Titik-Titik Puzzle (3)

Kehidupan perkuliahan dan suasana kampus memang menawarkan sajian idealisme yg kental. Terlebih dari suatu kampus dengan sejarah panjang tentang kemahasiswaan, kebebasan berpendapat, budaya diskusi, dan perjuangan mengkritisi bahkan ‘melawan’ pemerintahan. Yap, kampus bernama ITB pernah dikenal sebagai “The Last Stronghold” ataupun “Institut Terbaik Bangsa”, dimana banyak pemimpin-pemimpin hebat ‘dilahirkan’ disini. Meski seiring berjalannya waktu, slogan dan nama panggilan itu nampaknya semakin luntur (?).

Masa-masa pengenalan mahasiswa baru di ITB lebih banyak diisi oleh seminar, talkshow, pengenalan kampus, tugas-tugas, penampilan himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa, dan ramah tamah antarmahasiswa. Sedari awal, seminar dan talkshow pun sudah berisi paparan idealisme, profil alumni dan role model-nya, realita bangsa, perkembangan teknologi, dan apa yg bisa dilakukan kini dan di masa depan. Sebuah talkshow yg menarik perhatian saya saat itu adalah paparan pengalaman seorang alumni senior yg berhasil membangun sebuah bisnis pengolahan kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat. Setiap bagian dari kelapa mampu diolah menjadi suatu produk yg bernilai jual lebih dengan memanfaatkan alat dan mesin sederhana ciptaan si alumni tersebut. Proses produksi dan pengolahan yg melibatkan masyarakat sekitar turut meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Dalam hati kecil, saya berkata “Nah, ini dia!”, someday I want to become like him. Memang alas an idealis saya untuk berkuliah di ITB ini adalah agar saya bisa belajar bagaimana caranya membuat suatu alat tepat guna sambil meng-upgrade kualitas soft skill pribadi. Tekad untuk berubah dari seseorang yg kuper, kutu buku, maniak game, menjadi seorang aktivis idealis dengan segudang kesibukan pun mulai dicanangkan.

Pilihan aktivitas yg dipilih saat itu adalah di Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) dan di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA). Alasannya sederhana, saya ingin belajar berorganisasi dan menambah ilmu agama dan bisnis dari kedua unit kegiatan itu. Amanah yg didapat saat itu adalah menjadi panitia Divisi Acara & Marketing di Kajian Islam Terpusat (KIT) dan panitia Divisi Ticketing di Event Try Out UN-SPMB untuk anak2 SMA. Di kedua event ini saya berkenalan dengan orang2 yg luar biasa, di antaranya Yusuf Muhammad, Indra Pratama, Agung Wijaya Mitra Alam, Angga Kusnan Qodafi, Adjie Wicaksana, Taufiq Suryo, Chrisna Aditya, Fitrian Pambudi, Kang Ridwansyah Yusuf Ahmad, Kang Rendy Saputra, Kang Totoh Abdul Matin, Kang Albaz Rosada, dan masih banyak lagi. Begitu banyak pengalaman dan ilmu menarik seputar keorganisasian, team work, kepemimpinan, marketing, islam dan dakwah, yg didapat dari mereka. Kedua event itu berlangsung dengan cukup berhasil dan keseruan proses di dalamnya membuat saya “ketagihan”.

Kehidupan perkuliahan sebaliknya berlangsung biasa saja, berisi ceramah, catatan, tugas, praktikum, berpindah ruang kelas, laporan, dan begadang. Saya cukup berteman dekat dengan Esqi Aktiadi, Kharisma Surya Gautama, Hanugrha, Dadan Dawud, Harimurti Prasetio, Azhari Surya Adiputro, Taufik Khuswendi, dan Wafi “Harowa”. Kehidupan ber-YugiOh ria di Campus Center membuat saya berkenalan dengan Zaky Hassani, Dimas, Ashlih Dameitry, dan Muhammad Iqbal Faruqi. Orang tua yg menyuruh saya untuk fokus kuliah saja dan melarang aktif di organisasi, membuat saya harus bisa mengatur waktu, menyelesaikan ujian semester dengan nilai memuaskan, dan membuktikan diri pada orang tua jika kuliah dan organisasi bukanlah hal yg saling bertentangan. Aktif berorganisasi, pulang larut malam, lulus cumlaude dan tepat waktu, bukanlah hal yg mustahil untuk dicapai secara bersamaan. Saya mengambil Kang Muhammad Fajrin Rasyid sebagai role-model nya, MaPres ITB yg diumumkan saat PMB. Saya kemudian beranggapan jika kesibukanlah yg membuat segala sesuatu yg dilakukan jadi lebih efektif dan efisien. Saya dipaksa untuk lebih rajin, lebih menghargai waktu, dan dituntut oleh banyak deadline. Kehidupan lain berupa Dugem (Duduk Gembira Melingkar) membuat saya berteman dekat dengan Rino Ferdian, Ramdani Akbar, Ibrahim Imaduddin Islam, dan Kang Husna Nugrahapraja. Dugem ini mampu me-recharge semangat, ilmu, dan kekuatan hati dalam beraktivitas.

