Si Kecil Siswanto

Saat lahir katanya tubuh saya mencapai 3 kg lebih. Tentunya orang tua saya saat itu mengira klo saya bakalan jadi ‘bayi sehat’ alias bayi gendut. Sejak kecil saya diurus oleh Ibu bersama pembantu yg sudah dianggap bagian dari keluarga. Sejak kecil pula ternyata tubuh saya sering terserang penyakit, mulai dari tipes sampai asma bronchitis. Prediksi di awal pun meleset, bobot tubuh saya semakin menurun karena sakit dan kurangnya nafsu makan.

Banyak usulan dari keluarga jika sebaiknya nama saya diganti saja, mungkin ga cocok atau katanya saat itu saya tidak mau diberi nama Fadjrin Febrianto. Lupa juga apa saja usulan nama yg disebutkan, yg saya ingat hanya 2, si Kopral karena kakek saya purnawirawan tentara (tentunya nama itu hanya guyonan keluarga semata) dan Siswanto, usulan nama dari dokter langganan saya (alm.). Tiap kali datang ke dokter itu, saya dipanggil Siswanto. Nada bicaranya tegas, ga main2 masalah obat (yaiyalah, maksudnya rasanya pahit banget), dan klo lagi terapi perlakuannya lugas, mirip ngobatin orang dewasa.

Si kecil Siswanto mulai memasuki jenjang TK. Dengan bekal penyakit asma bronchitis yg diidapnya, ia menjadi seseorang yg pendiam. Maklum, sebelum masa TK, dia menghabiskan waktu di rumah terus bersama Ibu dan Bibinya. Ibunya pun menerapkan standar ganda dalam pergaulannya alias over-protective, jadinya ia jarang sekali bermain dengan anak2 di sekitar rumahnya. Kehidupan jenjang TK di kelas hampir tak terasa sama sekali, kecuali suatu ingatan mengenai keributan kecil Siswanto dengan temannya. Si Pendiam ternyata mampu juga membuat temannya menangis, meski dirinya sendiri ikut menangis.

Berbeda dengan kehidupan di kelas TK, kehidupan Siswanto di rumahnya malah benar2 ‘hidup’ dengan imajinasi dan petualangan. Film-film kartun tahun ’90-an mengilhami dirinya menjadi seorang petualang, ninja, tentara, ataupun pahlawan bersenjata api. Jika sudah begitu, ia akan asyik main sendiri hingga berjam-jam, menciptakan monolog-dialog, hingga membuat senjata mainan. Kebiasaannya ini terus bertahan lama.

Ketika memasuki SD, kehidupan Siswanto pun tidak banyak berubah. Penyakit asma bronchitis masih sering kambuh dan ia pun sering disebut ‘si letoy’ oleh guru olahraga. Jika ada maen bola pun, ia sudah senang jika mampu menyentuh bola barang sekali dalam pertandingan. Masih menjadi seseorang yg pendiam, bahkan ia pernah beberapa kali kecepirit gara2 tak berani bilang ingin ke belakang saat kelas berlangsung. Dan tentunya ia pun tetap diam, meski teman di sekitarnya kebauan. Sigh, sungguh memalukan sekali momen itu bagi dirinya. Memasuki kelas 3 atau 4 SD, mulai muncul perubahan, Siswanto sudah memiliki teman baik yg sering berangkat pulang pergi sekolah bersama. Di kelas 4 SD pun ia sudah mulai menggunakan kacamata. Maklum, Nintendo dan Sega saat itu sudah muncul di pasaran dan tentunya ia banyak menghabiskan waktu memainkannya di rumah. Di saat2 itu juga, ia mulai merasakan cinta monyet pada teman sekelasnya. Perasaan dag-dig-dug-der ia alami ketika berdekatan dengan dirinya, terlebih saat itu sekolah punya kebijakan jika pasangan tempat duduk haruslah pria-wanita dan terus bergantian.

