Titik-Titik Puzzle (2)

Ada pendapat yg mengatakan jika karakter dan kepribadian itu sebagian besar dibentuk oleh lingkungan. Karakter dan kepribadian utama seseorang pun katanya terbentuk saat ia telah genap berusia 12 tahun. Itu berarti pola pengasuhan orang tua dan pola pendidikan + pergaulan saat TK hingga SMP memiliki kontribusi terbesar dalam hal ini. Mungkin bisa dikatakan jika saat itu ‘fase gunung es’ telah terlewati dimana seseorang secara “tidak sadar” telah terbentuk dan terwarnai oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga ia akan sulit mengubah kepribadian dan karakternya, kecuali dengan kesadaran penuh. Dikenal sebuah metode “memutus rantai gajah”, yaitu melakukan suatu tindakan perubahan yg berbeda dari kebiasaan sebelumnya yg konsisten dilakukan selama 90 hari.

Selepas masa SMP, seseorang yg melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA tentunya akan merasakan gejolak pubertas, pergaulan remaja, dan fase menemukan jati diri. Seseorang mulai bisa dengan sadar memilih sesuatu untuk dirinya, baik ataupun buruk, sesuai kepribadian yg telah terbentuk sebelumnya. Ingatan dan kenangan pada masa SMA pun semakin kuat terekam, seolah2 itu baru saja terjadi. Kepribadian yg telah terbentuk dihadapkan pada peristiwa dan kejadian yg mungkin saja mengubahnya 180 derajat atau malah menguatkannya. Ini gabungan antara pilihan, arahan, tujuan, lingkungan, dan takdir yg telah ditentukan oleh-Nya.

Berkaca pada pengalaman pribadi saat SMA, kepribadian saya yg cenderung pendiam dan melankolis-perfeksionis terus terbawa dari masa SD dan SMP. Praktis kelas 1 SMA saya lalui bersama 4 sahabat dekat, yaitu Ferry Anindito, Fadhil Ghalib Agam, Suryo Prasetyo, dan Muhammad Malik Idris. Ini jadi gank saat istirahat, tugas kelompok, grup drama, bermain PES, hingga bermain poker. Ferry yg sama-sama pendiam dan melankolis mengajak saya untuk ikut bergabung di Hikmatul Iman. Disini saya jadi tau seputar tenaga dalam dan tentang kampus bernama ITB dan mesjid bernama Salman. Karena memang salah satu proses latihannya dilakukan disana. Setelah bergabung selama 6 bulan, saya kapok ikut latihan karena rasa linu setelah sparing dan bengkak setelah mencoba mematahkan kikir. Fadhil dikenal sebagai ‘juragan’ sehingga kami sering bermain ke rumahnya untuk sekedar berkompetisi PES dan menghabiskan makanan. Disini saya baru tau jika bunga tabungan bank seorang karyawan senior di sebuah perusahaan minyak multinasional lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Suryo yg lebih supel dengan logat jawa yg kental bisa membuat gank ini lebih berwarna dan penuh canda tawa. Sedangkan Malik saat itu saya kenal sebagai seseorang yg tegas dan keras, bisa dianggap dia adalah ‘preman’ gank kami. Tetapi, sikapnya akan berubah banyak ketika berhadapan dengan murid perempuan, hehe…

Kelas 1 SMA yg saya kenal adalah masa-masanya bermain, dimana setiap orang memasuki masa ABG yg ceria dan menyenangkan. Dan ketika masuk kelas 2 SMA, yg saya tau (dan mungkin juga bagi sebagian besar murid di masa yg sama) adalah masa keakraban dan persahabatan. Pergaulan saya pun meluas hingga hapal setiap posisi murid laki-laki di setiap bangku sampai saat ini. Sayap kanan terdepan diisi oleh Sayyid Hakam Satrio dan Araf Pratamanaim. Jajaran di belakangnya diisi berturut-turut oleh Boma Ranggadjati-Ilmam Mukhlis, Krisha Adhya-Yogi Faldian, Iman Setyadi-Naufal Chairulfatah, Feiza Alfi-Raditya Hanung. Sedangkan sayap kiri diisi Achmad Faris Saffan-Eko Prasetyo, Reza Narindra-Saya, Markus-Muhammad Rizki, Evan Ardiansyah-Tedo Purnomo, Dadan Damayandri-Yusuf Nugraha. Banyak peristiwa menarik yg terjadi saat itu, mulai dari pola pergaulan, kisah persiapan drama kelas, cinlok-cinmon, kekompakan kelas, cerita tentang guru-guru, hingga perjalanan wisata ke Bali. Saya pribadi disini mendapatkan panggilan baru dengan nama gudjrin, sebuah momen yg membuat saya jadi lebih agamis, dan aktivasi email-sosial media sebagai tahapan untuk mulai ‘membuka diri’. Dan yg menjadi catatan tambahan adalah 90% lebih dari mereka lulus masuk fakultas-kampus bergengsi, seperti fakultas teknik-ITB ataupun ke fakultas kedokteran-psikologi.

Meski sempat diprotes oleh para murid, akhirnya susunan murid kelas 2 ini kembali dipecah sehingga kelas 3 diisi oleh susunan murid yg berbeda. Padahal harapannya adalah persahabatan yg telah terjalin bisa membantu proses belajar dan persiapan menghadapi UN-SPMB. Di kelas 3 ini saya berteman dekat dengan Rendi Oktavian, Alven Haeckal, Ardi Lazuardi, Indi Amrullah, dan Taufik Hidayat. Kepribadian yg menempel saat itu adalah hobi ngoprek-nya Alven dan hobi ngoding-nya Ardi. Ditambah sebangku dengan (Aa) Rendi, seorang ketua DKM mesjid sekolah, membuat saya jadi lebih religius, lebih sering ke mesjid, ikutan mentoring dan ta’lim, merutinkan doa setelah sholat dan tilawah. Bergaul dengan para remaja mesjid membuat saya semakin nyaman. Dari sini juga saya mendapatkan mentor seorang alumni ITB dan teman-teman seperjuangan bersama Reza Narindra, Muhammad Ferandy, Evan Ardiansyah, dan Bagus Dwiatmojo, dengan nama grup SPIRIT. Di dalam kelas bagian belakang terpampang sebuah board putih besar yg berisi nama-nama murid dan fakultas-kampus tujuannya masing-masing. Tekad telah ditetapkan dan saya pun mulai disiplin belajar, try-out, dan berdoa. Dalam sebuah perjalanan ke tempat try-out, tanpa sengaja saya tersasar melewati gerbang depan kampus ITB dan akhirnya mem-visualisasi-kan pikiran seolah-olah saya menjadi mahasiswa disana. Meski tanpa mengikuti bimbel, atas seijin Allah, akhirnya saya bisa mengenyam bangku kuliah di STEI ITB, sebuah chapter kehidupan baru yg ternyata lebih menarik lagi…

Titik-Titik Puzzle (1)

Sekelumit kisah perjalanan pastinya menceritakan tentang persilangan jalan, baik itu tentang pilihan hidup ataupun tentang orang-orang yg sempat bersimpangan dengan kita. Perjalanan hidup itu seperti tongkat estafet, setiap orang di dalamnya mengantarkan kita pada posisi sekarang ini. Perjalanan hidup itu seperti bermain puzzle, setiap orang di dalamnya mempunyai kepingan penting yg menggambarkan diri kita sekarang. Menjelang seperempat abad saya hidup di dunia ini, ijinkan saya untuk menulis rekam jejak perjalanan saya pribadi. Sekedar untuk mengenang, menguatkan langkah, mengevaluasi diri, dan mensyukuri semua nikmat dan petunjuk yg telah Allah berikan.

