Titik-Titik Puzzle (5)

Pilihan hidup pasca kelulusan dari kampus adalah pilihan yg sulit sekaligus membingungkan. Jika pada pilihan-pilihan kelulusan sebelumnya bisa lebih mudah diputuskan karena ada patokan tujuan (SMP/SMA/Universitas favorit), maka pilihan setelah diwisuda sangatlah beragam dan tidak ada patokan yg jelas. Mau melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3, mencari dan melamar pekerjaan, atau berwirausaha? Kuliah di jurusan apa dan dimana? Jenis pekerjaan apa dan perusahaan seperti apa? Usaha di bidang apa dan bagaimana memulainya? Tak pelak, banyak wisudawan baru yg tidak bisa menentukan pilihannya secara mutlak, cenderung coba-coba, mengalir seperti air, atau mengikuti kemana arah angin berhembus. Tak sedikit juga yg kemudian menyesali pilihannya, bergonta-ganti pekerjaan, dan tidak bisa menikmati apa yg dia kerjakan.

Saya pribadi saat itu memutuskan untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu. Kebutuhan akan kuliah S2 menurut saya akan disesuaikan setelahnya, apakah di bidang engineering lagi atau di bidang manajemen bisnis. Dikarenakan saya ternyata kurang menyukai dunia engineering/programming, maka saya mencari pekerjaan di bidang bisnis/manajemen. Jadilah saya mengikuti proses seleksi dan wawancara di beberapa perusahaan konsultan bisnis. Yg saya manfaatkan dari proses kuliah teknik adalah sekedar pola pikir logis-matematis, analisis problem solving, dan sedikit ilmu soft skill yg didapat dari kesibukan berorganisasi. Di salah satu proses seleksi tersebut, ternyata ada pelatihan seputar bagaimana menjadi konsultan bisnis. Ada beberapa studi kasus mengenai market sizing, business operation, dan business strategy. Di perusahaan tersebut saya berkenalan dengan Bang Leonardo Kamilius, Bang Danu Wicaksana, dan Mbak Falah Fakhriyah. Saya melihat mereka sebagai orang2 yg cerdas dan bidang konsultan yg mereka jalani sebagai dunia yg menantang dan menyenangkan. Meski saya gagal dalam proses seleksinya, saya jadi mendapatkan insight jika saya ingin dan harus mendalami dunia bisnis dan manajemen.

Sambil menunggu proses seleksi di beberapa perusahaan, saya mengambil kerja magang di PT. LEN Industri. Rasa-rasanya tidak enak menganggur setelah diwisuda dan saya pun harus mulai mendapatkan penghasilan. Beruntung hasil kerja praktek dan tugas akhir saya disana diapresiasi, sehingga saya bisa diterima magang disana dengan gaji yg lumayan besar. Jenis pekerjaan yg didapat adalah (lagi-lagi) mengenai programming. Bekerja secara professional di divisi Research and Development sebuah BUMN ternyata tidaklah mudah dan menyenangkan bagi saya. Duduk berlama-lama di depan laptop dari pagi hingga sore membuat waktu seakan melambat. Apalagi di divisi RnD itu tidak ada guidance yg jelas, karena kita sendirilah yg mencari dan membuatnya. Artinya saya bekerja atas progress yg saya buat sendiri. Jika saya sendiri tidak menyukai bidang yg dikerjakan, bagaimana saya bisa membuat progress yg baik dan menyelesaikan pekerjaan itu? Perasaan magabut pun mulai menggelayuti. Namun, dengan bantuan Mas Yanuar Yudianto, Mas Ridlo Tubagus, dan Bu Wibi akhirnya saya bisa membuat progress yg berarti selama 2 bulan saya bekerja disana.

Setelah berkali-kali mengikuti seleksi di berbagai perusahaan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai Management Trainee di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dengan nama New Employee Development Program. Sebetulnya saya tidak mengira akan diterima disini karena minim persiapan dan proses seleksinya yg terbilang lama. Harapan saya adalah saya bisa belajar tentang ilmu manajemen di perusahaan yg terkenal dengan konsep Toyota Production System dan budaya Toyota Way nya ini. Apalagi perusahaan ini bersanding bersama Astra Group, sehingga mampu meraih market share terbesar bidang permobilan di Indonesia. Saya pun kemudian ditempatkan bekerja di Karawang, di sebuah pabrik manufacturing terbesar yg terbilang baru. Inilah pengalaman pertama saya merantau dari kota kelahiran saya.

Program NEDP ini memang menawarkan pembelajaran yg banyak, mulai dari Toyota Way, TPS, Toyota Business Practice (TBP), Plan-Do-Check-Action (PDCA), A3 Report, Floor Management, dll. Disinilah saya berteman dengan Deni Arifakhroji, Subban Malik, Irvandi Permana Arga Diputra, Fajar Hadi Pratama, Devy Freshia, Hanindita Diadjeng Sunu, Glenda Enzy Viona, Dhinda Prinita Sari, Andhini Novrita, dan beberapa yg lain. Dari pelatihan ke pelatihan, sampai ke Operator Experience Program, yg akhirnya saya pun ditempatkan di Quality Control Division. Saya kemudian mengontrak sebuah rumah bersama Deni, Subban, dan Arga. Kehidupan dunia kerja yg awalnya berasa manis kemudian berubah bentuk sedikit demi sedikit. Welcome to the real world! 🙂

Jenis pekerjaan di QCD ini memang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang, berkeliling pabrik, hingga mengunjungi pabrik supplier. Saya harus mengidentifikasi masalah kecacatan pada part-part mobil, memastikan kualitas part yg dikirimkan oleh supplier, dan membuat laporan tentang hal itu. Jenis pekerjaan yg menarik karena saya bisa aktif bergerak kesana kemari dan mempelajari banyak hal. Ini pun sesuai dengan apa yg saya bayangkan ketika kuliah di Teknik Kendali. Namun, bidang yg ditekuni ternyata tidaklah sesuai dengan yg dikerjakan. Saya merasa tidak nyaman ketika harus membongkar part-part mobil, mengukur clearance dan level, berkonflik dengan supplier dan tim dari divisi lain. Jam kerja pun ternyata dari pagi hingga malam, dari jam 7 pagi hingga 7 malam. Lama kelamaan saya merasa kebebasan saya terenggut, saya tidak bisa mengaktualisasikan diri secara optimal.

Di QCD ini saya berkenalan dengan Pak Hamzah Wirya Utama, Desyanti Wulandari, Faradinnita Akhsani, Mas Wahyu Priyandono, Mas Adhy Permana, Pak Isa, Pak Heru Purnomo, Pak Agus Wahyudi, Pak Maulana, Pak Herman, Dade Mukti Wijaya, dan rekan kerja yg lain. Aktivitas saya yg sering berkeliling pabrik membuat saya sering bersilaturahim dengan karyawan yg lain. Saya pun banyak belajar dari sosok Pak Hamzah, partner kerja sekaligus ‘ayah kedua’ saya. Idealisme yg mulai terkubur akhirnya muncul kembali setelah sering mengobrol ngalor ngidul dengan beliau. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, pertanian, budaya, sampai nasionalisme. Ditambah dengan kedatangan Jaya di QCD, keinginan berwirausaha saya pun mengkristal. Petualangan mencari ide usaha yg pas di Karawang pun dimulai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s