkan dengan sesi penutupan acara. Karena kami tidak mengharapkan doorprize, jadinya kami pun tidak mendapatkannya. Padahal mah sih pengen, tapi menurut mitos yg beredar klo ga berharap malah nantinya yg akan dapet, jadinya kami memilih untuk tidak berharap, haha… Setelah semua rangkaian acara selesai, kami bergegas kembali ke stasiun UI karena hari telah menjelang sore dan kami pun tak mengerti jadwal terakhir keberangkatan dari commuter line dan KRD. Pertanyaan kami mengenai kartu tiket pun terjawab : kami harus membayar lagi untuk perjalanan pulang, tetapi dengan harga 8 ribu berdua. Oh, ternyata kami harus membayar lebih mahal di awal untuk biaya jaminan kartu sebesar 5 ribu. Bodohnya kami adalah hal itu ternyata tertera di struk pembelian tiket -__-

Sempat nyasar ke arah Jakarta Kota, kami akhirnya sampai di stasiun Bekasi pada sekitar pukul 6 sore. Tragisnya adalah tiket KRD untuk keberangkatan jam 7 telah habis terjual dan kereta selanjutnya baru berangkat jam 9 malam (di jadwal, tak tau kenyataannya). Niat jahat kami muncul untuk kembali masuk ke stasiun menggunakan kartu tiket commuter line dan memaksa masuk ke KRD meski tak punya tiket. Ah, paling kena denda doang, pikir kami. Tapi setelah dipikir2 lagi, niat jahat itu kami urungkan. Kemudian prasangka buruk kami muncul ketika kami akan memilih untuk naik angkot dan elf ke Karawang karena pengalaman kami diturunkan in the middle of somewhere and must pay twice and the long time we must take because of “ngetem”. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu KRD jam 9 malam saja sambil istirahat dan sholat maghrib dan isya.

Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah warteg pinggiran. Ketika kami menyantap soto ayam, datanglah seorang bencong dengan pakaian aduhai menyanyi mendekati kami. Dengan sedikit menoleh untuk menolak memberi sumbangan, kami harus tetap menjaga selera makan kami. Waktu baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika kami bisa membeli tiket KRD untuk pulang. Itu artinya kami harus menunggu 1,5 jam plus+plus di stasiun. Huft, pekerjaan menunggu yg cukup berat sepertinya. Di saat menunggu itu kami habiskan dengan mengobrol mengenai beberapa hal. Mencuat suatu “hot topic” ketika seorang single berhadapan dengan seorang lelaki beristri satu beranak tiga. You know what I mean lah yah, haha…

Di selang pembicaraan seru itu, kami melihat bencong yg kami lihat di warteg berjalan di pinggir rel diikuti seorang pria. Prasangka buruk kami langsung mencuat, apa yg akan mereka lakukan dalam kegelapan? Niat kami untuk mengikuti mereka berdua akhirnya kami urungkan karena takut melihat sesuatu yg tak ingin kami bayangkan… Setelah beberapa saat, bencong tersebut kami lihat kembali ke stasiun dengan wig yg telah dilepas dan pakaian yg telah berganti. Ow…ow…ow… ga usah dipikirin lagi lah yah, mungkin dia memang sekedar menyelesaikan pekerjaan mengemisnya dengan mengganti kepribadian.

Sesuai yg kami perkirakan meski tidak eksak betul, 1,5 jam plus+plus menunggu itu berarti 2,5 jam. Setengah jam terakhir, perbincangan kami ditemani seorang supir truk yg baru pulang bekerja. Bapak beliau ternyata dulunya adalah seorang petugas PT. KA dan beliau pun menyatakan jika praktek KKN telah berlangsung lama di tubuh BUMN semacam ini. Sigh… kami hanya bisa geleng2 kepala mendengarkan sebuah rahasia umum tersebut. Setelah KRD tiba di stasiun, kami langsung bergegas masuk agar bisa duduk di kursi kereta. Maklum, stamina kami telah cukup terkuras dan kami pun cukup mengantuk. Mas Oris meminta ijin untuk tidur dan meminta saya untuk tetap bangun dan memeriksa sampai mana kereta telah berjalan. Maklum lagi, Mas Oris nantinya yg akan mengendarai motor dari stasiun Karawang sampai Rengasdengklok dan kereta hanya akan berhenti di stasiun Karawang dalam waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah cikampek. Buku “Sekolahnya Manusia” karya Munif Chatib yg saya bawa tak mampu saya baca dengan konsentrasi sehingga saya hanya memegangnya saja sambil mendengarkan musik penyemangat di earphone.