Sejak lahir hingga masa balita, tubuh saya sering didera penyakit, mulai tipes, cacar, hingga asma bronkhitis yg acapkali kambuh. Spontan Ibu saya yg over-protective melarang saya untuk bermain dan ‘liar’ di luar rumah. Saya menghabiskan waktu hampir sehari semalam di dalam rumah setiap hari. Mungkin bisa dihitung dengan jari, berapa kali kaki saya menginjak tanah tanpa menggunakan sendal/sepatu. Itu sebabnya sampai sekarang telapak kaki dan tangan saya begitu halus, minim ‘rorombeheun’ dan kulit yg mengeras, sedikit gesekan saja bisa membuat telapak kaki dan tangan saya terluka. Praktis saat itu saya hidup dengan imajinasi dan teman2 imajiner di dalam rumah. Ada seorang teman nyata bernama Opik, yang merupakan tetangga di depan rumah. Seringkali saya menengok-nengok ke luar rumah dari jendela untuk sekedar memergoki Opik yg sedang lewat di depan rumah untuk kemudian saya panggil agar masuk dan bermain Playstation bersama. Lucunya, terkadang saya hanya butuh dia sebagai teman nonton atau mengobrol saja, yg main yah hanya saya sendiri. Ketika keluarganya memutuskan untuk pindah rumah, barulah saya merasakan sakitnya kehilangan seorang teman.

Masa-masa di TK dilalui dengan datar, tidak ada teman yg begitu dekat. Hanya ada 2 kejadian yg membekas, yaitu saat bertengkar dengan seorang teman dan ‘berhasil’ membuatnya menangis, dan ketika acara ulang taun saya dirayakan di sekolah, yaitu saat Ibu saya memasak Mie Goreng buatannya untuk disantap bersama seisi kelas. Mungkin 2 kejadian saat itu membuat saya merasakan 2 hal yg bertolak-belakang, tidak enaknya membuat orang lain menangis dan bahagianya saat bisa diperhatikan dan bisa berbagi dengan orang lain. Kelulusan TK saat itu dirayakan dengan foto memakai baju toga, sebuah doa agar setiap murid bisa bersekolah tinggi dan lulus sebagai sarjana.

Saat memasuki masa SD, saya mulai terbuka pada jalinan pertemanan, meski masih menjadi seorang yg pendiam. Ada beberapa teman dekat saat itu, Taufik Hilmi, Daniel, Rendi Bramantoro, Sigit Ramadhan, dll. Masing-masing dari mereka punya ciri dan karakter yg unik. Taufik dikenal sebagai murid yg pintar dan mempunyai tulisan yg sangat rapi, dia menjadi teman sebangku dan teman saat istirahat, kini yg saya tau dia jago dalam hal programming. Daniel dikenal sebagai murid berpostur paling tinggi, dia menjadi teman sejalan-pulang sekolah dan bermain ‘tazos’. Momen yg saya kenang adalah ketika dia memberi uang seratus rupiah kepada saya untuk menambahkan uang seribu yg saya punyai untuk dibelikan pedang-pedangan, sebagai hadiah kepada saya saat berulang taun. Rendi dikenal sebagai murid yg supel (termasuk pada murid perempuan) dan doyan maen bola, dia terkadang menjadi teman sepulang sekolah di rumah, untuk bermain bola dan PS. Kini ia menjadi sarjana jurusan farmasi dan sedang merintis bisnisnya sendiri. Sedangkan Sigit dikenal sebagai pelukis ulung dan ketua kelas, dia menjadi ketua grup pramuka saya dan teman kompetisi ‘Winning Eleven’. Kini yg saya tau ia adalah sarjana lulusan seni dan desain. Keempat teman dekat tersebut dan beberapa teman lainnya memberikan warna yg bermacam-macam pada diri saya pribadi. Ada juga teman dari SD kelas lain bernama Hari Purnama, yg sebetulnya saya lupa sejak kapan kami bisa akrab. Ditambah seorang guru bernama Pak Asep Hendra, yg mengajarkan muridnya untuk bermimpi melanjutkan sekolah ke SMP Favorit, jadilah saya bersama 5 orang teman lainnya (termasuk Sigit) berhasil lolos seleksi masuk SMPN 5 Bandung, sekolah SMP Terfavorit di Bandung.

Belajar di sekolah favorit dan unggulan, yg notabene berisi murid-murid terbaik, membuat lingkungan pertemanan jadi semakin kondusif sekaligus kompetitif. Regulasi sekolah yg memecah muridnya setiap kenaikan kelas, membuat saya berkenalan dengan beberapa teman dekat yg berbeda di setiap tahunnya. Di kelas 1-B, saya berteman dekat dengan Muh. Ihsan, Muh. Anggita Tresnamayung, dan Fajar Ajie Setiawan. Ihsan sebagai teman sebangku sama2 mempunyai tulisan yg rapih dan sesekali menggoda untuk bermain ke rumah saya. Anggita yg menjadi kenalan pertama saya saat itu dikenal sebagai murid yg pintar dan beberapa kali juga menjadi teman sebangku. Ajie adalah teman yg memperkenalkan saya pada ekskul Rohani, ekskul DKM yg pertama kalinya mengajarkan saya tentang teknologi dan proses kaderisasi. Sebuah kebetulan juga ketika itu pembinanya adalah seorang mahasiswa Teknik Fisika ITB. Di kelas 2-C, saya berteman dekat dengan Muh. Oki Wasil, Ahmad Yusran Diafri, dan Eki Hikmah Febriansyah. Oki sebagai teman sebangku terkadang berselisih paham dengan saya, yg akhirnya bisa berujung debat kusir. Disitu saya mulai merasakan adanya konflik dan belajar untuk mempertahankan pendapat. Yusran dikenal sebagai ‘badut’ kelas alias orang yg sering menjadi bahan tertawaan karena ulahnya sendiri. Sedangkan saya hanya bisa ‘berulah’ saat ada drama di sekolah saja, di saat saya bisa mengekspresikan diri saya dengan bebas, di luar kepribadian saya yg asli. Eki saat itu saya kenal sebagai murid yg ‘cunihin’, cuek saat bergaul, dan terkadang melakukan hal-hal aneh saat jam pelajaran berlangsung.

