Seek Not See, Learn Not Earn

Pernah kan ngeliat petani lagi ngebajak sawah pake traktor? Selayang pandang nampak jika kerjaan itu gampang dilakuin. Cuma megang handle-nya terus jalan bolak-balik muterin sepetak sawah. Padahal dalam kenyataannya ngebajak sawah pake traktor itu kerjaan berat. Si petani harus bisa nahan bobot traktor biar bisa jalan lurus dan biar ga keguling saat ngelakuin belokan. Jika pertama kali nyoba, kata petaninya sih 2 kali bolak-balik aja udah kerasa ngos-ngosan. Padahal sepetak sawah ukuran beberapa ratus meter persegi aja butuh puluhan kali bolak-balik biar semua bagian tanahnya kebajak. Dan biasanya ukuran bayaran pekerja traktor itu per hektar, yaitu 10.000 meter persegi. Ckck… Ternyata luar biasa emang tenaga yg harus dikeluarin.

Di luar kerjaan mentraktor, tentunya masih banyak kerjaan lain yg sama-sama berat ataupun lebih berat lagi. Dan terkadang kita berpikiran jika kerjaan itu mudah hanya dengan melihatnya saja. Atau kita berpikiran jika kerjaan orang lain itu tidak sesulit apa yg kita sendiri kerjakan. Persepsi berat-ringan ataupun sulit-mudah itu muncul dari subjektivitas kita sendiri. Dan sering pula persepsi semacam ini menimbulkan konflik dan rasa ketidakadilan antara diri kita masing-masing.

Ketika kini sedang rame-ramenya pemberitaan demo buruh menuntut kenaikan upah, saya berpikiran jika persepsi ketidakadilan ini menjadi salah satu penyebabnya. Buruh merasa menjadi sapi perah suatu pabrik atau perusahaan, tetapi merasa pula upahnya minim jika dibandingkan dengan keuntungan perusahaan ataupun upah staff dan atasannya. Buruh pun melihat jika kerjaan seorang staff atau manager tidaklah berat, tetapi kok malah mendapatkan upah yg lebih tinggi. Sebaliknya, jajaran manajemen perusahaan melihat jika upah buruh itu sudah mencukupi kebutuhan hidup layak. Dan mereka pun berpikiran jika buruh itu hanya pekerja fisik yg tak perlu pusing memikirkan perkembangan dan kemajuan perusahaan. Kedua pihak ini nampak berseteru dengan persepsinya masing-masing.

Ketika dulu saya mulai bekerja di sebuah pabrik sebagai staff, ada program dari manajemen yg bernama Operator Experience, yg merupakan salah satu bagian dari On The Job Development (proses dari Management Trainee). Di program ini, saya diharuskan menjadi operator (buruh) di suatu proses assembly selama beberapa hari. Tujuannya adalah agar saya merasakan bagaimana capeknya, sulitnya, dan menderitanya seorang operator. Selain itu, saya pun diharuskan untuk mengusulkan suatu perbaikan di pekerjaan operator itu berdasarkan pengalaman yg didapat. Hasilnya ternyata lumayan : tangan bengkak, pinggang cekot-cekot, dan pastinya keringetan sekujur tubuh. Untuk perbaikannya, saya mengusulkan suatu metode untuk mengurangi kecacatan dalam proses di bagian itu, yg merupakan salah satu KPI perusahaan.

Di sisi lain, ketika saya murni bekerja sebagai staff, ternyata tidak sedikit yg over-estimate dan yg under-estimate. Seringkali operator atau bagian di bawah staff yg menanyakan tentang masalah yg tidak saya ketahui penyebab dan solusinya. Kalimat yg terlontar dari mereka (kira-kira) adalah “Ah, kan Bapak S1” atau “Ini kan tanggung jawab Bapak sebagai staff”. Lucunya adalah tujuan dari pertanyaan itu terkadang sekedar ingin ‘menguji’ saya. Dan sebetulnya saya pun berpikir jika terkadang operator lebih tau mengenai masalah tersebut karena lebih berpengalaman dari saya. Pertanyaan seputar gaji, keirian terhadap posisi staff, ‘kesenjangan’ dalam pekerjaan, dan hal semacamnya lumayan sering saya dengar ketika bergaul dengan operator. Padahal kenyataannya adalah upah operator dan staff tidak jauh berbeda, staff tidak ada uang lembur di atas 2 jam, pekerjaan kantor seringkali mengharuskan begadang, dan tentunya banyak laporan yg harus dibuat.

Dalam hal struktur perusahaan, memang mayoritas dibagi menjadi 2 bagian, posisi teknis dan posisi manajemen. Buruh dan operator termasuk posisi teknis dan staff / manager termasuk posisi manajemen. Keduanya dipisahkan oleh sekat yg terlihat dan ‘sekat’ yg tak terlihat. ‘Sekat’ yg tak terlihat ini adalah operator dan staff memiliki hubungan yg berbeda terhadap perusahaan. Operator itu menganggap perusahaan sebagai ‘musuh’ dan perusahaan menganggap staff sebagai ‘teman’. Oleh karena itu, anggota aktif Serikat Pekerja dimanapun kebanyakan diisi oleh operator / buruh dengan segelintir orang staff. Jikalau seorang operator naik kelas menjadi staff, hampir dipastikan jika nantinya ia tidak akan aktif kembali di Serikat Pekerja. Sedihnya adalah seringkali sekat ini sengaja dibuat untuk memicu konflik kepentingan antara buruh dan manajemen agar perusahaan secara umum meraih keuntungan dan benefit maksimal. Dan ternyata hal-hal ini akhirnya yg menjadi salah satu alasan mengapa saya resign.

Berkaca pada pengalaman pribadi ini, cobalah jika setiap orang tidak hanya melihat dari apa yg didapat, tetapi lebih mencari apa-apa yg bisa dipelajari / dialami. Seorang buruh bisa mencoba atau mempelajari untuk menjadi pengusaha dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya mengatur karyawan. Seorang manager bisa mencoba mengerjakan pekerjaan seorang buruh dengan target waktu yg telah ia tetapkan sendiri. Seorang pengusaha bisa merasakan sulit dan lelahnya jatuh bangun agar ia tak lupa daratan ketika berada di puncak kesuksesan. Sulit dan mudah itu adalah persepsi sebelum kita melakukannya sendiri. Berat dan ringan itu adalah persepsi sebelum kita merasakannya sendiri. Yg bisa dibenarkan adalah : you can feel easy if you adapt, enjoy, and passionate about it.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s