Di tingkat 2, saya memilih Teknik Elektro sebagai jurusan dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME). Proses kaderisasi di GAMAIS dan di HME ini menuntut kerjasama kelompok, militansi, kesiapan mental, dan fisik. Saya kemudian memilih fokus di GAMAIS karena mendapatkan amanah sebagai Ketua Departemen Humas Internal Kampus. Di departemen inilah saya berkenalan dekat dengan Yana Supriyatna, Aditya Putra Tama, Kang Ryan Alfian Noor, dan Kang Yudha Indrawan. Aktivitas ala humas pun saya lakoni, mulai dari keliling2 kampus, menyebar undangan ke himpunan2 dan unit2, mengurus birokrasi kampus, menghadiri forum dan diskusi terbuka, sampai mewakili senator di kongres. Secara tim Badan Pengurus Harian GAMAIS saat itu, saya bekerja sama dengan Kang Panji Prabowo, Kang Gesa Falugon, Kang Widi Noviansah, Kang Ardhesa Suhilman, dll. Saya beruntung 1 tim dengan kakak2 angkatan yg lebih tua sehingga bisa belajar banyak dari mereka. Sedangkan di HME, saya tidak begitu aktif, hanya beberapa kali menjadi panitia acara dan lomba. Disana saya bertemu dengan Arkan Muhammad Irsyad Sadeli, Yanwar Arditias, Salik Mukhlisin, Ihsan Mulia Permata, Kang Ikhsan Abdusyakur, Kang Ryvo Octaviano, dan Kang Iwa Kartiwa. Idealisme nasionalis semakin merasuk ke dalam diri saya ketika mengikuti beberapa pelatihan, talkshow, dan workshop disana. Salah satu yg saya ingat betul adalah ketika talkshow yg mengundang Kang Zulkaida Akbar dan Teh Shana Fatina dari Keluarga Mahasiswa ITB sebagai pembicara. Mereka mengatakan jika gambaran Indonesia di masa depan adalah gambaran mahasiswanya saat ini meliputi apa yg dipikirkan, direncanakan, dan dilakukannya. Dan katanya juga, calon pemimpin Indonesia di masa depan kemungkinan besar berasal dari kalangan entrepreneur, terutama yg bergerak juga di bidang sosial kemanusiaan.

Ahaha… jika dipikirkan memang begitu banyak orang yg melintas di kehidupan kampus dengan berbagai karakter dan kepribadian yg dimilikinya. Suasana kampus yg heterogen, yg berisi orang2 dari seluruh nusantara, yg mempunyai budaya dan bahasa berbeda. Mereka mengambil peran yg diinginkannya disana, mulai dari akademisi, peneliti, aktivis sosial, pengusaha muda, inventor, engineer, bahkan sampai politisi. Semua peran itu bercampur aduk dan mewarnai setiap orang di dalamnya. Ditambah pula bawaan materi kuliah teknik yg mengharuskan mahasiswanya berpikir sistematis, logis-matematis, dan analitis sebagai seorang problem solver. Jika saja semua itu dipadukan dengan ketahanan mental dan idealisme, kecerdasan emosi dan spiritual, kekuatan mindset dan kepedulian, maka setiap peran apapun yg diambil akan membawa kesuksesan dan kemaslahatan bagi diri dan lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s