Di kelas 3-G, saya kemudian berteman dekat dan berkelompok bersama Yusran, Agung Satriyadi Wibowo, Arri Raditya, Agil Gilang Pratama, dan Lestian Atmopawiro. Kelas 3-G ini dikenal sebagai kelas biang masalah karena ‘berhasil’ membuat 3 guru bahasa (Indonesia, Inggris, Sunda) menangis di kelas karena ulah murid-murid di dalamnya. Praktis kami sekelas harus bolak-balik meminta maaf ke ruang guru. Ada momen-momen dimana saya diejek karena ‘cameuh’ dan berjari manis pendek, mulai dari awalnya membuat saya kesal, marah, hingga akhirnya terbiasa dengan semua ejekan itu. Ada juga momen mengerjakan PR seminggu ke depan di kelas karena motivasi agar bisa bermain Playstation jenis Role Playing Games di rumah sepuasnya. Dan juga, momen dimana saya menjadi pembawa ‘virus’ permainan kartu Yu-Gi-Oh di kelas, meski dengan peraturan yg dibuat sendiri. Dengan semangat yg sama dalam lingkungan yg kondusif, akhirnya saya dan mayoritas teman di kelas berhasil lolos seleksi ke SMA paling bergengsi di Bandung, SMAN 3 Bandung.

Dalam rekam jejak sampai saat itu juga, (saat ini) saya sadar dan merasa jika Allah mempunyai rencana dan rancangan terhadap hidup setiap manusia, termasuk saya, untuk sebuah tujuan di masa depan. Allah menyisipkannya dalam alam bawah sadar kita dan mengabadikannya dalam bentuk kenangan dan kepribadian. Allah pertemukan kita dengan orang-orang yg dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk melalui mereka dan melalui setiap peristiwa yg terjadi. Inilah mengapa Allah itu sungguh dekat, Dia Maha Mengetahui apa yg terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah kita menyadari akan petunjuk-Nya tersebut dan apakah kita telah memilih jalan terbaik yg telah Ia tunjukkan. Wallahu Alam.

Lintasan Doa dan Karma

Saya pikir jika setiap manusia akan selalu berkata-kata di dalam hati dan pikirannya. Entah berapa lama kita mampu tidak berkata-kata sama sekali. Dimanapun dan kapanpun, jarang sekali kita benar-benar diam termenung dengan pikiran yg kosong tanpa ada kata yg terlontar. Pikiran ini terus menerawang, membaca, merencanakan, berprasangka, mengenang, memerintah, ataupun berimajinasi. Dan karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu termasuk apa yg kita pikirkan, maka pikiran itu akan diarahkan oleh-Nya kepada suatu hal dan kenyataan sesuai kehendak-Nya secara kita sadari ataupun tidak.

Setiap lintasan pikiran itu bisa berarti doa dan bisa berakibat sebuah karma. Sebuah buku dan film berjudul “The Secret” menjelaskan jika pikiran kita mampu menarik seluruh alam semesta untuk mendukung apa yg kita pikirkan. Yang menjadi sorotan saya adalah sebetulnya Allah-lah yg memerintahkan alam semesta ini menuruti doa-doa orang yg dikehendaki-Nya. Dan yg menjadi tambahan adalah apa yg kita pikirkan tentang sesuatu itu bisa berbalik kepada diri kita sendiri. Pengalaman saya pribadi menunjukkan kedua hal ini.

Suatu ketika saya terlibat dalam suatu komunitas di Karawang yg sedang membutuhkan anggota tambahan. Anggota tambahan ini diharapkan mampu aktif berkegiatan dan setidaknya mempunyai pengalaman berorganisasi. Dan dikarenakan komunitas ini basic kegiatannya adalah seputar bisnis, maka anggota tambahan ini pun sebaiknya adalah seorang pengusaha. Pada saat itu, ternyata sangat sulit bagi saya untuk menemukan spesifikasi anggota seperti itu, terlebih saya adalah seorang pendatang di Karawang yg juga merupakan daerah industri, dimana sebagian besar masyarakatnya bekerja di pabrik.

Dalam suatu kepasrahan, saya berkata di dalam hati jika seandainya saya bisa menemukan seseorang yg mirip dengan saya pribadi. Saat itu, ingin rasanya mempunyai jurus kage bunshin ala Naruto. Dan selang beberapa hari muncul sebuah SMS dari seseorang yg mengajak ketemuan. Ketika itu saya bingung darimana dia mendapatkan nomer HP saya karena memang sebelumnya saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengannya. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai koordinator suatu komunitas bisnis lain di Karawang. Ketika pertama kali bertemu, kami ternyata cepat akrab karena memiliki visi dan pandangan yg hampir sama. Beliau pun fokus membesarkan usahanya sendiri di bidang makanan dan minuman. Dan yg menjadi kejutan terbesar bagi saya adalah nama beliau Fajry, nama yg juga mirip dengan saya (apalagi jika diucapkan berbarengan). Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya saya pun mengetahui jika kondisi beliau saat itu 11-12 dengan kondisi saya saat itu juga, dalam hal bisnis, organisasi, dan komunitas. Yg menjadi perbedaan adalah beliau orang asli Karawang yg telah menikah (sigh…), yg berarti sesuai juga dengan keinginan saya mempunyai partner asli orang Karawang yg dilengkapi dengan ‘ilmu kemapanan’. Subhanallah.

Dalam peristiwa lain, suatu ketika saya melihat kaki karyawan yg sedang terluka. Katanya luka itu didapat akibat goresan mesin traktor ketika membajak sawah. Terus terang saya agak jijik melihatnya karena luka tersebut agak menganga dan terkadang dihinggapi lalat ketika bekerja. Pada siang harinya, saya pergi ke daerah Purwakarta menaiki motor bersama seorang teman karena ada suatu keperluan. Dalam perjalanan pulang ke Karawang, terjadi hujan yg cukup lebat dan kami pun menepi. Akibat lelah menunggu dan waktu sudah mulai kesorean, kami pun nekat menembus hujan untuk melanjutkan perjalanan. Pada suatu jalan menurun yg licin, motor yg kami naiki slip dan kehilangan keseimbangan. Akhirnya kami terjatuh dengan kaki menghantam aspal. Cepat-cepat kami bangkit dan bergerak ke pinggir jalan. Tak terbayang nasib kami jika ada truk di belakang motor kami. Di pinggir jalan, saya mengecek kaki saya yg terasa perih dan ternyata lukanya berbentuk goresan memanjang yg sekilas mirip dengan luka karyawan yg paginya saya lihat. Astaghfirullah.

