Titik-Titik Puzzle (1)

Sekelumit kisah perjalanan pastinya menceritakan tentang persilangan jalan, baik itu tentang pilihan hidup ataupun tentang orang-orang yg sempat bersimpangan dengan kita. Perjalanan hidup itu seperti tongkat estafet, setiap orang di dalamnya mengantarkan kita pada posisi sekarang ini. Perjalanan hidup itu seperti bermain puzzle, setiap orang di dalamnya mempunyai kepingan penting yg menggambarkan diri kita sekarang. Menjelang seperempat abad saya hidup di dunia ini, ijinkan saya untuk menulis rekam jejak perjalanan saya pribadi. Sekedar untuk mengenang, menguatkan langkah, mengevaluasi diri, dan mensyukuri semua nikmat dan petunjuk yg telah Allah berikan.

Sejak lahir hingga masa balita, tubuh saya sering didera penyakit, mulai tipes, cacar, hingga asma bronkhitis yg acapkali kambuh. Spontan Ibu saya yg over-protective melarang saya untuk bermain dan ‘liar’ di luar rumah. Saya menghabiskan waktu hampir sehari semalam di dalam rumah setiap hari. Mungkin bisa dihitung dengan jari, berapa kali kaki saya menginjak tanah tanpa menggunakan sendal/sepatu. Itu sebabnya sampai sekarang telapak kaki dan tangan saya begitu halus, minim ‘rorombeheun’ dan kulit yg mengeras, sedikit gesekan saja bisa membuat telapak kaki dan tangan saya terluka. Praktis saat itu saya hidup dengan imajinasi dan teman2 imajiner di dalam rumah. Ada seorang teman nyata bernama Opik, yang merupakan tetangga di depan rumah. Seringkali saya menengok-nengok ke luar rumah dari jendela untuk sekedar memergoki Opik yg sedang lewat di depan rumah untuk kemudian saya panggil agar masuk dan bermain Playstation bersama. Lucunya, terkadang saya hanya butuh dia sebagai teman nonton atau mengobrol saja, yg main yah hanya saya sendiri. Ketika keluarganya memutuskan untuk pindah rumah, barulah saya merasakan sakitnya kehilangan seorang teman.

Masa-masa di TK dilalui dengan datar, tidak ada teman yg begitu dekat. Hanya ada 2 kejadian yg membekas, yaitu saat bertengkar dengan seorang teman dan ‘berhasil’ membuatnya menangis, dan ketika acara ulang taun saya dirayakan di sekolah, yaitu saat Ibu saya memasak Mie Goreng buatannya untuk disantap bersama seisi kelas. Mungkin 2 kejadian saat itu membuat saya merasakan 2 hal yg bertolak-belakang, tidak enaknya membuat orang lain menangis dan bahagianya saat bisa diperhatikan dan bisa berbagi dengan orang lain. Kelulusan TK saat itu dirayakan dengan foto memakai baju toga, sebuah doa agar setiap murid bisa bersekolah tinggi dan lulus sebagai sarjana.

Saat memasuki masa SD, saya mulai terbuka pada jalinan pertemanan, meski masih menjadi seorang yg pendiam. Ada beberapa teman dekat saat itu, Taufik Hilmi, Daniel, Rendi Bramantoro, Sigit Ramadhan, dll. Masing-masing dari mereka punya ciri dan karakter yg unik. Taufik dikenal sebagai murid yg pintar dan mempunyai tulisan yg sangat rapi, dia menjadi teman sebangku dan teman saat istirahat, kini yg saya tau dia jago dalam hal programming. Daniel dikenal sebagai murid berpostur paling tinggi, dia menjadi teman sejalan-pulang sekolah dan bermain ‘tazos’. Momen yg saya kenang adalah ketika dia memberi uang seratus rupiah kepada saya untuk menambahkan uang seribu yg saya punyai untuk dibelikan pedang-pedangan, sebagai hadiah kepada saya saat berulang taun. Rendi dikenal sebagai murid yg supel (termasuk pada murid perempuan) dan doyan maen bola, dia terkadang menjadi teman sepulang sekolah di rumah, untuk bermain bola dan PS. Kini ia menjadi sarjana jurusan farmasi dan sedang merintis bisnisnya sendiri. Sedangkan Sigit dikenal sebagai pelukis ulung dan ketua kelas, dia menjadi ketua grup pramuka saya dan teman kompetisi ‘Winning Eleven’. Kini yg saya tau ia adalah sarjana lulusan seni dan desain. Keempat teman dekat tersebut dan beberapa teman lainnya memberikan warna yg bermacam-macam pada diri saya pribadi. Ada juga teman dari SD kelas lain bernama Hari Purnama, yg sebetulnya saya lupa sejak kapan kami bisa akrab. Ditambah seorang guru bernama Pak Asep Hendra, yg mengajarkan muridnya untuk bermimpi melanjutkan sekolah ke SMP Favorit, jadilah saya bersama 5 orang teman lainnya (termasuk Sigit) berhasil lolos seleksi masuk SMPN 5 Bandung, sekolah SMP Terfavorit di Bandung.