Pukul 11 malam kami sampai di stasiun Karawang. Daerah sekitar stasiun tersebut diisi beberapa warung remang2 A.K.A Lokalisasi yg cukup terkenal di daerah Karawang dengan sebutan “Se-er” A.K.A Sisi Rel. Cukup rame nampaknya sambil diiringi musik dangdut erotis. Tanpa pikir panjang, kami masuk ke… penitipan motor dan langsung bergegas menuju Rengasdengklok. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di kediaman Mas Oris, yg merangkap juga sebagai sekre komunitas IIP Karawang, dengan selamat pada pukul 12 malam. Cheers and Good Night!

RPG Personality

Anak2 jaman sekarang nampaknya udah ga bisa dilepasin dari yg namanya games2 elektronik. Smartphone, console, tablet, online games, dll. Tiap hari pasti aja ada waktu buat maenin games kyk begini, ga terkecuali anak2 pedesaan sekalipun. Rental PS pun udah banyak menjamur di daerah pedesaan. Nampaknya udah jarang juga ngeliat anak2 maen games tradisional.

Saya pribadi termasuk seorang anak yg menggilai games elektronik, bahkan beberapa temen di sekolah dulu menyebut saya maniak games. Dalam sehari bisa ngabisin waktu 6-12 jam maenin games console. 1 game aja bisa dimaenin sampe 150-200 jam. Berbagai genre game saya sukai, mulai olahraga, balapan, fighting, petualangan, sampai Role Playing Game (RPG). Yg paling sering dan suka dimaenin itu adalah RPG. Maklum, seorang penyendiri dan penghayal seperti saya dulu seolah2 menemukan dunia yg diimajinasikannya ketika memainkan game RPG. Bisa dilihat langsung, bisa bermain peran, bisa menjelajah berbagai jenis dunia riil dan imajinasi, ada storyline yg menarik, dll.

Terlepas dari kegilaan saya bermain games elektronik, kini saya merasa kepribadian saya terbentuk dari games2 RPG yg saya mainkan dulu. Begitu banyak poin2 pelajaran yg dirasain ketika menggabungkan games2 RPG ke dalam kehidupan dunia nyata. Dunia RPG kebanyakan mengisahkan kepahlawanan seorang tokoh yg menyelamatkan dunia. Saya merasa bisa bermain peran dalam tokoh tersebut, memilih skill dan kelebihan apa yg mau ditonjolkan, mendalami karakternya dalam storyline game (yg banyak dipenuhi kebetulan dan keajaiban), bagaimana hubungan dan kerja sama sebagai sebuah tim, bagaimana mencari informasi dan berkomunikasi, dll. Tokoh seorang fighter tidak cocok menggunakan magic, dan seorang magician tidak cocok menggunakan serangan fisik. Status skill seperti strenght, intelligence, agility, defence diperhitungkan dalam membangun tim yg baik. Uniknya (dan nyatanya), luck termasuk status skill yg akan naik jika skill yg lain juga naik.

Konsep bermain games RPG begitu terlihat nyata ketika tokoh2nya harus mempunyai pengalaman (experience) yg cukup untuk bisa naik level. Ada bos2 musuh yg menantang untuk ditaklukkan, ketika kegigihan, semangat, kecepatan, dan ketahanan gamer dibutuhkan untuk mengalahkannya. Ada award dan kepuasan yg luar biasa ketika saya berhasil menamatkan suatu games RPG dengan sempurna. Itu juga yg menyebabkan dulu saya mau ngerjain PR untuk minggu depan di sekolah ketika jam pelajaran kosong dan istirahat agar bisa bermain games RPG di rumah. Menimba pengalaman (ngumpulin exp) berjam-jam, bolak-balik nanya kesana-kemari buat nyari informasi yg bisa ngelanjutin storyline, nyari barang langka, ketemu karakter baru, dan excitement lain itu rasanya luar biasa dalam bermain games RPG. Ditambah pengalaman susahnya nyari duit di awal games buat beli2 barang dan kebutuhan, jualan ini-itu, melelang dan ngatur harga barang di pasaran, memprioritaskan dan menghemat pengeluaran, hingga akhirnya di bagian akhir games ternyata duit itu sering sekali udah ga dibutuhin karena udah terlalu banyak.