Ketika memikirkan kedua peristiwa yg berlainan seperti itu, saya pun terkadang jadi merinding. Dan jika setiap peristiwa bisa direfleksikan, sebetulnya banyak peristiwa lain yg juga terjadi akibat lintasan pikiran kita. Bisa begitu indahnya dan begitu berbahayanya lintasan pikiran yg ada di benak kita. Saya selalu percaya jika pikiran kita memancarkan gelombang doa yg bisa berbuah baik bagi kita dan bisa juga berbuah karma simalakama. Seakan-akan pikiran kita mempunyai frekuensi tertentu dan menarik sesuatu ataupun seseorang berfrekuensi sama. Dan tentunya ini menunjukkan jika sesungguhnya Allah Maha Adil dan Maha Memberi Peringatan. Doa yg baik dan buruk akan Allah kabulkan jika Ia berkehendak. Doa baik yg terkabulkan menuntun kita agar terus bersyukur dan ‘doa’ buruk yg terkabulkan menuntun kita agar terus beristighfar dan bertaubat. Dan keduanya menuntun kita agar terus ingat kepada-Nya dengan selalu menjaga pikiran dan perkataan kita. Wallahu alam.

Seek Not See, Learn Not Earn

Pernah kan ngeliat petani lagi ngebajak sawah pake traktor? Selayang pandang nampak jika kerjaan itu gampang dilakuin. Cuma megang handle-nya terus jalan bolak-balik muterin sepetak sawah. Padahal dalam kenyataannya ngebajak sawah pake traktor itu kerjaan berat. Si petani harus bisa nahan bobot traktor biar bisa jalan lurus dan biar ga keguling saat ngelakuin belokan. Jika pertama kali nyoba, kata petaninya sih 2 kali bolak-balik aja udah kerasa ngos-ngosan. Padahal sepetak sawah ukuran beberapa ratus meter persegi aja butuh puluhan kali bolak-balik biar semua bagian tanahnya kebajak. Dan biasanya ukuran bayaran pekerja traktor itu per hektar, yaitu 10.000 meter persegi. Ckck… Ternyata luar biasa emang tenaga yg harus dikeluarin.

Di luar kerjaan mentraktor, tentunya masih banyak kerjaan lain yg sama-sama berat ataupun lebih berat lagi. Dan terkadang kita berpikiran jika kerjaan itu mudah hanya dengan melihatnya saja. Atau kita berpikiran jika kerjaan orang lain itu tidak sesulit apa yg kita sendiri kerjakan. Persepsi berat-ringan ataupun sulit-mudah itu muncul dari subjektivitas kita sendiri. Dan sering pula persepsi semacam ini menimbulkan konflik dan rasa ketidakadilan antara diri kita masing-masing.

Ketika kini sedang rame-ramenya pemberitaan demo buruh menuntut kenaikan upah, saya berpikiran jika persepsi ketidakadilan ini menjadi salah satu penyebabnya. Buruh merasa menjadi sapi perah suatu pabrik atau perusahaan, tetapi merasa pula upahnya minim jika dibandingkan dengan keuntungan perusahaan ataupun upah staff dan atasannya. Buruh pun melihat jika kerjaan seorang staff atau manager tidaklah berat, tetapi kok malah mendapatkan upah yg lebih tinggi. Sebaliknya, jajaran manajemen perusahaan melihat jika upah buruh itu sudah mencukupi kebutuhan hidup layak. Dan mereka pun berpikiran jika buruh itu hanya pekerja fisik yg tak perlu pusing memikirkan perkembangan dan kemajuan perusahaan. Kedua pihak ini nampak berseteru dengan persepsinya masing-masing.

Ketika dulu saya mulai bekerja di sebuah pabrik sebagai staff, ada program dari manajemen yg bernama Operator Experience, yg merupakan salah satu bagian dari On The Job Development (proses dari Management Trainee). Di program ini, saya diharuskan menjadi operator (buruh) di suatu proses assembly selama beberapa hari. Tujuannya adalah agar saya merasakan bagaimana capeknya, sulitnya, dan menderitanya seorang operator. Selain itu, saya pun diharuskan untuk mengusulkan suatu perbaikan di pekerjaan operator itu berdasarkan pengalaman yg didapat. Hasilnya ternyata lumayan : tangan bengkak, pinggang cekot-cekot, dan pastinya keringetan sekujur tubuh. Untuk perbaikannya, saya mengusulkan suatu metode untuk mengurangi kecacatan dalam proses di bagian itu, yg merupakan salah satu KPI perusahaan.

Di sisi lain, ketika saya murni bekerja sebagai staff, ternyata tidak sedikit yg over-estimate dan yg under-estimate. Seringkali operator atau bagian di bawah staff yg menanyakan tentang masalah yg tidak saya ketahui penyebab dan solusinya. Kalimat yg terlontar dari mereka (kira-kira) adalah “Ah, kan Bapak S1” atau “Ini kan tanggung jawab Bapak sebagai staff”. Lucunya adalah tujuan dari pertanyaan itu terkadang sekedar ingin ‘menguji’ saya. Dan sebetulnya saya pun berpikir jika terkadang operator lebih tau mengenai masalah tersebut karena lebih berpengalaman dari saya. Pertanyaan seputar gaji, keirian terhadap posisi staff, ‘kesenjangan’ dalam pekerjaan, dan hal semacamnya lumayan sering saya dengar ketika bergaul dengan operator. Padahal kenyataannya adalah upah operator dan staff tidak jauh berbeda, staff tidak ada uang lembur di atas 2 jam, pekerjaan kantor seringkali mengharuskan begadang, dan tentunya banyak laporan yg harus dibuat.

Dalam hal struktur perusahaan, memang mayoritas dibagi menjadi 2 bagian, posisi teknis dan posisi manajemen. Buruh dan operator termasuk posisi teknis dan staff / manager termasuk posisi manajemen. Keduanya dipisahkan oleh sekat yg terlihat dan ‘sekat’ yg tak terlihat. ‘Sekat’ yg tak terlihat ini adalah operator dan staff memiliki hubungan yg berbeda terhadap perusahaan. Operator itu menganggap perusahaan sebagai ‘musuh’ dan perusahaan menganggap staff sebagai ‘teman’. Oleh karena itu, anggota aktif Serikat Pekerja dimanapun kebanyakan diisi oleh operator / buruh dengan segelintir orang staff. Jikalau seorang operator naik kelas menjadi staff, hampir dipastikan jika nantinya ia tidak akan aktif kembali di Serikat Pekerja. Sedihnya adalah seringkali sekat ini sengaja dibuat untuk memicu konflik kepentingan antara buruh dan manajemen agar perusahaan secara umum meraih keuntungan dan benefit maksimal. Dan ternyata hal-hal ini akhirnya yg menjadi salah satu alasan mengapa saya resign.