Guru-guru di SD tempat Siswanto itu banyak yang unik. Ada Pak Roy yang tegas, pernah menyuruh muridnya menepuk2 tembok di depan kelas gara2 kepergok sering ‘tatalub meja’. Ada Pak Dadi yang sering menyuruh muridnya membuat karangan cerita. Ada Pak Nano guru musik yang sering menunjuk muridnya untuk nyanyi di depan kelas. Dan ada 1 guru lain yg sangat menarik perhatian. Namanya Pak Asep Hendra, beliau adalah guru sejarah dan geografi. Cara dia mengajar dan menghukum siswanya sungguh unik. Di 1 hari ia akan menulis di papan tulis dan menyuruh muridnya untuk menyalin dengan cepat hingga kelas berakhir. Dan di 1 hari lainnya, ia akan bercerita mengenai apa yg telah ia tulis pada hari sebelumnya dengan penuh ekspresi dan imajinasi hingga kelas berakhir. Seru, tiap murid termasuk Siswanto akan menanti-nanti saat Pak Asep bercerita. Namun di sisi lain, jika murid2nya melakukan kesalahan seperti membuat keributan di kelas, maka Pak Asep tidak segan-segan menyuruh murid2nya untuk mengerjakan dan menyalin soal pilihan ganda hingga 3x di bukunya masing-masing. Huft…

Siswanto yg pendiam nampaknya termasuk murid yg lumayan pintar di kelasnya, karena ia tidak ada aktivitas lain di kelas selain mendengarkan gurunya atau mengantuk. Berbeda dengan murid yg lain, yg biasanya mengobrol ataupun menulis buku diari (duh, taun ’90an pasti ingat dengan istilah ‘ma-kes’ dan ‘mi-kes’). Menyontek saat ujian pun ia tak berani, takut ketauan gurunya. Memasuki kelas 5 SD, Pak Asep mulai memperkenalkan konsep baru. Setiap di akhir kelas, beliau akan mengadakan mencongak. Ia menyuruh murid2nya membuat grafik nilai dari setiap hasil mencongak. Ia juga menyuruh menuliskan nama SMP Favorit di atas grafik bernilai 7 dan menuliskan SMP ‘Jelek’ di bawah grafik bernilai 6. Hal ini mengajarkan muridnya untuk bermimpi dan mempunyai target ke depan. Ia akan menyebut primadona / raja / ratu bagi murid yg bernilai baik dan menyebut dodol pada murid bernilai jelek. Di setiap akhir kelas pun, beliau akan mengajukan pertanyaan dan barangsiapa yg bisa menjawab bisa pulang sekolah duluan. 2 murid terakhir yg tinggal di kelas akan mempunyai gelar “Raja dan Ratu Boneng”. Alhasil, tiap murid yg sudah berhasil menjawab pun tidak akan pulang duluan karena ingin mengetahui siapa yg mendapat gelar tersebut saat itu. Penuh canda tawa, tetapi di saat itu sang guru mengajarkan rasanya berkompetisi.

Waktu terus berjalan dan Siswanto pun dinyatakan sembuh dari asma bronchitis ketika ia berada di kelas 5 atau 6 SD. Nilai2 mencongaknya pun menghasilkan grafik rata-rata positif di atas 7 selama 20 kali tes mencongak. Ia pun optimis jika ia mampu masuk SMP Favorit saat itu. Padahal jika dipikir2, soal mencongak itu akan cukup berbeda jauh dengan soal UN masuk SMP. Saat UN berlangsung, Siswanto pun menjadi salah satu ujung tombak tempat bertanya teman2nya. Alhamdulillah, saat pengumuman masuk SMP, Siswanto benar-benar berhasil lolos ke SMP Favorit yg ia tuliskan di grafik mencongaknya. Takjub dan kagum, mengingat SD itu hanya SD biasa, bukan SD unggulan yg siap ‘bedol desa’ masuk ke SMP Favorit. SD yg sedianya bernama SD Kartika X-10 alias SD Terang itu kini memperoleh nama alias lain, yaitu SD alias depan BSM alias depan Trans Studio…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s