Ketika kini itu semua dihubungkan dalam kehidupan nyata, ternyata rasanya sangat mirip. Berimajinasi, membuat storyline dengan mimpi pribadi sebagai tujuan, meningkatkan skill dan kemampuan, memilih dan bersama tim (konseptor dan eksekutor), menimba pengalaman agar bisa naik level, menemukan karakter baru yg unik, merasakan kebetulan2 yg indah dan berproses, menghadapi tantangan, berbisnis dan mengalami masa sulit, untung-rugi, keberhasilan-kegagalan, kenaikan-kejatuhan, menghadapi berbagai macam orang dan menggali informasi, it’s all become one package!

Mungkin itu yg membuat saya kini jarang lagi bermain games, karena merasa kehidupan saya kini adalah sebuah games RPG yg saya mainkan secara real. Dan saya percaya, dengan menjalani kehidupan nyata yg disertai mimpi dan semangat, manis-pahit getir perjuangan, akan melahirkan tokoh, ending, dan kepuasan yg luar biasa 🙂

Si Kecil Siswanto

Saat lahir katanya tubuh saya mencapai 3 kg lebih. Tentunya orang tua saya saat itu mengira klo saya bakalan jadi ‘bayi sehat’ alias bayi gendut. Sejak kecil saya diurus oleh Ibu bersama pembantu yg sudah dianggap bagian dari keluarga. Sejak kecil pula ternyata tubuh saya sering terserang penyakit, mulai dari tipes sampai asma bronchitis. Prediksi di awal pun meleset, bobot tubuh saya semakin menurun karena sakit dan kurangnya nafsu makan.

Banyak usulan dari keluarga jika sebaiknya nama saya diganti saja, mungkin ga cocok atau katanya saat itu saya tidak mau diberi nama Fadjrin Febrianto. Lupa juga apa saja usulan nama yg disebutkan, yg saya ingat hanya 2, si Kopral karena kakek saya purnawirawan tentara (tentunya nama itu hanya guyonan keluarga semata) dan Siswanto, usulan nama dari dokter langganan saya (alm.). Tiap kali datang ke dokter itu, saya dipanggil Siswanto. Nada bicaranya tegas, ga main2 masalah obat (yaiyalah, maksudnya rasanya pahit banget), dan klo lagi terapi perlakuannya lugas, mirip ngobatin orang dewasa.

Si kecil Siswanto mulai memasuki jenjang TK. Dengan bekal penyakit asma bronchitis yg diidapnya, ia menjadi seseorang yg pendiam. Maklum, sebelum masa TK, dia menghabiskan waktu di rumah terus bersama Ibu dan Bibinya. Ibunya pun menerapkan standar ganda dalam pergaulannya alias over-protective, jadinya ia jarang sekali bermain dengan anak2 di sekitar rumahnya. Kehidupan jenjang TK di kelas hampir tak terasa sama sekali, kecuali suatu ingatan mengenai keributan kecil Siswanto dengan temannya. Si Pendiam ternyata mampu juga membuat temannya menangis, meski dirinya sendiri ikut menangis.

Berbeda dengan kehidupan di kelas TK, kehidupan Siswanto di rumahnya malah benar2 ‘hidup’ dengan imajinasi dan petualangan. Film-film kartun tahun ’90-an mengilhami dirinya menjadi seorang petualang, ninja, tentara, ataupun pahlawan bersenjata api. Jika sudah begitu, ia akan asyik main sendiri hingga berjam-jam, menciptakan monolog-dialog, hingga membuat senjata mainan. Kebiasaannya ini terus bertahan lama.