Berkaca pada pengalaman pribadi ini, cobalah jika setiap orang tidak hanya melihat dari apa yg didapat, tetapi lebih mencari apa-apa yg bisa dipelajari / dialami. Seorang buruh bisa mencoba atau mempelajari untuk menjadi pengusaha dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya mengatur karyawan. Seorang manager bisa mencoba mengerjakan pekerjaan seorang buruh dengan target waktu yg telah ia tetapkan sendiri. Seorang pengusaha bisa merasakan sulit dan lelahnya jatuh bangun agar ia tak lupa daratan ketika berada di puncak kesuksesan. Sulit dan mudah itu adalah persepsi sebelum kita melakukannya sendiri. Berat dan ringan itu adalah persepsi sebelum kita merasakannya sendiri. Yg bisa dibenarkan adalah : you can feel easy if you adapt, enjoy, and passionate about it.

Dreamer Wisdom

Back to the moment, ketika saya resign dulu, ada wawancara akhir dengan psikolog yg menguatkan niat saya untuk mengembangkan mimpi-mimpi saya ke depan. Proses resign dulu memang terasa begitu cepat, pikiran saya memang terkadang meledak-ledak ketika ada sesuatu yg ingin dilakukan. Rencana resign ketika umur 30-an, yaitu setelah bekerja sekitar 8 tahunan, mengalami percepatan jadwal menjadi hanya 6 bulanan setelah bekerja. Tidak disangka jika psikolog itu memfasilitasi saya dengan nasehat-nasehat yg berharga hingga saat ini. Saya pikir tidak ada salahnya jika saya menuliskannya kembali di blog ini.

Yang pertama adalah memilih lingkungan positif berupa komunitas atau kelompok masyarakat yg benar dan mampu mendukung terwujudnya mimpi-mimpimu. Dengan posisi saya sebagai pendatang di Karawang saat itu, saya tidak punya kenalan ataupun koneksi yg bisa menuntun saya untuk memilih lingkungan yg tepat. Proses pencarian orang2 dengan lingkungan yg tepat memang menjadi suatu pengalaman yg menarik, especially when you don’t know where you are.

Yang kedua adalah memilih pasangan hidup. Bagi saya, ini nampaknya hal yg lebih sulit dari hal yg pertama. Pasangan hidup sebaiknya adalah orang yg mempunyai visi yg sama dengan pengetahuan dan pola pikir yg bisa memahami arti dari mimpi-mimpimu. Katanya membina seorang istri itu lebih melelahkan daripada membina sebuah masyarakat. Katanya lagi kehilangan rumah tangga bisa berarti kehilangan segalanya. Yang saya pikirkan adalah proses pencarian pasangan hidup merupakan proses pemantasan diri. Dalam perjalanan pribadi pun, saya sering mendengar cerita dan kasus yg menarik ketika bertemu teman2 yg telah menikah. Mayoritasnya adalah tentang rezeki dan kemudahan yg tiba2 mengalir setelah menikah. 

Yang ketiga adalah tentang membuat anchor dalam perjalanan meraih mimpi. Anchor disini bisa berarti suatu penyemangat ketika nanti harus jatuh bangun. Bentuk anchor itu bisa berupa sebuah event, kenangan tak terlupakan, ataupun momentum saat memulai. Sesuatu yg bisa diputar kembali di dalam otak. Bagi saya, menulis pengalaman pribadi seperti ini bisa menjadi anchor. Menghargai dan menikmati semua tahapan dan pencapaian memang bisa memotivasi diri sendiri.

Yang keempat adalah mengenali potensi diri sendiri. Hanya diri sendiri yg bisa menakar dan menilai hal ini. Bisa juga dengan mengenali karakter-karakter orang lain dan membandingkannya. Yang perlu diperhatikan adalah setiap orang sukses mempunyai karakternya masing-masing. Begitu beruntungnya kita ketika saat ini banyak buku yg menceritakan perjalanan hidup mereka. Membandingkan dan menyamakannya dengan diri sendiri bisa menjadi pembelajaran yg membuat perubahan. Be yourself disini berarti to be the best of yourself.

Yang kelima adalah mengenali medan yg akan dihadapi. Ini hal yg vital dalam menentukan seberapa cepat kita bisa berkembang dan dipercaya oleh sebuah masyarakat. Prosesnya mencakup analisis struktur sosial yg ada, tingkatan pendidikan, persepsi masyarakat, pola pikir yg berkembang, dan tokoh-tokoh yg ada di masyarakat tersebut. 

Perencanaan memang menjadi hal yg penting dalam melakukan proses-proses tersebut, meski dalam pelaksanaannya seringkali banyak hal yg di luar dugaan. Tetapi, justru itu yg memperkaya dan melejitkan kualitas diri. Nyatanya Allah selalu memberikan apa yg kita butuhkan dan memberikan juga ujian yg sesuai kemampuan kita. Jika perjalanan menuju mimpi itu perjalanan yg mendaki lagi sulit, maka yakinlah jika jalan itu jalan yg benar yg seharusnya kita tempuh. Somehow it’s always designed like that. Wallahu alam.

Membangun Semangat Kewirausahaan Sosial

Photo0407

Seminar dan workshop yg saya ikuti pada cerita perjalanan sebelumnya adalah mengenai kewirausahaan sosial. Judul lengkapnya Revitalisasi Potensi Masyarakat Indonesia melalui Social Enterprise. Tema dan judul ini saya minati karena memang terkait salah satu impian dan aktivitas saya sekarang. Pembicaranya sendiri adalah seorang praktisi dan akademisi. Lengkap karena beramal harus dengan ilmu dan ilmu harus diamalkan.

Pembicara pertama yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan SMIH dan TNYI memaparkan penjelasan mengenai peranan sosial enterprise dalam lingkup sosial, bisnis, dan pemerintah. Dikatakan jika sosial enterprise mampu menyatukan semua elemen itu dalam kesatuan yg utuh. Sosial enterprise mampu memberdayakan dan memperbaiki masyarakat dengan memecahkan permasalahan sosial dengan kegiatan bisnis yang berkelanjutan. Kegiatan bisnis yg dilakukan tentunya diutamakan yg berbasiskan potensi lokal masyarakat tersebut. Pak Zulfikar menemukan masalah yg hampir sama ketika beliau berkunjung ke beberapa daerah, terutama di pedesaaan : masyarakat di sana tidak mau mandiri dan bermental pengemis. Artinya mereka sebetulnya mempunyai potensi, namun enggan atau tidak tau bagaimana mengembangkannya dan hanya bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah atau lembaga lainnya.