Belajar di sekolah favorit dan unggulan, yg notabene berisi murid-murid terbaik, membuat lingkungan pertemanan jadi semakin kondusif sekaligus kompetitif. Regulasi sekolah yg memecah muridnya setiap kenaikan kelas, membuat saya berkenalan dengan beberapa teman dekat yg berbeda di setiap tahunnya. Di kelas 1-B, saya berteman dekat dengan Muh. Ihsan, Muh. Anggita Tresnamayung, dan Fajar Ajie Setiawan. Ihsan sebagai teman sebangku sama2 mempunyai tulisan yg rapih dan sesekali menggoda untuk bermain ke rumah saya. Anggita yg menjadi kenalan pertama saya saat itu dikenal sebagai murid yg pintar dan beberapa kali juga menjadi teman sebangku. Ajie adalah teman yg memperkenalkan saya pada ekskul Rohani, ekskul DKM yg pertama kalinya mengajarkan saya tentang teknologi dan proses kaderisasi. Sebuah kebetulan juga ketika itu pembinanya adalah seorang mahasiswa Teknik Fisika ITB. Di kelas 2-C, saya berteman dekat dengan Muh. Oki Wasil, Ahmad Yusran Diafri, dan Eki Hikmah Febriansyah. Oki sebagai teman sebangku terkadang berselisih paham dengan saya, yg akhirnya bisa berujung debat kusir. Disitu saya mulai merasakan adanya konflik dan belajar untuk mempertahankan pendapat. Yusran dikenal sebagai ‘badut’ kelas alias orang yg sering menjadi bahan tertawaan karena ulahnya sendiri. Sedangkan saya hanya bisa ‘berulah’ saat ada drama di sekolah saja, di saat saya bisa mengekspresikan diri saya dengan bebas, di luar kepribadian saya yg asli. Eki saat itu saya kenal sebagai murid yg ‘cunihin’, cuek saat bergaul, dan terkadang melakukan hal-hal aneh saat jam pelajaran berlangsung.

Di kelas 3-G, saya kemudian berteman dekat dan berkelompok bersama Yusran, Agung Satriyadi Wibowo, Arri Raditya, Agil Gilang Pratama, dan Lestian Atmopawiro. Kelas 3-G ini dikenal sebagai kelas biang masalah karena ‘berhasil’ membuat 3 guru bahasa (Indonesia, Inggris, Sunda) menangis di kelas karena ulah murid-murid di dalamnya. Praktis kami sekelas harus bolak-balik meminta maaf ke ruang guru. Ada momen-momen dimana saya diejek karena ‘cameuh’ dan berjari manis pendek, mulai dari awalnya membuat saya kesal, marah, hingga akhirnya terbiasa dengan semua ejekan itu. Ada juga momen mengerjakan PR seminggu ke depan di kelas karena motivasi agar bisa bermain Playstation jenis Role Playing Games di rumah sepuasnya. Dan juga, momen dimana saya menjadi pembawa ‘virus’ permainan kartu Yu-Gi-Oh di kelas, meski dengan peraturan yg dibuat sendiri. Dengan semangat yg sama dalam lingkungan yg kondusif, akhirnya saya dan mayoritas teman di kelas berhasil lolos seleksi ke SMA paling bergengsi di Bandung, SMAN 3 Bandung.

Dalam rekam jejak sampai saat itu juga, (saat ini) saya sadar dan merasa jika Allah mempunyai rencana dan rancangan terhadap hidup setiap manusia, termasuk saya, untuk sebuah tujuan di masa depan. Allah menyisipkannya dalam alam bawah sadar kita dan mengabadikannya dalam bentuk kenangan dan kepribadian. Allah pertemukan kita dengan orang-orang yg dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk melalui mereka dan melalui setiap peristiwa yg terjadi. Inilah mengapa Allah itu sungguh dekat, Dia Maha Mengetahui apa yg terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah kita menyadari akan petunjuk-Nya tersebut dan apakah kita telah memilih jalan terbaik yg telah Ia tunjukkan. Wallahu Alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s