Ketika memasuki SD, kehidupan Siswanto pun tidak banyak berubah. Penyakit asma bronchitis masih sering kambuh dan ia pun sering disebut ‘si letoy’ oleh guru olahraga. Jika ada maen bola pun, ia sudah senang jika mampu menyentuh bola barang sekali dalam pertandingan. Masih menjadi seseorang yg pendiam, bahkan ia pernah beberapa kali kecepirit gara2 tak berani bilang ingin ke belakang saat kelas berlangsung. Dan tentunya ia pun tetap diam, meski teman di sekitarnya kebauan. Sigh, sungguh memalukan sekali momen itu bagi dirinya. Memasuki kelas 3 atau 4 SD, mulai muncul perubahan, Siswanto sudah memiliki teman baik yg sering berangkat pulang pergi sekolah bersama. Di kelas 4 SD pun ia sudah mulai menggunakan kacamata. Maklum, Nintendo dan Sega saat itu sudah muncul di pasaran dan tentunya ia banyak menghabiskan waktu memainkannya di rumah. Di saat2 itu juga, ia mulai merasakan cinta monyet pada teman sekelasnya. Perasaan dag-dig-dug-der ia alami ketika berdekatan dengan dirinya, terlebih saat itu sekolah punya kebijakan jika pasangan tempat duduk haruslah pria-wanita dan terus bergantian.

Guru-guru di SD tempat Siswanto itu banyak yang unik. Ada Pak Roy yang tegas, pernah menyuruh muridnya menepuk2 tembok di depan kelas gara2 kepergok sering ‘tatalub meja’. Ada Pak Dadi yang sering menyuruh muridnya membuat karangan cerita. Ada Pak Nano guru musik yang sering menunjuk muridnya untuk nyanyi di depan kelas. Dan ada 1 guru lain yg sangat menarik perhatian. Namanya Pak Asep Hendra, beliau adalah guru sejarah dan geografi. Cara dia mengajar dan menghukum siswanya sungguh unik. Di 1 hari ia akan menulis di papan tulis dan menyuruh muridnya untuk menyalin dengan cepat hingga kelas berakhir. Dan di 1 hari lainnya, ia akan bercerita mengenai apa yg telah ia tulis pada hari sebelumnya dengan penuh ekspresi dan imajinasi hingga kelas berakhir. Seru, tiap murid termasuk Siswanto akan menanti-nanti saat Pak Asep bercerita. Namun di sisi lain, jika murid2nya melakukan kesalahan seperti membuat keributan di kelas, maka Pak Asep tidak segan-segan menyuruh murid2nya untuk mengerjakan dan menyalin soal pilihan ganda hingga 3x di bukunya masing-masing. Huft…

Siswanto yg pendiam nampaknya termasuk murid yg lumayan pintar di kelasnya, karena ia tidak ada aktivitas lain di kelas selain mendengarkan gurunya atau mengantuk. Berbeda dengan murid yg lain, yg biasanya mengobrol ataupun menulis buku diari (duh, taun ’90an pasti ingat dengan istilah ‘ma-kes’ dan ‘mi-kes’). Menyontek saat ujian pun ia tak berani, takut ketauan gurunya. Memasuki kelas 5 SD, Pak Asep mulai memperkenalkan konsep baru. Setiap di akhir kelas, beliau akan mengadakan mencongak. Ia menyuruh murid2nya membuat grafik nilai dari setiap hasil mencongak. Ia juga menyuruh menuliskan nama SMP Favorit di atas grafik bernilai 7 dan menuliskan SMP ‘Jelek’ di bawah grafik bernilai 6. Hal ini mengajarkan muridnya untuk bermimpi dan mempunyai target ke depan. Ia akan menyebut primadona / raja / ratu bagi murid yg bernilai baik dan menyebut dodol pada murid bernilai jelek. Di setiap akhir kelas pun, beliau akan mengajukan pertanyaan dan barangsiapa yg bisa menjawab bisa pulang sekolah duluan. 2 murid terakhir yg tinggal di kelas akan mempunyai gelar “Raja dan Ratu Boneng”. Alhasil, tiap murid yg sudah berhasil menjawab pun tidak akan pulang duluan karena ingin mengetahui siapa yg mendapat gelar tersebut saat itu. Penuh canda tawa, tetapi di saat itu sang guru mengajarkan rasanya berkompetisi.