Metode Pak Zulfikar dalam menghadapi permasalahan masyarakat seperti ini adalah memaparkan kenyataan yg terjadi. Beliau memisalkan jika setiap orang di daerah itu menyisihkan sedikitnya 25 ribu sebulan untuk proses perbaikan daerahnya, maka dalam beberapa bulan saja sudah dapat terkumpul dana puluhan hingga ratusan juta. Dana sebesar ini nantinya bisa dipakai untuk memperbaiki fasilitas publik dan mengembangkan usaha daerah tersebut. Beliau juga menjanjikan akan meminjamkan dana sampai 60% dari jumlah dana yg dibutuhkan ketika masyarakat telah mampu mengumpulkan 40% di awal. Ketika dana tersebut dipakai untuk usaha, maka masyarakat akan menerima bagi hasil hingga 80% dari keuntungan. Selain itu, beliau menyisipkan unsur surprise di tengah2 ketika proses usaha berlangsung baik dengan memberikan hibah 50%, artinya masyarakat hanya perlu mengembalikan 50% dari pinjaman yg diberikan.

Metode Pak Zulfikar ini mengajarkan kemandirian dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat yg akan dibantunya. Masyarakat akan merasa memiliki usaha yg dijalankannya bersama karena ada uang mereka di dalamnya. Berbeda ketika dana pemerintah yg murni hibah dan tanpa pengawasan diberikan. Selain itu, reward yg diberikan tentunya akan memacu masyarakat untuk berusaha lebih baik lagi. Namun, metode ini dapat terlaksana dengan baik apabila adanya pendampingan dan ketegasan dari pihak yg akan membantu proses pengembangan kewirausahaan sosial ini. Pendampingan harusnya dilakukan intensif selama beberapa bulan di awal, artinya fasilitator tinggal bersama masyarakat tersebut dan membaur, tidak pulang pergi dan hanya mendampingi sebulan sekali. Ketegasan diperlukan ketika masyarakat memberontak dan memprotes proses yg ada. Tampilkan 3 hal utama yaitu fasilitator tidak melakukan kebohongan (dengan bukti rekening usaha, aliran dana, dll.), tidak menyakiti masyarakat setempat, dan tunjukkan perubahan yg terjadi ketika proses kewirausahaan sosial berlangsung.

Pembicara kedua, yaitu Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB menjelaskan mengenai proses dan pola pikir kewirausahaan sosial. Potensi lokal masyarakat sesungguhnya sangat besar dan bisa dikembangkan dengan proses kewirausahaan sosial. Hal ini karena kewirausahaan sosial bukanlah profit-oriented, melainkan benefit-oriented. Jika ada manfaat yg bisa dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, maka dengan sendirinya keuntungan materi bisa didapatkan. Prinsipnya adalah tidak takut, tidak menunda2, dan tidak ada yg tidak mungkin. Selain itu, kewirausahaan sosial membutuhkan 3N, yaitu Niat, Naluri, dan Nurani. Niat baik untuk membantu masyarakat, naluri untuk mengembangkan usaha masyarakat, dan nurani untuk bisa peduli pada kondisi sosial masyarakat.

Pembicara ketiga, yaitu Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Sosial Bisnis Dompet Dhuafa memaparkan fakta2 mengenai kewirausahaan dan kapitalisme yg kini berlangsung di dunia. Cara pemaparan beliau yg ‘nyeleneh’ memotivasi dan mengundang tawa dari para peserta. Sepatu merek terkenal di dunia Made in Indonesia berharga jutaan rupiah dibuat oleh buruh Indonesia dengan gaji 5 ribuan per hari. Seorang pegolf terkenal mendapatkan loyalty milyaran rupiah ketika mengiklankan sebuah produk olahraga sedangkan buruh yg membuat produk itu digaji hanya ribuan rupiah per hari. Ironis dan menyakitkan memang. Oleh karena itu, kewirausahaan sosial hadir untuk memberikan pembagian keuntungan yg lebih adil. Beliau mencontohkan sebuah kampung batik di Jawa Tengah yg menggaji pembatiknya jutaan rupiah dari setiap batik yg dihasilkannya. Beliau juga menyatakan jika pengusaha itu dibentuk bukan dilahirkan, bagaikan proses pembuatan semangka kotak yg dijual sangat mahal. Meski prosesnya menyakitkan, tetapi prosesnya itulah yg membentuk seorang pengusaha menjadi pribadi yg tangguh dan mempesona.

Di akhir sesi seminar, Pak Zulfikar Alimuddin menunjukkan sebuah video yg inspirational. Video mengenai seorang anak kecil yg mampu membuat perubahan. Video tersebut bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=GPeeZ6viNgY

Photo0408

 

Pada sesi workshop atau Focus Group Discussion, rekan saya mengambil topik mengenai permodalan rakyat untuk keseimbangan ekonomi sedangkan saya mengambil topik pemberdayaan masyarakat pedesaan dengan platform kolaborasi. FGD yg saya ikuti difasilitasi oleh Mas Adhita, seorang mahasiswa S2 jurusan Teknologi Industri Pangan UGM yg telah beberapa kali menyabet juara lomba kewirausahaan. Beliau mengembangkan budidaya lele kolam kering di daerah Gunung Kidul. Kini aktivitas beliau sedang berusaha meng-ekspor kerajinan rotan dan bambu ke negara Turki.

Pada awal FGD ini, Mas Adhita mempersilahkan beberapa peserta untuk menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Ada yg bercerita mengenai niatnya yg ingin membuat supplier sayuran dan pangan organik di daerah Kalimantan dan ada yg bercerita mengenai pengalamannya bekerja di forwarding company dan niatnya untuk mengembangkan usaha di daerahnya sendiri. Saya pribadi ikut menceritakan pergerakan saya bersama rekan2 di yayasan Sadamekar yg meliputi pendidikan, koperasi, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Dari contoh2 kasus ini, Mas Adhita memaparkan proses kewirausahaan sosial yg umum terjadi. Ada Smart Small Farmer di Thailand yg mampu mengolah berbagai jenis sayuran dan buah2an dalam skala industri. Mulai dari pemberian bibit, pengolahan lahan, pemanenan, proses grading, pengemasan, dan distribusi ke berbagai daerah. Uniknya adalah meski semua bibit dan lahan adalah milik perusahaan, tetapi petani disana tetap memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan yg kuat terhadap usaha yg dijalankan. Prosesnya pun melibatkan aplikasi teknologi yg mumpuni, salah satunya adalah indikator yg mampu menunjukkan jika suatu sayuran telah kadaluarsa dalam kemasan. Grade A (terbaik) akan dikirimkan ke Eropa, Grade B dikirimkan ke Amerika, Jepang, China, dan negara lain yg setara, Grade C dipakai di lingkungan dan negara sendiri, dan tragisnya Grade D (terburuk) akan dikirimkan ke beberapa negara Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia.

