Dugem Pendidikan Anak

Photo0400

Pada suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah keluarga yg tergabung di komunitas IIP (Ibu-Ibu Professional) Karawang. Memang sebelumnya saya pribadi ingin belajar ke rumah Bu Septi, pendiri komunitas IIP ini di Salatiga, tapi yah berhubung ada ‘cabang’ nya di Karawang, saya memilih ‘nyantrik’ ke tempat yg lebih dekat. Kesan pertamanya unik dan seru aja karena anak2nya semua bersekolah di rumah karena dirasa belum ada sekolah yg cukup baik di Karawang sebagai tempat pendidikan anak2nya tersebut.

Keluarga ini juga menyediakan bimbingan belajar matematika bernama “Jarimatika” untuk anak2 berusia TK dan SD. Menarik memang belajar sambil bermain bersama anak2 dengan beragam karakter dan keunikannya masing2. Ada yg pinter tapi ga mau diem, ada yg menolak untuk belajar tapi asik sendiri, ada yg usil dan ngejailin temennya, dan ada pula yg penurut. Ciri khas yg pasti adalah suasananya riang, penuh canda tawa dengan senyuman yg ‘menggoda’, polos, dan terlihat tanpa beban. Memang guru lesnya pun tidak memaksa anak untuk mau belajar dan mengerti matematika, semuanya diserahkan pada minat si anak. Katanya yg terpenting adalah komunikasi dengan orang tua si anak jika anak itu tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu, biarkan dia memilih apa yg disukainya, karena mungkin itu yg menjadi bakatnya kelak. Masalah bayaran itu murni diserahkan kepada ortu si anak, jika anaknya tidak mau belajar dalam les yah silahkan aja ga perlu bayar. Urutannya adalah minat, proses, dan manfaat. Jika sejak awal tidak ada minat dari si anak, yah kenapa harus dilanjutkan?

Photo0402

Pengalaman di atas memperlihatkan jika ada masalah dengan dunia pendidikan anak di Indonesia sekarang ini. Anak kecil kok udah dikasih les? Dan kenapa kok peminatnya banyak? Jadi kapan waktu anak itu untuk bermain sedangkan jadwal sekolah skrg yg makin padat? Kenapa pula yg memberikan les itu malahan anaknya sendiri tidak dibelajarkan di sekolah? Jaman saya TK dulu perasaan boro-boro ada les, belajar yg buat otak jelimet aja ga ada, kebanyakan dihabiskan dengan bermain. TK jaman sekarang katanya malah udah diajarin pertambahan angka puluhan. Mayoritas sekolah sekarang berlomba2 menonjolkan dirinya sebagai sekolah yg mampu menghasilkan anak2 yg pintar berhitung, membaca, penurut, dll. Apa memang tujuan pendidikan seperti itu?

Memang jaman sekarang ini kebanyakan orang tua tidak memahami bagaimana cara mendidik dan mengembangkan potensi anak sejak dini. Orang tua lebih menekan anak agar menjadi seperti yg ia inginkan. Aliran mainstream dari sekolah2 yg ada terus-menerus mendidik anak2 menjadi seperti yg sekolah itu inginkan, menciptakan hasil didikan dengan cetakan yg sama. Anak2 yg tidak dapat mengikuti bentuk cetakan itu dianggap bodoh, tidak penurut, nakal, dan dicap mempunyai masa depan yg suram. Cetakan yg dikenal sebagai kurikulum ini mendorong anak agar lebih ‘pintar’ sedini mungkin. Yg dulu biasanya diajarkan di SD sekarang jadi mulai diajarkan di TK, yg dulu biasanya diajarkan di SMP sekarang mulai diajarkan di SD. Apa memang tujuan pendidikan sekolah kini seperti itu?

Proses dari pendidikan seperti itu nampaknya menghasilkan anak2 yg mudah stress, penuh tekanan, cenderung memberontak, penuh kebingungan, dan krisis jati diri. Meskipun banyak juga anak2 yg menjadi ‘pintar’ menurut pencapaian kurikulum sekolah, tetapi banyak juga (termasuk yg dianggap pintar itu) yg kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Terbawa2 pergaulan yg destruktif lah, pelampiasan aktualisasi diri yg salah lah, pesimistis pada banyak hal termasuk dirinya sendiri, egois dan apatis pada lingkungan sekitar, dll. Jelas2 bukan suatu hasil pendidikan yg diinginkan kan?

Yang menjadi pemikiran saya saat ini adalah pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter dan akhlak yg baik bagi anak untuk kemudian mengembangkan potensi dirinya sesuai minat dan bakatnya. Dalam tujuan pendidikan seperti ini dan dalam kondisi sekarang ini, memang orang tua dan keluargalah yg mempunyai peranan paling penting. Orang tua sejatinya harus mampu menjadi seorang tauladan, panutan, teman bermain, dan belajar bagi si anak. Cetakan kurikulum pendidikannya disesuaikan pada si anak, bukan si anak yg harus mengikuti cetakan kurikulum orang tuanya ataupun sekolah2 umum yg ada. Dengan mindset seperti ini dengan disertai pengalaman dan kenyataan yg ada, yg terbersit di kepala saya adalah bagaimana menjadikan dasar pendidikan keluarga ini ke sekolah2 yg ada?

Dunia gemerlap anak2 itu sekali lagi saya katakan : sangat menarik. Saya pribadi sampai saat ini masih menyimpan sifat kekanak-kanakan di dalam diri. Karena jujur, sifat2 itu menyenangkan, apalagi ketika berhadapan dan bergaul dengan anak2 kecil. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi kolot kan? Menjadi dewasa bukan berarti merasa superior kan? Menjadi dewasa bukan berarti kita merasa mengerti hal2 di sekeliling kita berdasarkan pengalaman pribadi (bertahun-tahun) kan? Karena menjadi dewasa berarti menjadi lebih bijak, lebih peka, lebih bisa menempatkan diri, lebih bisa menghargai anak dan orang2 yg lebih muda, lebih bisa mengerti dunia anak, dan mengerti jika jaman itu ternyata terus berubah. Wallahu alam.