Waktu terus berjalan dan Siswanto pun dinyatakan sembuh dari asma bronchitis ketika ia berada di kelas 5 atau 6 SD. Nilai2 mencongaknya pun menghasilkan grafik rata-rata positif di atas 7 selama 20 kali tes mencongak. Ia pun optimis jika ia mampu masuk SMP Favorit saat itu. Padahal jika dipikir2, soal mencongak itu akan cukup berbeda jauh dengan soal UN masuk SMP. Saat UN berlangsung, Siswanto pun menjadi salah satu ujung tombak tempat bertanya teman2nya. Alhamdulillah, saat pengumuman masuk SMP, Siswanto benar-benar berhasil lolos ke SMP Favorit yg ia tuliskan di grafik mencongaknya. Takjub dan kagum, mengingat SD itu hanya SD biasa, bukan SD unggulan yg siap ‘bedol desa’ masuk ke SMP Favorit. SD yg sedianya bernama SD Kartika X-10 alias SD Terang itu kini memperoleh nama alias lain, yaitu SD alias depan BSM alias depan Trans Studio…

Sebuah Perkenalan

Assalaamu’alaykum Wr. Wb.

Hello Blogging World!

Mumpung lagi ‘ga ada kerjaan’, ijinkan saya hari ini untuk memulai nulis blog pribadi. Hmm… agak bingung juga sih mau nulis apaan, berhubung selama ini cuma update2 status di FB atau twitter. Tapi, biasanya sih klo pertama-tama yah seputar perkenalan diri kali yah…

So, nama saya adalah Fadjrin Febrianto, lahir tahun ’89 dan gede di Bandung. Anak ke-2 dari ketiga bersaudara dari pasangan Papah dan Mamah saya, Herry Sugianto dan Sri Mulyantini. Namatin pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA, ampe kuliah di Bandung, tapi sekarang  ngesot dikit ke Karawang. Alasannya sih gara2 dapet panggilan kerja di pabrik terus katanya biar bisa mandiri, ga dikelonin terus ama orang tua.

Blog ini saya namain gudjrin biar nyeleneh, punya nilai sejarah, dan filosofis. Gudjrin itu salah satu nama panggilan saya saat SMA. Dan setelah saya tekuni nama itu saat selesei kuliah, ternyata bisa diurai juga jadi nilai2 filosofis yg indah : GUna Daya Juang RIdho Nusantara.  Hmm… lumayan kan, meski agak maksa, hehe… Nama panjang si GuDJRiN inilah yang kelak (insya Allah) jadi nama perusahaan saya. Maklum, kerja di pabrik cuma betah 6 bulan, terus banting setir jadi petani dengan niatan biar bisa jadi pengusaha yg bisa ikutan menyejahterakan petani. Aamiin.

Niat nulis blog ini juga sekedar ingin merangkai titik-titik kehidupan. Prosesnya saja, karena input dan outputnya sudah jelas, lahir dan mati. Lahirnya saya tentunya merupakan hasil tanggung jawab orang tua saya atas ijin Allah dan matinya saya sudah pasti menjadi takdir Allah. Yg jadi poin penting adalah bagaimana saya menghadapi kematian, seberapa tinggi titik akhir tersebut, seberapa banyak manfaat yg dihadirkan, input2 baru (baca : anak) seperti apa yg akan saya hasilkan nanti, dan bekal apa yg saya bawa ke akhirat nanti.

Salah satu hobi saya juga melihat perjalanan hidup seseorang. Menarik ketika Allah memberikan blueprint kehidupan kepada mimpi-mimpi mereka. Mengalir, tapi menuju suatu tujuan. Terbentur, berkelak-kelok, terhimpit, terjun bebas, hingga akhirnya menuju lautan yang tenang. Luar biasa, membuat diri ini juga ingin ikut bermimpi. Mimpi yg sesuai panggilan jiwa. Mungkin nanti blog ini juga akan banyak menghadirkan blueprint Allah terhadap mimpi-mimpi saya. Yah dengan harapan bisa ikut menginspirasi orang2 yg sehobi dengan saya melihat suatu perjalanan hidup.

In the end of my first post, ijinkan saya mengajak teman2 semua untuk menjadi pribadi yg Berguna dan Berdaya memperJuangkan Ridho Illahi di Nusantara ini. Markibangin, Mari Kita Bangun Indonesia. It’s not about me or you, but it’s about WHAT WE CAN DO FOR THIS COUNTRY.

Best Regards 🙂