Mas Adhita kemudian memberikan skema umum yg sering digunakan dalam proses kewirausahaan sosial di Indonesia, yaitu dengan mengembangkan koperasi dan usaha berbasis potensi lokal. Proses awal terbaik adalah dengan melihat pasar dan menariknya hingga ke hulu, dari demand sampai ke supply. Beliau menjelaskan mengenai Porter Five Forces, market size dan market share, proses pendistribusian yg melibatkan promosi, prinsip Total Quality Management (TQM), pembuatan Demonstration Plot (Demplot), penguatan produksi dan pengolahan, prinsip Plan-Do-Check-Action (PDCA), dan kegiatan Kaizen (Continous Improvement). Ini semua mengingatkan saya pada tempat kerja, pelatihan bisnis, dan proses kewirausahaan sosial yg sedang dilakukan.

Setelah semua pemaparan itu dijelaskan, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk merumuskan suatu contoh nyata bagaimana langkah2 membuat kewirausahaan sosial dan skemanya. Kelompok saya memilih untuk memikirkan solusi kewirausahaan sosial untuk menanggulangi alih fungsi lahan pertanian dan alih profesi dari para petani. Langkah2nya kami sesuaikan dengan prinsip Toyota Business Practices (TBP) yg sempat saya pelajari ketika bekerja sedangkan skemanya kami sesuaikan dengan pendekatan prinsip koperasi, kesejahteraan petani, dan pemotongan jalur distribusi. Setelah semua kelompok sedikit mempresentasikan hasil diskusinya, kami pun mengikuti acara penutupan yg berlangsung di auditorium utama.

Hmm… that’s all. Itu yg bisa saya ceritakan pada kesempatan mengikuti seminar kewirausahaan sosial dari psikologi UI dan Sosial Entrepreneur Academy (SEA) Dompet Dhuafa ini. Yg saya yakini adalah kewirausahaan sosial ini dapat menjadi solusi untuk melawan kapitalisme global, memeratakan kesejahteraan, dan menyelesaikan beberapa permasalahan pelik di Indonesia ini. Dan saya yakin pula jika semakin banyak pemuda dan komunitas yg bermimpi, bersatu, dan bergerak bersama mewujudkan tujuan mulia dari kewirausahaan sosial ini. Aamiin.

Perjalanan Menarik Karawang-Bekasi-Depok (Edisi Kewirausahaan Sosial)

Sabtu dini hari saya berdua bersama Mas Oris bersiap2 untuk berangkat ke Depok dari Rengasdengklok Karawang. Dengan modal niat dan info rute, kami berangkat memakai motor dan dilanjutkan dengan naik kereta, Kami berencana mengikuti sebuah seminar kewirausahaan sosial di kampus psikologi UI yg dimulai jam 8.30. Alhamdulillah pas sampai stasiun kereta Karawang, kami berhasil mendapatkan 2 tiket terakhir yg tersedia. Mungkin jika telat 10 detik saja, kami tidak akan mendapatkan tiket itu dan entah bagaimana kami akan ke Depok. Dan sesuai prasangka, kami harus menunggu kereta yg telat datang beberapa saat. Meski weekend ternyata KRD ke arah Jakarta ini tetap penuh dan kami terpaksa harus berdiri dekat pintu keluar di samping toilet kereta yg bau pesing. Keterpaksaan ini juga akibat kami tak mau kelewatan turun di stasiun Bekasi.

Sesampainya di stasiun Bekasi, saya dengan bodohnya melangkah keluar dengan kaki kanan saat kereta masih berjalan pelan. Kaki saya terseret dan hampir saja terjatuh. Seketika teringat beberapa cerita orang yg meninggal akibat ‘salah kaki’ ini saat turun dari kendaraan yg masih berjalan. Ada yg meninggal akibat gegar otak dan ada yg meninggal karena langsung tergilas (GLEG!). Sesuai info rute yg diberikan, kami harus melanjutkan perjalanan menggunakan commuter line dari stasiun bekasi ke arah depok dan turun di stasiun UI. Karena pertama kali juga kami menaiki commuter line, kami agak kikuk ketika menggunakan kartu sebagai tiket masuk. First impression nya adalah commuter line ini cukup nyaman dengan boots yg menggantung di pegangan tangan kereta. Unik juga nih strategi promosi dari AP Boots, hehe…

Setelah melihat info rute commuter line, ternyata kami harus transit dulu di Manggarai untuk selanjutnya menaiki commuter line lain yg ke arah Depok. Sepanjang perjalanan, kami berdua asik ngobrol mengenai pengalaman Mas Oris membesarkan usaha franchise “Jarimatika” Bu Septi miliknya dan bagaimana pengalaman beliau di Jepang saat menaiki kereta. Meski terus berdiri semenjak naik KRD sampai commuter line dan tiba di stasiun UI, kami tetap menikmati perjalanan dengan mengobrol mengenai hal2 tersebut.

Setibanya di stasiun UI, kami bingung juga apakah kartu tiket harus dikembalikan atau tidak. Dengan jaimnya kami tidak bertanya dan hanya melihat penumpang lain yg keluar. Oh, ternyata setiap penumpang tetap memiliki kartu ini di tangannya. Pertanyaan selanjutnya yg ada di benak kami adalah apakah kami tak harus bayar lagi ketika nanti melakukan perjalanan pulang? Karena kami menganggap harga tiketnya terlalu mahal untuk sekali perjalanan, yakni 19 ribu untuk berdua, jika dibandingkan dengan KRD yg hanya 5 ribu berdua. Haha… so opportunist. Untuk menuju kampus psikologi UI, kami harus berjalan dan bertanya pada beberapa orang di sekitar. Kami melewati jurusan studi sastra Jepang, FISIP, dan kemudian sampai juga di psikologi. Mas Oris memikirkan potensi beliau membuka les bahasa Jepang sedangkan saya memikirkan betapa besarnya kampus UI ini dibandingkan kampus saya di Bandung dulu (maklum ga pernah studi banding kesini, hehe). Yg kompak kami pikirkan adalah banyaknya mobil yg diparkir di FISIP, apa karena banyak anak pejabat yg belajar ilmu politik yah? Hehe…

Sebelum sampai di auditorium psikologi UI, kami bertemu salah seorang peserta seminar lain yg sama2 kebingungan. Ternyata beliau undangan dari Dompet Dhuafa Volunteer, sebuah komunitas relawan pergerakan dari salah satu lembaga zakat di Indonesia. Tak dinyana ternyata kami bertiga menjadi peserta pertama yg hadir di seminar kewirausahaan sosial ini. Ruangan yg dingin membuat saya dan Mas Oris tak melepaskan jaket yg dikenakan sebelumnya. Dengan semangat dan percaya diri kami berdua duduk di kursi paling depan, yg nantinya sebaris dengan para pembicara di seminar ini. Sudah jadi kebiasaan mayoritas orang Indonesia, peserta lain malah memilih kursi yg lebih di belakang ataupun di pojok. Pengalaman semangat orang Jepang dari Mas Oris lah yg membuat kami berdua untuk memilih di kursi paling depan.

Sesi seminar berlangsung hingga pukul 12 siang yg diisi oleh ketiga pembicara utama, yaitu Pak Zulfikar Alimuddin dari Yayasan Semangat Membangun Indonesia Hebat (SMIH), Pak Professor Musa dari LPPM UKM IPB, dan Bang Zainal “Jayteroris” Abidin dari Socio Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa. Setelah sesi seminar, acara dilanjutkan dengan break makan siang dan sholat dzuhur. Sesi kedua materi dilanjutkan dengan Focus Group Discussion yg dibagi menjadi 4 ruangan dengan 4 topik yg berbeda. Saya dan Mas Oris memilih ruangan yg berbeda agar kami mendapatkan 2 topik berbeda yg kami minati, meski kami harus tidak mengikuti pembagian ruangan yg dibuat panitia. Sori yak kami tidak mau ditempatkan di ruangan yg sama dengan topik yg tidak kami minati dan kami pikir aturan pembagian ini tidak sepenuhnya mengikat, hehe…

Sepanjang sesi seminar dan FGD, kami dengan PD-nya SKSD dengan para pembicara dan tokoh2 penting yg hadir di acara. Maklum, selain ingin mendapatkan ilmu yg bermanfaat, kami juga ingin memperluas networking kami di bidang kewirausahaan sosial. Ada praktisi, akademisi, provokator, relawan, komunitas, dan beberapa yayasan yg mengikuti acara ini dan bergerak di bidang ini. Dengan berbekal profil dari yayasan “Sadamekar” yg kami bawa, kami berkenalan dengan mereka dan sedikit memperkenalkan yayasan ini. Semoga saja di lain kesempatan kami bisa berkolaborasi dengan mereka dalam mengembangkan kewirausahaan sosial di Karawang dan di Indonesia.

Sesi FGD selesai pada pukul 4 sore dan dilanjutkan dengan sesi penutupan acara. Karena kami tidak mengharapkan doorprize, jadinya kami pun tidak mendapatkannya. Padahal mah sih pengen, tapi menurut mitos yg beredar klo ga berharap malah nantinya yg akan dapet, jadinya kami memilih untuk tidak berharap, haha… Setelah semua rangkaian acara selesai, kami bergegas kembali ke stasiun UI karena hari telah menjelang sore dan kami pun tak mengerti jadwal terakhir keberangkatan dari commuter line dan KRD. Pertanyaan kami mengenai kartu tiket pun terjawab : kami harus membayar lagi untuk perjalanan pulang, tetapi dengan harga 8 ribu berdua. Oh, ternyata kami harus membayar lebih mahal di awal untuk biaya jaminan kartu sebesar 5 ribu. Bodohnya kami adalah hal itu ternyata tertera di struk pembelian tiket -__-

Sempat nyasar ke arah Jakarta Kota, kami akhirnya sampai di stasiun Bekasi pada sekitar pukul 6 sore. Tragisnya adalah tiket KRD untuk keberangkatan jam 7 telah habis terjual dan kereta selanjutnya baru berangkat jam 9 malam (di jadwal, tak tau kenyataannya). Niat jahat kami muncul untuk kembali masuk ke stasiun menggunakan kartu tiket commuter line dan memaksa masuk ke KRD meski tak punya tiket. Ah, paling kena denda doang, pikir kami. Tapi setelah dipikir2 lagi, niat jahat itu kami urungkan. Kemudian prasangka buruk kami muncul ketika kami akan memilih untuk naik angkot dan elf ke Karawang karena pengalaman kami diturunkan in the middle of somewhere and must pay twice and the long time we must take because of “ngetem”. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu KRD jam 9 malam saja sambil istirahat dan sholat maghrib dan isya.

Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah warteg pinggiran. Ketika kami menyantap soto ayam, datanglah seorang bencong dengan pakaian aduhai menyanyi mendekati kami. Dengan sedikit menoleh untuk menolak memberi sumbangan, kami harus tetap menjaga selera makan kami. Waktu baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika kami bisa membeli tiket KRD untuk pulang. Itu artinya kami harus menunggu 1,5 jam plus+plus di stasiun. Huft, pekerjaan menunggu yg cukup berat sepertinya. Di saat menunggu itu kami habiskan dengan mengobrol mengenai beberapa hal. Mencuat suatu “hot topic” ketika seorang single berhadapan dengan seorang lelaki beristri satu beranak tiga. You know what I mean lah yah, haha…

Di selang pembicaraan seru itu, kami melihat bencong yg kami lihat di warteg berjalan di pinggir rel diikuti seorang pria. Prasangka buruk kami langsung mencuat, apa yg akan mereka lakukan dalam kegelapan? Niat kami untuk mengikuti mereka berdua akhirnya kami urungkan karena takut melihat sesuatu yg tak ingin kami bayangkan… Setelah beberapa saat, bencong tersebut kami lihat kembali ke stasiun dengan wig yg telah dilepas dan pakaian yg telah berganti. Ow…ow…ow… ga usah dipikirin lagi lah yah, mungkin dia memang sekedar menyelesaikan pekerjaan mengemisnya dengan mengganti kepribadian.

Sesuai yg kami perkirakan meski tidak eksak betul, 1,5 jam plus+plus menunggu itu berarti 2,5 jam. Setengah jam terakhir, perbincangan kami ditemani seorang supir truk yg baru pulang bekerja. Bapak beliau ternyata dulunya adalah seorang petugas PT. KA dan beliau pun menyatakan jika praktek KKN telah berlangsung lama di tubuh BUMN semacam ini. Sigh… kami hanya bisa geleng2 kepala mendengarkan sebuah rahasia umum tersebut. Setelah KRD tiba di stasiun, kami langsung bergegas masuk agar bisa duduk di kursi kereta. Maklum, stamina kami telah cukup terkuras dan kami pun cukup mengantuk. Mas Oris meminta ijin untuk tidur dan meminta saya untuk tetap bangun dan memeriksa sampai mana kereta telah berjalan. Maklum lagi, Mas Oris nantinya yg akan mengendarai motor dari stasiun Karawang sampai Rengasdengklok dan kereta hanya akan berhenti di stasiun Karawang dalam waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan ke arah cikampek. Buku “Sekolahnya Manusia” karya Munif Chatib yg saya bawa tak mampu saya baca dengan konsentrasi sehingga saya hanya memegangnya saja sambil mendengarkan musik penyemangat di earphone.

Pukul 11 malam kami sampai di stasiun Karawang. Daerah sekitar stasiun tersebut diisi beberapa warung remang2 A.K.A Lokalisasi yg cukup terkenal di daerah Karawang dengan sebutan “Se-er” A.K.A Sisi Rel. Cukup rame nampaknya sambil diiringi musik dangdut erotis. Tanpa pikir panjang, kami masuk ke… penitipan motor dan langsung bergegas menuju Rengasdengklok. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di kediaman Mas Oris, yg merangkap juga sebagai sekre komunitas IIP Karawang, dengan selamat pada pukul 12 malam. Cheers and Good Night!